by ifid|| 17 Juli 2026 || 10 kali
Museum sering dipahami sebatas ruang penyimpanan benda masa lalu. Sunyi, statis, dan berjarak dengan denyut kehidupan generasi muda hari ini. Padahal, jauh sebelum menjadi gedung berisi koleksi, museum lahir dari gagasan tentang muse, ruang perjumpaan dengan ilmu dan keindahan. Ia dirancang bukan untuk mengunci masa lalu, melainkan untuk membukanya kembali agar terus bercakap dengan zaman yang berjalan. Semangat itulah yang coba dihidupkan kembali oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Final Lomba Cerdas Cermat Museum (LCCM) Tingkat SMP/MTs se-DIY Tahun 2026, yang digelar pada 14/7/2026 di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta.
Mengangkat tema "MONCER" yang bermakna bersinar atau cemerlang, LCCM 2026 menempatkan museum bukan sebagai objek yang dipelajari dari jauh, melainkan sebagai ruang belajar yang hidup dan relevan dengan denyut generasi muda. Tagline yang menyertainya, "Generasi Cinta Museum, Cerlang, Berkarakter," menegaskan bahwa yang dituju bukan sekadar kecerdasan kognitif tentang koleksi dan sejarah, tetapi juga pembentukan karakter generasi muda peka terhadap jejak-jejak yang mereka warisi.
Final tahun ini mempertemukan lima sekolah terbaik hasil seleksi berjenjang di tingkat kabupaten dan kota yang berlangsung sejak Januari hingga Mei 2026, yakni SMP Negeri 1 Sewon (Bantul), SMP Negeri 2 Patuk (Gunungkidul), SMP Negeri 1 Wates (Kulon Progo), SMP SahabatQu Pakem (Sleman), dan SMP Negeri 9 Yogyakarta (Kota Yogyakarta). Setelah melalui babak yang menguji ketangkasan dan kedalaman pemahaman peserta, SMP Negeri 1 Wates pulang membawa gelar juara pertama. Sejak tahun ini pula, Juara I berhak membawa pulang Piala Bergilir Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, sebuah penanda bahwa kompetisi ini kian ditempatkan sebagai agenda prestise di tingkat provinsi, didukung penuh melalui APBD DIY Tahun Anggaran 2026 yang bersumber dari Dana Keistimewaan.
Menyiasati Jarak, Menumbuhkan Minat
Di balik gemerlap panggung final, ada perjalanan panjang yang ditempuh tiap sekolah terpilih untuk sampai ke titik ini. Kepala SMP Negeri 1 Wates Kulon Progo, Sugeng Widadi, berbagi cerita tentang tantangan yang tidak sedikit selama proses belajar.
“Kami mempersiapkan referensi buku, koleksi latihan soal yang kemudian kami juga melakukan kunjungan ke beberapa museum. Selanjutnya kami juga menyiasatinya dengan selalu menghadirkan narasumber internal dan eksternal. Internal itu guru-guru kami di sekolah, kita perdayakan khususnya guru-guru IPS dan guru-guru muda yang punya akses internet yang cukup luas.”
Yang menarik, proses menjaring peserta di sekolah ini tidak dilakukan lewat penunjukan, melainkan lewat penawaran informasi kepada seluruh warga sekolah, yang kemudian disaring berdasarkan minat dan kompetensi. Pendekatan semacam ini barangkali tampak sederhana, namun ia menyimpan filosofi penting bahwa kecintaan pada sejarah dan kebudayaan tidak bisa dipaksakan dari luar, ia harus tumbuh alami dari rasa ingin tahu.
Kesungguhan itu tergambar jelas dari cerita Muhammad Rizky Kurniawan, anggota tim SMP Negeri 1 Wates yang membawa pulang gelar Juara I. Sekitar dua bulan, dari awal Mei hingga awal Juli, timnya mulai menekuni materi dari kebudayaan dan museum di Yogyakarta hingga sosok-sosok pahlawan daerah. Pembagian tugas dilakukan serapi mungkin, agar setiap anggota memegang porsi materi masing-masing sebelum saling menukar dan memperdalam bagian yang belum dikuasai.
"Kami mulai latihan mandiri atau dilatih di sekolah, tidak hanya menghafal tapi memahami dengan latihan soal. Kami juga mengundang beberapa narasumber yang berpengalaman dalam LCCM, dan tidak lupa saling berdoa, menyemangati, serta memberi dukungan satu sama lain."
Ia bahkan mengenang pesan salah satu gurunya, Bu Margaretha, yang menjadi pegangan tim menjelang hari pertandingan, bahwa ada "Faktor X" yakni kuasa yang lebih besar dari sekadar persiapan teknis yang ikut menentukan jalannya perlombaan.
Jalan yang berbeda ditempuh Annisa Cahyaningrum dari SMP Negeri 2 Patuk, yang mengantar timnya meraih gelar Juara Harapan II. Persiapan belajarnya bergeser seiring waktu dari materi dasar seputar museum di awal, menuju pendalaman sejarah dan sosok pahlawan menjelang final kabupaten dan provinsi, mengingat porsi soal sejarah yang mencapai sekitar 40 persen.
Bagi Annisa, pengalaman berkompetisi meninggalkan kesan yang tidak melulu soal menang atau kalah.
"Ini jadi wadah belajar yang menantang, memperluas relasi, serta melatih mentalitas pantang menyerah bagi diri saya dan rekan se-tim. Baik berakhir dengan kemenangan maupun kekalahan, pengalaman kompetisi selalu menyisakan pelajaran berharga bagi kita."
Ia pun tak menutupi ada momen yang menyisakan sedikit sesal, terutama pada babak cepat tepat yang menuntut ketenangan di bawah tekanan.
"Menurut saya di babak cepat tepat, karena pada saat itu kami sempat grogi dan jadi kurang maksimal di situ."
Kejujuran semacam ini justru memperlihatkan sisi lain dari kompetisi, bahwa di balik gelar dan capaian, ada proses belajar mengenali diri sendiri, termasuk mengakui batas dan kekurangan, yang barangkali sama berharganya dengan piala itu sendiri.
Yogyakarta sebagai Laboratorium Sejarah
Perspektif lain datang dari jajaran juri dalam final LCCM tahun ini, di antaranya Jujun Kurniawan dari Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia dan Jati Kurniawan dari Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya, Kementerian Kebudayaan. Menurut pengamatan Jati, kesiapan Yogyakarta dalam literasi permuseuman terbilang menonjol dibanding daerah lain, ditopang oleh keberadaan Kundha Kabudayan yang proaktif serta organisasi permuseuman yang turut menjadi sarana promosi museum kepada generasi muda.
“Organisasi yang menaungi museum-museum di Yogyakarta sendiri itu juga cukup proaktif, termasuk juga dari program-program Dinas Kebudayaan, LCCM ini juga menjadi salah satu sarana promosi kepada generasi muda untuk memperkenalkan museum.”
Hasilnya, museum tidak lagi menjadi ranah eksklusif bagi kalangan yang berkecimpung di bidangnya, tetapi turut menjangkau anak-anak sekolah yang belajar sekaligus mengadu ilmu lewat ajang semacam LCCM.
Menyalakan Api di Daerah Lain
Salah satu juri, Galih, mengungkap harapan yang cukup menarik.
“Melihat pergerakan bagi regional, mungkin itu bisa membangkitkan semangat di tingkat nasional lagi ataupun regional lain yang belum melakukannya atau masih stuck.”
Menyingkap keinginan bahwa LCCM seharusnya tidak berhenti pada perayaan keberhasilan DIY semata. Ada keinginan agar format ini dapat disebarluaskan semangatnya ke daerah-daerah lain yang mungkin tidak memiliki kepadatan museum sebanyak Yogyakarta.
Ada pula gagasan pengembangan lomba ini ke jenjang yang lebih tinggi, bahkan perluasan tema dari sekadar museum menjadi cakupan kebudayaan yang lebih luas, seperti adat istiadat dan warisan budaya tak benda.
Pada akhirnya, LCCM bukan sekadar ajang adu cepat menjawab soal seputar koleksi dan sejarah museum. Ini adalah wujud ikhtiar kecil untuk menanamkan rasa memiliki generasi muda terhadap jejak masa lalu daerahnya sendiri. Generasi muda perlu belajar mengenali dirinya sendiri sebagai bagian dari rangkaian panjang sejarah yang tak terputus. Dan selama api rasa ingin tahu itu terus dijaga menyala sebagaimana makna MONCER itu sendiri, maka museum akan terus menjadi ruang yang bersinar, bukan hanya bagi para pemenang, tetapi bagi seluruh generasi yang memilih untuk mencintainya. (Dewi/Juliana/Ifit)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...