Suluk, Tawa, dan Liang Lahat: Tiga Wajah Kesenian di Pentas Rebon

by ifid|| 03 Juli 2026 || 561 kali

...

 

Ada malam-malam tertentu di Yogyakarta yang tidak sekedar berlalu, melainkan mengendap di dada, lalu tumbuh menjadi renungan yang panjang, jauh setelah lampu panggung dipadamkan. Rabu, 1 Juli 2026, Pentas Rebon kembali menunjukkan eksistensinya di Central Hall Taman Budaya Yogyakarta. Sebuah ruang di mana waktu seolah melambat, memberi sekat bagi manusia untuk sekedar berkaca. Kali ini, udara terasa berbeda saat lampu perlahan luruh, panggung menjadi altar perenungan. Tiga laku dipersembahkan, membawa penonton melintasi batas tipis antara fana, yang jenaka, dan yang baka.

Suluk Kang Pungkasan: Ketika Takdir Menemukan Muaranya

Suara gamelan perlahan mengalun merdu menempa telinga dan menghipnotis penonton seakan memohon perhatian lebih dalam. Kethoprak Dhalang Panjang Mas hadir membawa lakon “Suluk Kang Pungkasan”, sebuah judul yang jika diterjemahkan lugas berarti "Suluk yang Terakhir". Suluk dalam tradisi jawa adalah sebuah nyanyian jiwa, sebuah disiplin batin untuk menjauhkan diri dari keduniawian. Dan malam itu, suluk yang dilantunkan bukan sekadar suluk seorang tokoh fiksi, melainkan gema dari sepenggal babat Mataram mengenai benturan antara syahwat penguasa, kesetiaan, dan takdir yang tak terelakkan. 

Di bawah tangan sutradara Puji Jovian, yang sudah tidak asing lagi menahkodai panggung-panggung Kethoprak Rebon, para lakon menghidupkan kembali catatan sejarah Jawa tentang sosok ki Dhalang Sopo Nyono atau yang dikenal dengan Ki Dhalang Panjang Mas, seorang Dhalang kondang tanah Mataram yang disegani berkat kepiawaiannya menghidupkan wayang dan menembangkan suluk. Namun kekondangan itu pula yang menjadi awal petakanya. Ki Dhalang Sopo Nyono memiliki seorang  istri berparas jelita bernama Retno Gumilang. Kecantikannya tersohor bagai kutukan yang mengundang petaka ketika desas-desusnya sampai ke telinga sang penguasa.

Babak-babak di atas panggung berubah mencekam saat siasat berdarah mulai digelar. Penonton disuguhi fragmen pilu ketika Ki Dhalang Panjang Mas binasa dan istrinya direbut paksa oleh penguasa yang namanya sengaja dibiarkan kabur dalam kisah. Sebab bagi Puji, yang penting bukan siapa nama sang penguasa, melainkan pola kekuasaan yang berulang dari zaman ke zaman. Ia mengungkapkan bahwa ketertarikannya mengangkat lakon ini justru berangkat dari sifatnya yang tidak populer. Mataram, menurutnya, menyimpan begitu banyak kisah sejarah yang masih kental namun jarang tersentuh panggung.

“Kisah-kisah semacam inilah yang justru penting untuk terus digali dan dihidupkan kembali, bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan sebagai sarana edukasi kepada masyarakat bahwa kekuasaan tidak selalu harus digunakan untuk hal-hal yang negatif. Kekuasaan, semestinya menjadi jalan untuk berbuat kebaikan yang lebih luas” ungkapnya 

Panggung semacam Pentas Rebon memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar ruang pementasan rutin. Puji memandangnya sebagai wadah yang sangat penting bagi seniman-seniman muda untuk menuangkan kreativitas mereka, dan jika ruang pentas yang tersedia justru menyempit, maka akan semakin sulit pula bagi para seniman lain untuk mendapatkan kesempatan menampilkan karya-karya mereka. 

AGhost in Cell: Komedi Getir Manusia Modern

Setelah batin diayuh oleh deru kethoprak, panggung beralih rupa menjadi cermin yang menggelitik lewat Dagelan bertajuk “AGhost in Cell”. Lampu yang semula muram berubah lebih terang, disambut tawa penonton yang mulai pecah sejak para lakon Dagelan memasuki panggung. Melalui pertunjukan bertajuk AGhost in Cell, suasana menjadi lebih cair, namun tidak kehilangan daya gugahnya. Seperti tradisi dagelan pada umumnya, kelucuan tidak hadir semata-mata untuk mengundang gelak tawa, melainkan menjadi medium untuk menyampaikan kritik dan kegelisahan sosial dengan cara yang lebih ringan.

Mengambil inspirasi dari film Ghost in the Cell, pertunjukan ini menghadirkan pendekatan yang berbeda melalui balutan humor khas Jawa. Dialog-dialog yang luwes, improvisasi para pemain, serta celetukan yang akrab dengan keseharian penonton membuat suasana terasa dekat. Sesekali tawa panjang memenuhi ruangan, namun di sela-sela itu penonton juga diajak menyadari bahwa komedi sering kali menjadi cara paling halus untuk membicarakan persoalan-persoalan yang serius.

Dagelan AGhost in Cell kembali menunjukkan bahwa seni lawak tidak identik dengan hiburan yang dangkal. Justru di balik kelakar dan permainan kata, tersimpan ruang refleksi mengenai kehidupan masyarakat hari ini. Kritik yang disampaikan tidak terasa menggurui, melainkan mengalir bersama canda sehingga mudah diterima oleh berbagai kalangan. Inilah kekuatan dagelan tradisional yang tetap mampu bertahan di tengah perkembangan zaman, yakni kemampuannya menjaga keseimbangan antara menghibur dan menyampaikan pesan.

Penggali Kubur: Ketika Negeri Berkaca di Bibir Liang

Selepas riuh tawa yang memenuhi ruangan, panggung kembali tenggelam dalam keheningan. Lampu meredup, irama melambat, dan suasana berubah menjadi lebih muram melalui pementasan teater Penggali Kubur. Jika dagelan mengajak penonton menertawakan kenyataan, maka teater ini mengajak mereka menatapnya tanpa pelindung. Tidak ada lagi gelak yang menjadi jeda. Yang tersisa hanyalah sunyi dan ruang untuk berpikir.

Melalui simbol-simbol yang dibangun di atas panggung, Penggali Kubur menghadirkan kritik sosial terhadap wajah negeri hari ini. Ia tidak menunjuk satu peristiwa atau satu tokoh tertentu, melainkan memotret kenyataan yang terasa akrab di mata masyarakat: ketika ketidakadilan menjadi sesuatu yang perlahan dianggap biasa, ketika suara-suara kecil semakin sulit terdengar di tengah hiruk-pikuk kepentingan, dan ketika harapan kerap terkubur lebih cepat daripada sempat tumbuh. Liang lahat yang dihadirkan di atas panggung seolah bukan hanya tempat menguburkan tubuh, melainkan metafora bagi cita-cita, nurani, dan kepercayaan publik yang perlahan dikikis oleh keadaan.

Setelah diajak mengenang sejarah melalui kethoprak dan menertawakan realitas lewat dagelan, penonton akhirnya dihadapkan pada pertanyaan yang paling sederhana sekaligus paling sulit: jika begitu banyak hal telah terkubur di negeri ini, masih adakah yang tersisa untuk terus diperjuangkan? Di situlah malam itu berakhir, bukan dengan tepuk tangan semata, melainkan dengan renungan yang pulang bersama setiap kepala yang melangkah keluar dari gedung pertunjukan.

Suara-Suara yang Pulang dengan Renungan Berbeda

Di antara ratusan penonton yang memadati Central Hall malam itu, ada beragam alasan dan cerita yang membawa mereka duduk di sana. Sepasang pengunjung asal Yogyakarta, Anggita dan Fauzan mengatakan bahwa ini adalah kali kedua mereka menonton pertunjukan Pentas Rebon. Bagi mereka, tiga pertunjukan dalam satu kesempatan adalah hal yang tak lazim jika dilewatkan, apalagi dengan cerita dan tema baru yang diangkat selalu berhasil dan meyakinkan pengunjung untuk menyaksikan lagi dan lagi. 

Lain cerita dari seorang pemuda asal Magelang yang malam itu sengaja melintasi batas kota demi menyaksikan Pentas Rebon. Ia telah menjalin ikatan emosional dengan panggung ini, sebuah kesetiaan yang terbukti dari kehadirannya yang telah melampaui sepuluh kali dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Pentas Rebon telah menjadi candu estetika kesenian yang membuatnya selalu ingin menonton lagi dan lagi. Pertunjukan Pentas Rebon malam itu merupakan satu kesatuan pertunjukan yang tidak bisa dikotak-kotakkan. Setiap lakon memiliki peran istimewanya  sendiri, sebuah pembagian ruang yang adil

“Menarik sih, karena yang kita tonton selalu relate dan aktual. Seperti yang hari ini ditampilkan juga sangat sesuai dengan kondisi saat ini serta berkembang di setiap pertunjukannya. Pentas Rebon juga tidak monoton, keberanian mengkritik yang dibungkus dengan seni dan lawakan adalah hal yang menarik untuk selalu ditonton ulang” ungkap Arsyad

Sebagai saksi hidup pertumbuhan Pentas Rebon selama 2 tahun terakhir, ia memandang panggung ini sebagai oase krusial di tengah gempuran  modernitas. Berada di Yogyakarta sebagai kota kebudayaan, ruang-ruang seperti ini adalah jembatan yang paling fleksibel bagi masyarakat untuk kembali mengenali jati dirinya.

Mengenai apa yang harus diangkat di masa depan, ia tidak menuntut banyak perubahan, melainkan menaruh kepercayaan penuh pada ketajaman intuisi para seniman Pentas Rebon yang selalu berhasil menangkap denyut nadi zaman.(Dewi/juliana/fit)

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta