by ifid|| 16 Juli 2026 || 8 kali
Ada getar masa lampau yang berdesir di bawah langit Bumi Sukowati malam itu. Embusan angin Juli yang melintasi pusat pemerintahan Sragen seakan menyingkap kembali lembaran sejarah tahun 1746. Ia bercerita tentang masa di mana gemerlap lampu kota belum ada, digantikan oleh laku prihatin dan nyala api perlawanan. Diiringi alunan gamelan yang memecah kebisuan malam, perayaan ini menanggalkan cangkang seremonialnya. Ia menjelma menjadi sebuah laku spiritual ritus penyatuan dua fragmen sejarah besar yang sejak ratusan tahun silam tak pernah benar-benar terpisahkan.
Di bawah temaram cahaya panggung Malam Puncak Muhibah Budaya Yogyakarta 2026, Kamis (9/7/2026), hadir dua tokoh yang mewakili dua wilayah beda administratif namun bertaut dalam satu rahim budaya. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, duduk bersisian dengan Bupati Sragen, Sigit Pamungkas. Kehadiran para pembesar dari dua wilayah ini disaksikan oleh ribuan pasang mata, diiringi tembang macapat yang melantunkan doa dan puji-pujian, mengingatkan pada nilai-nilai adiluhung Jawa yang nyaris lekang dihempas zaman.
Bagi Sragen, kunjungan ini bukan sekadar tamu kenegaraan. Ini adalah kepulangan. Kepulangan sebuah akar kepada tanah tempat ia pertama kali disemai. Muhibah Budaya dengan tajuk "Merajut Budaya Mataraman dari Jogja untuk Indonesia" ini menjadi kanvas di mana lukisan masa lalu, tentang darah, keringat, dan filosofi kejuangan Pangeran Mangkubumi, kembali ditegaskan. Sragen sedang merayakan hari jadinya yang ke-280, namun yang sesungguhnya dirayakan adalah keabadian sebuah ikatan spiritual yang tak pernah putus sejak tahun 1746.
Rahim Kemerdekaan Bernama Sukowati
Untuk memahami kedalaman emosi pada malam itu, kita harus memutar waktu hampir tiga abad ke belakang. Tepatnya pada tanggal 19 Mei 1746, ketika seorang pangeran dengan hati yang luka oleh ketidakadilan penjajah, memilih meninggalkan kemewahan keraton Surakarta. Bendara Pangeran Harya Mangkubumi, kelak dikenal sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono I, memilih jalan pedang demi membela kehormatan dan kedaulatan tanah Jawa.
Delapan hari setelah perjalanannya, pada 27 Mei 1746, Pangeran Mangkubumi menjejakkan kaki di sebuah pendopo di Pandak, Krikilan, Masaran. Di tanah yang saat itu dikenal sebagai Bumi Sukowati, sang Pangeran meletakkan 'titik nol' perlawanannya. Ia tidak sekadar berlindung; ia membangun pemerintahan gerilya. Ia menyusun laku prihatin yang mendalam, mengatur strategi, dan yang terpenting, ia menyatukan hatinya dengan nafas rakyat jelata. Manunggaling kawula lan gusti (bersatunya rakyat dan raja) bukan lagi sekadar semboyan, melainkan laku hidup di Sukowati.
"Jejak itu yang menjadikan Sragen layak disebut sebagai saudara tua Daerah Istimewa Yogyakarta. Sukowati bukanlah sekadar persinggahan, melainkan pilar yang menopang lahirnya Ngayogyakarta Hadiningrat." tutur Sri Sultan Hamengku Buwono X
Perjuangan panjang dari Sragen ini kelak berujung pada Perjanjian Giyanti di tahun 1755, yang melahirkan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Karena itulah, penetapan 27 Mei sebagai Hari Jadi Kabupaten Sragen bukanlah keputusan yang diambil dari ruang hampa, melainkan sebuah penghormatan abadi pada detik di mana Mangkubumi memulai gerilya kemerdekaannya. Bumi Sukowati adalah rahim, dan keraton Yogyakarta adalah sang bayi yang kini telah tumbuh menjadi pusat gravitasi peradaban Mataram.
Sragen: Sang Saudara Tua
Dalam sambutannya yang sarat akan makna dan kelembutan seorang bapak, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengucapkan sebuah kalimat yang sontak menggetarkan relung hati warga Sragen yang hadir. Beliau menyebut Sragen sebagai "Saudara Tua". Sebuah pengakuan yang melampaui batas-batas politik dan protokoler pemerintahan. Di hadapan seluruh Forkopimda dan ribuan masyarakat yang menyemut, Sri Sultan melepaskan sekat formal dan memeluk Sragen dengan bahasa kalbu.
Penyebutan Saudara Tua ini memiliki dimensi filosofis yang sangat dalam. Secara administratif, Yogyakarta mungkin berstatus daerah istimewa setingkat provinsi, tempat di mana keraton berdiri megah dan kebudayaan dijaga penuh wibawa. Namun, secara historis dan spiritual, pilar kedaulatan yang menopang kemegahan Yogyakarta itu ditanam di tanah Sragen. Tanpa laku prihatin dan gemblengan di Sukowati, sejarah mungkin akan mencatat hal yang berbeda.
Sultan memandang gelaran Muhibah Budaya 2026 ini sebagai sarana vital untuk menggali dan berbagi gagasan. Bukan sekadar meromantisasi masa lalu, melainkan menjadikannya modal kultural untuk menjawab tantangan masa depan. "Dengan memahami jejak dan asal usul, kita bisa menggugah kesadaran generasi kemudian sebagai modal berharga bagi pengembangan budaya kedua daerah," tutur Ngarsa Dalem dengan nada penuh harap.
Siraman Spiritual bagi Bumi Sukowati
Bagi Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, kehadiran Sri Sultan dan seluruh kontingen budaya dari Yogyakarta adalah sebuah keberkahan yang tak terhingga. Dalam nada suara yang bergetar menahan haru, ia menyampaikan bahwa kunjungan ini bukan sekadar pertemuan fisik pemerintahan. Ini adalah siraman kesejukan kultural dan spiritual di tengah hiruk-pikuk zaman modern.
"Hubungan antara Sragen dengan Yogyakarta merupakan hubungan yang diikat oleh benang emas sejarah dan kekuatan spiritualitas," ungkap Sigit Pamungkas. Ia pun menuturkan sebuah tradisi yang terus dijaga di Sragen: setiap kali hari jadi kabupaten tiba, seluruh elemen masyarakat, dari tingkat bupati hingga balai desa di pelosok, mengadakan tirakatan. Mereka duduk merenung, membacakan kembali sejarah Pangeran Mangkubumi, menyerap kembali semangat keberanian dan keteguhannya.
"Muhibah budaya ini adalah momentum membangkitkan kembali dan mempererat tautan hati sambung rasa antara Sragen dengan Yogyakarta, sekaligus nguri-uri kabudayan Jawa yang adiluhung." Sigit Pamungkas, Bupati Sragen
Menari di Atas Lembaran Sejarah
Kemegahan malam itu tak hanya tercipta dari rentetan kata bermakna, melainkan juga dari manifestasi seni yang memukau. Seni, dalam tradisi Mataraman, bukanlah sekadar tontonan untuk menghibur mata, melainkan tuntunan yang merawat jiwa (tatanan). Rangkaian pentas yang disuguhkan menjadi cerminan hidup dari nilai-nilai luhur yang telah diwariskan.
Sebuah persembahan yang sangat emosional, Tari Jejak Juang Sang Pangeran di Tanah Perdikan, dibawakan oleh Sanggar Muruping Jagad dari Kecamatan Gemolong, Sragen. Tarian ini memvisualisasikan bagaimana Mangkubumi, yang kehilangan segala kemewahan keraton, justru menemukan kekuatan sejati di tengah rakyat. Setiap gerak penari menggambarkan taktik cerdik, napas yang terengah, dan spirit tak kenal menyerah. Mereka menari di atas penderitaan untuk merajut kemerdekaan.
Tidak ketinggalan, mahakarya dari Keraton Yogyakarta turut mewarnai panggung. Beksan Lawung Ringgit, tarian ciptaan langsung Sri Sultan Hamengku Buwono I, dibawakan dengan gagah oleh 20 penari gabungan putra daerah Sragen dan keraton. Menggunakan tombak tumpul (lawung) sebagai properti, tarian yang diambil dari manuskrip kuno pasca Geger Sepehi ini bukan tarian biasa. Ia adalah wujud latihan ketangkasan prajurit, simbol maskulinitas, kedisiplinan, dan kesiapan untuk selalu membela kebenaran. Kemenangan Dharma (kebaikan) atas Angkara Murka divisualisasikan dengan ketegasan gerak dan iringan gamelan yang menggugah.
Mengimbangi ketegasan Beksan Lawung, disajikan pula Tari Golek Kutut Manggung. Tarian ini melambangkan proses ngadi salira lan busana (mempercantik diri), sebuah filosofi tentang pentingnya membersihkan diri, baik secara fisik maupun batin, dalam menjalani kehidupan. Kolaborasi penari Sragen dan keraton ini menjadi bukti nyata bahwa transfer pengetahuan dan pelestarian budaya berjalan dengan sangat baik melalui workshop-workshop yang digelar hari-hari sebelumnya.
Membawa Mataram ke Masa Depan
Malam Puncak Muhibah Budaya 2026 di Sragen akhirnya harus usai ketika waktu merambat larut. Namun, gaungnya dipastikan akan bertahan jauh lebih lama dari durasi acara itu sendiri. Sragen telah diingatkan akan marwahnya yang luhur; bahwa tanah mereka adalah kawah candradimuka bagi lahirnya peradaban Mataram modern.
Di sisi lain, Yogyakarta juga mengukuhkan janjinya untuk tidak pernah melupakan akar sejarahnya. Hubungan 'kakak-beradik' ini, jika terus dirawat dengan cinta dan penghormatan, akan menjadi tameng terkuat dalam menghadapi arus modernisasi yang kerap menggerus identitas lokal. Pesan tertulis dari Sri Sultan HB X yang dibacakan oleh Bupati Sragen menjadi penutup yang sempurna: "Menjadi pribadi yang bermanfaat untuk orang lain dengan dasar teguh dalam prinsip keyakinan dan luwes dalam penampilan."
Ketika Mc mengucapkan salam penutup dan lampu perlahan dipadamkan, Bumi Sukowati kembali tenang. Namun di dalam dada setiap warganya, api semangat Pangeran Mangkubumi kembali menyala. Benang emas sejarah itu tak sekadar dirajut kembali, ia kini bersinar semakin terang, menghubungkan masa lalu yang agung dengan masa depan yang penuh harapan.
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...