by ifid|| 26 Juni 2026 || 35 kali
Di sudut pelataran Taman Budaya Yogyakarta (TBY), asap tipis membubung dari panggangan arang, membawa serta wangi gurih lemak sate kronyos yang meleleh menyentuh bara. Di sudut lain, uap hangat berkabut membawa aroma pandan suji dari bumbung bambu kue putu ayu yang baru saja diangkat.
Bagi siapa saja yang melangkah melewati gerbang TBY pada Senin sore (22/6/2026), waktu seolah melambat, lalu bergerak mundur. Riuh rendah klakson kendaraan di kawasan urban seketika diredam oleh gending Jawa yang mengalun lamat-lamat, berkelindan dengan tawa renyah pengunjung dan transaksi yang menggunakan pecahan ingatan masa lalu.
Pasar Kangen 2026 resmi dibuka. Gelaran tahunan yang telah bermutasi menjadi salah satu ritual kebudayaan paling dinanti di Yogyakarta ini kembali hadir selama tujuh hari penuh, hingga 28 Juni 2026. Di sini, nostalgia tidak sekadar diperdagangkan; ia dirawat, dirayakan, dan dijadikan fondasi untuk menyongsong hari esok.
Filosofi di Balik Asap Sate dan Harum Apem
Tahun ini, Pasar Kangen tidak ingin terjebak dalam romantisme masa lalu yang pasif. Di tengah laju modernitas dan digitalisasi yang kian memagut kehidupan urban 2026, sebuah jargon klasik Jawa diangkat sebagai kompas moral gelaran: “Ono Upoyo Ono Upo” (Ada usaha, ada nasi/penghidupan).
Sebuah filosofi sederhana namun mendalam tentang resiliensi. Jauh dari sekadar slogan estetis, tema ini berbicara tentang etos kerja masyarakat Jawa yang menolak pasrah pada keadaan.
“Pasar Kangen Taman Budaya mengangkat tema Ono Upoyo Ono Upo, sebuah filosofi Jawa yang mengandung makna bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menghasilkan manfaat penghidupan dan keberkahan,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A.
Menurut Dian, di era di mana segala sesuatu menuntut kecepatan dan keinstanan, nilai-nilai ketekunan (upoyo) yang bertahap justru menjadi barang mewah yang mulai langka. Pasar Kangen ingin menjadi pengingat hidup bahwa setiap bulir kesejahteraan (upo) senantiasa lahir dari keringat dan konsistensi, mirip dengan proses pembuatan jenang yang membutuhkan adukan konstan selama berjam-jam di atas tungku kayu bakar.
Menyaring Makna di Antara Ratusan Pendaftar
Animo masyarakat dan pelaku usaha untuk terlibat dalam ruang rindu ini terbilang luar biasa. Panitia mencatat sebanyak 687 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mendaftarkan diri. Namun, demi menjaga kesucian konsep dan kualitas pengalaman sensorik pengunjung, sebuah proses seleksi dan kurasi yang ketat terpaksa dilakukan.
Hanya ada 300 pelaku UMKM yang akhirnya dinyatakan lolos untuk menggelar lapak mereka. Proses kurasi ini tidak hanya melihat aspek legalitas usaha, melainkan kedalaman nilai tradisi, orisinalitas produk, serta keberlanjutan bahan baku yang digunakan.
Ketukan Lesung dan Suara Kentongan: Simfoni Pembuka Era Baru
Senin sore itu menjadi saksi sebuah prosesi pembukaan yang jauh dari kesan seremonial birokratis yang kaku. Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, KGPAA Paku Alam X, hadir mengenakan busana tradisional yang bersahaja namun sarat wibawa.
Alih-alih memotong pita plastik atau menekan tombol sirene digital, prosesi pembukaan dilakukan dengan cara yang menggetarkan ingatan agraris masyarakat Jawa: pemukulan kentongan dan menumbuk padi menggunakan alu di atas lesung.
Tuk-tak-tuk-tak...
Suara kayu alu yang berbenturan dengan lesung batu berpadu dengan ritme dinamis ketukan kentongan. Suara itu bergaung di antara pilar-pilar Taman Budaya Yogyakarta. Bagi masyarakat Jawa masa lampau, suara lesung adalah penanda produktivitas, simbol ketahanan pangan, dan panggilan untuk bergotong-royong setelah masa panen tiba. Melalui prosesi ini, pesan komunikasi tradisional dihidupkan kembali sebagai simbol harmoni, kerja kolektif, dan kebersamaan.
Dalam sambutannya yang elegan, KGPAA Paku Alam X memberikan refleksi mendalam mengenai esensi dari eksistensi Pasar Kangen di tengah dinamika zaman modern.
“Pasar Kangen adalah ruang perjumpaan antara ingatan dan harapan. Tempat di mana berbagai hal yang pernah akrab dalam kehidupan kita dihadirkan kembali,” ungkap Sri Paduka.
Beliau melanjutkan bahwa tema Ono Upoyo Ono Upo adalah sebuah otokritik sekaligus suntikan semangat bagi generasi masa kini.
“Tema Ono Upoyo Ono Upo adalah pengingat bahwa setiap hasil selalu berakar pada ikhtiar. Kehidupan yang lebih baik tidak lahir dari penantian, tetapi dari kesediaan untuk terus berusaha. Kita tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu tanpa membangun fondasi ekonomi dan budaya yang kuat untuk masa depan.”
Pasar Kangen adalah oase. Di tengah gempuran kafe estetis bermodel minimalis dan makanan siap saji yang menjamur di ruang urban, mencicipi kembali makanan-makanan bertekstur kasar dengan rasa manis gula jawa asli atau gurih ketumbar murni mendatangkan ketenangan tersendiri sebuah konsep slow living yang nyata.
Namun, di luar aspek rekreasi visual dan rasa, Dinas Kebudayaan DIY menyimpan misi yang jauh lebih besar: Regenerasi dan Edukasi.
Ekonomi Rakyat yang Berjiwa
Ketika malam kian larut, pendar lampu-lampu temaram di pelataran TBY justru membuat suasana kian magis. Pasar Kangen 2026 membuktikan diri bahwa kebudayaan tidak harus selalu berada di dalam ruang kaca museum yang sepi, dingin, dan berjarak. Kebudayaan bisa tampil hidup, dinamis, beraroma, dan bahkan berputar dalam roda ekonomi yang menghidupi ribuan kepala.
Melalui festival ini, para pelaku UMKM tradisional diberikan panggung terhormat. Mereka tidak lagi dipandang sebagai pedagang asongan pinggir jalan, melainkan sebagai aktor pelestari budaya yang menjaga resep-resep warisan leluhur agar tidak punah ditelan zaman.
Pasar Kangen adalah bukti sahih bahwa Yogyakarta tahu persis bagaimana cara merawat masa lalunya, bukan untuk berjalan mundur, melainkan untuk melompat lebih jauh ke masa depan. Di bawah payung filosofi Ono Upoyo Ono Upo, selama manusia-manusia di dalamnya masih mau bergerak, berusaha, dan berkarya dengan jujur, maka berkah penghidupan dan jati diri kebudayaan Yogyakarta tidak akan pernah habis dikikis waktu.
Gelaran ini masih akan memanjakan indra dan jiwa masyarakat hingga tanggal 28 Juni nanti. Bagi Anda yang rindu akan kehangatan sebuah interaksi yang jujur, wewangian asap kayu bakar, dan rasa dari masa lalu yang tulus, pelataran Taman Budaya Yogyakarta telah siap menyambut Anda pulang.
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...