by ifid|| 19 Juni 2026 || 501 kali
YOGYAKARTA — Di bawah kolong langit Daerah Istimewa Yogyakarta, kebudayaan bukan sekadar peninggalan masa lalu yang statis dan berdebu di dalam etalase museum. Ia adalah embusan napas, denyut nadi, dan pemandu arah spiritualitas bagi masyarakat yang hidup di dalamnya. Namun, ketika roda zaman berputar kian kencang membawa ombak modernisasi, sebuah benturan eksistensial tak lagi dapat dihindarkan.
Hubungan antara kebudayaan dan masyarakat sejatinya merupakan dua entitas yang saling berkelindan secara absolut, sebuah dwitunggal yang tidak dapat dipisahkan oleh sekat apa pun. Masyarakat bertindak sebagai wadah dinamika yang memberikan ruang hidup bagi kebudayaan untuk tumbuh, meranting, dan berbuah. Sebaliknya, kebudayaan hadir memberikan instrumen nilai, kompas moral, dan arah hidup agar manusia tidak kehilangan kemanusiaannya dalam mengarungi samudra kehidupan. Ketika ikatan purba ini merenggang, fondasi peradaban sebuah bangsa mulai dipertaruhkan.
Fenomena pergeseran nilai ini menjadi sorotan utama dalam sambutan tertulis Kepala Dinas Kebudayaan DIY yang dibacakan oleh Plh Kasi Adat Tradisi, Zita Uttungga Dewi Maharani, dalam forum resmi Sarasehan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dinamika perubahan kebudayaan di era kontemporer ini ibarat pisau bermata dua.
Mengacu pada amanat Undang-Undang Keistimewaan DIY, Pemerintah Daerah wajib hadir di garis depan untuk melakukan pembinaan yang sistematis, pelestarian yang kontekstual, dan penguatan yang kokoh terhadap adat, tradisi, serta nilai-nilai budaya spiritual. Upaya proteksi ini dilakukan agar akar spiritualitas lokal tetap berdiri tegak, hidup, dan selaras dengan Pancasila.
Jika dalam tataran konstitusi negara telah menjamin hak-hak setiap warga negara secara setara, maka lembar realitas di lapangan sering kali masih menuliskan kisah yang bertolak belakang. Pasca-putusan Mahkamah Konstitusi, anak-anak penghayat secara hukum memiliki hak yang sepenuhnya setara. Namun, dalam praktik di sekolah, gerbang pendidikan belum sepenuhnya menjadi ruang aman yang inklusif.
"Keterbatasan literasi masyarakat tidak jarang memicu terjadinya tindakan diskriminatif, pengucilan, hingga perundungan di lingkungan sekolah. Hal ini berdampak langsung pada kesehatan mental anak didik kita." Zita Uttungga Dewi Maharani
Ketidaktahuan masyarakat mengenai eksistensi Penghayat Kepercayaan melahirkan prasangka yang membuahkan tindakan diskriminatif. Anak-anak kerap menjadi sasaran pengucilan hingga perundungan (bullying) baik secara verbal, sosial, maupun psikologis oleh sesama pelajar, bahkan akibat ketidaksensitifan tenaga pendidik.
Intimidasi yang diterima secara konstan ini merusak kesehatan mental anak didik, mengikis rasa percaya diri, serta memicu kecemasan akut (anxiety) dan ketakutan sosial. Ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat menyemai mimpi, justru berubah menjadi medan juang yang menegangkan.
Kajian akademis dari pusat studi keagamaan memberikan pisau analisis yang lebih tajam. Pandangan serupa disampaikan oleh Anna dari Inter Religious Studies (IRS) Universitas Gadjah Mada, yang menyebutkan bahwa anak-anak penghayat saat ini menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Selain persoalan regenerasi, mereka juga harus berhadapan dengan derasnya arus media sosial dan masih adanya hambatan penerimaan sosial yang membuat sebagian anak penghayat belum berani mengekspresikan identitasnya secara terbuka.
