10 Desa Budaya dalam Wirama Selasa Wagen

by ifid|| 22 Juli 2026 || 72 kali

...

Tatkala gemerincing gamelan memecah keheningan senja, merambat pelan menembus hiruk-pikuk hiruk-pikuk pusat kota, Amphitheater Teras Malioboro 1 seakan mengalami metamorfosis. Denyut nadi peradaban Mataram seakan berdetak lebih kencang, berpadu dengan ritme nafas ribuan pasang mata yang tumpah ruah pada Selasa, 21 Juli 2026. Di bawah temaram cahaya lampu panggung dan semilir angin sore Yogyakarta, publik terhipnotis oleh laku lampah para penjaga tradisi akar rumput. Gelaran Pentas Seni Selasa Wagen malam itu bukan lagi sekadar acara rutin kalender pariwisata, melainkan sebuah ruang perjumpaan sakral yang mempertemukan luhurnya kearifan lokal pedesaan dengan pusaran dinamika kosmopolitan perkotaan modern.

Di titik inilah, Yogyakarta kembali menegaskan jati dirinya. Panggung Teras Malioboro 1 sebagai etalase keistimewaan yang hidup, bernapas, dan terus berkembang. Melalui wirama yang mengalun dari instrumen bambu hingga perangkat gamelan perunggu yang megah, masa lalu tidak sekadar dikenang, tetapi dihidupkan, dirayakan, dan diwariskan.

Selasa Wagen: Lebih dari Sekadar Penanggalan, Sebuah Ruang Kesadaran

Dalam kosmologi masyarakat Jawa, penanggalan bukan sekadar deretan angka untuk menandai pergantian hari, melainkan sebuah sistem yang sarat akan makna filosofis dan siklus spiritual. Selasa Wage (atau sering dilisankan sebagai Selasa Wagen) menempati posisi yang istimewa dalam sejarah dan budaya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Secara historis, momentum ini bertepatan dengan Tingalan Dalem atau hari kelahiran Sri Sultan Hamengku Buwono X berdasarkan kalender Jawa (weton). Menjadikan Selasa Wagen sebagai hari perayaan budaya adalah sebentuk penghormatan, sekaligus pengingat akan komitmen keraton dan rakyatnya untuk terus menjaga kelestarian kabudayan.

Namun, di era modern, Selasa Wagen telah berevolusi maknanya. Ia menjadi panggung demokratisasi seni. Kegiatan yang dihelat pada hari yang syarat makna ini merupakan manifestasi nyata dari program pembinaan berkelanjutan yang digagas secara serius oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui program ini, kalurahan dan kelurahan budaya dari berbagai penjuru kabupaten dan kota di DIY mulai dari perbukitan karst Gunungkidul, lembah subur Kulon Progo, hiruk-pikuk urban Kota Yogyakarta, hingga bentang agraris Sleman dan Bantul diberi ruang seluas-luasnya. Mereka hadir untuk mengekspresikan identitas komunal, menggali potensi tersembunyi, serta merawat warisan leluhur agar tetap relevan di tengah arus zaman yang kian mengglobal.

Dalam sambutannya yang menggetarkan sanubari malam itu, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menegaskan bahwa Pentas Seni Selasa Wagen bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan indikator dari keberhasilan pembinaan yang terarah bagi kalurahan dan kelurahan budaya di DIY.

"Pentas Seni Desa Budaya adalah sebuah bentuk pergelaran kebudayaan yang menarik serta komunikatif, dengan menampilkan unsur koreografi pertunjukan sehingga dapat dinikmati, dihayati, dan diapresiasi masyarakat luas," ungkap Dian Lakshmi Pratiwi, di hadapan ratusan pasang mata yang memadati pelataran Teras Malioboro.

Beliau memaparkan bahwa ada sebuah rantai ekosistem seni yang sedang dibangun. Desa tidak lagi dipandang sebagai objek pembangunan yang tertinggal oleh kota, melainkan sebagai subjek, sebagai sumber mata air kebudayaan yang kejernihannya akan mengaliri dan menghidupi karakter kota.

Manifestasi “Greget”: Penyatuan Hati, Pikiran, dan Tindakan

Setiap pergelaran besar selalu membutuhkan ruh yang mengikat setiap elemen di dalamnya. Pada pergelaran akbar tahun 2026 ini, tema yang diusung sangat sarat makna dan memiliki resonansi yang kuat dengan kondisi zaman, yakni “Greget”.

Diambil dari khazanah filosofi Jawa yang juga diajarkan dalam pendidikan karakter tari klasik gaya Yogyakarta (Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh), "Greget" merepresentasikan semangat membara yang terarah. Ia bukanlah emosi liar yang meledak-ledak, melainkan sebuah gairah yang lahir dari penyatuan hati, kejernihan pikiran, dan ketegasan tindakan nyata. Greget adalah nyala api para pelaku seni dalam melestarikan budaya bangsa, sebuah determinasi untuk tetap menari, menyanyi, dan mencipta karya agung meski dunia di luar panggung terus berubah secara radikal.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY mengajak seluruh elemen masyarakat mulai dari pemerintah, akademisi, seniman, hingga wisatawan yang hadir untuk menjadikan momentum pentas seni berselimut greget ini sebagai landasan strategis guna mencapai tiga pilar tujuan utama:

  • Meningkatkan apresiasi esensial: Menumbuhkan kecintaan terhadap seni dan budaya lokal di tengah masyarakat, menjadikan seni tradisi bukan sekadar tontonan usang, melainkan cermin refleksi diri.
  • Membuka ruang ekspresi yang bermartabat: Memberikan panggung dengan tata cahaya, tata suara, dan audiens yang layak bagi para seniman desa, memacu mereka untuk terus berkarya, berimajinasi, dan berinovasi tanpa harus meninggalkan akar tradisinya.
  • Regenerasi yang berkelanjutan: Menarik minat dan simpati generasi muda generasi yang lahir di era digital agar tumbuh rasa cinta, kebanggaan, dan tanggung jawab yang organik untuk turut serta memikul estafet kelestarian budaya bangsa.

Pesona Semburat Kreativitas: Sepuluh Mahakarya dari Jantung Desa Budaya

Malam itu, panggung Teras Malioboro 1 seolah diubah menjadi kanvas raksasa. Setiap penampil yang naik ke atasnya membawa kepingan jiwa nusantara, merajutnya menjadi pertunjukan sarat makna, kaya akan simbolisme, dan merepresentasikan kekayaan filosofi dari wilayah masing-masing. Mereka adalah duta dari desa mereka, membawa nama baik, kebanggaan, dan sejarah yang telah diwariskan turun-temurun. Dimulai dari :

1. Kalurahan Tambakromo (Gunungkidul) – Jathilan Wanudya Giri

Gemuruh kendang dan pekik ritmis yang menghentak mengawali kemunculan duta seni dari wilayah perbukitan karst Gunungkidul. Mereka membawakan epik Jathilan Wanudya Giri. Jika jathilan pada umumnya didominasi oleh figur ksatria pria, karya ini mendobrak stereotip dengan mengisahkan ketangguhan sekelompok perempuan pegunungan.

Di bawah arahan langsung dan dukungan penuh dari Lurah Sudigdo Wiyoko Nugroho, S.E., tarian ini memancarkan aura feminisme tradisional. Gerakan mereka merepresentasikan jiwa keprajuritan yang berani, tangkas, sekaligus setia dalam menjaga kehormatan diri, keluarga, serta tanah kelahirannya. Debu khayali seolah mengepul dari hentakan kaki para wanudya (perempuan) ini, menggambarkan betapa kerasnya alam Gunungkidul telah menempa mereka menjadi individu-individu yang tak kenal menyerah.

2. Kalurahan Sogan (Kulon Progo) – Tari Sogan Sumringah

Berpindah ke wilayah barat DIY, Kalurahan Sogan menghadirkan nuansa yang kontras melalui Tari Sogan Sumringah. Ini adalah sebuah mahakarya yang murni memancarkan energi keremajaan. Di bawah binaan intensif koreografer muda berbakat, Bayu Puji Santoso, pertunjukan ini dibawakan dengan penuh energi oleh 15 pelaku seni, yang terdiri dari 9 penari remaja berusia 15 hingga 18 tahun, diiringi alunan nada dari 6 pemusik sebaya.

Melalui persiapan matang yang konon telah dirancang dan dilatih sejak Januari 2026, tarian ini tidak sekadar rapi secara koreografi, tetapi benar-benar hidup. Kata 'Sumringah' yang berarti ceria atau berseri-seri, tervisualisasi sempurna lewat senyum para penari, gerak lincah yang rampak, dan balutan busana yang cerah. Tarian ini menularkan kebahagiaan, menebarkan optimisme bahwa generasi Z di pedesaan Kulon Progo masih sangat bangga menjadi bagian dari seni tradisi.

3. Kalurahan Tuksono (Kulon Progo) – Oglek Silat Timbul Budaya

Menyusul sesamanya dari Kulon Progo, Kalurahan Tuksono, lebih tepatnya dari Padukuhan Krebet, menampilkan kesenian asli yang sangat maskulin dan penuh daya magis: Oglek Silat Timbul Budaya. Ini bukanlah sekadar tarian, melainkan seni pertunjukan bela diri yang dibalut dengan estetika koreografi.

Kesenian ini secara cerdas mengadopsi gerakan-gerakan jurus pencak silat nusantara, meramunya menjadi sebuah sajian yang ritmis. Setiap kepalan tangan, kuda-kuda, dan sapuan kaki menghembuskan napas kesatria dari era Babad Jipang yang gagah berani. Penonton dibuat menahan napas setiap kali para penampil melakukan manuver silat yang cepat dan presisi, membuktikan bahwa desa-desa di Kulon Progo menyimpan kekayaan ilmu bela diri warisan leluhur yang tak ternilai harganya.

4. Kalurahan Sendangsari (Kulon Progo) – Tari Suluk Tumaruntum

Setelah ketegangan silat, panggung diusap oleh ketenangan yang menghanyutkan lewat Tari Suluk Tumaruntum dari Kalurahan Sendangsari. Digarap dengan sangat apik, puitis, dan penuh kehati-hatian oleh sutradara/koreografer Diaz Abadi Ghanang Jati, tarian ini membawa penonton menelusuri lorong waktu.

Pertunjukan ini mengangkat jejak spiritual seorang tokoh legendaris, Cokrojoyo (yang di kemudian hari dikenal dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa sebagai Sunan Geseng). Ini adalah sebuah pementasan syahdu yang minim gerak menghentak, namun kaya akan penjiwaan. Lewat tata lampu yang dramatis, tarian ini menyimbolkan keteguhan hati seorang pencari kebenaran, menelusuri lika-liku kesabaran, ujian hidup, dan puncaknya pada kemampuan pengendalian diri sejati. Penonton seolah diajak melakukan kontemplasi spiritual di tengah riuhnya Malioboro.

5. Kelurahan Tamanmartani (Sleman) – Fragmen Anoman Sang Duta

Kemegahan sendratari klasik hadir melalui perwakilan Kelurahan Tamanmartani, Kabupaten Sleman. Sanggar Seni Tari Puri Bendosari mengambil alih panggung dan langsung memukau penonton lewat visualisasi ikonik pewayangan: Fragmen Anoman Sang Duta.

Menampilkan episode krusial dari epos Ramayana, tokoh Anoman sang kera putih digambarkan tidak hanya sebagai utusan setia Sri Rama yang menyusup ke Alengka untuk mencari Dewi Sinta, tetapi lebih dari itu. Dalam konteks Selasa Wagen, fragmen ini ditarik maknanya menjadi simbol universal tentang keberanian mengambil risiko, pengabdian tanpa pamrih kepada pemimpin dan negara, serta keteguhan tak tergoyahkan dalam menegakkan kebenaran melawan angkara murka (yang disimbolkan oleh Rahwana). Loncatan-loncatan lincah sang penari Anoman menuai tepuk tangan riuh dari para penonton.

6. Kalurahan Sidoharjo (Gunungkidul) – Campursari Nyawiji

Gunungkidul tidak hanya identik dengan jathilan. Kalurahan Sidoharjo membuktikan bahwa tanah mereka juga merupakan tempat lahirnya maestro musik. Mereka menampilkan pementasan Campursari Nyawiji, sebuah penghormatan dan pelestarian atas karya-karya legendaris dari maestro asal Gunungkidul, mendiang Manthous, penemu genre campursari modern.

Dengan paduan instrumen gamelan pelog slendro dan alat musik diatonis (keyboard, gitar, bass), penampilan ini sangat komprehensif. Mereka tidak hanya bernyanyi dan menghibur audiens agar turut bergoyang, tetapi juga secara cerdas menjadikannya sebagai medium promosi yang elegan. Di sela-sela lagu, narasi mengenai keindahan ikon pariwisata Pantai Sundak dan eksotisme kerajinan lokal Batik Rinakit disisipkan, membuktikan bahwa seni bisa menjadi penggerak ekonomi (creative economy) yang efektif bagi desa.

7. Kelurahan Purbayan (Kota Yogyakarta) – Tari Srandulan (Kembang-Kembang)

Sebagai perwakilan tuan rumah di jantung ibu kota provinsi, Kelurahan Purbayan (Kotagede) menyajikan sesuatu yang eklektik dan inovatif. Koreografer kawakan Anter Asmorotedjo menyajikan Tari Srandulan (Kembang-Kembang).

Kotagede yang dikenal sebagai ibu kota awal Mataram Islam, memiliki jejak sejarah yang panjang. Anter dengan jenius meramu unsur-unsur seni kerakyatan pesisiran dan Kotagede, pakem tari klasik keraton yang ketat, dan menyuntikkannya dengan ritme populer. Hasilnya adalah sebuah pertunjukan kontemporer yang memikat, dinamis, namun tetap kental dengan nuansa Jawa mataraman. Ini adalah representasi bagaimana masyarakat urban Kota Yogyakarta merespons modernitas tanpa kehilangan akarnya.

8 & 9. Kalurahan Prenggan & Pandowoharjo – Elegi Padas Temanten & Orkes Wani Wirang

Puncak malam budaya ini disempurnakan oleh kolaborasi lintas kelurahan dan genre. Kalurahan Prenggan (Kota Yogyakarta) membawakan dramatari yang sangat emosional berjudul Elegi Padas Temanten. Garapan sutradara Ridho Prabandaru ini mengangkat folklor atau legenda kelam namun indah dari tepian Sungai Gajah Wong. Tragedi dan cinta divisualisasikan lewat koreografi yang menyayat hati dan tata musik yang mengundang haru.

Setelah emosi penonton dikuras lewat kesedihan elegi, Kelurahan Pandowoharjo (Sleman) mengambil alih untuk menutup rangkaian acara dengan kemeriahan yang memuncak lewat musik kolaboratif dari Orkes Wani Wirang. "Wani Wirang" yang secara harfiah berarti "Berani Malu" merepresentasikan semangat pantang menyerah untuk tampil habis-habisan menghibur rakyat. Alunan musik mereka menghentak, memaksa penonton untuk berdiri dan merayakan kebersamaan di bawah langit malam Malioboro.

Suara dari Panggung: Nafas Karsa dan Rasa Sang Pelaku Seni

Pentas Seni Selasa Wagen sejati-jatinya bukan sekadar tontonan visual semata. Lebih dari itu, acara ini merupakan ruang perjumpaan emosional yang menghadirkan cerita-cerita inspiratif langsung dari denyut nadi para pelakunya. Di balik tata rias yang tebal dan senyum yang merekah di atas panggung, terdapat perjuangan, keringat, dan dedikasi yang luar biasa dari masyarakat desa.

Giang Bayu Tetuko (Komunitas Orkes Wani Wirang, Pandowoharjo, Sleman) dengan wajah giang masih dipenuhi peluh ketika ia turun dari panggung. Napasnya memburu, namun matanya memancarkan kepuasan yang tiada tara. Komunitas kampung yang digawanginya, beranggotakan 20 hingga 25 pemusik, sukses besar memukau ribuan penonton. Fakta yang mengejutkan adalah, mahakarya kolaborasi rumit antara angklung tradisional Jawa Barat, gamelan Jawa Tengah/DIY, musik modern, dan vokal berlapis ini sukses disajikan hanya melalui dua kali latihan gabungan.

Namun, di balik kehebatan musikalitas mereka, ada misi yang lebih besar. Mereka hadir untuk mengangkat derajat desa, salah satunya dengan memperkenalkan produk UMKM andalan, keripik tempe khas Pandowoharjo, kepada khalayak luas.

"Kami ingin menunjukkan bahwa kebersamaan adalah hal yang penting. Seni hanyalah alat, tujuannya adalah persatuan warga desa. Karena itu kami menggabungkan berbagai unsur musik dalam satu pertunjukan yang padu," tutur Giang dengan suara bergetar karena haru.

"Kami sangat senang karena penonton malam ini antusiasnya luar biasa. Teriakan mereka mengusir semua lelah kami. Itu membuat kami bangga sebagai penampil. Selasa Wagen adalah panggung yang selalu kami tunggu, sebuah muara dari segala proses kreatif di kampung kami. Di dunia seni tidak ada kata cukup; kami akan terus berlatih supaya Wani Wirang tidak hanya jago kandang, tapi suatu saat bisa memiliki cakrawala mancanegara."

Di sudut panggung yang lain, sosok Mujianti, seorang seniwati dari kawasan pesisir selatan Gunungkidul, tampak tengah merapikan sanggulnya. Malam itu adalah kali ketiga ia tampil bersama rombongannya di Selasa Wagen. Rombongan yang beranggotakan sekitar 15 orang ini berhasil menyajikan perpaduan ciamik antara langgam tradisional Jawa, instrumen modern seperti kibor, dan tarian latar yang memanjakan mata.

"Walaupun sudah beberapa kali tampil di sini, yang namanya rasa gugup saat melihat ribuan orang di depan panggung itu tetap ada. Tangan saya sempat dingin sebelum naik," Mujianti bercerita sambil tertawa kecil, membagikan kesan mendalamnya. "Sama seperti teman-teman Sleman, karena kesibukan warga mencari nafkah, kami hanya bisa melakukan dua kali latihan intensif sebelum tampil malam ini. Tapi semangat ('Greget') itulah yang membuat semuanya lancar. Harapan kami, semoga kami diberi umur panjang dan kesehatan sehingga bisa diundang lagi di Selasa Wagen berikutnya, membawa karya yang lebih bagus lagi."

Catatan Di Balik Layar

Jika panggung adalah mahkota kebudayaan, maka proses latihan, pembinaan, dan regenerasi adalah akar pohonnya yang menancap kuat di bumi desa. Keberlangsungan dan kelestarian seni tradisional sepenuhnya berada di tangan para pembina yang sabar bagai resi, serta generasi muda yang bersedia menyisihkan waktu bermainnya demi melestarikan warisan leluhur. Mereka adalah pilar utama kelestarian budaya desa sesungguhnya.

 

Sebagai seorang kreator tari, Bayu Puji Santoso (Koreografer Kalurahan Sogan, Kulon Progo) menyadari bahwa merawat dedikasi 15 remaja belasan tahun di era gempuran media sosial dan budaya instan bukanlah tugas yang ringan. Ia dituntut tidak sekadar menjadi pelatih fisik dan gerak, tetapi juga seorang psikolog bagi anak-anak didiknya. Tari Sogan Sumringah yang tampil malam itu, telah ia rancang kerangkanya sejak Januari dan mulai dilatih secara rutin setiap minggu sejak Februari.

"Persiapan pertunjukan ini sudah kami rancang sejak awal tahun dengan sangat detail. Tantangan terbesarnya bukan pada bagaimana mereka menghafal koreografi, tetapi menjaga mood dan semangat adik-adik yang masih dalam fase remaja pubertas ini," jelas Bayu membeberkan rahasia suksesnya. "Kadang mereka bosan, kadang ada konflik kecil antar teman. Sehingga, kami sering menggunakan metode ice breaking, permainan, atau makan bersama saat latihan agar suasananya tidak kaku. Bagi saya pribadi, belajar seni di tingkat desa itu bukan hanya soal menuntut teknik yang sempurna, tetapi bagaimana menyentuh hati mereka untuk membuat mereka mencintai seni itu terlebih dahulu. Kalau sudah cinta, disiplin akan datang dengan sendirinya."

Wajah regenerasi itu tercermin sempurna dalam diri Asri Mulyani (Penari Kelurahan Tamanmartani, Kalasan, Sleman). Gadis belia ini baru saja menyelesaikan debutnya penampilan pertamanya kalinya di panggung megah Selasa Wagen. Membawakan bagian dari fragmen Anoman Duta, matanya masih berbinar-binar mencerna euforia penonton.

"Senang sekali, benar-benar bangga bisa tampil di Selasa Wagen. Ini pengalaman pertama saya berdiri di panggung sebesar ini, ditonton orang sebanyak ini," ungkap Asri dengan napas yang masih tersengal namun dipenuhi senyum. "Saya ingin terus belajar dan mendalami teknik tari klasik maupun kreasi, karena memang saya sudah bertekad menekuni dunia seni tari. Menurut saya, anak-anak muda zaman sekarang tidak boleh malu dengan tradisinya sendiri. Kita harus tetap mengingat, menjaga, dan melestarikan budaya, karena dari situlah identitas kita berasal."

Sejalan dengan Asri, dua remaja putri dari Kulon Progo, Putri Aisyah Rani & Avrillia Dyah Puspita Dewi (Penari Tari Suluk Tumaruntum), yang sukses membawakan Tari Suluk Tumaruntum dengan penuh penjiwaan, turut membagikan pengalaman batin mereka. Menarikan perjalanan spiritual tokoh Cakra Jaya membutuhkan tingkat kematangan emosi yang tinggi.

"Senang sekali bisa tampil di Selasa Wagen, rasanya seperti mimpi meskipun ini pengalaman pertama kalinya buat kami. Tentu saja sempat nervous (gugup) luar biasa di belakang panggung. Tapi, kami selalu diingatkan oleh pelatih untuk mengambil napas dalam-dalam, tetap tenang, dan yang paling penting, menikmati setiap detik pertunjukan. Seni itu soal rasa," tutur Putri yang diamini oleh Avrillia.

Avrillia kemudian menambahkan sebuah asa untuk masa depan, "Harapannya, tari ini terus hidup dan berkembang di desa kami, dan kelak ada generasi muda di bawah kami yang mau melanjutkannya. Acara luar biasa seperti Selasa Wagen ini sangat penting ruangnya untuk memperkenalkan betapa kayanya budaya daerah kepada masyarakat luas, agar tidak hilang ditelan zaman."

Cakrawala Mancanegara: Resonansi Global Budaya Mataram

Keajaiban dari kesenian yang tulus adalah kemampuannya untuk melampaui batas-batas administratif, bahasa ibu, dan latar belakang budaya penontonnya. Pesona magis Pentas Seni Selasa Wagen terbukti tidak hanya memikat sanubari warga lokal Yogyakarta atau wisatawan domestik nusantara, tetapi juga sukses mencuri hati para wisatawan mancanegara yang sedang mengeksplorasi keistimewaan bumi Mataram malam itu.

Di antara lautan penonton, sepasang pelancong asal Prancis, Farah dan Jackie, tampak duduk terpukau tak beranjak dari awal hingga akhir acara. Lensa kamera mereka tak henti-hentinya mengabadikan momen, namun sorot mata mereka menunjukkan apresiasi yang lebih dalam daripada sekadar ketertarikan turis biasa. Mereka membagikan kekaguman mendalam terhadap pertunjukan, kehangatan atmosfer budaya, dan keramahan esensial warga Yogyakarta.

"It's a great city where everyone is really kind to everyone," (Ini adalah kota yang luar biasa hebat, di mana semua orang benar-benar bersikap ramah kepada setiap orang), ucap Jackie dengan mata berbinar.

Farah, sang rekan seperjalanan, menimpali dengan antusiasme yang tak kalah besar. "The culture and the people are so friendly, and we wanted to see it for ourselves. Budayanya sangat kaya dan masyarakatnya begitu ramah, kami datang jauh-jauh memang untuk membuktikannya sendiri malam ini."

Sebagai pengunjung yang telah berkeliling dunia, mereka memandang Yogyakarta bukan sekadar kota transit wisata, melainkan sebuah ekosistem kehidupan yang utuh di mana kekayaan budaya warisan masa lalu dan keindahan lanskap alam saling melengkapi secara harmonis.

"You have the city, the beach, the mountain, you have everything in Yogyakarta. Di Yogyakarta kalian memiliki hiruk pikuk kota, pantai yang indah, pegunungan yang megah, semuanya lengkap di satu tempat. Yes, it was really great, the show, the dance, everything was great!" tambah Farah menutup obrolan sembari memberikan tepuk tangan sambil berdiri (standing ovation) saat kelompok penampil terakhir memberikan salam hormat ke arah penonton.

Apa yang di katakan Farah dan Jackie adalah bukti sahih bahwa karya seni akar rumput dari desa-desa di DIY memiliki kualitas dan kekuatan yang mampu berdialog dalam konteks global. Mereka menjadi corong yang akan menceritakan keistimewaan Yogyakarta sekembalinya mereka ke Eropa nanti.

Menjaga Nyala Sang Tugu Peradaban

Malam semakin larut menyelimuti kawasan Teras Malioboro. Alunan gamelan perlahan mereda, digantikan oleh riuh rendah percakapan ribuan orang yang beranjak pulang dengan membawa secercah kebahagiaan baru di hati mereka. Para seniman desa mulai membereskan instrumen, melipat properti tari, dan saling berpelukan, merayakan tuntasnya pengabdian mereka pada malam yang panjang.

Melalui pergelaran akbar Selasa Wagen ini, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta telah lebih dari sekadar menyelenggarakan sebuah event. Mereka telah mampu membuktikan secara empiris dan emosional bahwa kalurahan dan kelurahan budaya di seluruh pelosok DIY adalah garda terdepan, benteng terakhir, dan sekaligus ujung tombak dalam merawat identitas keistimewaan daerah.

Dengan kobaran semangat "Greget" sebuah laku lampah penyatuan hati, kejernihan pikiran, dan tindakan nyata paripurna dari para pelaku seni warisan luhur nenek moyang tidak dibiarkan membeku di museum. Ia dihidupkan, dihela napasnya kembali bukan sekadar sebagai romantisme atau kenangan masa lalu, melainkan bertransformasi sebagai daya hidup masa kini.

Kesenian desa kini berdiri tegak sebagai sumber kesejahteraan ekonomi masyarakat, rahim kreativitas tanpa batas bagi generasi mudanya, serta mercusuar peradaban yang cahaya budayanya membanggakan bagi bangsa Indonesia, memancarkan pesonanya hingga ke penjuru dunia. Selama gamelan masih ditabuh di ujung-ujung desa, dan selama generasi muda seperti Asri, Putri, dan Avrillia masih bangga mengalungkan selendang di leher mereka, denyut jantung Mataram tidak akan pernah berhenti berdetak. (fit/Julia/Dewi)

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta