by ifid|| 27 Juli 2026 || 6 kali
Yogyakarta - Selembar kelir membentang di panggung Societeit Militair, Taman Budaya Yogyakarta. Di baliknya, tangan-tangan kecil mulai memainkan tokoh demi tokoh dengan gerak yang mantap. Suara gamelan mengiringi kisah para ksatria, sementara puluhan pasang mata mengikuti setiap adegan yang lahir dari kepiawaian dalang-dalang muda. Bukan sekadar pertunjukan, Festival Dalang Anak dan Remaja DIY 2026 menjadi ruang ketika tradisi diwariskan kepada generasi yang kelak akan menjaga nyala pedalangan.
Selama empat hari dimulai dari 21–24 Juli 2026, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan Festival Dalang Anak dan Remaja DIY 2026. Sekitar 20 peserta dari lima kabupaten dan kota di DIY tampil membawakan Wayang Kulit Purwa maupun Wayang Golek Menak. Lebih dari sekadar ajang kompetisi, festival ini menjadi salah satu rangkaian dalam perayaan bulan warisan dunia serta menjadi ruang pembinaan bagi para dalang muda sekaligus langkah nyata menjaga keberlanjutan seni pedalangan di tengah perubahan zaman. Para pemenang nantinya akan mewakili DIY pada Festival Dalang Anak dan Remaja tingkat nasional.
bagi para pecinta wayang, festival ini bukan hanya soal siapa yang keluar sebagai juara. Di balik setiap tokoh yang bergerak, setiap dialog yang dilantunkan, hingga setiap hentakan keprak yang terdengar, tersimpan warisan panjang yang diwariskan lintas generasi. Wayang bukan sekadar pertunjukan, melainkan ruang tempat nilai, tradisi, dan cara pandang masyarakat Jawa terus hidup.
Tradisi yang Hidup di Balik Kelir
Banyak orang mengenal wayang sebagai pertunjukan semalam suntuk yang sarat kisah kepahlawanan. Namun, sebelum kisah itu dimainkan, ada serangkaian tradisi yang telah lebih dahulu mengawali perjalanan seorang dalang.
Juri Festival Dalang Anak dan Remaja DIY, Faizal Noor Singgih, menjelaskan bahwa setiap pementasan wayang selalu diawali dengan doa yang dipanjatkan dalang. Doa tersebut bukan sekadar rutinitas, melainkan permohonan keselamatan bagi seluruh pihak yang terlibat, mulai dari dalang, pengrawit, penanggap, hingga masyarakat yang menyaksikan. Setiap dalang bahkan memiliki mantra atau doa yang diwariskan dari guru maupun leluhurnya sebagai bagian dari perjalanan spiritual sebelum memulai pementasan.
Tradisi itu juga tercermin dari keberadaan sesaji. Dalam pementasan umum, sesaji yang dihadirkan berupa pisang sanggan, jajanan pasar, bunga setaman, dan perlengkapan lain yang telah menjadi bagian dari pakeliran. Namun, ketika wayang dipentaskan untuk kepentingan khusus seperti ruwatan atau upacara adat, sesaji yang digunakan pun mengikuti kebutuhan lakon dan tujuan penyelenggaraan pertunjukan.
Nilai filosofis juga hadir dalam setiap detail yang mungkin luput dari perhatian penonton. Deretan wayang yang tersusun rapi di sisi kanan dan kiri dalang, misalnya, bukan sekadar penataan agar terlihat indah. Wayang-wayang yang berada di sisi kanan merupakan tokoh protagonis, sedangkan sisi kiri diisi tokoh antagonis.
“Secara filosofi menggambarkan bagaimana golongan kanan dan golongan kiri. Bahkan jumlah wayang di sebelah kiri biasanya lebih banyak daripada yang kanan, sebagai gambaran bahwa dalam kehidupan godaan itu memang lebih banyak," jelasnya.
Tak hanya wayangnya, busana yang dikenakan dalang pun menyimpan makna. Dalam tradisi pedalangan Gaya Yogyakarta, surjan menjadi pakaian yang lazim digunakan. Menurut Singgih, seorang dalang merupakan pusat perhatian sehingga busana yang dikenakan juga menjadi bagian dari pertunjukan.
"Pakeliran itu tidak hanya didengarkan, tetapi juga dilihat. Mau tidak mau busana juga harus ditata karena ketika sudah masuk panggung, semuanya menjadi pertunjukan," ujarnya.
Menariknya, cara masyarakat menikmati pertunjukan wayang juga mengalami perubahan. Dahulu, banyak penonton menikmati pertunjukan dari sisi depan kelir sehingga yang tampak hanyalah bayangan tokoh-tokoh wayang. Tradisi itu bahkan berkaitan dengan keberadaan peringgitan dalam arsitektur rumah Jawa, tempat para tamu menyaksikan bayangan wayang dari balik kelir.
Kini, pemandangan tersebut mulai bergeser. Banyak penonton justru memilih menyaksikan pertunjukan dari belakang dalang. Warna-warni wayang, ekspresi dalang, hingga dinamika panggung yang lebih atraktif menghadirkan pengalaman visual yang berbeda. Pergeseran cara menikmati wayang ini menjadi salah satu bukti bahwa tradisi tidak berhenti pada bentuk yang sama, melainkan terus menemukan cara baru untuk tetap dekat dengan masyarakat.
Meski demikian, perubahan tersebut tidak menghilangkan esensi pedalangan. Justru dari balik kelir itulah, nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun terus menemukan ruang untuk hidup, dipelajari, dan diteruskan oleh generasi baru yang hari itu bergantian duduk di hadapan kelir Festival Dalang Anak dan Remaja DIY 2026.
Wayang di Dalam Arus Perubahan
Di tengah riuh tepuk tangan penonton, ada satu hal yang terus berubah dari dunia pedalangan: penontonnya. Mereka yang dahulu rela duduk semalam suntuk mengikuti jalannya lakon, kini hidup di tengah arus informasi yang bergerak serba cepat. Perubahan itu tidak hanya mengubah cara orang menikmati pertunjukan, tetapi juga memengaruhi cara seorang dalang membawakan cerita.
Bagi salah satu juri Festival Dalang Anak dan Remaja DIY 2026, Bayu Aji Nugroho, perubahan tersebut merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Wayang, menurutnya, selalu bergerak mengikuti masyarakat yang menikmatinya.
Ia mengingat bagaimana pada awal tahun 2000-an, pertunjukan wayang mulai menghadirkan kemasan baru. Almarhum Ki Seno Nugroho menjadi salah satu tokoh yang membawa perubahan besar melalui pertunjukan yang lebih ringkas, ritmis, dan dekat dengan selera masyarakat. Jika sebelumnya pementasan wayang identik dengan durasi semalam suntuk, perlahan waktu pertunjukan dipersingkat tanpa menghilangkan inti cerita. Penonton pun mulai menyesuaikan diri dengan pola baru tersebut.
Perubahan itu bukan semata-mata soal durasi. Bayu melihat fungsi pertunjukan wayang juga mengalami pergeseran. Dahulu, wayang banyak dipentaskan sebagai bagian dari ritual atau upacara adat. Kini, masyarakat lebih sering memandangnya sebagai sarana hiburan.
"Ekosistem masyarakat sekarang memang berubah. Orang datang ingin terhibur setelah menjalani aktivitas sehari-hari," ungkapnya.
Perubahan selera tersebut membuat dalang dituntut semakin kreatif. Dalam festival seperti ini, misalnya, mereka hanya memiliki waktu sekitar 40 menit untuk menyampaikan keseluruhan cerita. Tidak ada lagi ruang untuk bertutur panjang seperti pertunjukan tradisional semalam suntuk. Setiap adegan harus dipilih dengan cermat, setiap dialog harus memiliki makna, dan setiap konflik harus mampu membangun emosi penonton dalam waktu yang singkat.
Menurut Bayu, tantangan terbesar justru berada pada proses menerjemahkan naskah. Seorang pembimbing dan dalang harus mampu merangkai sebuah lakon layaknya film pendek: ringkas, padat, tetapi tetap meninggalkan kesan mendalam. Mereka bukan hanya menyederhanakan cerita, melainkan mengolahnya agar tetap utuh dalam durasi yang jauh lebih singkat.
Di sisi lain, perkembangan teknologi turut menghadirkan tantangan baru. Dahulu, penonton hanya mengenal satu versi pertunjukan yang mereka saksikan secara langsung. Kini, berbagai lakon dapat diakses melalui YouTube maupun media sosial. Penonton datang dengan referensi yang lebih banyak dan tanpa sadar mulai membandingkan satu dalang dengan dalang lainnya.
Fenomena tersebut membuat proses belajar seorang dalang tidak pernah benar-benar selesai. Selain memperkaya perbendaharaan bahasa dan memahami karakter tokoh, mereka juga dituntut terus memperbarui cara bertutur agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Meski demikian, Bayu menegaskan bahwa beradaptasi bukan berarti meninggalkan akar tradisi. Baginya, inovasi merupakan cara agar wayang tetap hidup, selama tidak menghilangkan esensi cerita dan nilai yang terkandung di dalamnya. Seni pedalangan selalu berkembang mengikuti zamannya, tetapi ruh yang diwariskan para pendahulu tetap harus dijaga.
Tradisi yang Terus Beradaptasi
Pandangan serupa juga disampaikan Juri sekaligus Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) DIY, Edy Suwondo. Di tengah berbagai perubahan yang terjadi, ia memilih bersikap optimistis terhadap masa depan seni pedalangan.
Menurutnya, dinamika memang tidak bisa dihindari. Ada daerah yang mengalami kemajuan, ada pula yang menghadapi penurunan kualitas. Namun, pembinaan terhadap dalang anak dan remaja terus dilakukan sebagai bagian dari proses kaderisasi yang berkelanjutan. Sosialisasi, pendampingan, hingga festival seperti ini menjadi langkah penting untuk memastikan regenerasi terus berjalan.
Edy melihat bahwa perubahan terbesar justru terjadi pada pola pikir penonton. Jika dahulu wayang lebih dikenal sebagai media tuntunan, kemudian tatanan, dan terakhir tontonan, kini urutannya berbalik. Unsur hiburan menjadi alasan utama masyarakat datang menyaksikan pertunjukan.
Karena itu, ia menilai dalang masa kini harus memahami cara menarik perhatian penonton terlebih dahulu. Humor, kemasan yang aktual, hingga penguasaan media sosial menjadi pintu masuk agar generasi muda tertarik mengenal wayang. Setelah rasa cinta itu tumbuh, barulah nilai-nilai filosofi yang terkandung dalam wayang dapat diperkenalkan secara perlahan.
"Tugas pertama kita bukan membuat orang langsung memahami filosofi wayang, tetapi membuat mereka jatuh cinta terlebih dahulu," menjadi semangat yang tercermin dari pandangannya terhadap pembinaan dalang muda.
Karena itulah, menurut Edy, seorang dalang masa kini tidak cukup hanya menguasai teknik pedalangan. Mereka juga harus memahami perkembangan sosial, memiliki kemampuan berkomunikasi, mengelola diri, hingga mampu membaca karakter penonton di setiap daerah. Modernisasi, baginya, bukan ancaman terhadap tradisi, melainkan bekal agar wayang tetap memiliki tempat di hati masyarakat.
Meski membuka ruang bagi inovasi, Edy mengingatkan bahwa kreativitas tetap memiliki batas. Perubahan tidak boleh menghilangkan keluhuran wayang sebagai warisan budaya. Penggunaan bahasa, penyusunan dialog, hingga pengembangan cerita harus tetap menjaga nilai yang selama ini menjadi identitas seni pedalangan.
Di tengah derasnya arus modernisasi, keseimbangan itulah yang terus diupayakan. Wayang perlu berkembang agar tetap hidup, tetapi tidak boleh kehilangan akar yang membuatnya bertahan selama berabad-abad. Festival Dalang Anak dan Remaja DIY menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan dua hal tersebut: menjaga pakem sekaligus memberi ruang bagi kreativitas generasi baru.
Menyemai Dalang-Dalang Masa Depan
Di tengah berbagai perubahan yang dihadapi seni pedalangan, harapan justru tampak dari mereka yang usianya masih belia. Satu per satu peserta Festival Dalang Anak dan Remaja DIY 2026 naik ke panggung dengan lakon yang telah mereka persiapkan berbulan-bulan. Sebagian berasal dari keluarga dalang, sebagian lainnya justru menemukan kecintaannya pada wayang secara tidak sengaja. Namun, mereka memiliki tujuan yang sama: menjaga agar kisah-kisah yang diwariskan leluhur tetap memiliki penutur.
Salah satunya adalah R. Bagaskara Manjer Kawuryan. Bocah berusia 11 tahun itu mewakili Kota Yogyakarta dalam kategori Wayang Golek Menak. Dengan suara yang masih khas anak-anak, ia membawakan lakon Iman Swangsa Krida yaitu kisah tentang seorang anak yang tanpa sengaja berhadapan dengan ayah kandungnya sendiri sebelum akhirnya mengetahui jati dirinya.
Kecintaannya terhadap wayang pun berawal dari hal yang sederhana. Saat masih berusia sekitar lima tahun, ia menemukan wayang ketika membantu sang kakek membereskan gudang. Rasa penasaran membuatnya memainkan wayang itu layaknya sebuah mainan. Siapa sangka, ketertarikan tersebut kemudian disadari oleh orang tuanya yang lantas mengantarkannya bergabung dengan sanggar. Sejak saat itu, wayang bukan lagi sekadar permainan, melainkan menjadi bagian dari kesehariannya.
Meski baru sekitar satu setengah tahun belajar secara intensif di sanggar, Bagaskara telah dipercaya mewakili daerahnya pada Festival Dalang Anak dan Remaja DIY. Ia mengaku masih merasakan gugup ketika memainkan wayang golek, tetapi rasa itu perlahan tergantikan oleh semangat untuk terus belajar. Baginya, setiap kesempatan tampil adalah ruang untuk berkembang, bukan semata-mata mengejar kemenangan. Bahkan jika berhasil meraih juara, hadiah yang diterimanya ingin ia gunakan kembali untuk mendukung kegiatannya dalam dunia pedalangan.
Di akhir perbincangan, Bagaskara menyampaikan pesan sederhana yang mungkin menjadi harapan banyak pelaku budaya hari ini. Ia mengajak teman-teman seusianya untuk tidak melupakan budaya sendiri karena, menurutnya, budaya adalah sesuatu yang sangat istimewa dan patut dilestarikan. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi dari mulut seorang anak berusia sebelas tahun, maknanya terasa begitu dalam.
Festival Dalang Anak dan Remaja DIY 2026 menjadi bukti bahwa regenerasi seni pedalangan terus berlangsung. Barangkali jumlah dalang muda tidak sebanyak dahulu, tetapi setiap anak yang memilih duduk bersila di hadapan kelir telah mengambil satu langkah penting untuk memastikan kisah-kisah para leluhur tidak berhenti pada generasi sekarang.
Ketika lampu panggung mulai dipadamkan dan gamelan perlahan berhenti mengalun, pertunjukan mungkin telah usai. Namun, perjalanan mereka baru saja dimulai. Di balik kelir yang membatasi bayangan dan cahaya, tumbuh generasi baru yang sedang belajar memikul warisan budaya. Melalui setiap lakon yang dibawakan mereka sedang meniti takdir dan menjadi penjaga nyala wayang di masa depan. (Juliana/Dewi/Ifit)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...