"Masih ada anak-anak penghayat yang merasa ragu untuk menunjukkan jati dirinya karena khawatir terhadap respons lingkungan. Padahal penerimaan sosial menjadi faktor penting dalam pembentukan rasa percaya diri mereka." Anna (IRS UGM)
Berdasarkan perspektif akademis tersebut, tantangan generasi muda penghayat dapat diurai ke dalam tiga kerentanan struktural:
Tantangan psikologis yang dihadapi anak-anak penghayat menuntut pendekatan pemulihan dari akar kepribadian, yaitu penguatan identitas diri. Aris Munandar, seorang Community Organizer Proyek Kesehatan Jiwa Berbasis Masyarakat dari Pusat Rehabilitasi YAKKUM, menegaskan pentingnya aspek ini.
"Tidak ada seorang pun yang akan bertumbuh tanpa memiliki kesadaran dan kemauan atas dirinya sendiri. Teman-teman penghayat perlu memiliki ruang yang bermakna untuk berpartisipasi dan menyampaikan pendapat agar kesehatan mental dan spiritual mereka dapat tumbuh dengan baik." Aris Munandar
Pembangunan manusia seutuhnya tidak akan pernah cukup jika hanya bertumpu pada pembangunan fisik belaka; unsur mental, spiritual, dan kebudayaan harus berjalan seiringan. Menciptakan ruang inklusif yang bermakna (meaningful participation) bagi generasi muda penghayat untuk berbicara dan berekspresi di ruang publik menjadi hal yang mendesak agar kesehatan mental mereka dapat pulih.
Teori sosiologi dan kesehatan mental menemukan wujud nyatanya pada sosok Shintawati, seorang alumni siswa penghayat kepercayaan yang menolak tunduk pada keadaan buruk masa kecilnya. Lahir dan dibesarkan dalam keluarga penghayat, ia telah mengecap pahitnya diskriminasi dan pengucilan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.
Namun, pengalaman traumatis tersebut justru ia ubah menjadi bahan bakar spiritual yang memperkokoh rasa bangganya terhadap identitas kultural leluhur.
"Saya selalu meyakinkan diri bahwa saya sama dengan yang lain. Saya punya hak, martabat, dan kesempatan yang sama untuk meraih cita-cita. Saya ingin menunjukkan bahwa menjadi penghayat bukan sesuatu yang harus disembunyikan, tetapi bagian dari warisan leluhur yang perlu dijaga dan dilestarikan." Shintawati
Kini, Shintawati menebarkan lentera inspirasi bagi adik-adik generasinya agar tidak pernah ragu dan selalu bangga pada jati diri sendiri karena mereka berharga dan bermartabat utuh.
Pemerintah Daerah DIY merespons situasi ini secara konkret melalui pelaksanaan sarasehan bertajuk “Srawung Rahayu, Memperkokoh Jati Diri dan Ketangguhan Mental Anak Didik Penghayat”. Forum ini mendeklarasikan tiga komitmen agung:
Forum ini juga merekomendasikan dua jalur intervensi yang berjalan simultan: struktural-regulasi (pengawasan ketat implementasi hukum di sekolah) dan kultural (transformasi kesadaran publik melalui diskusi panel lintas sektor).
"Mata air kebenaran tidak pernah memonopoli satu aliran sungai; ia mengalir ke berbagai penjuru, menyuburkan peradaban Nusantara dengan caranya yang sunyi namun pasti."
Salah satu rekomendasi paling konkret yang mengemuka dari pemikiran Anna (akademisi UGM) adalah urgensi memasukkan muatan substantif tentang Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa ke dalam kurikulum resmi di sekolah.
Selama ini, pendidikan kepercayaan hanya diberikan secara eksklusif kepada anak-anak penghayat. Rekomendasi strategis ke depan adalah memperkenalkan eksistensi dan nilai luhur Penghayat Kepercayaan ke dalam mata pelajaran umum yang diakses oleh seluruh siswa, seperti Sosiologi, Antropologi, Sejarah Kebudayaan, hingga perluasan materi dalam buku Pendidikan Agama dan Budi Pekerti secara inklusif.
Melalui integrasi kurikulum ini, seluruh anak didik sejak usia dini akan diajarkan untuk menghargai bahwa kekayaan spiritualitas di Indonesia tidak hanya terbatas pada agama arus utama, melainkan juga diperkaya oleh ratusan aliran kepercayaan lokal. Pengetahuan sosiologis yang inklusif ini diharapkan dapat meruntuhkan dinding pembatas ketidaktahuan, mematikan benih prasangka, dan merawat harmoni dalam bingkai persaudaraan sejati di Tanah Mataram.
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...