by ifid|| 18 Juli 2026 || 102 kali
Yogyakarta - Tabuhan Gamelang mengalun pelan, diikuti langkah-langkah mantap para penari yang memenuhi pangggung pembuka INACRAFT Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Rabu (15/7). Untuk pertama kalinya, pameran kriya terbesar di Indonesia ini digelar di luar Jakarta dengan memilih Yogyakarta sebagai tuan rumah. Gerak yang mengalir selaras dengan irama itu bukan sekadar pertunjukkan pembuka melainkan sebuah narasi tentang hubungan manusia dan alam yang diterjemahkan melalui tari berjudul Laksitabrata. Tari yang difasilitasi oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY dengan dana keistimewaan itu menjadi pembuka di hadapan para tamu undangan dan pengunjung. Tema besar INACRAFT tahun ini, Hamemayu Hayuning Bawana merupakan sebuah filosofi Jawa yang mengajarkan manusia untuk merawat, memperindah, dan menjaga keharmonisan dunia.
Di tengah semarak pameran kriya terbesar di Indonesia yang menghadirkan ratusan perajin dari berbagai daerah, pertunjukan tari ini seolah mengingatkan bahwa setiap karya budaya lahir dari nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun. Sebelum para pengunjung menikmati ragam kriya Nusantara, mereka terlebih dahulu diajak memahami ruh yang melandasi seluruh rangkaian acara melalui bahasa gerak.
Di balik koreografi tersebut, terdapat tangan kreatif Putra Jalu Pamungkas, koreografer yang dipercaya menyusun pertunjukan pembuka INACRAFT Festival 2026. Baginya, Laksitabrata lahir dari upaya menerjemahkan tema Hamemayu Hayuning Bawana ke dalam sebuah pertunjukan tari.
"Saya menangkap momentum tema INACRAFT 2026, yaitu Hamemayu Hayuning Bawana. Karena itu, saya membuat tarian berjudul Laksitabrata. Tarian ini menceritakan bagaimana awal mula kehidupan manusia, bagaimana manusia dapat hidup berdampingan dengan alam, lalu bersama-sama menjaga keberlangsungan kehidupan itu," jelasnya.
Melalui setiap pola lantai, perpindahan gerak, dan komposisi penari, Laksitabrata menggambarkan hubungan yang saling melengkapi antara manusia dengan alam. Pesan tersebut menjadi relevan dengan semangat INACRAFT yang tidak hanya menghadirkan produk kerajinan, tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai budaya yang menjadi akar lahirnya karya-karya kriya Indonesia.
Meski tampil begitu padu, proses di balik pertunjukkan itu tidak berlangsung sederhana. Tim penari dibentuk secara insidental dengan melibatkan berbagai seniman dari sejumlah daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai dari Institut Seni Indonesia (ISI), Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya (AK), hingga perwakilan dari kabupaten dan kota. Keberagaman latar belakang para penari justru menjadi kekuatan yang menyatukan berbagai karakter gerak dalam satu pertunjukan yang utuh.
Persiapan dilakukan selama kurang lebih satu setengah bulan. Namun, menjelang hari pelaksanaan, tim harus kembali menyesuaikan koreografi akibat perubahan ukuran panggung dan penambahan berbagai elemen dekorasi.
"Tantangan terbesar sebenarnya ada pada panggung. Awalnya kami menyesuaikan koreografi untuk panggung yang luas, tetapi saat hari pelaksanaan ukuran panggung berubah menjadi lebih sempit dan masih ditambah dekorasi. Kami akhirnya harus mengoptimalkan kondisi yang ada agar pertunjukan tetap berjalan maksimal," ungkapnya.
Keterbatasan ruang tidak mengurangi makna yang ingin disampaikan. Justru dari penyesuaian tersebut lahir pertunjukan yang menunjukkan bahwa seni tradisi selalu memiliki kemampuan untuk beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya.
Bagi Putra Jalu, menjaga keberlangsungan seni tradisi tidak cukup hanya melalui pertunjukan. Yang lebih penting adalah memastikan generasi muda tetap mengenali identitas budayanya di tengah perkembangan zaman.
"Tradisi merupakan salah satu identitas kita. Apa pun bentuk seninya, ketika berangkat dari tradisi, masih banyak sekali peluang untuk mengembangkannya. Yang jelas, jangan sampai kita kehilangan identitas kita," pesannya kepada generasi muda.
Pesan tersebut selaras dengan semangat yang diusung INACRAFT Festival 2026. Di tengah pertemuan antara tradisi, kreativitas, dan pasar global, budaya tidak hanya hadir sebagai warisan masa lalu, tetapi juga menjadi sumber inspirasi yang terus berkembang mengikuti zaman.
Melalui Laksitabrata, pembukaan INACRAFT Festival 2026 tidak hanya menandai dimulainya sebuah pameran kerajinan, tetapi juga menghadirkan refleksi tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya. Sebab di balik setiap gerak tari, tersimpan pesan bahwa tradisi akan tetap hidup ketika terus dipahami, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (Juliana/Dewi/Fit)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...