by ifid|| 07 Juli 2026 || 29 kali
Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY turut mendukung penyelenggaraan Brain Awareness Week yang digelar di Gedung Societeit, Taman Budaya Yogyakarta, Jumat (3/7/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian July Transformation Series yang mengusung tajuk "Kisah Otak yang Tangguh", diselenggarakan oleh Yayasan Rewiring Hope Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk mengenal cara kerja otak, memahami hubungan antara pikiran, emosi, dan tubuh, serta membangun ketahanan mental di tengah tantangan zaman. Program ini menghadirkan sesi yang bersifat edukatif, interaktif, dan reflektif, serta terbuka bagi pelajar, orang tua, pendidik, dan masyarakat umum.
Anastasia Ajeng Wulan Tantri sebagai pendiri Yayasan Rewiring Hope Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Daerah DIY. Ini merupakan penyelenggaraan Brain Awareness Week yang kedua kalinya di Indonesia, dan digelar secara terbuka untuk publik non-kedokteran. Sebuah langkah yang cukup berani mengingat kampanye global ini biasanya digarap kalangan medis dan jarang turun ke ruang publik yang lebih luas.
“Kami berinisiatif bekerja sama dengan Pemda DIY, yang akhirnya menginisiasi kegiatan bernama neuroeducation, dimulai dari Yogyakarta,” ungkap Ajeng
Yogyakarta dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan mengingat tingginya tren gangguan kecemasan pada anak usia 10–18 tahun di kota ini. Pada tahun ini, Ajeng juga mendaftarkan dua hibah internasional yang biasanya diajukan oleh dokter spesialis saraf, salah satunya IBRO Speaker Support yang berlangsung keesokan harinya (4/7/2026) dan tercatat sebagai penyelenggaraan pertama di Indonesia.
Selaras dengan semangat inklusivitas yang diusung acara ini, sejumlah penyandang disabilitas netra turut ambil bagian, tidak hanya sebagai peserta tetapi juga tampil dalam sajian seni yang dipersembahkan di hadapan para tamu undangan dan pengunjung. Kehadiran mereka menegaskan bahwa literasi neurosains yang dikampanyekan bukan hanya untuk kalangan tertentu, melainkan untuk siapa saja dengan caranya masing-masing dalam memahami dunia. Brain Awareness Week juga menyediakan ruang diskusi mengenai keterkaitan kesehatan mental dengan nutrisi.
Keterlibatan Pemda DIY tidak berhenti di level simbolis. Kepala DP3AP2, Erlina, menyampaikan bahwa dinasnya telah lama memiliki fasilitas layanan terapi perilaku dan menangani klien anak-anak hingga dewasa dengan beragam kebutuhan kesehatan mental, sehingga mendukung penuh penyelenggaraan acara ini. Dukungan semacam ini menunjukkan bahwa kepedulian yang tampak di panggung sesungguhnya bertumpu pada kerja-kerja yang sudah berlangsung jauh sebelum sorotan datang.
Gusti Kanjeng Ratu Bendara turut hadir langsung di lokasi dan menyampaikan apresiasinya:
“Ini cukup menarik karena banyak diskusi tentang brain awareness di sini, dan bagaimana kami mendukung kegiatan ini dengan menggandeng para OPD yang ada di daerah Yogyakarta” ungkap GKR Bendara
Dalam sambutannya, GKR Bendara juga menyampaikan pandangan mengenai pentingnya melatih kedua sisi otak anak sejak dini, mengingat kebiasaan yang selama ini lebih banyak mengutamakan penggunaan tangan kanan dalam berbagai aktivitas, sementara kreativitas anak-anak masa kini justru perlu dilatih melalui kedua sisi otak, termasuk sisi yang jarang “diajak bicara”. Sebuah pengingat kecil bahwa kebiasaan yang diwariskan tanpa dipertanyakan, sekecil apapun, bisa jadi menyimpan ruang untuk ditinjau ulang.
Di balik antusiasme yang tampak, penyelenggara juga mengakui adanya kesenjangan yang cukup mencolok.
“Ketertarikan remaja di media sosial terhadap isu brain awareness sangat tinggi, mencapai 30.000 hingga 35.000 orang. Namun, jumlah yang benar-benar berani mendaftarkan diri secara resmi hanya sekitar 0,6 persen.” ungkap Ajeng
Angka ini menjadi perhatian tersendiri, bagaimana mengubah rasa penasaran di media sosial menjadi keberanian nyata untuk hadir dan mencari bantuan. Bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan menumbuhkan keberanian. Karena itu, upaya membangun “ruang aman” bagi anak-anak, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat merupakan hal yang sangat penting untuk diusung bersama.
Diah Puspita Sari, salah satu pengunjung yang datang bersama dua anaknya, turut membagikan kesannya.
“Acara ini sebenarnya dua arah, untuk orang tua dan anak. Ini membuka wacana saya sebagai orang tua, di mana saya harus memberikan makanan yang terbaik untuk anak-anak serta memberikan perhatian lebih banyak terhadap kesehatan mental anak” ungkapnya
Yayasan Rewiring Hope Indonesia menyampaikan bahwa kegiatan ini akan berlanjut pada 2026 mendatang dengan target sekitar 2.500 anak di Yogyakarta dan sekitarnya. Para guru yang hadir dalam kegiatan ini juga akan mendapatkan kelanjutan program berupa training school pada bulan yang sama tahun berikutnya. Melalui berbagai rangkaian ini, harapan besar diletakkan pada kesadaran bersama bahwa membentuk generasi yang tangguh dan utuh bukan tugas salah satu pihak saja, melainkan kerja bersama antara pemerintah, lembaga non-pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat luas. Sebuah pengingat bahwa ketangguhan jarang lahir dari kekuatan yang berdiri sendiri, melainkan kesediaan untuk saling menopang.(Dewi/Juliana/fit)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...