by ifid|| 13 Juli 2026 || 85 kali
Sebelum ia dikenal sebagai raja yang bijaksana, Parikesit lebih dulu dikenal sebagai bayi yang nyaris tak sempat lahir. Ayahnya, Angkawijaya, gugur dalam Perang Baratayuda sebelum sempat melihat wajahnya. Bahkan di dalam kandungan pun, nyawanya sudah diincar hendak dimusnahkan oleh amarah seorang ksatria yang kalah perang. Ia tumbuh sebagai generasi Pandawa yang menang perang namun lelah dan berkurang, serta tahta yang harus diwariskan merupakan tanggung jawab yang harus dipelajari dari nol.
Kisah itulah yang dipentaskan kembali pada Jumat malam, 10 Juli 2026, dalam Umbul Donga Suran 1960 Bé di Pendapa Wiyata Praja, Kompleks Gedung Kepatihan Yogyakarta. Di bawah temaram lampu dan keheningan malam Sura, lakon wayang kulit "Jumenengan Parikesit" dibawakan oleh dalang Ki Sumanto Susilomadyo, mengajak penonton menatap lurus ke bayang-bayang kelir.
Ada yang menarik dari keputusan mempertemukan dua hal yang secara suasana tampak bertolak belakang. Melalui jajaran kelir dan lampu blencong, penonton diajak menatap bayang-bayang pertunjukan. Umbul donga yang lekat dengan kesunyian dan kekhusyukan, dipadukan dengan wayang kulit yang selama ini identik dengan keramaian.
Ketika ditanya soal pertimbangan memadukan dua suasana ini, Ki Sumanto menjawab, "Wayang kulit itu merupakan simbol kehidupan manusia yang termasuk dalam seni bayangan, di mana semuanya tampak samar-samar meskipun terlihat ramai. Ketika menonton wayang kulit, orang diminta untuk memperhatikan bayangan yang tercermin dalam cerita tersebut. Cerita ini menceritakan tentang perubahan zaman, yaitu peralihan dari zaman lama ke zaman baru, yang sangat sesuai dengan realita kehidupan saat ini. Jadi, simbol keramaian itu ada di sana, tetapi di sini kita merasakan suasana yang damai dan sunyi."
Menatap bayangan yang dimaksud Ki Sumanto itulah yang sesungguhnya menjadi inti dari kisah Parikesit. Bahwa di balik riuhnya sebuah pesta penobatan, tersimpan proses panjang dan sunyi yang tidak semua orang sempat menyaksikannya.
Parikesit tidak langsung duduk di singgasana begitu ia lahir. Ia harus melewati masa panjang sebagai anak yang diasuh, dididik, dan diuji, sebelum akhirnya dianggap layak untuk jumeneng resmi bertakhta. Semangat ‘menunggu saatnya’ inilah yang tampaknya turut dipertimbangkan Ki Sumanto ketika memilih lakon ini di antara ratusan lakon lain yang bisa dipentaskan.
"Lakon ini menceritakan sesudah peperangan Baratayuda, ibarat kita memulai dari nol, nantinya akan menjelaskan efek peperangan sehingga orang-orang yang bisa menyikapi itu yang akan bertahan, kira-kira begitu pesan yang akan disampaikan," jelasnya.
Namun "memulai dari nol" bagi Ki Sumanto bukan berarti mengulang cara lama tanpa perubahan. Sama seperti Parikesit yang harus menyesuaikan diri dengan zaman baru pasca perang, lakon malam itu pun dikemas dengan pendekatan yang menyesuaikan diri dengan penontonnya.
Ketika ditanya cara yang digunakan untuk menarik generasi muda, ia menjelaskan bahwa kolaborasi 2 gaya pakeliran membuat adegan yang berurutan menyambung antara gaya masa lalu dan masa kini. Dengan konsep seperti ini, ia harap anak muda yang menonton akan merasa tertarik.
Dalam kisah pewayangan, tak ada raja yang jumeneng tanpa restu dari mereka yang dituakan. Malam itu, restu serupa disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, yang turut menyapa masyarakat sekaligus berbagi pandangannya mengenai makna Umbul Donga Suran.
"Sama halnya dengan gelar Sura yang lain, bahwa makna yang ingin kita ambil adalah kita selalu meningkatkan kewaspadaan, keselamatan, dan juga untuk selalu mendapatkan berkat dan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa untuk keselamatan dan keberkahan. Kita berharap semua pelestarian seni pedalangan melalui pagelaran wayang kulit adat Suran, selain mampu memaknai bulan Sura, juga memberikan hiburan dan tontonan bagi masyarakat Yogyakarta," ungkapnya.
Kewaspadaan dan keselamatan yang disebutkan itu sesungguhnya adalah dua hal yang paling dibutuhkan Parikesit sebelum ia layak bertakhta bukan kemegahan, melainkan kesiapan batin untuk memimpin dengan hati-hati di tengah dunia yang baru saja porak-poranda.
Pecinta wayang berusia 53 tahun, Simo, sudah beberapa kali menyaksikan lakon "Jumenengan Parikesit" dibawakan oleh dalang-dalang berbeda, dan baginya pengulangan itu tak jadi soal.
"Ya, sebenernya semua lakon itu kebanyakan mengajarkan hal yang sama tentang pedoman kehidupan bagi semua manusia untuk menuju kebaikan," ungkapnya.
Sementara itu, Didin Prasetyo, pengunjung berusia 27 tahun menjelaskan pemahamannya terhadap pertunjukan wayang Umbul Donga Suran sebelum dan sesudah menonton malam itu,
"Dulu saya melihat pertunjukan wayang, pihak keraton biasanya mengadakannya di dalam, tapi sekarang pihak keraton sudah mulai membuka untuk masyarakat."
Baginya, keterbukaan itulah bentuk regenerasi yang paling nyata ia rasakan. Bukan pergantian tokoh, melainkan pergeseran cara sebuah tradisi menyapa generasinya.
Pada akhirnya, Parikesit tidak diingat karena kemegahan penobatannya, melainkan karena kesediaannya untuk lebih dulu belajar sebelum berkuasa. Ia mewarisi kekuasaan bukan dalam kondisi jaya, melainkan dalam kondisi yang harus dimulai kembali dari nol dan justru dari situlah kepemimpinannya dianggap layak dikenang. Suran, bagi masyarakat Jawa, membawa semangat yang bukan sekadar penanda pergantian angka tahun, melainkan momentum refleksi, doa, dan penataan diri, sebuah jeda untuk berbenah sebelum melangkah ke babak yang baru.
Dari sinilah pesan yang coba dirawat oleh Pentas Suran di Kepatihan malam itu terasa relevan hingga hari ini. Bahwa kepemimpinan yang baik, sebagaimana awal yang baik, selalu lahir dari kesediaan untuk belajar, bersiap, dan menata diri terlebih dahulu, bukan dari ambisi untuk segera berkuasa. Sama seperti wayang yang hanya bisa dimaknai lewat bayangannya, makna sejati dari sebuah jumeneng pun tidak selalu tampak di permukaan yang ramai, melainkan tersembunyi dalam proses sunyi yang mendahuluinya. Proses yang jika diselami, justru menyimpan seluruh jawaban tentang bagaimana seharusnya babak baru itu dijalani. Malam itu, di Pendapa Wiyata Praja, mereka yang datang tidak sekadar menonton pertunjukan, tetapi sedang menatap bayang-bayang kehidupan mereka sendiri melalui sunyi Parikesit. (Dewi/ifit)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...