by ifid|| 13 Juli 2026 || 104 kali
Yogyakarta - Suara piano mengalun pelan memenuhi Ruang Bima Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta, Jum’at (10/7). Satu per satu peserta berdiri di depan dewan juri. Sebagian memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang, lalu membiarkan nada pertama keluar. Di balik raut wajah yang tampak tenang, jemari yang saling menggenggam dan langkah kecil yang mondar-mandir di sudut ruangan diam-diam menyimpan kegugupan.
Sebelumnya suasana di luar ruang audisi pun tak kalah sibuk. Sejumlah peserta masih terlihat mengulang notasi lagu, melatih artikulasi, hingga melakukan pemanasan vokal sembari menunggu audisi dimulai. Di sisi lain, orang tua dan guru pendamping setia menunggu dengan tatapan penuh harap. Saat di ruangan audisi tak sedikit yang memilih mengabadikan momen, seolah ingin merekam setiap langkah kecil menuju panggung yang lebih besar.
Hari itu bukan sekadar ajang unjuk kemampuan bernyanyi. Sebanyak 49 penyanyi muda dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta tengah memperebutkan kesempatan menjadi bagian dari Gita Bahana Nusantara (GBN) 2026, sebuah kehormatan untuk tampil dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta.
Namun, perjalanan mereka tidak dimulai di ruang audisi.
Sehari sebelumnya, Kamis (9/7), seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti sesi pengambilan nada dasar. Tahapan ini menjadi bekal penting untuk menentukan tingkat suara yang paling sesuai sebelum memasuki proses penilaian utama. Bagi peserta, menemukan nada yang tepat berarti memberi kesempatan bagi suara mereka tampil maksimal di hadapan dewan juri.
Bagi peserta kategori alto, Genoneva Adriya Nathesa, pengalaman mengikuti pengambilan nada dasar menjadi modal penting sebelum kembali mengikuti audisi untuk kedua kalinya.
"Besok kita perlu menentukan nada yang paling nyaman supaya bisa menyanyi maksimal," ujarnya usai menjalani sesi tersebut. Ia mengaku telah mempersiapkan diri selama beberapa bulan bersama guru vokalnya, sehingga hasil penentuan nada dasar menjadi penegas atas latihan yang selama ini dijalani.
Persiapan serupa juga dirasakan peserta kategori tenor, Christian Melody Dharma Saputra. Berbeda dengan tahun sebelumnya, ia menilai rangkaian GBN DIY tahun ini semakin matang berkat adanya workshop pembekalan sebelum audisi.
"Workshop itu membantu banget. Jadi rasanya lebih siap," katanya. Selain latihan vokal, ia mengaku lebih banyak mempersiapkan mental karena menurutnya rasa gugup sering kali menjadi tantangan terbesar saat berada di depan juri.
Cerita lain datang dari dua peserta kategori bass, Tarsisius Evan dan Alvino Heidy Hanian. Keduanya merupakan teman satu sekolah yang sama-sama baru pertama kali mengikuti GBN. Meski menyadari kemungkinan hanya satu orang yang akan lolos mewakili kategori bass, keduanya justru saling mendukung sejak awal proses seleksi.
Malam sebelum audisi mereka berencana kembali berlatih dan berdiskusi dengan guru vokal masing-masing. Bagi keduanya, pengalaman mengikuti GBN sudah menjadi pencapaian tersendiri, terlepas dari siapa yang nantinya berhasil melangkah ke tingkat nasional.
Bagi sebagian peserta, perjalanan GBN bahkan tidak selalu diawali dengan keyakinan akan kemenangan.
Peserta Juara 1 kategori bass, Aqil Muhamad Fauzi, yang terpilih sebagai perwakilan DIY ke tingkat nasional, justru datang ke audisi dengan ekspektasi yang sengaja ia rendahkan.
"Awalnya saya tidak berharap menang tahun ini. Itu salah satu cara saya menenangkan hati dan pikiran supaya bisa fokus saat audisi," ujarnya.
Baginya, tantangan terbesar bukan terletak pada panggung atau ketatnya persaingan, melainkan pada proses mempersiapkan diri. Ia mengingat satu momen ketika kemampuan prima vista yang dimilikinya mendapat kritik dari sang guru. Saat itu, keraguan sempat muncul.
"Guru saya pernah bilang prima vista saya kurang bagus. Di situ saya sempat berpikir mungkin saya tidak akan bisa mencapai juara satu," kenangnya.
Namun keraguan tersebut tidak membuatnya berhenti. Sebaliknya, ia menjadikannya sebagai motivasi untuk terus memperbaiki diri. Ketika namanya diumumkan sebagai Juara 1 kategori bass, perasaan yang muncul justru campur aduk antara terkejut dan bersyukur.
"Saya sebenarnya berekspektasi mungkin di juara dua. Jadi ketika diumumkan juara satu, rasanya seperti panggilan untuk bertugas mewakili Yogyakarta di Istana Negara," katanya.
