by ifid|| 16 Juli 2026 || 11 kali
Pelestarian budaya Nusantara, khususnya busana tradisional, memegang peranan krusial dalam memperkuat identitas nasional di tengah arus modernisasi. Di antara desing mesin waktu yang terus berputar membawa peradaban pada era serba instan, masih ada oase yang menjaga ritme nafas kebudayaan masa silam. Sebagai wujud nyata nguri-uri budaya, telah diselenggarakan kegiatan Workshop Pakaian Jawa Gaya Yogyakarta yang bertempat di Sentral Industri Kerajinan Kreatif (SIKK) Sragen. Kegiatan edukatif dan kultural ini berlangsung selama tiga hari berturut-turut, yakni pada tanggal 5 hingga 7 Juli 2026, dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, pegiat budaya, serta pelaku industri kreatif lokal.
Bagi mereka yang hadir, langkah kaki memasuki ruang workshop di SIKK Sragen bukanlah sekadar agenda seremonial biasa. Ruangan tersebut telah disulap menjadi ruang dialektika budaya. Udara di dalam ruangan seolah dipenuhi oleh keharuman malam batik dan kedalaman sejarah. Workshop ini dirancang secara komprehensif untuk memberikan pemahaman mendalam, baik secara teoritis maupun praktis, mengenai tata cara mengenakan busana gagrak Ngayogyakarta Hadiningrat yang benar dan sesuai dengan empan papan, yakni etika dan penyesuaian situasi.
Para peserta, yang tampak antusias memenuhi ruang workshop pada hari pertama, disuguhkan sebuah fakta yang menggugah kesadaran. Mereka diingatkan kembali bahwa warisan luhur yang mencakup aksara Jawa, bahasa Jawa, busana Jawa, hingga trapsila dan unggah-ungguh wajib dijaga agar tidak musnah tergilas oleh kemajuan zaman dan teknologi. Kesadaran ini memuncak ketika ditekankan bahwa kekayaan filosofis inilah yang membuat bangsa mancanegara terpesona, hingga puncaknya pada 17 Maret 2017, UNESCO menetapkan Ngayogyakarta sebagai kota filosofi. Jika bukan kita yang merawatnya, keluhuran ini kelak hanya akan menjadi cerita usang di buku sejarah.
Bukan Sekadar Penutup Raga: Menyelami Makna Surjan
Pada sesi pengenalan filosofi dasar busana tradisional Jawa, tabir makna di balik setiap helaian pakaian dibuka oleh KRT. Widyowinoto, yang menjabat sebagai Wakil Pengageng II di KW. Widyabudaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sosok Abdi Dalem berpangkat Bupati Kliwon yang juga menimba ilmu dari Empu Tari Karaton serta Maestro Bagong Kussudiharjo ini menegaskan bahwa sangatlah keliru jika menganggap pengageman (busana) Jawa sekadar instrumen untuk menutupi tubuh dari cuaca panas, dingin, atau sekadar penangkal penyakit. Lebih dari itu, busana ini adalah perpustakaan nilai; ia sarat dengan adat-istiadat, budi pekerti, lambang, dan simbol edukasi yang sangat luhur. Tiap jahitan dan potongannya membawa serta memori kolektif akan laku prihatin dan penghormatan terhadap Sang Hyang Widi.
Mari kita ambil contoh Surjan, kemeja pria yang khas dengan kerah tegaknya. Kata 'Surjan' sendiri menyimpan kedalaman semantik yang luar biasa, berasal dari gabungan kata "siro-jan". Makna filosofisnya adalah sebuah pepadhang atau pelita. "Siro" dan "Jan" mengajarkan bahwa seorang pria yang mengenakannya diharapkan mampu menjadi tepo palupi (teladan yang baik). Mereka diharap telah mapan secara spiritual, memahami Tuhannya, serta berguna bagi sesama masyarakat dan kebudayaannya. Surjan menuntut pemakainya untuk menjadi obor penerang bagi orang-orang di sekitarnya.
"Kanthi wicaksana Kanjeng Sunan Kalijaga yasa rasukan kanggih nutup badan salira, adedasar Al Qu’ran Surat Al A’raaf ayat 26, ingkang terjemahanipun ngendikakake: 'Hai Anak Adam sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian Takwa itulah yang paling baik...'"
Kutipan yang dibawakan dalam workshop tersebut membuat seisi ruangan terdiam. Pakaian takwa pada hakikatnya adalah busana rohani bagi setiap manusia agar senantiasa mengingat Sang Pencipta. Di lingkungan Karaton, Sultan Hamengku Buwono I bahkan menanamkan harapan besar agar setiap abdi dalem dan kawula yang mengenakan busana tersebut memiliki watak ksatria yang berpegang teguh pada prinsip: nyawiji (bersatu padu/fokus), greget (dinamis/bersemangat), sengguh (percaya diri namun tak sombong), dan ora mingkuh (pantang menyerah).
Kesenian Merengga dan Kesabaran Membebat Jarik
Memasuki hari kedua, 6 Juli 2026, suasana kelas berubah menjadi laboratorium praktik yang sibuk namun syahdu. Agenda bergeser ke sesi praktik intensif, di mana peserta dihadapkan pada lembaran-lembaran kain batik atau yang lazim disebut nyamping. Peserta diajarkan teknik dasar merengga atau membebat jarik dengan lipatan wiru yang simetris dan rapi.
Mewiru bukan sekadar melipat kain; ia adalah seni melatih kesabaran. Di hadapan para instruktur dan sesepuh busana, peserta pria maupun wanita memusatkan konsentrasi mereka. Berdasarkan pakem Ngayogyakarta, kain nyamping (batik sogan) memiliki ciri khas berupa seret atau plipitan berwarna putih di ujungnya. Peserta pria diajarkan membuat wiron dhedher (lurus) ketika memadukannya dengan rasukan surjan, atau wiron engkol jika dipadukan dengan rasukan peranakan. Kelengkapan lainnya pun tak luput dari perhatian: tangsul, stagen, lontong, timang, hingga kamus bordiran dipasang satu per satu dengan ketelitian tingkat tinggi.
Tidak hanya kaum hawa yang antusias belajar mengenakan kebaya dan jarik putri, para peserta pria juga tampak serius mempraktikkan cara memasang blangkon. Blangkon gagrak Mataram Ngayogyakarta memiliki detail yang rumit, mencakup bagian-bagian seperti tunjungan, wiron, mondolan, dan cethetan (yang sering diibaratkan sebagai Kupu Necep Madu). Suasana interaktif sangat terasa ketika para peserta saling membantu dan mengoreksi hasil praktik rekan di sebelah mereka, di bawah pengawasan instruktur yang sabar membimbing.
Klabang Pinipit dan Ketegasan Seorang Ksatria
Salah satu momen paling menarik bagi peserta pria adalah tata cara mengenakan duwung atau keris. Senjata tikam tradisional ini tidak dipasang sembarangan. Tata cara pemakaian yang lurus dan lazim digunakan oleh khalayak umum dalam busana Yogyakarta disebut Klabang Pinipit. Keris diselipkan di belakang lambung dengan lerek (arah lipatan) jarik yang harus disilangkan dengan posisi keris tersebut. Menariknya, tidak semua orang boleh mengenakan keris di lingkungan Karaton; bagi para abdi dalem dengan pangkat jajar atau magang, mereka belum diperkenankan mengenakan keris. Hal ini menyadarkan peserta bahwa hierarki dalam tata busana Jawa adalah bentuk penghormatan dan pengakuan atas dedikasi seseorang.
Peringatan Motif Larangan (Awisan). Dalam praktik mengenakan nyamping, peserta juga diberikan wawasan kritis mengenai motif batik yang dilarang atau disebut Awisan. Dalam acara resmi atau saat caos marak sowan bekti, tidak sembarang motif boleh dikenakan. Motif-motif tertentu memiliki derajat kebangsawanan yang eksklusif dan sakral. Ini adalah pelajaran berharga bahwa dalam kebebasan berekspresi, kebudayaan Jawa tetap memiliki koridor kepantasan (empan papan) yang menjunjung tinggi etika dan sejarah.
Janggan, Kebaya, dan Sanggul Tekuk
Bagi peserta perempuan, keanggunan gaya Yogyakarta dimanifestasikan dalam kesederhanaan yang bertenaga, sebagaimana dipandu secara luwes oleh Nyi. RW. Retnorayungsari (Noor Dwi Artyandari, MA). Sebagai seorang Abdi Dalem dan Pamucal Beksa Putri Kraton Yogyakarta, beliau memancarkan pesona pakem tradisi tersebut. Berbekal keahliannya mengelola Sanggar Rias dan Upacara Tradisi Sekar Mas, Nyi. RW. Retnorayungsari membimbing para peserta mempraktikkan cara mengenakan rasukan putri. Ada jenis Kebaya Tangkeban yang biasanya berwarna hitam dan dikenakan oleh para keparak, serta Rasukan Janggan, sebuah atasan kerah tinggi berwarna hitam yang tidak menggunakan kemben di dalamnya. Rasukan janggan ini kerap dikenakan oleh kanca sinden atau keparak saat menerima tugas kenegaraan (ayahan dhawuh).
Berbeda dengan riasan modern yang kerap menonjolkan kemewahan, tata busana abdi dalem keparak Yogyakarta justru menonjolkan kebersahajaan. Di bawah arahan Nyi. RW. Retnorayungsari, peserta wanita belajar menyanggul rambut mereka dengan gaya ukel tekuk tanpa menggunakan aksesori tambahan. Penggunaan kemben pun diajarkan sedemikian rupa agar tampak rapi dan elegan, dengan catatan khusus untuk tidak menggunakan pakaian dalam modern yang merusak siluet kemben tradisional tersebut. Kesederhanaan ini justru memancarkan aura wibawa yang tak lekang oleh waktu.
Sinergi Budaya dan Ekonomi Kreatif di SIKK Sragen
Puncak acara pada hari ketiga, 7 Juli 2026, diisi dengan simulasi penggunaan busana lengkap untuk berbagai keperluan adat. Pemilihan Sentral Industri Kerajinan Kreatif (SIKK) Sragen sebagai lokasi penyelenggaraan memberikan resonansi magis. Tempat ini tidak sekadar menyediakan gedung yang luas dan fasilitas memadai, tetapi berdiri sebagai monumen pergerakan ekonomi rakyat.
Di SIKK Sragen, denyut pelestarian warisan budaya adiluhung bertemu secara langsung dengan pengembangan ekonomi kreatif lokal. Para peserta yang baru saja menyerap ilmu filosofi dan praktik tata busana dari KRT. Widyowinoto dan Nyi. RW. Retnorayungsari dapat langsung berinteraksi dengan para perajin batik, seniman pembuat blangkon, hingga pengrajin aksesori busana tradisional di Sragen dan sekitarnya. Hal ini membuktikan bahwa budaya bukanlah barang purbakala yang hanya disimpan di etalase museum; ia adalah ekosistem yang menghidupi ribuan tangan terampil perajin di masa kini.
Di akhir acara, seluruh peserta berbaur, mengenakan busana yang telah mereka tata sendiri secara paripurna. Simulasi acara resmi kenegaraan dan pernikahan dilakukan dengan khidmat. Kilat kamera berpadu dengan senyum bangga dari wajah-wajah yang kini memahami bahwa apa yang melekat di tubuh mereka bukan lagi sekadar kain, melainkan sebuah doa, lambang budi pekerti, dan tanda kekuasaan Tuhan yang terwujud dalam laku budaya.
Secara keseluruhan, Workshop Pakaian Jawa Gaya Yogyakarta di SIKK Sragen berjalan melampaui target yang diharapkan. Peserta pulang tidak hanya dengan keterampilan teknis merangkai lipatan wiron atau memasang duwung, tetapi dengan rasa cinta yang telah mengakar. Di tengah modernisasi tahun 2026 yang bergerak cepat, benang-benang filosofi di Sragen telah berhasil dirajut kembali, menanti untuk diwariskan kepada generasi-generasi penerus, memastikan bahwa pelita kebudayaan Jawa akan terus menyala.
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...