by ifid|| 20 Juli 2026 || 24 kali
Yogyakarta - Setiap hari, ribuan konten baru memenuhi linimasa media sosial. Sebagian berhasil menarik perhatian dalam hitungan jam, sementara yang lain tenggelam tanpa sempat menyampaikan pesannya. Di tengah persaingan itulah, kemampuan mengemas informasi menjadi sesuatu yang menarik sekaligus bermakna serta menjadi tantangan baru, termasuk bagi lembaga yang bergerak di bidang kebudayaan.
Berangkat dari upaya meningkatkan kapasitas masyarakat dan para pemangku kepentingan dalam memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi, publikasi, dan promosi Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta yang telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO, Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta menyelenggarakan workshop “Pengelolaan Media Sosial Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta” pada 16 Juli 2026 di Ruang Bima, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY. Kegiatan yang diikuti oleh 30 peserta ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia Kelompok Kerja Teknis Pengelola Kawasan Sumbu Filosofi agar mampu menghadirkan konten digital yang informatif, kreatif, sekaligus relevan dengan perkembangan media sosial.
Suasana ruang pelatihan pagi itu dipenuhi diskusi hangat. Ada peserta yang sibuk menyusun tata letak desain, ada pula yang mencoba berbagai sudut pengambilan gambar menggunakan telepon genggam. Perlahan, mereka diajak melihat media sosial dari sudut pandang yang berbeda, bukan sekadar ruang untuk mengunggah konten, tetapi juga jembatan untuk memperkenalkan budaya, sejarah, dan berbagai destinasi yang dimiliki Yogyakarta kepada khalayak yang lebih luas.
Pemateri workshop, Jefri Eko Cahyono, menjelaskan bahwa media sosial telah menjadi salah satu wajah pertama sebuah lembaga di mata publik. Karena itu, setiap konten yang dipublikasikan perlu dirancang dengan strategi yang matang. Dalam workshop ini, peserta tidak hanya belajar membangun branding institusi, tetapi juga mempraktikkan teknik pengambilan foto dan video, penyusunan desain, hingga cara mengemas informasi agar kekayaan budaya dan potensi wisata di DIY dapat disampaikan secara menarik tanpa kehilangan nilai yang terkandung di dalamnya.
"Dalam workshop ini peserta kami ajarkan bagaimana menata branding institusi, kemudian mempraktikkan cara membuat konten, mulai dari teknik pengambilan gambar, video, hingga desain. Harapannya, mereka mampu mengembangkan dan mempublikasikan potensi serta keunikan Kawasan Sumbu Filosofi melalui media sosial," jelas Jefri.
Menurut Jefri, kesalahan yang paling sering dilakukan pembuat konten pemula bukan terletak pada kualitas perangkat yang digunakan, melainkan pada cara menyusun informasi di dalam sebuah desain.
"Banyak orang membuat desain yang penting ada gambarnya. Padahal penempatan judul, ukuran teks, ruang kosong, sampai proporsi visual harus diperhatikan agar informasi lebih mudah dipahami," jelasnya.
Untuk itu, peserta dikenalkan dengan konsep golden ratio, yakni prinsip penataan elemen visual agar desain terlihat lebih proporsional, nyaman dipandang, dan mampu mengarahkan perhatian audiens pada informasi yang ingin disampaikan.
Selain teknik visual, peserta juga diajak memahami pentingnya mengenali karakter audiens. Melalui fitur analitik media sosial, pembuat konten dapat mengetahui rentang usia, lokasi, hingga karakter pengikut. Informasi tersebut menjadi bekal penting dalam menentukan cara berkomunikasi sehingga pesan mengenai budaya maupun destinasi wisata dapat diterima oleh sasaran yang tepat.
Bagi salah satu peserta, Aprisca Putri Yolanda, workshop ini mengubah cara pandangnya terhadap sebuah konten. Sebelum mengikuti pelatihan, ia menganggap konten yang berkualitas adalah konten yang banyak ditonton orang. Namun, setelah mengikuti materi, ia menyadari bahwa ukuran keberhasilan sebuah konten jauh lebih luas dari sekadar angka.
"Awalnya saya berpikir konten berkualitas itu adalah konten yang bagus dan banyak ditonton orang. Ternyata, konten yang berkualitas adalah konten yang mampu mengomunikasikan pesan dengan jelas, sesuai target audiens, dan memberikan dampak positif bagi mereka yang melihatnya," ungkapnya.
Kesadaran itu kemudian ia terapkan dalam mendesain poster bersama kelompoknya dalam sesi praktik saat workshop. Mereka memilih mengangkat storytelling tentang Kawasan Sumbu Filosofi, terutama kawasan yang berada di sekitar tempat tinggalnya. Alih-alih hanya menampilkan lanskap yang indah, mereka mencoba merangkai cerita agar setiap unggahan memiliki makna.
"Kelompok kami mengambil storytelling seputar Sumbu Filosofi, terutama yang ada di daerah rumahku. Jadi audiens nggak cuma tahu keindahannya, tapi juga memahami kalau di balik itu ada nilai dan sejarahnya," katanya.
Senada dengan Aprisca, peserta lain, Naufal Arieq Wira Pradana juga menilai materi mengenai storytelling dan strategi pengelolaan media sosial menjadi bekal yang paling bermanfaat selama workshop. Menurutnya, kemampuan merangkai cerita menjadi kunci agar konten tentang Kawasan Sumbu Filosofi tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga mampu membangkitkan rasa ingin tahu masyarakat untuk datang dan mengenalnya lebih dekat.
"Menurut saya, materi storytelling dan penguasaan media sosial paling bermanfaat. Kami jadi belajar membuat konten yang lebih eye-catching, misalnya dengan mengangkat fakta-fakta unik tentang Sumbu Filosofi agar orang penasaran dan ingin datang langsung. Harapannya, semakin banyak konten tentang Sumbu Filosofi yang menjangkau masyarakat melalui media sosial," ujarnya.
Di era digital, pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui ruang-ruang pameran, panggung pertunjukan, ataupun situs bersejarah. Media sosial kini menjadi ruang baru untuk memperkenalkan warisan budaya kepada masyarakat yang lebih luas. Melalui konten yang dirancang dengan strategi yang tepat, cerita tentang Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta dapat menjangkau generasi muda, mengundang rasa ingin tahu, hingga mendorong masyarakat untuk mengenal dan mengapresiasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Melalui workshop ini, para peserta tidak hanya pulang membawa pengetahuan tentang desain, video, maupun strategi branding. Mereka juga membawa pemahaman baru bahwa setiap foto, video, dan cerita yang diunggah ke media sosial memiliki potensi menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat dengan kekayaan budaya dan destinasi wisata Daerah Istimewa Yogyakarta. Di balik satu unggahan yang tampil di layar gawai, tersimpan peluang untuk membuat semakin banyak orang mengenal, mengunjungi, dan mencintai Yogyakarta melalui cerita-cerita yang dikemas dengan cara yang tepat. (Juliana/Dewi/Ifit)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...