MERAJUT KEMBALI BENANG EMAS MATARAMAN

by ifid|| 16 Juli 2026 || 12 kali

...

Bumi Sukowati,  pada awal Juli 2026 seolah membawa bisikan dari masa silam. Di bawah naungan arsitektur klasik Pendapa Rumah Dinas Bupati Sragen, alunan imajiner gaung gamelan mulai terasa memenuhi udara, menjembatani dimensi waktu yang terbentang ratusan tahun lamanya. Tepat pada tanggal 5 hingga 7 Juli 2026, ruang publik tersebut bersalin rupa menjadi sebuah kawah candradimuka bagi para seniman muda, pelajar, guru seni, dan pemerhati budaya. Mereka berkumpul dengan satu nafas dan satu tujuan: merengkuh kembali warisan adiluhung peradaban Mataram melalui perhelatan Workshop Tari Putri (Beksan Golek Kutut Manggung) dan Workshop Tari Putra (Beksan Lawung Ringgit).

Kegiatan yang dirangkai sebagai bagian tak terpisahkan dari Muhibah Budaya Sragen 2026 ini bukanlah sekedar laporan kegiatan seremonial atau rutinitas pelatihan fisik semata. Lebih dari itu, ini adalah sebuah ritus pewarisan budaya, sebuah upaya sistematis dan elegan untuk memastikan bahwa nilai-nilai filosofis, sejarah, dan estetika gaya Yogyakarta tidak berhenti sebagai artefak bisu di dalam tembok keraton, melainkan terus berdetak di dalam dada masyarakat luas.

Gema Mataram di Wilayah Timur: Sebuah Kesadaran Kultural

Untuk memahami kedalaman makna dari workshop ini, kita harus menilik pada tujuan besar dari Muhibah Budaya itu sendiri. Mengapa Sragen? Mengapa perhelatan ini menjadi begitu krusial?

Jawaban atas pertanyaan tersebut menggema melalui penuturan KMT Suryowaseso, salah satu Abdi Dalem Keraton Yogyakarta yang menjabat sebagai Wakil Pengageng di Kawedanan Kridho Mardowo Kraton Ngayogyakarta. Dengan sorot mata yang menyiratkan kebijaksanaan, beliau menegaskan bahwa Muhibah Budaya di wilayah Mataraman ini merupakan bentuk dukungan nyata untuk menyebarkan dan melestarikan kembali kebudayaan yang bersumber dari Keraton Mataram.

"Di wilayah Mataraman itu bisa mengembangkan budaya Mataram yang telah lama hilang, atau yang telah lama tidak dikembangkan. Sehingga harapan kami di dalam budaya Mataram ini dapat berkembang secara luas, tidak hanya di Keraton Yogyakarta, tetapi di wilayah Yogyakarta dan wilayah Mataraman yang dulunya menjadi wilayah yang sangat luas, meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur." ungkap  KMT Suryowaseso

Pernyataan ini menjadi fondasi filosofis bagi seluruh rangkaian acara. Sragen, yang secara geografis dan kultural bersinggungan erat dengan wilayah Jawa Tengah bagian timur dan perbatasan Jawa Timur, adalah bagian dari memori kolektif peradaban Mataram. Melalui tarian, batas-batas administratif dileburkan, digantikan oleh jalinan rasa (wirasa) yang merekatkan kembali ingatan masyarakat akan akar kebudayaan mereka.

Menyelami Kedalaman Falsafah dan Sejarah Leluhur

Minggu, 5 Juli 2026, menjadi titik tolak bagi para peserta untuk menanggalkan identitas profan mereka dan mulai mengenakan "pakaian" spiritual seniman keraton. Hari pertama tidak langsung diisi dengan cucuran keringat ragawi, melainkan dengan asupan wawasan historis dan musikal yang menjadi ruh dari Beksan Keraton. Tari keraton bukan sekadar estetika ragawi; ia adalah manifestasi peradaban.

Beksan Golek Kutut Manggung: Falsafah Ngadi Salira Lan Busana

Di satu sisi pendapa, para peserta Workshop Tari Putri dibawa menyelami sejarah lahirnya Tari Golek Tunggal. KRT Wiroguno, sebagai pemateri, membuka tabir masa lalu, membawa ingatan peserta ke era pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VIII. Tarian ini lahir di luar tembok istana, tepatnya di Ndalem Kadipaten Anom, pada mulanya berfungsi sebagai penutup sajian drama tari Langendriyan.

Namun, nilai terdalam dari Beksan Golek Kutut Manggung terletak pada filosofinya. Tarian ini merefleksikan konsep ngadi salira lan busana, sebuah prosesi suci seorang remaja putri dalam berhias dan mematut diri. Berhias di sini bukan sekadar membedaki wajah secara lahiriah, melainkan sebuah metafora tentang mempersiapkan budi pekerti, menata hati, dan menjaga kehormatan diri.

Para peserta juga diajak untuk peka terhadap rasa musikal dengan membedah struktur Gendhing Ladrang Kutut Manggung. Mereka belajar membedakan getar emosi antara laras Slendro pathet Manyura yang digunakan untuk sajian utuh, dengan laras Pelog pathet Barang untuk sajian yang lebih ringkas. Tarian ini rupanya adalah sebuah epos kecil yang mengadaptasi unsur gerak tari tradisi bedhaya, klana, dan ledhek menjadi satu kesatuan yang anggun.

Beksan Lawung Ringgit: Gelora Ksatria di Balik Serat Kandha

Sementara itu, di sudut lain Komplek Rumah Dinas Bupati Sragen, para peserta Workshop Tari Putra digembleng dengan energi maskulinitas yang elegan melalui Beksan Lawung Ringgit. Tarian gagah ini adalah warisan langsung dari pendiri Kesultanan Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwana I.

Peserta diajak menelusuri lorong waktu menuju peristiwa heroik Geger Sepehi. Pemateri membedah naskah kuno Serat Kandha bertajuk "Kalangenan Dalem Beksan Lawung Ringgit". Tarian ini bukanlah gerakan tanpa arah, melainkan penceritaan kembali epos Wayang Gedhog tentang pertempuran sengit antara Kerajaan Kediri melawan Maguwa.

Setiap ketukan iringan memiliki nyawanya sendiri. Peserta mempelajari komposisi laras Pelog Pathet Nem secara komprehensif. Mereka dikenalkan pada Gendhing Plajaran Mentaraman, Ketawang Gajah Endra yang mengiringi enjeran gagah, Ketawang Dhendha Sari untuk enjeran alus, dan puncaknya pada Gendhing Carabalen yang mengiringi adegan pertarungan lawung. Memahami ini, para pemuda Sragen disadarkan bahwa setiap hentakan kaki dan ayunan tombak mereka kelak adalah doa dan semangat juang yang diwariskan leluhur.

Transformasi Wiraga, Mengukir Presisi dalam Gerak

Senin, 6 Juli 2026, adalah hari di mana teori berubah menjadi peluh. Pendapa berubah menjadi ruang tempa yang disiplin.

Para penari putri memulai hari dengan penyelarasan pacak (postur dasar tari gaya Yogyakarta). Tubuh mereka harus dilatih untuk tunduk pada ritme Ladrang Kutut Manggung. Gerakan-gerakan yang sarat makna mulai dipraktikkan: siraman (mandi), kasrepan, dan kembenan. Menggunakan properti sengkang (giwang), sondher (selendang), dan slepe (sabuk), mereka memeragakan tahap demi tahap transformasi seorang perempuan keraton dengan penuh keanggunan.

Di sisi para penari putra, tantangannya jauh berbeda. Mereka dibagi menjadi dua kelompok besar untuk menguasai pola Beksan Sekawanan. Kelompok pertama mendalami ragam Gagah Bapang, sebuah karakterisasi ksatria penantang yang meledak-ledak dan berwibawa, merepresentasikan tokoh Raden Jayengraga dan Prabu Mandrasena. Kelompok kedua menyelami ragam Alus Impur, penokohan ksatria pimpinan seperti Raden Jayengrana dan Prabu Pancakusuma yang tenang, mematikan, namun tetap berwibawa.

Sore harinya, udara pendapa dibelah oleh desing tombak tumpul (lawung). Mengikuti tempo Gendhing Carabalen yang bertalu-talu, para pemuda ini berlatih adegan pertempuran. Presisi, disiplin, dan tenaga menjadi kunci. Mereka tidak sedang menari, mereka sedang memeragakan taktik memukul mundur musuh dengan estetika keraton yang memukau.

Pewarisan Lintas Generasi: Dedikasi Para Maestro

Keberhasilan transmisi ilmu yang rumit ini tentu tidak lepas dari dedikasi para narasumber dan pelatih yang hadir langsung dari jantung kebudayaan Yogyakarta dan Surakarta.

Salah satu pilar penting dalam pelatihan tari putri ini adalah Dra. Tutik Winarti, M.Hum. Lahir di Yogyakarta pada 6 Desember 1961, beliau bukan hanya seorang Dosen Jurusan Tari di Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, tetapi juga seorang guru di lingkungan keraton. Kehadirannya di Sragen membawa misi yang jauh melampaui urusan koreografi.

Dalam sela-sela waktu melatih, Dra. Tutik menyampaikan pandangannya yang mendalam tentang esensi Muhibah Budaya ini:

"Pertama-tama saya mengapresiasi sekali kegiatan Muhibah ini... Muhibah ini bisa sebagai satu ajang untuk lebih menghayati lagi kebhinekaan tunggal ika. Artinya kalau kita mempelajari, mencintai, toleransi itu akan semakin lebih tebal, semakin lebih kental. Dengan kegiatan ini, orang di luar Jogja itu akan lebih menghayati lagi keistimewaan Yogyakarta. Jadi keistimewaan Yogyakarta itu tidak hanya dinikmati oleh masyarakat Jogja saja, tetapi juga bisa dinikmati masyarakat di luar Jogja."

Selain itu, transmisi kebudayaan ini juga dikawal oleh tokoh-tokoh berpengalaman lainnya. hadir pula sosok Drs. Supriyanto, M.Sn., tokoh kelahiran Bantul yang memiliki rekam jejak panjang. Sebagai Abdi Dalem Keraton Yogyakarta sejak 1990 dan Wakil Pengageng Kawedanan Krido Mardowo sejak tahun 2000, serta pengalamannya sebagai Dosen dan Wakil Dekan II Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta, dedikasi beliau menjadi jembatan ilmu yang kokoh antara Surakarta, Yogyakarta, dan kini, Sragen. Kolaborasi para maestro lintas wilayah ini menegaskan bahwa kebudayaan Mataraman adalah milik bersama yang harus dirawat secara kolektif.

Kulminasi Estetika dan Estafet Peradaban

Selasa, 7 Juli 2026, menjadi hari pembuktian. Pendapa dipenuhi dengan aura konsentrasi tingkat tinggi saat uji unjuk karya secara terbuka digelar.

Peserta Tari Putri menyempurnakan motif gerak rias tubuh dan wajah tingkat lanjut seperti tasikan, borehan, dan ngilo sampur (bercermin pada selendang). Sebagai pamungkas identitas Beksan Golek Kutut Manggung, mereka mendalami gerak dara muluk, sebuah pose ikonik yang merepresentasikan burung dara yang bersiap terbang simbol pelepasan, kedewasaan, dan kebebasan jiwa perempuan Mataram.

Di waktu yang sama, para penari putra merangkai kepingan-kepingan adegan menjadi satu epos utuh. Mulai dari maju beksan (ajon-ajon), beksan pokok (enjeran), hingga pocapan di mana mereka melatih dialog antar penari dalam posisi bersila yang menuntut kekuatan napas dan artikulasi yang prima, sebelum akhirnya diakhiri dengan mundur gendhing.

Sesi gladi bersih dan unjuk karya dinilai secara komprehensif oleh para pelatih berdasarkan trinitas tari Jawa: wiraga (ketepatan teknik dan postur), wirama (keselarasan dengan irama), dan wirasa (kedalaman penjiwaan). Tiga hari digembleng, wajah-wajah lelah peserta memancarkan kebanggaan yang sulit disembunyikan saat sertifikat partisipasi diserahkan.

Menuju Mahakarya: Pesan dari Sukowati untuk Nusantara

Berakhirnya workshop di Pendapa Rumah Dinas Bupati Sragen bukanlah sebuah garis finis, melainkan titik mula yang baru. Rencananya, seluruh hasil jerih payah dari workshop ini akan diejawantahkan dalam sebuah pementasan megah pada Pagelaran Malam Puncak Muhibah Budaya Sragen di Halaman Kantor Pelayanan Terpadu Pemda Sragen.

Lebih dari sekadar tontonan visual, pementasan tersebut kelak akan menjadi sebuah pernyataan sikap budaya. Bahwa di tengah gempuran modernisasi dan budaya instan, generasi muda Sragen masih bersedia menundukkan kepala, memeluhkan badan, dan merendahkan hati untuk mempelajari warisan leluhurnya.

Muhibah Budaya Sragen 2026 telah berhasil menanamkan kembali panji-panji kebudayaan Mataraman di ufuk timur. Sebagaimana pesan KMT Suryowaseso dan Dra. Tutik Winarti, kebudayaan ini adalah medium pemersatu, penebal rasa toleransi, dan pengingat akan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Beksan Golek Kutut Manggung dan Beksan Lawung Ringgit kini tidak lagi hanya hidup di dalam keraton, tetapi bernapas melalui denyut nadi anak-anak muda Sragen, memastikan bahwa estafet peradaban ini tidak akan pernah terputus ditelan zaman.

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta