by ifid|| 22 Juni 2026 || 546 kali
Sore itu, pelataran Jogja National Museum (JNM) di kawasan Gampingan, Yogyakarta, kembali hidup. Udara pertengahan Juni yang mulai mendingin tidak menyurutkan animo ratusan pasang mata yang berkumpul. Mereka bukan sekadar datang untuk melihat pajangan visual; mereka hadir untuk menjadi bagian dari sebuah ritual kebudayaan tahunan yang telah mengakar kuat di tanah Jawa. Tepat pada Jumat, 19 Juni 2026, pintu gerbang ARTJOG resmi dibuka, menandai dimulainya perhelatan seni kontemporer paling dinantikan di Asia Tenggara yang akan berlangsung hingga 30 Agustus 2026. Tahun ini, ARTJOG melangkah lebih jauh. Festival ini tidak lagi hanya merancang pameran tunggal yang selesai dalam satu periode musiman. Melalui visi kuratorialnya, ARTJOG menawarkan sebuah cetak biru konseptual jangka panjang bertajuk ARS LONGA Trilogia. Sebuah manifesto seni yang direncanakan membentang dari tahun 2026 hingga 2028. Diambil dari pameo klasik “Ars longa, vita brevis” (Seni itu panjang, hidup itu pendek), trilogi ini memosisikan praktek seni sebagai sebuah jembatan waktu yang terus mengalir melampaui usia biologis para kreatornya.
Sebagai fondasi awal dari trilogi megah tersebut, tema ARS LONGA: GENERATIO didaulat menjadi nakhoda. Tema ini lahir dari sebuah kesadaran kritis akan pentingnya ruang dialog antar generasi di tengah era yang kian terfragmentasi. Di bawah payung GENERATIO, festival ini mendorong bertemunya para maestro, seniman mapan, hingga talenta muda dalam satu ruang dialektika. Bukan sekadar merayakan perbedaan usia, melainkan membayangkan kembali peran dan relevansi sosial seni di berbagai rentang generasi.
Di tengah ketidakpastian global yang melanda baik secara ekologis, sosial, maupun politik ARTJOG 2026 berupaya memaknai ulang praktik seni kontemporer. Di tangan para perupa, seni diposisikan kembali pada fungsi hakikatnya: sebagai bentuk perlawanan simbolis, ladang produksi pengetahuan baru, sekaligus sebuah proses penyembuhan (healing) bagi masyarakat yang terluka oleh zaman.
Melangkah ke dalam gedung pameran utama, pengunjung langsung dihadapkan pada sebuah presentasi visual yang monumental. Tahun ini, ARTJOG secara khusus mengundang Roby Dwi Antono sebagai seniman komisi (commission artist). Mengemban tanggung jawab untuk menerjemahkan keintiman tema ARS LONGA: GENERATIO, Roby menghadirkan serangkaian karya instalasi patung dan ruang imersif yang diberi judul besar GENERATIO: CYCLUS VITAE.
Melalui seri karya ini, Roby melakukan pembacaan psikologis dan sosiologis yang tajam mengenai bagaimana trauma, luka, dan memori dari generasi pendahulu bertransformasi menjadi warisan genetis maupun kultural yang membentuk identitas generasi berikutnya. Penjelajahan estetik ini dibagi secara dramatis ke dalam tiga babak ruang.
Pada bagian luar, fasad utama bangunan diselimuti oleh karya berjudul Vulnera: Bekas Luka Antargenerasi. Instalasi ini bertindak sebagai sebuah ambang pintu yang mengingatkan bahwa tidak ada satupun manusia yang lahir ke dunia dengan kertas bersih; kita semua membawa gurat luka masa lalu.
Memasuki ruangan pertama, penonton diisap ke dalam atmosfer magis dari Rahim Kolektif dan Generasi Alien. Di sini, Roby menggambarkan keterasingan generasi modern yang tumbuh di tengah disrupsi teknologi, seolah-olah terputus dari akar tradisinya sendiri namun terikat dalam satu rahim kolektif yang sama.
Perjalanan imersif ini mencapai puncaknya pada ruang berikutnya melalui Generatio Continua: Kematian sebagai Katalis Kelahiran Kembali Sebuah Generasi. Di ruangan ini, suasana hening dan instalasi patung yang subtil menyiratkan pesan optimistis: bahwa kematian sebuah era atau generasi bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah prasyarat mutlak yang memicu lahirnya pemikiran dan generasi baru yang lebih tangguh.
“Karya ini seperti sebuah cermin antropologis. Kita dipaksa melihat kembali apa yang telah kita warisi dari orang tua kita, dan apa yang kelak akan kita tinggalkan untuk anak-cucu kita,” ujar salah seorang pengunjung yang terpaku di depan instalasi Roby.
Tidak jauh dari ruang imersif tersebut, pengalaman kolektif pengunjung kian dipertegas oleh hadirnya seni performans (performance art) bertajuk Living Thread karya seniman internasional Hiromi Tango. Kehadiran Hiromi di ARTJOG yang didukung penuh oleh HTS Art Advisory dan direpresentasikan oleh Cuturi Gallery menjadi magnet tersendiri pada agenda pratinjau pameran.
Terinspirasi dari shimenawa, yakni tali suci dalam tradisi Shinto di Jepang yang melambangkan batas sakral, ikatan komunitas, dan perlindungan spiritual, Hiromi mengaktivasi karyanya melalui prosesi performatif yang melibatkan interaksi langsung dengan publik. Penonton diajak menyentuh, merajut, dan bergerak bersama, menciptakan sebuah jalinan benang kehidupan yang secara simbolis menyatukan energi kolektif lintas generasi di dalam ruang pameran.
Keberhasilan kuratorial ARTJOG 2026 dalam mengawal tema ARS LONGA: GENERATIO bertumpu pada dua pendekatan metodologis yang tegas, yakni Dialogus dan Pr?ctica. Kedua pilar ini memisahkan sekaligus menyatukan manifesto seni kelompok dan individu ke dalam satu ritme pameran yang harmonis.
Pendekatan Dialogus mengutamakan kolaborasi nyata antar-perupa yang berbeda generasi untuk membedah persoalan generasional. Segmen ini ingin membuktikan bahwa seniman bukanlah entitas tunggal yang egois; mereka adalah bagian dari jejaring sosial yang memiliki tanggung jawab moral untuk melakukan transfer pengetahuan.
Dalam segmen ini, publik disuguhi karya-karya bertenaga dari Alyakha Kolektif yang datang jauh dari Jayapura, membawa narasi ketahanan adat Papua. Ada pula kolaborasi intim antara Sirin Farid Stevy dengan komunitas Paseduluran Nandur Banyu dari Yogyakarta, yang menyoroti krisis air dan ekologi lokal lewat pendekatan seni berbasis komunitas.
Sementara itu, maestro patung Dolorosa Sinaga bersama Kelas Aktivisme Seni (Jakarta) menghadirkan instalasi yang menyuarakan pentingnya merawat ingatan sejarah dan hak asasi manusia, memperlihatkan bagaimana seni rupa bisa menjadi alat edukasi politik yang efektif bagi generasi muda.
Di sisi lain, segmen Pr?ctica menjadi panggung bagi karya-karya seniman individu yang secara mandiri merespons wacana kontemporer. Jessica Soekidi, perupa asal Banten, mempresentasikan karya konseptual memukau berjudul The Disco of Roots: A Rhizomatic Collective. Dalam karya ini, Jessica memosisikan umbi-umbian sebagai sebuah "arsip hidup". Lewat metafora akar umbi, ia menelusuri kembali sejarah pangan, pola mobilitas manusia, dan bagaimana strategi ketahanan pangan lokal dipertahankan secara turun-temurun.
Segmen ini juga memberikan ruang penghormatan khusus (tribute) bagi mendiang Radi Arwinda lewat proyek Radi Arwinda Experience (1985–2025, Bandung). Pameran ini menelusuri kembali gagasan akulturasi budaya yang menjadi ciri khas kekaryaan Radi semasa hidup, di mana ia secara jenius memadukan simbol-simbol sakral kebudayaan Cirebon dengan elemen-elemen ikonik dari budaya populer global. Presentasi ini menjadi salah satu momen paling emosional di ARTJOG 2026, sebuah bentuk apresiasi atas praktik kesenian yang telah menandai semangat zamannya (zeitgeist).
Tidak kalah memikat, kelompok artistik TEMPA menyajikan hasil riset artistik mereka yang mendalam di Palu, Sulawesi Tengah. Didukung oleh Pertamina, TEMPA mengeksplorasi kain kulit kayu tradisional bukan sekadar sebagai bahan pakaian purba, melainkan sebagai artefak budaya yang menyimpan sandi-sandi spiritualitas, keselarasan ekologi, dan sejarah panjang masyarakat lokal yang mulai terlupakan oleh modernitas.
ARTJOG tidak pernah hanya berbicara tentang seni rupa dua atau tiga dimensi. Melalui program performa ARTJOG, festival ini bermutasi menjadi panggung pertunjukan multidisiplin yang semarak. Dengan dukungan konseptual dari Bakti Budaya Djarum Foundation, panggung performa•ARTJOG dihelat setiap akhir pekan sepanjang festival, mengintegrasikan tema besar ke dalam seni gerak, bunyi, dan teatrikal.
Sinergi internasional terasa kental melalui kolaborasi dengan Institut Français Indonesia (IFI) Yogyakarta. Panggung performa menampilkan musisi elektro-pop asal Prancis, Violet Indigo, yang menyajikan aransemen musik futuristik berenergi tinggi. Kontras namun saling melengkapi, unit jazz eksperimental Watchdog (Prancis) juga hadir menghentak ruang pertunjukan dengan sajian tekstur musik beresonansi tajam yang memancing imajinasi penonton.
Malam pembukaan semakin spektakuler berkat kerja sama dengan Project Eleven Australia. Sebuah pertunjukan kolaboratif lintas negara disajikan secara eksklusif, melibatkan komposer Monica Lim (Australia), komposer Patrick Hartono (Vietnam/Indonesia), musisi Morgan May (Australia), serta didukung oleh kemegahan vokal Serenata Choir ISI Yogyakarta. Kolaborasi bunyi ini menjadi penanda fisik dari esensi tema festival: bahwa harmoni baru hanya bisa tercipta ketika berbagai latar belakang dan karakter vokal bersedia saling mendengarkan dan melebur ke dalam satu komposisi yang utuh.
Dari panggung teater multidisiplin, hadir proyek bertajuk Daughters of the Sea oleh Artistique Théâtre dari Prancis. Pertunjukan ini menelisik secara puitis hubungan kompleks antara perempuan dan masyarakat dalam berbagai lanskap sosial budaya. Sementara itu, koreografer berbakat Densiel Lebang membawa penonton ke dalam kedalaman magis kebudayaan Toraja lewat seni performans bertajuk Ma‘Bua’. Karya ini menyoroti kembali praktik ritual adat Ma'Bua', merekonstruksi nilai-nilai sakralnya ke dalam konteks estetika pertunjukan modern tanpa kehilangan kesakralan aslinya.
Salah satu pilar penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem seni kontemporer adalah program penghargaan Young Artist Award (YAA). Program ini dirancang khusus untuk mendeteksi, mengapresiasi, dan memproyeksikan arah masa depan seni rupa Indonesia melalui kacamata para kreator muda di bawah usia 33 tahun.
Seniman senior sekaligus juri YAA ARTJOG 2026, Angki Purbandono, menyatakan bahwa proses kuratorial dan penjurian tahun ini memberikan kejutan kultural yang luar biasa. Kualitas karya para finalis menunjukkan lompatan teknis dan konseptual yang signifikan.
“Saat ini kami menemukan ada dua seniman yang sama sekali belum pernah berpameran tapi karyanya sungguh menarik perhatian kami,” ungkap Angki dengan nada optimistis saat ditemui di sela-sela konferensi pers.
“Dari 19 finalis tersebut, mereka masih lantang menyuarakan tentang lingkungan, isu-isu politik, kemudian sosial budaya di sekitar mereka, dan bahkan pesan-pesan yang personal. Di ARTJOG 2026 ini mereka punya kelebihan lebih detail bagaimana menggarap sebuah karya, bukan hanya sebatas ekspresif tapi bagaimana secara teknis mereka juga sangat memikirkan detail.”
Pernyataan Angki bukan isapan jempol belaka. Hal tersebut terbukti dari keberhasilan Eldine Syifa, salah satu seniman muda berbakat yang sukses meraih penghargaan Young Artist Award tahun ini melalui karyanya yang impresif berjudul Laboratory of Play.
Karya Eldine menonjol karena kemampuannya meramu kritik sosial yang berat ke dalam instalasi interaktif yang tampak jenaka namun sarkastis. Baginya, penghargaan ini merupakan sebuah pengakuan sakral sekaligus cambuk moral untuk terus konsisten di jalur kesenian.
Karya saya adalah Laboratory of Play. Saya harap saya bisa terus berkarya dan ini merupakan tanggung jawab yang besar buat saya karena sudah mendapat nominasi ini,” kata Eldine dengan raut wajah haru. “Untuk kedepannya bisa lebih semangat lagi dalam berkarya dan terus bisa lebih baik dari karya yang sebelumnya.”
Kehadiran talenta-talenta segar seperti Eldine menegaskan bahwa ARTJOG sukses menjalankan fungsinya sebagai inkubator generasi. Festival ini tidak membiarkan seni kontemporer menjadi menara gading yang hanya dihuni oleh nama-nama lama, melainkan sebuah tanah subur di mana benih-benih baru selalu diberi ruang untuk bertumbuh dan mendominasi zaman.
Malam peresmian pembukaan akhirnya mencapai puncaknya. Ruang terbuka JNM dipadati oleh siluet ribuan manusia: para maestro seni rupa senior, kritikus, birokrat, mahasiswa, hingga turis mancanegara berkumpul di bawah langit Yogyakarta.
Seremoni sakral tersebut diawali oleh sebuah pertunjukan teater-gerak yang magis berjudul Sins of the Body oleh koreografer Mila Rosinta. Dalam pertunjukan tersebut, Mila mengeksplorasi gerak tubuh manusia sebagai "arsip hidup" yang paling jujur. Tubuh digambarkan sebagai medium fisik yang menyimpan memori kolektif, merekam hasrat, memendam trauma, sekaligus menyimpan gurat luka antargenerasi, senada dengan narasi besar yang dibangun oleh karya komisi Roby Dwi Antono.
Acara kemudian ditutup secara anggun melalui Pidato Kebudayaan yang disampaikan oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara. Di atas panggung, dengan latar belakang fasad JNM yang megah, beliau menyampaikan pesan filosofis yang mendalam mengenai keberlanjutan sebuah peradaban.
Beliau menerangkan bahwa sebuah kebudayaan yang kuat dan berdaya tahan tinggi tidak akan pernah bisa dicapai jika terjadi ego sektoral atau keterputusan komunikasi antargenerasi. Kebudayaan yang tangguh hanya akan mampu tercapai apabila setiap generasi, mulai dari para tetua yang membawa kebijaksanaan masa lalu hingga anak-anak muda yang membawa inovasi masa depan, secara inklusif saling membuka diri, berkolaborasi, dan berkontribusi bersama demi kebaikan kolektif.
Ketika lampu panggung utama perlahan meredup, para pengunjung mulai berpencar memasuki lorong-lorong pameran. Mereka berjalan melintasi karya-karya imersif, membaca narasi ketahanan pangan Jessica Soekidi, hingga mengagumi ketelitian teknik para finalis seniman muda.
Di sudut Gampingan malam itu, ARTJOG kembali membuktikan dirinya bukan sekadar pasar malam seni atau galeri komersial biasa. Ia adalah sebuah ruang perjumpaan yang hidup. Sebuah laboratorium zaman di mana masa lalu diarsipkan, masa kini dikritisi, dan masa depan dirajut bersama. Di bawah payung ARS LONGA, helatan ini berbisik lirih kepada setiap manusia yang melangkah pulang: bahwa hidup kita di dunia memang teramat singkat, namun jejak kebudayaan yang kita goreskan bersama akan abadi, melintasi waktu, melampaui generasi.
Program Publik ARTJOG 2026
Bagi masyarakat luas yang ingin merasakan langsung pengalaman kolektif lintas generasi ini, ARTJOG 2026 menyediakan berbagai program edukasi publik interaktif sepanjang penyelenggaraannya, antara lain:
Informasi selengkapnya mengenai jadwal acara dan tiket masuk dapat diakses melalui kanal media sosial resmi serta situs web resmi di www.artjog.id.
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...