by ifid|| 13 Juli 2026 || 3 kali
YOGYAKARTA — Di tengah pusaran zaman yang bergerak tergesa, manusia kerap luput menyediakan jeda untuk mendengarkan dirinya sendiri. Kebisingan informasi mengaburkan makna, mengubah warisan leluhur menjadi sekadar artefak berdebu di sudut museum. Namun, pada Minggu malam (12/7/2026), Gedung Militaire Societeit di kompleks Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menjadi saksi bisu bagaimana masa lalu bisa dibangkitkan, dibunyikan, dan dirayakan kembali.
Melalui tajuk “Ruwat Ruwet: A Mystical Music Dramatic Reading Performance”, sebuah perhelatan lintas disiplin memukau publik. Namun, kisah paling magis dari pertunjukan ini sejatinya tidak hanya terletak pada sorot lampu panggung atau gema vokal di atas naskah kuno. Narasi paling dramatis justru tersembunyi di balik layar: sebuah proses berdarah-darah melawan waktu, merajut ego, dan menyelami kedalaman filosofi Mataram Islam.
Panggung seni Yogyakarta tidak pernah benar-benar tertidur. Namun, bagi lima kepala yang dipertemukan dalam payung Art Management Workshop—sebuah kolaborasi bergengsi antara Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY dan Melbourne Symphony Orchestra (MSO) detak waktu mendadak berdentang di luar irama kewajaran.
Semuanya bermula dari sebuah ruang ekspektasi yang tenang pada penghujung tahun 2025. Di tengah sejuknya udara Kaliurang, tim ini merajut angan-angan panjang. Dalam rancangan cetak biru mereka, karya kolosal yang merespons konsep Sumbu Mataram Islam baru akan menjumpai penontonnya di ujung tahun 2026, berkisar antara Oktober atau November. Mereka merasa memiliki kemewahan yang disebut "waktu".
Namun, seni seringkali melahirkan kejutannya sendiri, merobek rencana demi menguji ketangguhan para penciptanya.
"Tantangan terbesarnya bukan sekadar durasi persiapan yang terpangkas paruh waktu. Beban moral terbesar adalah bagaimana mempertanggungjawabkan sebuah tema yang sangat sakral dan berdimensi raksasa: Poros Mataram Islam. Di titik nol inilah, pencarian estetik yang sesungguhnya dimulai, memaksa sebuah tim yang baru terbentuk untuk berlari maraton dalam lintasan sprint." ucap Amalia Rizki Fitriani, Produser & Motor Penggerak Tim
Fase pertama dari tenggat waktu yang sempit adalah menemukan ruh cerita. Pada awalnya, ego heroisme membayangi ruang diskusi. Tim sempat tergoda untuk membawa narasi besar seputar kebesaran Kerajaan Mataram Islam melalui lensa strategi perang Sultan Agung. Ini adalah pilihan pragmatis yang menjanjikan aksi panggung yang memukau, ketegangan emosional, dan kemegahan visual yang mudah dicerna penonton.
Namun, riset budaya memiliki caranya sendiri untuk membelokkan arah para pencari. Di tengah tumpukan literatur dan penelusuran sejarah, timurung mengangkat pedang dan tombak. Mereka justru terkesan saat berhadapan dengan warisan intelektual sang penguasa Mataram: sebuah naskah klasik mistis-filosofis bernama Serat Sastra Gending.
Menyelami Serat Sastra Gending berarti melangkah ke dalam palung teologi dan kosmologi Jawa yang sangat dalam. Teks ini tidak berbicara tentang penaklukan wilayah, melainkan penaklukan diri. Ia berbicara tentang hubungan manusia dengan Sang Khalik, tentang irama semesta, dan tentang asal-muasal bunyi dan aksara.
Sadar bahwa kedalaman materi ini berpotensi menjadi bumerang yang menenggelamkan konsep pementasan mengingat abstraknya pesan yang harus diterjemahkan ke panggung visual tim sempat didera kebuntuan. Bagaimana mementaskan sebuah risalah tasawuf Jawa tanpa membuatnya menjadi kuliah umum yang membosankan? Pertanyaan ini menggantung di udara, menuntut jawaban yang tak kunjung datang dari naskah-naskah tua yang mereka baca.
Di tengah kebuntuan konseptual tersebut, tim memutuskan untuk mengetuk pintu para pakar. Sowan ke Imogiri dan berdialog dengan sesepuh adalah bagian dari ikhtiar spiritual. Namun, terobosan paling krusial secara artistik justru terjadi di ruang-ruang diskusi Dinas Kebudayaan DIY. Mereka menemui Pak Joko dan Pak Amri, dua figur periset kebudayaan yang selama ini menjaga gawang literatur Mataram.
Dari pertemuan di meja kayu tersebut, sebuah fajar pencerahan menyingsing. Pak Amri memberikan satu kalimat kunci yang menjadi jangkar bagi keseluruhan pertunjukan: "Jika kalian ingin mempelajari sastranya, maka kuasai dan pahami dulu aksaranya."
Saran ini mengubah total cara pandang tim. Mereka berhenti meraba keseluruhan Serat Sastra Gending dan memusatkan mikroskop mereka pada Pupuh Keempat. Bagian dari serat ini secara spesifik dan tebal mengulas perihal filosofi aksara Hanacaraka. Sultan Agung memandang kemampuan berbahasa dan menulis bukan sekadar alat komunikasi, melainkan anugerah terbesar manusia untuk merekam pengetahuan dan membangun peradaban.
Agar filosofi langit ini bisa membumi dan menyentuh emosi penonton modern, tim membutuhkan sebuah wahana narasi yang populer. Pilihan cerdas pun dijatuhkan pada legenda urban yang telah bermukim di alam bawah sadar masyarakat Jawa. Melalui adaptasi bebas kisah Aji Saka, Raja Medang, Dora, dan Sembada, pertunjukan ini mencoba mempertemukan mitologi, sastra, musik, dan realitas kontemporer dalam satu ruang perenungan.
Di atas panggung, aksara tidak lagi tampil sebagai deretan lambang mati. Aksara dihidupkan sebagai metafora tentang eksistensi, sumpah setia, retaknya komunikasi manusia, dan pencarian makna di tengah riuhnya (ruwet) kehidupan.
Produksi pertunjukan ini tidak tumbuh di ruang hampa, melainkan mewujud berkat arsitektur kolaborasi internasional yang matang. Sebagai luaran dari program Art Management Workshop, pementasan ini membuktikan bagaimana tata kelola seni yang digarap serius dapat mengamplifikasi nilai-nilai lokal ke standar panggung kelas dunia.
Kehadiran ekosistem pendukung yang kuat dari birokrasi memberikan ruang aman bagi seniman untuk bereksperimen. Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menjadi saksi hidup bagaimana kemitraan berkelanjutan antara pemerintah dan para pakar global tidaklah sia-sia.
"Semoga pertunjukan ini menjadi pengingat bahwa kebudayaan yang besar lahir dari masyarakat yang tidak pernah berhenti belajar, berdialog, dan mewariskan pengetahuan kepada generasi penerusnya," ungkap Dian
Harapan tersebut disampaikan Dian di hadapan para tamu undangan VIP yang hadir malam itu. Duduk di deretan kursi kehormatan, turut menyaksikan langsung perhelatan ini adalah Chief Operating Officer Melbourne Symphony Orchestra, Suzanne Dembo, beserta jajaran manajemen dan instruktur MSO. Kehadiran mereka menjadi validasi bahwa warisan pemikiran Sultan Agung yang dirawat di tanah Yogyakarta mampu bersuara lantang dan memukau pandangan masyarakat lintas benua.
Ketika teks naskah akhirnya mengunci bentuknya pada bulan Mei, Rifqi Mansur Maya selaku sutradara dihadapkan pada realitas lapangan yang keras. Waktu yang tersisa tinggal hitungan minggu. Menyelenggarakan sebuah pementasan teater konvensional dengan blocking presisi dan hafalan dialog yang panjang adalah kemustahilan yang berisiko fatal. Keputusan berani pun diambil: format Dramatic Reading Performance (Pembacaan Dramatik).
Disutradarai oleh Rifqi Mansur Maya, Ruwat Ruwet menghadirkan Djati Wowok, Kiki Pea, Ari Hamzah, dan Nalitari sebagai penampil utama. Tim penampil didominasi oleh individu berlatar belakang musik sebuah celah anatomi yang kemudian diubah sang sutradara menjadi kekuatan utama pertunjukan.
Berbeda dengan pertunjukan dramatik pada umumnya di mana musik hanya menjadi latar, dalam Ruwat Ruwet, musik ditempatkan sebagai bahasa utama yang tidak sekadar mengiringi cerita, tetapi juga membangun emosi, ritme, dan perjalanan setiap adegan. Panggung tidak dipenuhi properti fisik, melainkan dipenuhi oleh frekuensi bunyi.
Pengalaman penonton semakin diperkuat melalui tata cahaya yang dramatis, soundscape elektronik, visual yang menawan, hingga unsur wewangian aromatik yang disemburkan secara terukur ke udara. Seluruh elemen lintas indra tersebut saling terhubung erat, mengunci fokus audiens, dan membentuk satu kesatuan artistik yang menghipnotis.
Di balik kemegahan lintas indra di atas panggung, tantangan manajemen yang paling menguras air mata justru ada pada urusan mengelola manusia. Mengusung nama Art Management Workshop, proyek ini adalah ujian sesungguhnya bagi teori manajemen kolaborasi. Kelima anggota tim inti pada mulanya adalah orang asing dengan ego artistik yang menyala-nyala dan kesibukan domestik yang padat.
Di sinilah peran Amalia menjadi teramat vital. Ia bukan sekadar produser; ia adalah perajut keretakan. Ketika pesan singkat di grup tidak lagi mempan, ia menanggalkan formalitas dan melakukan pendekatan door-to-door. Amalia mendatangi satu per satu anggota tim di habitat asli mereka mulai dari menyambangi Sekolah Luar Biasa (SLB) tempat salah satu anggota mengabdi, hingga ke sudut-sudut kedai kopi. Garis bawah dari negosiasi ini tegas: karya ini harus menjadi milik bersama.
Untuk melengkapi kepingan puzzle auditori dari visi sutradara, kolaborasi lintas batas pun dilakukan dengan menggandeng Megatruh Sound System. Keputusan ini menjadi jembatan yang sempurna. Komposisi musik elektronik dan bebunyian eksperimental dari Megatruh terbukti memiliki frekuensi yang mampu menangkap ruh Serat Sastra Gending. Dentum bas dan distorsi mereka menciptakan suasana ruwet (kacau/riuh) yang mewakili kebisingan era kontemporer.
Sebagai bagian dari bimbingan intensif MSO, tim dituntut untuk berpikir lebih jauh dari sekadar tepuk tangan penonton di dalam gedung. Seni manajemen modern mensyaratkan adanya aktivasi audiens (audience engagement) di ruang publik. Seni harus turun menyentuh masyarakatnya secara langsung.
Merangkum filosofi perjalanan kesejarahan Sumbu Mataram, tim sukses mengeksekusi dua program aktivasi publik pada bulan Juni:
Gowes Heritage: Gerakan bersepeda menelusuri situs-situs bersejarah peninggalan Sultan Agung. Menolak terjebak dalam euforia massa yang dangkal, tim melakukan kurasi ketat. Dari 54 pendaftar yang antusias, hanya 30 peserta yang diloloskan demi menjaga kedalaman interaksi dan kekhusyukan perjalanan.
Walking Tour Kotagede: Sebuah tur berjalan kaki menyusuri gang-gang sempit dan sudut-sudut rahasia di pusat peradaban awal Mataram Islam. Program ini didesain untuk menghidupkan kembali narasi sejarah yang perlahan mulai terasa asing (liyan) bagi generasi muda Yogyakarta.
Dua program ini bukan sekadar alat promosi, melainkan perpanjangan napas dari konsep Ruwat Ruwet itu sendiri: mengajak manusia modern melambat, berjalan, dan melihat kembali akar tempat mereka bertumbuh.
Rifqi menjelaskan, Ruwat Ruwet lahir dari rasa ingin tahu yang mendalam tentang bagaimana sejarah masih dapat berbicara kepada manusia hari ini.
"Barangkali yang paling kita butuhkan hari ini bukan jawaban baru, melainkan kesempatan untuk mendengar kembali diri sendiri. Karena itu, Ruwat Ruwet bukan sekadar tontonan, tetapi ruang untuk mengalami, mengingat, dan membaca ulang arah di tengah dunia yang semakin ruwet," ungkap Rifqi.
Mengusung semangat ruwatan sebagai benang merah pertunjukan, malam itu penonton diajak menjalani perjalanan batin yang merefleksikan hubungan manusia dengan dirinya sendiri, sesama, alam, dan Sang Pencipta. Melalui kisah Aji Saka, Hanacaraka, dan berbagai simbol yang dihadirkan di atas panggung, Ruwat Ruwet menjadi ajakan untuk memahami kembali makna kehidupan di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat.
Lebih dari sekadar pementasan seni yang rampung dengan napas terengah-engah, proyek ini telah bertransformasi menjadi kawah candradimuka yang mendewasakan para kreatornya. Dinamika batin dan ego sektoral yang dahulu tersekat, kini mencair dalam harmoni.
Ruwat Ruwet menawarkan ruang refleksi tentang pentingnya menjaga pengetahuan, merawat kebudayaan, dan terus membangun dialog antargenerasi. Sebab di tengah begitu banyak suara yang saling berebut perhatian di dunia modern, pertanyaan paling mendasar sesungguhnya tetap sama: masihkah manusia mampu mengenali dirinya sendiri di tengah keruwetan zaman? Dari Militaire Societeit, denting gending itu memberikan jawabannya sebuah pengingat bahwa selama kita terus meruwat diri, peradaban tidak akan pernah kehilangan arahnya.
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...