by ifid|| 18 Juni 2026 || 516 kali
Tepat ketika jarum jam menyentuh angka 00.00 WIB, atmosfer di sekitar Kagungan Dalem Kamandungan Lor (Keben) mendadak berubah. Riuh rendah obrolan ribuan manusia yang memadati pelataran seketika surut, digantikan oleh kesunyian yang magis. Udara malam Yogyakarta yang dingin seolah menahan napas saat dentang lonceng sakral Keraton Yogyakarta berbunyi sebanyak 12 kali.
Setiap ketukan besi lonceng itu bukan sekadar penanda waktu; ia adalah sebuah karomah penjemput momentum spiritual. Bersamaan dengan redamnya dentang terakhir, sebuah gelombang manusia mulai bergerak perlahan. Tanpa komando suara, tanpa sorak-sorai, ribuan langkah kaki melangkah serentak mengelilingi Benteng Keraton Yogyakarta.
Lampah Budaya Mubeng Beteng telah dimulai. Sebuah tradisi tahunan menyambut 1 Sura yang bukan lagi sekadar ritual kalender, melainkan sebuah perjalanan batin kolektif untuk merefleksikan diri dan memohon keberkahan di Tahun Baru Jawa Be 1960.
Malam itu, Selasa menuju Rabu (16-17/06), sejarah kembali berulang dalam balutan kesederhanaan yang megah. Ribuan masyarakat dari berbagai strata sosial melebur menjadi satu kesatuan yang utuh. Tidak ada sekat pangkat, tidak ada pembeda jabatan. Di bawah langit malam Yogyakarta, semua berjalan dengan kepala tertunduk, membawa beban doa dan harapan masing-masing ke hadapan Gusti Ingkang Akarya Jagad (Tuhan Yang Maha Esa).
Kegiatan yang bertajuk Hajad Kawula Dalem ini diinisiasi secara mandiri oleh Paguyuban Abdi Dalem Keraton Yogyakarta yang bahu-membahu bersama masyarakat luas. Ini adalah bukti nyata dari konsep Manunggal Karsa—penyatuan kehendak antara pihak Keraton sebagai pilar kebudayaan dan rakyat sebagai penjaga nyala apinya.
Sebelum ribuan pasang kaki menapaki jalanan aspal sejauh lima kilometer, nuansa perenungan batin sebetulnya telah dibangun sejak pukul 21.00 WIB. Pusat perhatian tertuju pada Bangsal Pancaniti, sebuah sudut sakral di dalam kompleks Keben yang malam itu menjadi hulu dari segala doa.
Di bawah temaram lampu khas Keraton, para Abdi Dalem melantunkan bait-bait macapat. Suara cengkok Jawa yang meliuk-liuk memecah keheningan malam, menghadirkan kidung-kidung kuno yang sarat akan petuah hidup, permohonan ampunan, serta harapan akan hari esok yang lebih baik. Pembacaan macapat ini bertindak sebagai jembatan spiritual, mengondisikan batin para peserta agar benar-benar siap memasuki fase tapa bisu (bertapa dalam diam).
Ketua Paguyuban Abdi Dalem Keraton Yogyakarta, KRT Kusumanegara, menegaskan bahwa Lampah Budaya Mubeng Beteng lahir dari kesadaran kolektif yang mendalam untuk menjaga sekaligus menghidupkan nilai-nilai budaya Jawa di era modern.
Nyengkuyung Keraton: Kegiatan ini adalah bentuk partisipasi aktif masyarakat dalam mendukung Keraton Yogyakarta sebagai episentrum kebudayaan yang hidup (living museum).
Ruang Bersama (Kolektivitas): Tradisi ini menyediakan ruang bagi masyarakat untuk menyatukan rasa, menyingkirkan ego egois, dan menyatu dengan alam serta sesama.
Introspeksi Total: Pergantian tahun baru Jawa tidak dirayakan dengan pesta pora, melainkan dengan hati yang jernih melalui perenungan mendalam atas apa yang telah dilalui.
"Melalui Lampah Budaya Mubeng Beteng, kami bersama-sama menjalani refleksi, memanjatkan doa, dan berharap tahun yang baru membawa kebaikan bagi seluruh masyarakat," ungkap KRT Kusumanegara di sela-sela persiapan prosesi.
Atas perkenan Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, melalui Kawedanan Hageng Panitrapura, prosesi pelepasan peserta dilakukan secara khidmat. Perwakilan Keraton Yogyakarta, GKR Mangkubumi, dengan didampingi oleh GKR Bendara, melepas rombongan secara simbolis tepat setelah lonceng selesai berdentang.
Rute yang ditempuh malam itu merangkum memori spasial sejarah Yogyakarta sejauh kurang lebih lima kilometer, melewati jalan-jalan protokol yang melingkari benteng pertahanan Keraton: Keben / Kamandungan Lor, Jalan Rotowijayan, Kauman, Jalan Agus Salim, MT Haryono & Sutoyo, Brigjen Katamso, Ibu Ruswo, Keben (Titik Akhir)
Selama melintasi rute tersebut, aturan tunggal yang wajib dipatuhi adalah Tapa Bisu. Tidak boleh ada gawai yang menyala, tidak ada obrolan, dan tidak ada swafoto yang mengaburkan esensi sakralitas.
KRT Wijayapamungkas, yang juga pengurus Paguyuban Abdi Dalem, mencatat adanya tren peningkatan antusiasme yang luar biasa dari tahun ke tahun. Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah gempuran teknologi informasi, masyarakat modern justru mengalami "dahaga spiritual" yang luar biasa.
"Peserta terdiri dari abdi dalem dan masyarakat umum. Tahun lalu jumlahnya lebih dari 10 ribu orang, dan tahun ini antusiasmenya juga sangat tinggi. Ini menunjukkan tradisi Mubeng Beteng masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Yogyakarta," tutur KRT Wijayapamungkas.
Dukungan penuh terhadap kelestarian tradisi ini juga disuarakan oleh Pemerintah Daerah DIY melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan). Plt. Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Adat, Tradisi, Lembaga Budaya, dan Seni Dinas Kebudayaan DIY, Rully Andriadi, mengingatkan kembali status penting dari tradisi ini dalam lanskap budaya nasional.
Sejak tahun 2015, Lampah Budaya Mubeng Beteng telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Status ini bukan sekadar piagam penghargaan di atas kertas, melainkan sebuah amanat dan tanggung jawab moral yang besar bagi lintas generasi untuk terus merawatnya dari kepunahan.
Menurut Rully, tradisi ini memuat empat pilar nilai luhur (adiluhung):
Menariknya, nilai-nilai spiritual kuno ini menemukan resonansi yang sangat kuat di telinga generasi muda. Amalia Nurul, seorang warga Yogyakarta berusia dua puluhan yang ikut serta untuk kedua kalinya, mengartikan tapa bisu dalam bahasa yang sangat kekinian.
"Menurut saya ini semacam healing versi budaya Jawa. Kita berjalan dalam diam, menenangkan pikiran, mengurangi beban dan hal-hal yang sering membuat overthinking. Setelah mengikuti tapa bisu, rasanya lebih ringan dan lebih siap menghadapi perjalanan hidup ke depan," kata Amalia tersenyum.
Bagi generasi Z yang kerap terpapar riuh rendah dunia digital (social media fatigue), berjalan hening selama dua jam mengitari benteng kuno menjadi sebuah terapi psikologis yang memulihkan kewarasan batin.
Esensi mendalam dari pergelaran Lampah Budaya Mubeng Beteng Be 1960 ini terangkum secara puitis dalam sambutan tertulis Kepala Dinas Kebudayaan DIY yang dibacakan oleh Plt. Rully Andriadi di Bangsal Pancaniti. Dalam untaian bahasa Jawa luhur, disampaikan rasa syukur yang mendalam (puji sokur) atas berkah keselamatan sehingga masyarakat dapat berkumpul dalam kondisi nir ing rubéda nir ing sambékåla (bebas dari segala rintangan dan marabahaya).
sambutan tersebut menekankan bahwa prosesi ini adalah sarana memohon keselamatan yang holistik. Doa yang dipanjatkan malam itu tidaklah egois, melainkan melingkupi keselamatan seluruh komponen bangsa:
Ngarsådalem (Sri Sultan) beserta seluruh keluarga besar Keraton (Garwådalem, Putrådalem, Wayahdalem). Pråjådalem (Pemerintahan dan aparatur negara).
Abdidalem & Kawulådalem (Para abdi dan seluruh lapisan masyarakat yang mendiami tanah Yogyakarta).
"Cåos uningå ugi bilih lampah budåyå mubeng bètèng punika sampun katetepaken minangkå 'warisan budaya tak benda', Pramilå månggå dipunjagi sesarengan, saiyek - saékå kapti murih lampah budåyå mubeng bètèng punikå tansahå lestari salaminipun."
(Diberitahukan pula bahwa lampah budaya mubeng beteng ini telah ditetapkan sebagai "warisan budaya takbenda", Oleh karena itu mari kita jaga bersama-sama, bersatu padu [saiyek saeka kapti] agar lampah budaya mubeng beteng ini tetap lestari selamanya.)
Di tengah kehidupan modern abad ke-21 yang menuntut segalanya bergerak serba cepat, serba instan, dan serba bising, Mubeng Beteng hadir bagaikan sebuah rem darurat budaya. Tradisi ini membawa pesan profetik yang melintasi zaman: bahwa pergantian tahun bukan sekadar perayaan angka yang berganti, melainkan momentum krusial untuk berhenti sejenak.
Manusia perlu menengok kembali jejak langkah yang telah ditinggalkan di belakang, memperbaiki patahan-patahan moral di dalam diri, dan menyelaraskan kembali frekuensi batin dengan Sang Pencipta sebelum melangkah mantap menuju masa depan.
Dari balik kokohnya tembok putih Benteng Yogyakarta, keheningan malam itu membuktikan satu hal: bahwa peradaban Jawa tidak pernah kehilangan jiwanya. Ia terus hidup, berdenyut secara ritmis di dalam dada setiap manusia yang memilih untuk melangkah dalam diam, menjaga harmoni antara manusia, budaya, dan kesemestaan. Selamat Warsa Enggal Be 1960. Rahayu Sagung Dumadi.
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...