31th YGF: Tabuh, Tumbuh, dan Jejak yang Tak Runtuh

by ifid|| 22 Juli 2026 || 13 kali

...

Yogyakarta - Sebuah festival pada akhirnya akan usai. Panggung di bongkar, para penampil kembali ke daerah asal masing-masing, dan bunyi gamelan perlahan menghilang bersama malam, Namun, bagaimana jika yang ingin dirawat bukan hanya pertunjukannya, melainkan semangat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Gagasan itulah yang menjadi salah satu sorotan dalam konferensi pers Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) ke-31 yang digelar di Lobby Lounge Loman Park Hotel Yogyakarta, Senin (20/7). Menjelang dimulainya rangkaian festival bertema "Sukacita (Joy)", para penyelenggara tidak hanya memperkenalkan agenda festival, tetapi juga menunjukkan bagaimana YGF terus bertumbuh melalui regenerasi, kolaborasi, dan upaya membuka ruang bagi semakin banyak orang untuk merawat gamelan. 

Memasuki usia ke-31, YGF menandai babak baru dalam perjalanan penyelenggaraannya. Untuk pertama kalinya sejak festival ini digelar, kepemimpinan YGF dipercayakan kepada sosok yang bukan berasal dari Komunitas Gayam 16. Bagi Ketua Komunitas Gayam 16, Ari Wulu, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi regenerasi agar festival tidak hanya bertumpu pada satu komunitas, melainkan menjadi ruang bersama yang dapat terus berkembang lintas generasi.

"Ini pertama kalinya YGF diketuai yang bukan dari anggota Gayam 16. Semoga ini membuka kesempatan bagi semuanya dan sudah selayaknya menjadi sebuah perayaan bagi kita semua, bagaimana menyelenggarakan sesuatu itu harus dengan cara yang gembira," ujar Ari.

Kepercayaan tersebut diberikan kepada Lanoke Intan Paradita, yang sebelumnya telah lama terlibat sebagai relawan YGF. Baginya, tema "Sukacita (Joy)" dipilih bukan sekadar menggambarkan kegembiraan, tetapi mengajak masyarakat memandang gamelan sebagai sebuah spirit yang menghadirkan harmoni di tengah kehidupan.

"Gamelan tidak hanya dimaknai sebagai objek saja. Kalau saya menyitir tagline yang diciptakan almarhum Sapto Raharjo, gamelan is not an object, it is a spirit. Spirit yang kami ambil adalah harmoni, kebersamaan, dan keberagaman yang dirayakan bersama-sama," tuturnya.

Menurut Lanoke/Uke, pada usia ke-31, YGF berada dalam fase yang lebih matang. Sukacita yang diangkat tahun ini bukan sekadar kemeriahan sebuah pertunjukan, tetapi juga ajakan untuk menikmati gamelan sebagai ruang memperlambat ritme kehidupan, berefleksi, sekaligus membangun kebersamaan.

Spirit tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam tiga program utama YGF ke-31, yakni Lokakarya Gamelan sebagai Musik Meditasi, Rembug Budaya yang mengangkat isu Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dalam ekosistem musik tradisi, serta Konser Gamelan yang menjadi puncak festival pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Plaza Pasar Ngasem.

Kurator konser YGF, Sudaryanto, menjelaskan bahwa seluruh penampil diberi kebebasan menerjemahkan tema "Sukacita" ke dalam karya masing-masing. Dari sekitar 15 kelompok yang akan tampil, festival menghadirkan seniman dari berbagai daerah di Indonesia, sekaligus kolaborasi musisi dari Prancis dan Belanda yang menunjukkan bagaimana gamelan terus berkembang melintasi batas budaya.

Dalam sesi tanya jawab, Ari Wulu juga menjawab pertanyaan mengenai absennya sejumlah kolega almarhum Sapto Raharjo dari luar negeri yang dahulu kerap menjadi bagian dari YGF. Menurutnya, komunikasi dengan jaringan seniman internasional sebenarnya masih terus terjalin melalui mailing list. Namun, situasi ekonomi global dan tingginya biaya perjalanan membuat pertemuan kembali dalam satu festival belum memungkinkan untuk diwujudkan.

"Keinginan untuk tampil bersama itu ada. Cuma hari ini kalau memaksakan harus kumpul di satu tempat bersamaan itu kok belum waktunya. Untuk beli tiket pesawat pulang-pergi dari sini ke Amerika sekarang bisa buat beli Vespa " ujar Ari.

Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut juga dirasakan berbagai komunitas seni di luar negeri. Bahkan sejumlah mitra YGF di Prancis mengalami pemangkasan anggaran hingga 50%. Karena itu, menurut Ari, YGF memilih tetap menghadirkan festival yang hangat, relevan, dan sesuai dengan kondisi saat ini, daripada memaksakan skala internasional seperti pada masa lalu.

Meski demikian, Ari menilai situasi tersebut tidak mengurangi semangat YGF sebagai ruang perjumpaan para pelaku gamelan. Justru semakin banyak festival gamelan yang tumbuh di berbagai daerah menjadi tanda bahwa upaya pelestarian budaya kini berkembang secara lebih luas dan tidak lagi terpusat di satu tempat.

Di balik seluruh rangkaian program yang disiapkan, Ari menegaskan bahwa keberlangsungan gamelan pada akhirnya bukan hanya bergantung pada instrumen ataupun festival yang rutin diselenggarakan, melainkan pada manusia yang terus merawat dan mengembangkannya.

"Saya memikirkan metode-metode, strategi-strategi pewarisan kebudayaan dan sekaligus pengembangannya. Salah satunya adalah manusianya," ujarnya.

Selama tiga dekade lebih, Yogyakarta Gamelan Festival telah menjadi ruang bertemunya berbagai gagasan, generasi, dan budaya. Tahun ini, melalui tema "Sukacita", YGF kembali mengingatkan bahwa gamelan bukan hanya tentang bunyi yang terdengar di atas panggung, tetapi juga tentang semangat kebersamaan yang terus hidup dari waktu ke waktu. Sebab ketika tabuh terakhir berhenti, yang tersisa bukan sekadar gema musik, melainkan jejak yang terus tumbuh dan tak pernah runtuh. (Juliana/Dewi/Fit)

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta