Satu Dekade Merajut Harmoni

by ifid|| 18 Juli 2026 || 33 kali

...

Ada momen ketika dua tradisi yang tumbuh dari akar berbeda, saling menyapa lewat bahasa yang justru tidak membutuhkan kata: bunyi. Malam itu (16/7/2026), di panggung Auditorium Driyarkara, gamelan kendang bertemu biola, layar kelir bertemu partitur, dan seorang dalang Yogyakarta berbagi panggung dengan musisi-musisi Melbourne Symphony Orchestra (MSO). Bukan sekadar pertunjukan, melainkan perayaan sepuluh tahun perjalanan kerja sama yang dirintis dengan sabar, dari satu Youth Music Camp ke Youth Music Camp berikutnya, hingga akhirnya bermuara pada satu konser kolaborasi bertajuk "A Decade: A Deeper Understanding".

Kegiatan ini merupakan implementasi kerjasama Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Australia melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY bersama Melbourne Symphony Orchestra, yang telah berjalan konsisten selama satu dekade dan turut melahirkan musisi-musisi orkestra yang unggul di tingkat nasional maupun internasional. Konser ini menjadi puncak dari rangkaian kegiatan yang berlangsung sejak 6 hingga 15 Juli 2026, meliputi Youth Music Camp dan lokakarya manajemen seni, sekaligus menandai awal dari rangkaian bulan warisan budaya yang akan digelar Dinas Kebudayaan DIY.

Jejak kerja sama ini sesungguhnya telah dirintis jauh sebelum panggung malam itu berdiri. Pada 16 November 2015, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menandatangani perjanjian kerja sama dengan Australia-Indonesia Centre (AIC) untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan budaya, termasuk rencana Youth Music Camp pada 2016 dan pertunjukan Melbourne Symphony Orchestra di Prambanan pada 2017, sebuah inisiatif yang mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Negara Bagian Victoria. 

Youth Music Camp sendiri hadir sebagai program pelatihan musik bagi pelajar berusia 15 hingga 20 tahun, dibimbing langsung oleh para musisi MSO, dengan lokakarya musik dan manajemen sebagai fondasi utamanya, sebelum akhirnya berkembang menjadi konser kolaborasi tempat peserta camp dan musisi MSO tampil bersama sebagai satu orkestra. Kesuksesan program inilah yang kemudian mendorong lahirnya program lanjutan berupa magang di Melbourne, yang dirancang khusus bagi peserta Youth Music Camp dengan capaian terbaik di kedua lokakarya tersebut.

Dian Lakshmi Pratiwi, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, menjelaskan bahwa tema "A Deeper Understanding" dipilih bukan sekadar untuk merayakan angka sepuluh tahun, melainkan untuk merefleksikan bagaimana seluruh pihak yang terlibat semakin memahami budaya satu sama lain, dari tahun ke tahun. Dalam semangat itulah, wayang kulit, warisan yang telah diakui UNESCO sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity sejak 2003, dipertemukan dengan orkestra simfoni malam itu, sebagai sumber inspirasi sekaligus tuntunan yang terus relevan bagi masyarakat.

Sementara itu, dalam sambutannya, Gubernur DIY menyampaikan renungan tentang makna sesungguhnya dari keberagaman: bukan tentang menyeragamkan suara atau memaksakan satu warna tunggal, melainkan tentang merayakan perbedaan dalam satu arah bersama, sebagaimana ragam instrumen dan wayang yang malam itu melebur dalam satu pertunjukan yang utuh. Sebuah pesan yang disambut hangat oleh Suzanne Dembo, Chief Operating Officer Melbourne Symphony Orchestra, yang turut hadir merayakan satu dekade perjalanan ini.

"It has been the most special privilege to have worked on this project personally for 10 years since the very, very beginning."

Menyatukan Dua Bahasa Bunyi

Di balik kemegahan panggung, pertemuan dua tradisi ini menuntut proses panjang yang tidak sederhana. Tredy Pranata, musisi tradisi asal ujung timur Jawa sekaligus alumni etnomusikologi ISI Yogyakarta yang turut menjadi pendukung dalam konser ini, menceritakan bagaimana perannya sebagai penabuh kendang harus mengalami pergeseran fungsi yang cukup mendasar.

"Kendang itu biasanya berposisi sebagai konduktor di ensemble karawitan, tetapi ketika dipadukan dengan musik orkestra seperti ini, kan harus mengikuti konduktor yang dari orkestranya. Temponya itu sangat susah sekali."

Kendang yang biasa memimpin kini harus belajar mengikuti, sementara dalang dan pemain string turut menyesuaikan diri satu sama lain. Sebuah proses yang oleh Tredy digambarkan bukan sebagai kompromi, melainkan keseimbangan baru yang harus terus diolah bersama hingga menemukan titik temunya.

Tantangan serupa juga dirasakan komposer asal Australia, Thomas Green, yang menggubah komposisi ini bersama komposer Indonesia, Vishnu Satyagraha. Green mengaku sempat diliputi keraguan besar di awal proses penciptaan.

"I hit a wall right at the start because I wasn't sure I could make music for Indonesian people, for Javanese people... I had a fear. I thought, how can I write music that is good for Javanese people? I'm not Javanese."

Keraguan itu perlahan mencair setelah ia berkolaborasi dengan Vishnu, yang membagikan tema-tema musikal berwarna Jawa untuk kemudian ia kembangkan bersama. Bagi Green, proses ini bukan tentang meninggalkan akar musik klasik Eropa yang telah membentuk suaranya selama ini, melainkan tentang membiarkan berbagai pengaruh itu berbaur secara jujur.

"The truth is, I don't want to abandon that because that's my voice which I developed... it is the blending which produces the good music."

Kelir yang Tetap Bicara

Di titik pertemuan antara nada dan bayangan, dalang Fani Rickyansyah menjadi sosok yang menjaga agar wayang tidak kehilangan jiwanya di tengah gemuruh orkestra. Berbeda dari kebiasaannya memegang kendali penuh atas tempo cerita, malam itu ia harus menyesuaikan geraknya dengan partitur musik yang telah tersusun tetap.

"Pertama-tama saya akan mendengarkan komposernya dulu, mempunyai tema apa. Kemudian alur dramatiknya saya pelajari, disesuaikan dengan story atau tema yang dipilih. Setelah itu saya mencoba mencari gerakan yang sesuai dengan alur dan nada yang dibuat."

Hasilnya adalah sebuah pertunjukan wayang tanpa dialog verbal, di mana narasi sepenuhnya dibangun lewat susunan nada dan permainan bayangan, membiarkan imajinasi penonton bergerak lebih bebas. Namun di tengah eksperimen lintas budaya ini, Fani menegaskan bahwa ia tetap berpegang pada pakem klasik gaya Yogyakarta, mulai dari perangkat kelir hingga idiom gerak yang digunakan.

"Di tengah orkestra ini, kesan pakelirannya tetap ada karena saya tetap menggunakan perangkat yang klasik gaya Yogyakarta... agar cross culture antara musik dan tradisi bisa terjalin dan tetap harmonis."

Pada akhirnya, kolaborasi ini membuktikan bahwa mempertemukan dua bahasa bunyi yang berbeda bukan berarti melebur identitas salah satunya. Wayang tetap wayang, dengan pakemnya yang dijaga; orkestra tetap orkestra, dengan disiplin partiturnya. Satu dekade perjalanan ini pada akhirnya bukan sekadar tentang musik yang diciptakan bersama, melainkan tentang kesabaran mendengarkan yang dijaga dari kedua belah pihak, dari Yogyakarta hingga Melbourne, agar pemahaman yang lebih dalam terus tumbuh, sebagaimana tema yang diusung malam itu: a deeper understanding. (Dewi/Juliana/Ifit)

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta