by ifid|| 16 Juli 2026 || 29 kali
Nada jiwa terdengar kuat dan magis sore itu di SIKK Sragen Jawa Tengah, sayup-sayup terdengar lantunan suara anak-anak yang menyenandungkan nada-nada pentatonis yang khas. Tidak ada keriuhan gawai atau dentuman musik modern; yang ada adalah keluguan suara generasi muda yang sedang meresapi warisan leluhur mereka. Inilah denyut nadi dari rangkaian kegiatan Muhibah Budaya Mataraman, sebuah inisiatif luhur yang hadir di Kabupaten Sragen.
Sebagai bagian integral dari upaya pelestarian budaya Jawa yang kian menghadapi tantangan zaman, Muhibah Budaya Mataraman menghadirkan sebuah program khusus bertajuk "Wanuh Budaya Mataraman: Macapatan Bocah". Program ini bukan sekadar kelas bernyanyi biasa. Ia adalah gerbang pembuka bagi anak-anak untuk mengenalkan dan menanamkan kecintaan terhadap keagungan budaya Jawa sejak usia dini. Di ruangan ini, masa depan budaya Mataraman sedang disemai melalui medium seni suara tradisional yang sarat akan makna.
Kegiatan Macapatan Bocah dirancang secara saksama untuk menjadi ruang pembelajaran budaya yang interaktif dan holistik. Mengajak anak-anak untuk mengenal, memahami, dan mencintai warisan budaya Jawa bukanlah tugas yang mudah di era digital ini. Oleh karena itu, panitia memadukan pendekatan teori dan praktik menembang yang disesuaikan dengan kapasitas kognitif dan emosional peserta belia.
Melalui proses pelatihan yang intensif namun menyenangkan, para peserta diperkenalkan dengan berbagai jenis tembang macapat. Mereka diajarkan aturan-aturan dasar dalam penyusunan tembang, seperti guru gatra (jumlah baris dalam satu bait), guru wilangan (jumlah suku kata dalam tiap baris), dan guru lagu (vokal di akhir baris). Tidak berhenti pada tataran teori, anak-anak juga diajarkan teknik dasar dalam membawakan tembang sesuai dengan karakter dan pakem laras (tangga nada) yang berlaku, baik itu laras slendro maupun pelog.
"Tembang macapat adalah detak jantung kebudayaan Jawa. Mengajarkannya kepada anak-anak sama dengan memastikan jantung itu terus berdetak untuk generasi-generasi mendatang."
Pengenalan karakter tembang ini sangat penting. Setiap tembang macapat memiliki nuansa dan peruntukan emosinya masing-masing. Ada yang menggambarkan kesedihan, kegembiraan, nasihat, hingga teka-teki jenaka. Dengan memahami pakem ini, anak-anak tidak sekedar menghafal nada, tetapi belajar menyampaikan pesan dan rasa melalui tarik suara.
Aspek yang paling esensial dari Wanuh Budaya Mataraman: Macapatan Bocah adalah fokusnya yang melampaui kemampuan teknis menembang. Kegiatan ini dirancang sebagai medium pendidikan karakter yang mengajarkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap karya macapat. Tembang-tembang yang dipilih untuk diajarkan bukanlah karya sembarangan, melainkan tembang yang memuat pesan moral, filosofi kehidupan, budi pekerti, dan kearifan lokal masyarakat Jawa.
Salah satu materi yang diajarkan adalah tembang Pocung Punjung Laras Pelog Pathet Nem gubahan MB Darmopanambang. Tembang ini tidak hanya melatih pita suara anak-anak dengan cengkok Jawa yang khas, tetapi juga menanamkan petuah kehidupan yang mendalam.
Petikan Tembang Pocung Punjung:
Melalui bait-bait Pocung Punjung, peserta diajak untuk memahami pentingnya persahabatan, empati (tepa selira), dan kerukunan sosial. Pesan "urip tentrem jaga rasa andum tresna" (hidup tenteram menjaga perasaan, berbagi kasih sayang) menjadi pedoman agar generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang beradab dan menjunjung tinggi harmoni bermasyarakat. Nilai-nilai tersebut merupakan bagian yang sangat penting dan tak terpisahkan dari identitas budaya Mataraman yang harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Untuk menjaga antusiasme peserta yang masih anak-anak, program ini juga memasukkan tembang-tembang dolanan atau lagu anak-anak berbahasa Jawa yang ceria dan dekat dengan keseharian mereka. Hal ini membuktikan bahwa budaya Mataraman sangat fleksibel dan dapat masuk ke berbagai rentang usia dengan pendekatan yang tepat.
Sebagai contoh, anak-anak dengan riang menyanyikan tembang Gembiraloka karya Ki Tjokrowasito (KPH Notoprojo). Tembang ini menceritakan kegembiraan bertamasya ke kebun binatang, melihat gajah, unta, dan monyet (munyuk-munyuk ana), serta menikmati berbagai permainan (bandhulane ana). Irama yang riang gembira membuat anak-anak melupakan sejenak kerumitan notasi tradisional dan sekadar bersukaria dalam lantunan bahasa ibu mereka.
Tidak hanya sekadar hiburan, tembang dolanan anak juga disisipi dengan pendidikan moral dasar yang mudah dicerna. Hal ini terlihat saat mereka mempelajari tembang Pitik Walik Jambul gubahan Ki Hadi Sukatno. Di balik liriknya yang jenaka tentang ayam dan makanan, terselip pesan motivasi belajar yang tegas.
Petikan Tembang Pitik Walik Jambul:
Bait "bocah kesed mesti bodho" dan "bocah sregep mesthi pinter" merupakan nasihat langsung agar anak-anak menjauhi rasa malas dan rajin menuntut ilmu. Penyampaian nasihat melalui lagu terbukti jauh lebih efektif bagi anak-anak dibandingkan dengan instruksi verbal semata. Mereka menghafalkan lagu tersebut dengan riang, dan secara tidak sadar, nilai moralnya meresap ke dalam sanubari.
Muhibah Budaya Mataraman tidak bertujuan untuk sekadar menggelar acara seremonial satu hari, melainkan memicu efek domino yang berkelanjutan. Tujuannya adalah menciptakan agen-agen pelestari budaya baru langsung dari akar rumput.
Kegiatan "Wanuh Budaya Mataraman: Macapatan Bocah" di Sragen ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan panjang pelestarian budaya. Melalui inisiatif ini, Muhibah Budaya Mataraman telah berhasil menghadirkan sebuah pendekatan edukasi budaya yang tidak hanya kreatif, tetapi juga berkelanjutan. Tantangan terbesar dalam pelestarian budaya seringkali terletak pada cara penyampaian yang dianggap kuno atau membosankan oleh generasi muda.
Dengan menggabungkan praktik kesenian langsung, analisis filosofi sederhana yang relevan, dan lingkungan yang mendukung, anak-anak kini tidak lagi memandang budaya Jawa semata-mata sebagai peninggalan masa lalu yang kaku dan usang. Sebaliknya, mereka mulai melihatnya sebagai sebuah identitas yang hidup, sebuah "suara" yang menceritakan siapa mereka dan dari mana mereka berasal.
Melihat anak-anak di SIKK Sragen melantunkan macapat dengan penuh penjiwaan memberikan secercah harapan yang terang. Mereka adalah tunas-tunas peradaban yang kelak akan tumbuh menjadi pohon pelindung bagi kebudayaan Jawa. Harapan akhirnya adalah agar anak-anak ini mampu menjadi generasi penerus yang teguh menjaga, merawat, dan bahkan mengembangkan warisan budaya Mataraman di masa depan yang penuh dengan dinamika perubahan global.
Seiring dengan berakhirnya sesi Macapatan Bocah menjelang senja hari itu, gema tembang-tembang luhur masih terasa beresonansi di dinding-dinding ruangan, menyisakan keyakinan bahwa selama masih ada suara kecil yang bersedia menembangkan "Pocung" atau "Pitik Walik Jambul", kebudayaan Jawa tidak akan pernah mati.
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...