Bagi Aqil, Gita Bahana Nusantara bukan sekadar kompetisi menyanyi. Kesempatan bergabung dengan penyanyi muda dari berbagai daerah dan mengabdi melalui musik menjadi alasan utama dirinya mengikuti seleksi tersebut.
Di balik semangat para peserta, terdapat dukungan yang tak kalah besar dari keluarga. Salah satu orang tua peserta, Tanti Susanty, mengungkapkan bahwa kemenangan bukanlah tujuan utama. Baginya, proses belajar, keberanian mencoba, dan kesempatan bertemu dengan penyanyi-penyanyi muda berbakat justru menjadi nilai paling berharga.
"Prosesnya itu yang mahal. Dari sini dia belajar bahwa masih banyak yang lebih hebat sehingga terus termotivasi untuk berkembang," tuturnya. Dukungan tersebut diwujudkan dengan menemani latihan, memberikan fasilitas belajar, hingga terus menyemangati anaknya agar tidak menjadikan hasil akhir sebagai beban.
Pandangan serupa juga datang dari orang tua salah satu peserta kategori sopran yang meraih juara harapan 5, Angelica Desi, baginya hasil akhir bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan.
Ia mengaku tetap bangga terhadap putrinya yang berani mengikuti proses seleksi di tengah persaingan yang semakin ketat. Terlebih, persiapan menuju audisi harus dijalani bersamaan dengan beberapa kegiatan dan lomba lain.
"Apapun hasilnya itu adalah proses, yang penting jangan pernah menyerah untuk mencapai cita-cita," ujarnya.
Menurutnya, dukungan orang tua tidak hanya diberikan dalam bentuk motivasi, tetapi juga melalui berbagai kebutuhan yang menunjang perkembangan bakat anak. Selama anak masih memiliki semangat untuk belajar, ia percaya setiap pengalaman akan menjadi bekal berharga untuk langkah berikutnya.
Pandangan tersebut seolah menggambarkan suasana yang terasa sepanjang rangkaian audisi. Ada yang pulang membawa gelar juara, ada yang membawa catatan evaluasi, tetapi semuanya membawa pengalaman yang sama berharganya: kesempatan untuk bertumbuh.
Bagi dewan juri, proses seleksi GBN tidak hanya berbicara tentang suara yang indah. Juri senior GBN, Pancasona Adjie, menjelaskan bahwa peserta dinilai melalui empat aspek utama, yakni kemampuan ritmis, solfeggio, prima vista, dan penampilan menyanyi. Menurutnya, pengambilan nada dasar menjadi tahap penting agar setiap peserta dapat menunjukkan kemampuan terbaik sesuai karakter vokalnya.
Ia juga melihat perkembangan kualitas peserta DIY yang semakin baik dari tahun ke tahun. Menurutnya, semakin banyak generasi muda yang berani menunjukkan potensi di bidang seni suara meski tidak seluruhnya berasal dari sekolah musik.
Pandangan serupa disampaikan juri dari tingkat nasional, Langgeng Sumujud. Selain kemampuan teknik vokal dan membaca notasi, peserta GBN juga diharapkan memiliki semangat nasionalisme dan mampu membangun kebersamaan dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Semangat tersebut turut menjadi perhatian Direktur Bina Sumber Daya Manusia (SDM), Lembaga, dan Pranata Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Syukur Asih Suprojo, yang hadir meninjau langsung jalannya Audisi Gita Bahana Nusantara DIY 2026. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar ajang seleksi, tetapi juga bagian dari upaya pembinaan talenta budaya yang perlu dilakukan secara berkelanjutan.
"Talenta-talenta muda ini harus kita dorong dan pembinaan harus kita lakukan secara berkelanjutan. Saya yakin teman-teman di DIY punya talenta yang luar biasa di bidang paduan suara dan juga orkestra," ungkapnya.
Ia menambahkan, setiap daerah memiliki karakter dan potensi budaya yang berbeda. Melalui Gita Bahana Nusantara, keberagaman tersebut dipertemukan dalam satu harmoni kebangsaan sehingga generasi muda tidak hanya mengembangkan kemampuan bermusik, tetapi juga belajar menjadi bagian dari persatuan Indonesia.
Semangat pembinaan itu kemudian mengantarkan empat putra-putri terbaik Daerah Istimewa Yogyakarta pada GBN 2026, yaitu Jenn Disty Avalon untuk kategori sopran, Lucky Hanna Lubis kategori alto, Hafizh Arrafi kategori tenor, dan Aqil Muhamad Fauzi kategori bass yang selanjutnya akan mewakili DIY di Istana Merdeka.
Lebih dari sekadar memilih empat penyanyi terbaik, Audisi Gita Bahana Nusantara DIY 2026 menjadi ruang pembinaan bagi generasi muda untuk terus mengembangkan kemampuan seni sekaligus menumbuhkan semangat kebangsaan. Sebab di balik setiap nada yang dinyanyikan, tersimpan proses panjang, kerja keras, keberanian untuk mencoba, serta harapan agar suara-suara terbaik dari Yogyakarta dapat bergema membawa nama daerah di panggung nasional. (Juliana/Dewi/Fit)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...