Gumregah: Bangkit Lewat Karya

by ifid|| 25 Juli 2026 || 12 kali

...

Ada kata dalam bahasa Jawa yang tidak selalu mudah dicari padanannya: gumregah. Ia bukan sekadar "bangkit" dalam pengertian harfiah, melainkan sebuah gerak batin, saat sesuatu yang sempat layu kembali menemukan gairahnya untuk tumbuh. Kata itulah yang dipilih menjadi napas dari Selasa Wagen edisi kali ini, bertajuk "Gumregah Nyawiji ing Karya", yang digelar pada Selasa, 21 Juli 2026, di dua titik sekaligus: Gerbang Kepatihan dan Teras Malioboro. Dua panggung, satu semangat yang sama, tentang bagaimana potensi-potensi yang selama ini tersebar mampu menyatu dalam wujud karya untuk Yogyakarta, dan oleh Yogyakarta sendiri.

Ari Purnomo, yang dalam dua tahun terakhir dipercaya oleh Badan Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofis (BPKSF) untuk mengelola pertunjukan di setiap penyelenggaraan Selasa Wagen, menuturkan bahwa tema tahun ini lahir bukan dari ruang kosong, melainkan dari kepekaan membaca denyut masyarakat. Ia meyakini bahwa di balik keramaian kota, selalu ada kegelisahan yang menunggu diberi ruang untuk tumbuh menjadi sesuatu yang bermakna.

"Saya yakin bahwa kegelisahan-kegelisahan di masyarakat itu ada, bagaimana kemudian potensi-potensi yang ada harus difasilitasi, diberikan ruang, kemudian bagaimana kemudian bersatu mewujudkan dalam bentuk karya. Dan karya ini teruntuk kota Yogyakarta, dan untuk Yogyakarta," ungkapnya.

Bagi Ari, gumregah bukanlah kebangkitan tunggal dari satu persoalan, melainkan kebangkitan yang berlapis, dari berbagai sisi kehidupan yang pernah terasa berat untuk dijalani.

"Kita bangkit dari ekonomi, kita harus bangkit dari kebodohan, kita harus bangkit dari pengalaman-pengalaman hidup yang kemarin bertendensi negatif. Kita harus bangkit dari segala apapun," jelasnya.

Semangat itu turut diuji langsung oleh kenyataan tahun ini. Instruksi efisiensi anggaran dari pemerintah turut berimbas pada pendanaan Selasa Wagen, namun bagi para pelaku seni yang terlibat, keterbatasan bukan alasan untuk mundur dari panggung.

"Meskipun dalam keterbatasan biaya, keterbatasan anggaran, kita harus hadir. Kita harus bisa menampilkan seisuatu yang betul-betul maksimal tanpa kemudian harus mengorbankan kualitas pertunjukan atau penampilan dalam setiap malam," tegas Ari.

Justru di titik itulah gumregah menemukan bentuknya yang paling nyata: bukan kebangkitan yang ditopang kelimpahan, melainkan kebangkitan yang lahir dari kesungguhan menjaga kualitas di tengah keterbatasan.

Dari Duka Menuju Penerimaan

Semangat itu turut hidup di atas panggung terbuka Gerbang Kepatihan, lewat penampilan Aisyah Debby Tri Permata Sari dan rekan setimnya dari Sanggar Pramudhita, yang membawakan Tari Dewi Anjani, sebuah kisah yang diangkat dari babad wayang Ramayana. Karya ini terpilih setelah melalui proses seleksi terbuka selama kurang lebih dua minggu, dimulai dari pendaftaran mandiri yang diumumkan lewat kanal Instagram Dinas Kebudayaan, sebelum akhirnya disaring kembali oleh tim penyelenggara.

Namun lebih dari sekadar rangkaian gerak yang dilatih matang, tarian ini membawa lapisan makna yang sejalan betul dengan semangat malam itu. Kisah Dewi Anjani sendiri berkisah tentang seorang perempuan yang dalam mitologinya sempat berubah wujud menjadi kera setelah mencari Cupumanik, sebuah simbol kekuatan yang diperebutkan bersama saudara-saudaranya. Perubahan wujud itu sempat membawa duka mendalam, sebelum akhirnya Dewi Anjani berproses menuju penerimaan atas keadaan barunya.

"Di awal tarian, ekspresi Dewi Anjani sengaja dibuat kosong, menggambarkan keterpurukan menerima wujud barunya. Baru pada bagian akhir, gerak dan raut wajahnya perlahan berubah, menandakan proses penerimaan itu," jelas Debby.

Sebuah gerakan sederhana yang menjadi metafora gumregah itu sendiri: bahwa kebangkitan tidak selalu berarti kembali ke wujud semula, melainkan menerima bentuk baru dari diri sendiri, lalu tetap melangkah maju dengan bentuk itu. Bagi para penari muda dari Sanggar Pramudhita, menghidupkan kembali kisah lama semacam ini menjadi cara mereka sendiri untuk menerjemahkan gumregah, bukan lewat kata-kata, melainkan lewat tubuh yang bergerak menembus kesedihan menuju penerimaan.

Keramahan yang Melampaui Bahasa

Di antara penonton yang berhenti menyaksikan pertunjukan malam itu, ada Martin Roza dan istrinya, Elvie Ultimo, pasangan yang kebetulan melintas di kawasan tersebut dalam perjalanan menuju Prambanan. Mendengar dari pemandu wisata mereka bahwa akan ada pertunjukan tari malam itu, keduanya memutuskan untuk kembali dan menyaksikannya secara langsung.

Bagi Martin, yang baru dua hari berada di Yogyakarta setelah sebelumnya sempat menyaksikan tari budaya di Bali, pertunjukan malam itu meninggalkan kesan yang tidak ia duga sebelumnya.

"The different age groups that they have of the dancers, and they just put everything into it... I could see that there's a lot of history behind that, the way they do that dance," ujar Martin.

Kesan itu bahkan membawanya melihat lebih jauh dari sekadar pertunjukan di atas panggung, menyentuh apa yang menurutnya menjadi daya tarik Yogyakarta secara keseluruhan bagi wisatawan seperti dirinya.

"I see people here from all over the world that are enjoying themselves... they all want to know about the temples, and about the spiritual background of Indonesia. This is really where I think you get a good mix. It was quite enlightening the last couple of days, I would say," tuturnya.

Bukan hanya pertunjukannya yang membekas, melainkan juga caranya bersinggungan dengan penduduk lokal selama perjalanan singkat mereka di Yogyakarta.

"You take your hospitality very seriously. You guys put everything into it," pungkas Martin.

Semarak Gumregah Nyawiji ing Karya malam itu tidak hanya terpusat di Gerbang Kepatihan, melainkan membentang di sepanjang Malioboro. Di depan Gedung Agung, suasana dihidupkan oleh gerak kompak Komunitas Line Dance DIY, sementara di depan Gedung DPRD DIY, Asosiasi Dong Yue Taiji Quan Indonesia mengajak warga bersenam kesehatan bersama. Di sisi timur Museum Sonobudoyo, pengunjung dapat menyaksikan langsung proses tatah sungging wayang kulit bersama Museum Negeri Sonobudoyo, sedangkan di depan Gedung Bioskop Sonobudoyo, panggung musik dari Live Music Sonobudoyo mengalun sepanjang malam. Titik Griya Abhipraya menjadi salah satu ruang paling padat karya, menghadirkan rangkaian Art & Motion berupa gerak meditasi, sketsa, kirigami, dan baca puisi yang diiringi musik biola Andy Amrullah, banyolan "Nitilaku Jamu" dari Srikandi Pendapa Ndalem, musik kebersamaan bersama Jogjakarta Ukulele Society, teatrikal dan baca puisi dari Teater Alam, penampilan Lady Rocker bertajuk "Picuk Asmara", lukisan langsung dari Pelukis Titik Nol Jogja, musik akustik Guyub Organic, hingga musik rock dari Rolling Stone-an. Sementara itu, di seberang BNI Titik Nol, kehadiran Komunitas Ecocraft Nusantara turut menambah warna malam itu. 

Pada akhirnya, gumregah malam itu tidak hanya hadir di atas panggung, dalam gerak para penari yang menerjemahkan kembali kisah lama menjadi napas yang baru, tetapi juga dalam pertemuan-pertemuan kecil yang tak terduga, antara warga Yogyakarta dan mereka yang datang dari jauh, saling menyapa lewat bahasa yang tidak selalu membutuhkan kata. Selama kegelisahan masih dijawab dengan karya, dan karya masih dirawat dengan kesungguhan, semangat untuk terus bangkit dan menyatu itu akan terus hidup, seperti judul yang diusungnya sendiri: nyawiji ing karya. (Dewi/Juliana/Ifit)

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta