Gema Tembang Manuskrip Mataraman

by ifid|| 16 Juli 2026 || 28 kali

...

Sragen, 7 Juli 2026, embusan angin yang membawa sejuknya udara pagi dan aroma khas tanah agraris Bumi Sukowati seolah menyelinap lembut ke dalam ruang SIKK Sragen, Jawa Tengah. Keriuhan yang biasanya identik dengan dinamika kota, perlahan luruh saat lantunan tembang Jawa mulai mengalun syahdu memecah keheningan. Bait-bait bernada pelog dan slendro itu mengalir tenang namun menghanyutkan, layaknya arus Bengawan Solo yang tak pernah lelah membelah kawasan ini, membawa setiap jiwa yang mendengarnya melintasi lorong waktu masa silam. Perhelatan "Wanuh Budaya Mataraman: Maos Manuskrip" pagi itu 

Acara yang merupakan bagian integral dari rangkaian Muhibah Budaya di Kabupaten Sragen ini digagas dengan visi yang jauh ke depan. Tujuannya sangat jelas dan mendalam: mengenalkan kembali isi, nilai, dan ajaran filosofis yang terkandung dalam manuskrip Jawa kepada masyarakat luas. Melalui tradisi maos (membaca) dan tembang (menyanyikan), kegiatan ini berupaya meningkatkan apresiasi publik terhadap warisan budaya tulis Nusantara. Lebih dari itu, ia adalah sebuah benteng pertahanan kultural untuk memperkuat pelestarian tradisi Mataraman di tengah gempuran modernisasi yang kerap mencerabut manusia dari akar budayanya.

Menyusuri Jejak Historisitas Aksara Jawa

Pemahaman mengenai manuskrip tidak dapat dilepaskan dari sejarah aksara yang membentuknya. Dalam sesi pendalaman materi yang dihadirkan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta bersama Komunitas Aksara Jawa Sego Jabung Yogyakarta, para peserta diajak menapaktilasi historisitas Aksara Jawa. Kisah ini dimulai dari ranah mitologi yang begitu melekat di benak masyarakat Jawa, yakni narasi Ajisaka. Sosok Ajisaka kerap digambarkan sebagai pengembara dari luar kawasan pulau Jawa baik itu dari Arab, Hindustan, Ngatas Angin, maupun Rum (Turki) yang datang membawa pencerahan.

Kisah perjumpaannya dengan Déwata Cengkar, penguasa lokal yang kejam dan nir-tatanan, serta tragedi pertarungan dua abdinya, Dora dan Sembada, melahirkan susunan aksara legendaris: ha na ca ra ka, da ta sa wa la, pa dha ja ya nya, ma ga ba tha nga. Dua utusan yang berselisih pendapat, sama-sama sakti, dan akhirnya sama-sama gugur meninggalkan jasad. Secara historis, penyebutan susunan aksara Jawa 20 karakter ini paling awal ditemukan dalam naskah Serat Sastra Gendhing, sebuah mahakarya dari era Sultan Agung Hanyakrakusuma.

"Dari mitologi Ajisaka hingga evolusi nyata dari huruf Pallawa dan Kawi, Aksara Jawa membuktikan dirinya sebagai sebuah entitas yang hidup, beradaptasi, dan merekam jejak peradaban yang tak ternilai harganya."

Namun, dari kacamata epigrafis dan historis, aksara Jawa merupakan hasil evolusi panjang peradaban tulis Nusantara. Dimulai dari pengaruh aksara Pallawa pada masa Hindu-Buddha, aksara ini kemudian bertransformasi menjadi aksara Kawi atau Jawa Kuno, sebelum akhirnya menemukan bentuk mapannya sebagai Carakan Jawa yang kita kenal sekarang. Karakter pokok yang terverifikasi dan masuk dalam standar Javanese Unicode A980-A9DF berjumlah 20 aksara utama (nglegena).

Transformasi Media Tulis Nusantara

Seiring dengan perkembangan zaman, medium tempat aksara ini disemaikan turut mengalami evolusi. Leluhur Nusantara pertama kali memahat pikiran mereka pada kekerasan batu, seperti yang terlihat pada Prasasti Ciaruteun. Ketika peradaban semakin maju, medium bergeser pada lempengan logam, memberikan keabadian yang lebih ringan dan mudah dipindahkan. Lembaran daun lontar kemudian menjadi primadona di era klasik, sebelum akhirnya kertas yang diperkenalkan melalui jalur perdagangan menjadi medium utama pembuatan manuskrip di era kerajaan-kerajaan Islam Mataram.

Manuskrip atau naskah itu sendiri didefinisikan sebagai bentuk konkret dokumen hasil kebudayaan. Ia bukan sekadar benda mati, melainkan wadah penyimpanan hasil olah pikir manusia yang dimanifestasikan dalam berbagai jenis karya tulis, baik prosa maupun puisi. Manuskrip berbahan kertas ini biasanya terdiri dari lembaran-lembaran yang dijadikan satu dan dijilid dengan apik, sering kali dihiasi dengan iluminasi (ragam hias) yang tidak hanya berfungsi estetis, tetapi juga menandai bagian-bagian penting dari teks tersebut. Kini, di era kiwari, evolusi tersebut berlanjut ke ranah digital, memastikan aksara Jawa tetap relevan menembus zaman.

Filosofi dan Logika Dasar Aksara

Dalam praktik maos, membaca manuskrip menuntut pemahaman terhadap logika dasar Aksara Jawa. Pemandu baca menjelaskan bahwa aksara ini memiliki karakteristik unik. Ia ditulis dari kiri ke kanan dan bersifat abugida, yang berarti setiap aksara konsonan sudah secara otomatis mengandung vokal 'A'. Selain itu, sistem penulisannya menggunakan scriptio continua, yakni ditulis menyambung tanpa spasi (ndlujur). Hal ini menuntut pembaca untuk memiliki kepekaan rasa dan pemahaman tata bahasa yang tinggi untuk menentukan di mana sebuah kata berawal dan berakhir.

Keunikan lainnya adalah peran aksara 'ha'. Aksara ini tidak hanya berdiri sendiri, tetapi bisa menggantikan huruf A dan dapat berubah bunyi menjadi I, U, É, ?, O jika diberi sandhangan swara, meskipun aksara Jawa juga memiliki aksara swara khusus. Selain itu, eksistensi bentuk nglegena (aksara dasar) dan pasangan (penekan vokal mati di tengah kata) membuat struktur tulisan Jawa begitu presisi dan matematis. Kesalahan kecil dalam menerapkan pasangan atau sandhangan dapat mengubah makna kata secara keseluruhan, menegaskan betapa disiplinnya literasi para pujangga masa lampau.

Menguak Lembaran Babad Giyanti

Puncak kemegahan acara "Wanuh Budaya Mataraman" hari itu tercapai ketika para peserta diajak membedah salah satu adikarya sastra sejarah: Serat Babad Giyanti (Kartasura-Sokawati). Secara spesifik, naskah yang menjadi rujukan adalah manuskrip dengan kode SK 49 dari Koleksi Museum Sanabudaya. Manuskrip yang disalin pada era Sri Sultan Hamengkubuwana VI ini merupakan mahakarya visual dan literatur yang dihiasi dengan 48 iluminasi memukau, yang bertugas sebagai penanda peristiwa-peristiwa krusial dalam Babad Giyanti.

"Membaca Babad Giyanti bukan sekadar membaca untaian masa lalu; ia adalah cermin bagi intrik, kebesaran jiwa, dan gejolak yang membentuk wajah Mataram yang kita pijak hari ini."

Lantunan tembang kembali bergema saat pemandu memulai pembacaan Pupuh 68 Sinom. Bagian ini memiliki iluminasi bergaya wedana gapura renggan yang indah. Pupuh ini merekam sebuah momen epik: peristiwa di mana Pangeran Arya Mangkubumi meminjam gelar menjadi Pangeran Adipati Sokawati Senapati Ing Ngalaga Anglelana Adiningrat. Halaman tersebut menceritakan dengan dramatis prosesi penobatan Sang Pangeran Adipati yang akhirnya resmi menjadi raja di Banaran. Penobatan tersebut bukanlah peristiwa kecil; ia dihadiri oleh seluruh elemen kekuatan Mataram, mulai dari Pangeran Mangkunegara, Panembahan Puger, Pangeran Hadiwijaya, Pangeran Rangga, para pangeran lainnya, hingga barisan birokrat seperti penewu dan demang penatus.

Suasana berubah menjadi lebih syahdu dan menggetarkan ketika pembacaan berpindah ke Pupuh 7 Asmaradana. Di balik iluminasi yang menandai pupuh ini, tersimpan narasi tentang intrik dan kesedihan yang mendalam. Teks tersebut menceritakan momen ketika Pangeran Mangkunegara mengetahui bahwa penyerahan lungguh Sokawati justru diberikan kepada Pangeran Mangkubumi. Pada bagian yang sama, dikisahkan pula kepiluan hati Kanjeng Susuhunan yang meratapi kerusakan negerinya akibat ulah dan campur tangan kolonial Belanda. Bait-bait Asmaradana yang dilantunkan membawa nuansa melankolis yang menyayat hati, membuat para peserta larut dalam emosi sejarah masa silam.

Muhibah Budaya yang Membekas

Kegiatan "Maos Manuskrip" di Sragen ini membuktikan bahwa naskah kuno bukanlah tumpukan kertas usang yang hanya layak disimpan di etalase museum. Ia adalah raga dari roh kebudayaan yang masih bisa diajak berbicara. Dengan membacanya secara komunal, menembangkannya dengan rasa, dan mengkaji maknanya secara mendalam, masyarakat Sragen telah melakukan langkah nyata dalam merawat peradaban.

Di penghujung acara, ketika gema tembang terakhir perlahan memudar di ruang SIKK Sragen, tertinggal sebuah kesadaran baru di hati para peserta. Aksara Jawa dan manuskrip Mataraman adalah identitas, kebanggaan, sekaligus kompas moral. Melalui Muhibah Budaya ini, pesan dari masa lalu telah berhasil dilabuhkan ke masa kini, bersiap untuk diteruskan kembali ke generasi masa depan. Sebagaimana aksara yang tak pernah lekang oleh pergantian medium, kearifan Mataraman akan terus abadi selama masih ada lisan yang menembangkannya dan hati yang memahaminya.

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta