by ifid|| 27 Juli 2026 || 88 kali
Di Plaza Monumen Serangan Oemoem 1 Maret , tepat di kawasan Benteng Vredeburg tempat monumen para pahlawan berdiri mengawasi zaman, ratusan perempuan berkumpul pada Jumat, 24 Juli 2026, mengenakan kebaya untuk merayakan Hari Kebaya Nasional ketiga. Mengusung tema "Pesona Kebaya Indonesia untuk Dunia", perayaan tahun ini terasa berbeda, bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan penegasan bahwa selembar kain yang dijahit rapi ini telah menempuh perjalanan panjang untuk diakui dunia.
Tiga tahun bukan waktu yang panjang sejak pemerintah mencanangkan Hari Kebaya Nasional pada 24 Juli 2024, yang kemudian disusul pengakuan UNESCO pada 4 Desember 2024 melalui nominasi bersama lima negara ASEAN, Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand, menjadikan kebaya sebagai warisan budaya takbenda Indonesia ke-15 yang diakui dunia. Namun bagi Yani Ambar, Ketua Panitia peringatan tahun ini, pengakuan itu justru menegaskan bahwa kebaya tidak pernah sekadar soal kain.
"Kebaya bukan sekadar kain atau benang yang dirajut, melainkan sebuah gerakan yang menggerakkan berbagai komponen ekosistem, mulai dari penjahit, pembatik, pembuat aksesori, dan lain sebagainya. Di sinilah ekonomi kreatif bergerak. Kebaya merupakan simbol dari ekonomi kreatif," ungkap Yani.
Perayaan tahun ini dipersiapkan panitia bersama lima organisasi perempuan dalam waktu satu bulan, sebuah kolaborasi yang menegaskan bahwa merawat kebaya bukan pekerjaan satu golongan saja, melainkan tanggung jawab bersama yang terus digemakan dari satu forum ke forum lainnya.
Regenerasi Tanpa Kehilangan Jati Diri
Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A., Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, dalam sambutannya menyoroti satu pertanyaan mendasar yang menurutnya perlu terus dijawab bersama, yakni bagaimana kebaya bertahan di tengah pergeseran zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
"Tantangan terbesar kita adalah regenerasi. Regenerasi bukan berarti mengubah nilai kebaya, melainkan menghadirkan kebaya dalam bahasa zaman tanpa harus kehilangan jati dirinya. Anak-anak muda perlu diberi ruang untuk mencintai kebaya melalui cara-cara yang sesuai dengan dunia mereka," tuturnya.
Baginya, pengakuan UNESCO bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar, sebab yang diakui dunia bukan hanya kebaya sebagai produk sandang, melainkan keseluruhan sistem pengetahuan budaya yang melingkupinya, mulai dari keterampilan menjahit hingga nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun. Yogyakarta pun didorong untuk mengambil peran lebih jauh, menjadi salah satu pusat pelestarian, inovasi, sekaligus diplomasi budaya kebaya Indonesia ke dunia. Sambutan itu ditutup dengan nada yang lebih ringan, mengingatkan bahwa kecintaan pada budaya juga bisa disampaikan lewat cara yang menyenangkan.
"Jalan-jalan ke Yogyakarta naik andong, pakai kebaya, keren dong!"
Dikenakan dalam Peluh, Bukan Hanya Pesta
Sambutan Wali Kota Yogyakarta, Dr. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K), yang dibacakan Kepala Dinas Pariwisata kota Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati, S.I.P., M.Si. turut menegaskan bahwa kebaya di Yogyakarta tidak pernah benar-benar terbatas pada ruang pesta maupun panggung formal. Ia justru hidup dalam keseharian, melekat pada berbagai profesi yang mungkin tidak selalu terpikirkan ketika kebaya disebut.
"Kami menyampaikan apresiasi kepada Ibu-ibu sekalian dari berbagai latar belakang profesi, pimpinan dan anggota DPRD, pegawai profesional, seniman, budayawan, pesinden, pengrawit, pedagang, buruh gendong, bakul jamu, pembatik, guru, dan seluruhnya, yang telah setia menggunakan kain dan kebaya dalam beraktivitas sehari-hari," tegasnya.
Justru dari kesetiaan semacam itulah, disebutkan dalam sambutan tersebut, generasi muda maupun tua diharapkan dapat terinspirasi bahwa kebaya bukan busana yang eksklusif, melainkan identitas yang bisa dikenakan sambil tetap bekerja, berjalan, dan menjalani hidup sehari-hari.
Harmoni yang Dirayakan Bersama
Kehadiran GKBRAA Paku Alam atau yang akrab disapa Gusti Putri turut memberi warna khusus pada perayaan malam itu. Baginya, pemilihan Kawasan Museum Benteng Vredeburg sebagai lokasi acara bukan kebetulan, melainkan pengingat bahwa budaya, seperti halnya perjuangan, perlu terus dirawat agar tidak lekang oleh waktu. Ia turut menyampaikan rasa bangganya menyaksikan ratusan perempuan yang hadir malam itu, dimeriahkan pula oleh penampilan permainan angklung yang dibawakan serentak oleh ratusan perempuan berkebaya.
"Saya merasa bangga dan terharu melihat antusiasme dari ratusan ibu-ibu yang hadir. Terlebih lagi, acara malam ini diwarnai dengan harmoni penampilan pemain angklung wanita serta momen bernyanyi bersama. Ini bukti nyata bahwa budaya kita dapat dirayakan dengan penuh kegembiraan dan kekompakan," ungkapnya.
Malam itu, di antara sambutan-sambutan resmi, panitia juga membacakan sebuah puisi bertajuk "Ketika Kebaya Menyala", yang mengangkat kebaya bukan sekadar sebagai pakaian, melainkan sebagai bahasa yang diwariskan tanpa suara, dari satu perempuan Indonesia ke perempuan Indonesia lainnya, lintas zaman.
Pada akhirnya, Hari Kebaya Nasional ketiga ini menjadi pengingat bahwa pengakuan dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah amanah baru. Selama kebaya masih dikenakan bukan hanya di atas panggung yang gemerlap, tetapi juga dalam peluh mereka yang bekerja, dalam doa mereka yang menjaga rumah, dan dalam keseharian yang sederhana, kebaya akan terus menyala, bukan sekadar sebagai busana, melainkan sebagai jiwa yang tak pernah selesai menjadi Indonesia. (Dewi/Juliana/Ifit)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...