by ifid|| 25 Juli 2026 || 6 kali
Pada Selasa, 21 Juli 2026, Mini Concert Jurusan Etnomusikologi, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, menjadi tempat berkumpulnya empat tradisi vokal daerah, Jawa, Jawa Timur, Sunda, dan Batak, dalam satu forum belajar bersama bertajuk Workshop Tembang Nusantara 2026. Sebelum ada panggung besar dan tata suara yang kompleks, tembang lahir dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: suara manusia itu sendiri. Dari titik itulah workshop ini dimulai, mengajak peserta mengenal empat cara berbeda dalam menuangkan rasa lewat nada.
Kegiatan yang didanai penuh oleh Dana Keistimewaan ini merupakan kerja sama ketiga antara Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY dan Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta, sekaligus menjadi pre-event dari International Yogyakarta Sound Festival (IDEF) yang berlangsung hingga akhir Juli 2026. Dr. Citra Aryandari, S.Sn., M.A., Ketua Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta, menjelaskan bahwa pemilihan keempat wilayah ini bukan berangkat dari pertimbangan khusus semata, melainkan dari semangat pemerataan, mengingat masih banyak sumber daya pengajar di jurusannya yang belum mendapat giliran tampil dalam dua kerja sama sebelumnya.
Baginya, mempertemukan empat daerah yang berbeda dalam satu forum yang sama justru menjadi cara efektif untuk memperlihatkan keberagaman tradisi vokal Nusantara dan menjadi momentum untuk memperkenalkan musik tradisi ke masyarakat.
Laras yang Tak Tertukar
Salah satu narasumber, Dra. Ela Yulaeliah, M.Hum, pengajar seni Sunda di Etnomusikologi ISI Yogyakarta yang telah mengabdi sejak 1991, membawa peserta menyelami satu hal yang menurutnya paling membedakan tembang Sunda dari tembang daerah lain, yakni laras. Jika Jawa dan Bali hanya mengenal dua laras, selendro dan pelog, Sunda menyimpan kekayaan yang lebih luas.
"Di Sunda itu kan ada namanya laras madenda, yang tidak dimiliki oleh Bali maupun Jawa. Kalau Jawa sama Bali itu hanya ada selendro dan pelog. Kalau di Sunda ada empat: pelog, salendro, madenda, degung," jelas Ela.
Perbedaan itu bahkan sampai pada tataran identitas instrumen. Ela menuturkan bahwa masyarakat Sunda memiliki cara tersendiri dalam mengklaim mana yang benar-benar "milik" mereka, dan mana yang merupakan hasil akulturasi panjang dari budaya Jawa yang kemudian diolah menjadi warna baru.
"Kalau ditanyakan apa gamelan Sunda itu, orang Sunda pasti mengatakan gamelan degung. Itu hanya yang dipunyai oleh masyarakat Sunda. Kalau pelog salendro yang seperti di Jawa, orang Sunda nggak pernah mengatakan itu gamelan Sunda," katanya.
Fungsi sosial tembang Sunda pun ternyata tidak tunggal. Ada tembang Cianjuran yang tumbuh di kalangan menak dan keraton, berkarakter agung dan tidak digunakan untuk ritual, namun ada pula Cigawiran yang lahir dari pesantren di Garut, digunakan untuk sholawatan, dengan warna yang jauh lebih kerakyatan. Satu istilah, tembang, ternyata menyimpan begitu banyak wajah sesuai ruang dan kelompok masyarakat yang menghidupkannya.
Tangisan yang Tidak Diciptakan
Dari Tanah Batak, Drs. Krismus Purba, M.Hum membawa satu bentuk tembang yang jarang dibicarakan secara terbuka: andung, tembang atau tangisan yang hadir dalam upacara kematian. Berbeda dari kebanyakan tembang lain yang lahir dari proses penciptaan, andung justru murni spontanitas, isi hati seseorang yang dituangkan dalam sebuah nyanyian saat berhadapan langsung dengan jenazah.
"Isi dari hati si pengandung itu terhadap si jenazah. Tapi kadang itu dengan perasaan yang sangat sedih, dia menjadi tangisan," ungkap Krismus.
Yang menarik, andung tidak mengenal batasan siapa yang boleh melakukannya. Tidak harus orang Batak, tidak harus fasih berbahasa Batak, bahkan kedekatan fisik dengan jenazah pun dianggap wajar, sebuah hal yang menurut Krismus berbeda jauh dengan cara sejumlah budaya lain memperlakukan kematian.
Namun tradisi ini kini menghadapi tantangan zamannya sendiri. Pengaruh diaspora dan masuknya ajaran agama Kristen membuat sebagian masyarakat Batak beralih dari andung ke lagu-lagu rohani, karena andung dianggap tidak lagi sesuai dengan keyakinan mereka. Sebagai upaya pelestarian, muncul pula bentuk baru bernama "andung-andung", versi tembang yang sengaja diubah dan bahkan dilombakan dalam festival, meski jauh dari semangat spontanitas aslinya.
"Kalau itu ditiru dua kali, kan jadi palsu, atau tiruan. Mungkin bisa saja kisahnya sama dengan yang dialami, tapi dibuatlah dalam gaya lagu itu, andung-andung," tambahnya.
Belajar Bahasa yang Bukan Miliknya
Di antara para peserta, ada Aisyah Tsania, mahasiswa Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta yang berasal dari Jambi. Baginya, workshop ini menjadi ruang belajar yang menyingkap seberapa jauh kesenjangan pengetahuannya sendiri tentang tradisi vokal Nusantara, termasuk daerahnya sendiri.
"Yang paling bikin saya kaget adalah bahasa. Saya mungkin bisa bahasa Jawa yang secara umum digunakan, tapi secara halus itu mungkin tidak bisa. Dari workshop ini saya jadi tahu ternyata pengetahuan tentang bahasa Jawa halus itu bisa menambah kosa kata dalam pembentukan sajak," ungkap Aisyah.
Sebagai penulis cerpen dan sajak sejak masa SMA, Aisyah menemukan titik temu yang tak terduga antara tembang dan dunia yang selama ini ia geluti, yakni spontanitas dalam menuangkan perasaan lewat kata. Ketertarikannya pada workshop ini pun bukan sekadar rasa ingin tahu, melainkan lahir dari proyek pribadi yang tengah ia kerjakan.
“Saat ini, saya sedang menyusun sebuah novel bertema musik yang mengangkat kebudayaan lokal saya sendiri. Hal ini memicu rasa penasaran saya mengenai potensi musik daerah asal saya agar dapat dinikmati oleh khalayak luas. Saya pribadi sangat mengapresiasi lagu-lagu berbahasa Jawa maupun Sunda yang, meskipun menggunakan bahasa daerah sehari-hari, tetap terasa sangat harmonis dan mudah diterima di telinga.”
Dari keempat tembang yang dipelajarinya hari itu, Sunda menjadi yang paling ingin ia dalami lebih jauh, bukan karena kedekatan budaya, melainkan karena gaya berbahasanya yang menurutnya unik dan berbeda dari kerumitan tingkatan bahasa Jawa yang ia rasa masih terlalu asing untuk dikuasai dalam waktu singkat.
Pada akhirnya, sehari belajar tembang di ISI Yogyakarta ini membuktikan bahwa keberagaman tidak selalu perlu dijelaskan lewat definisi, karena ia bisa dirasakan langsung lewat laras yang berbeda, tangisan yang tak diciptakan, dan bahasa yang mula-mula terasa asing sebelum akhirnya menjadi akrab di telinga. Selama generasi muda dari berbagai daerah masih mau duduk bersama untuk saling mendengarkan tembang yang bukan miliknya sendiri, warisan lisan Nusantara akan terus menemukan jalan untuk hidup, satu generasi ke generasi berikutnya. (Dewi/Ifit)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...