by ifid|| 02 Agustus 2026 || 101 kali
Yogyakarta - Sebuah pertunjukan kethoprak yang memikat tidak hanya lahir dari kepiawaian para pemain di atas panggung. Jauh sebelum lakon dipentaskan, terdapat proses panjang yang menyatukan naskah, penyutradaraan, pemeranan, hingga artistik. Seluruh proses itulah yang menjadi bekal bagi para kontingen dalam Workshop Festival kethoprak DIY 2026 yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY di gedung Societeit Militair, Taman Budaya Yogyakarta, Senin (27/7).
Workshop ini mempertemukan kontingen kethoprak dari lima kabupaten/kota di Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mematangkan persiapan menjelang Festival kethoprak DIY 2026 yang akan diadakan pada 7-8 Agustus 2026 mendatang. Tak sekadar menjadi ruang berbagi pengetahuan, kegiatan ini juga menjadi wadah untuk menyamakan persepsi, bertukar pengalaman, sekaligus menyempurnakan berbagai aspek pertunjukan sebelum para peserta tampil di panggung festival.
Tiga narasumber hadir memberikan penguatan materi, yakni Danu Priyo Prabowo yang membahas penulisan naskah, Bambang Paningron mengenai pemeranan dan penyutradaraan, serta Feri Nugroho yang mengulas artistik pertunjukan. Beragam materi tersebut melengkapi satu sama lain, mengingat keberhasilan sebuah pementasan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan aktor, tetapi juga oleh kekuatan naskah, penataan panggung, hingga kekompakan seluruh unsur pertunjukan.
Selain penguatan materi, workshop juga menjadi ruang diskusi mengenai perubahan lokasi penyelenggaraan Festival kethoprak DIY 2026 yang akan digelar di kawasan Pakualaman dengan konsep panggung terbuka. Perubahan tersebut menghadirkan sejumlah penyesuaian, mulai dari tata panggung, penempatan properti, tata cahaya, tata suara, hingga bagaimana pemain membangun konsentrasi di tengah ruang pertunjukan yang lebih terbuka.
Berbagai masukan pun mengemuka dari para kontingen. Mereka menyampaikan sejumlah catatan terkait kebutuhan teknis agar kualitas pementasan tetap terjaga. Menanggapi hal tersebut, Dinas Kebudayaan DIY berupaya untuk mengakomedir kebutuhan peserta, mulai dari penataan area pertunjukan, penyediaan fasilitas pendukung, hingga sterilisasi lokasi agar festival dapat berlangsung dengan nyaman bagi pemain, juri, maupun penonton.
Di balik seluruh pembahasan teknis tersebut, terdapat satu hal yang terus ditekankan sebagai fondasi utama sebuah pertunjukan, yakni naskah.
Pemateri penulisan naskah, Danu Priyo Prabowo, mengingatkan bahwa naskah kethoprak bukan sekadar rangkaian dialog, melainkan pijakan utama yang menentukan kualitas sebuah pertunjukan. Menurutnya, penulisan naskah harus memperhatikan kaidah bahasa Jawa agar mudah dipahami oleh para pemain sekaligus tetap menjaga kekayaan bahasa yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kethoprak.
"Naskah kethoprak harus memperhatikan kaidah-kaidah penulisan bahasa Jawa," ujar Danu. Ia menilai masih terdapat sejumlah naskah yang perlu disempurnakan, terutama dalam membedakan penggunaan bahasa tulis dan bahasa lisan.
Lebih jauh, Danu menilai naskah memiliki fungsi yang melampaui kebutuhan pementasan. Di tengah semakin berkurangnya penguasaan bahasa Jawa di kalangan generasi muda, naskah justru dapat menjadi media pembelajaran yang efektif.
"Naskah itu bisa menjadi sarana pembelajaran bagi para pemeran atau pemain kethoprak, khususnya anak-anak muda yang sudah tidak menguasai bahasa Jawa dengan baik," tuturnya. Melalui proses membaca dan menghafal dialog, para pemain diajak kembali memahami cara membaca sekaligus melafalkan bahasa Jawa dengan tepat.
Sementara itu, pada materi pemeranan dan penyutradaraan, peserta diajak kembali memahami pentingnya penguasaan gerak, olah vokal, penghayatan karakter, serta unggah-ungguh yang menjadi ciri khas kethoprak. Penyutradaraan juga dipahami sebagai proses menyatukan seluruh unsur pertunjukan agar setiap adegan mampu menyampaikan cerita secara utuh kepada penonton.
Materi artistik yang disampaikan Feri Nugroho melengkapi pembahasan tersebut. Menurutnya, unsur artistik seperti tata panggung, pencahayaan, kostum, tata rias, hingga musik bukan sekadar pelengkap pertunjukan, melainkan bagian dari identitas kethoprak sebagai teater tradisi.
“Kethoprak adalah warisan. Jangan sampai kethoprak justru mendekati teater modern, sementara teater modern sekarang justru banyak mencari local wisdom," ungkapnya. Ia berharap para peserta semakin memahami bahwa kekuatan kethoprak terletak pada nilai-nilai tradisi kerakyatan yang menjadi ruh pertunjukan.
Bagi Feri, kethoprak tetap dapat berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Isu-isu kekinian dapat diangkat ke dalam lakon, namun nilai, filosofi, dan semangat budaya lokal harus tetap menjadi fondasi utama. Dengan demikian, kethoprak tidak hanya mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, tetapi juga tetap mempertahankan identitasnya sebagai seni tradisi yang hidup di tengah masyarakat.
Workshop ini juga memberikan kesan mendalam bagi para peserta. Kintan Dewinta Putri, peserta dari Kabupaten Sleman, mengaku memperoleh banyak wawasan baru, terutama mengenai bagaimana seorang aktor harus mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi panggung, termasuk ketika pementasan dilaksanakan di ruang terbuka.
"Kalau dari keaktoran sendiri itu lebih ke bagaimana seorang aktor bisa menyesuaikan dengan keadaan di mana pun pementasan itu dilaksanakan, lebih ke bagaimana adaptasinya," ujar Kintan. Ia juga menambahkan bahwa workshop memberikan banyak masukan mengenai teknis pementasan, penyempurnaan unggah-ungguh dalam naskah, hingga penyesuaian artistik dengan panggung yang telah disiapkan Dinas Kebudayaan DIY.
Menjelang pelaksanaan festival, Kintan berharap seluruh kontingen dapat memberikan penampilan terbaiknya tanpa semata berorientasi pada hasil akhir perlombaan.
"Harapannya sebenarnya seluruh kontingen di DIY bisa menampilkan yang terbaik, terlepas dari kejuaraan. Yang penting generasi muda ini dapat menampilkan pertunjukan kethoprak sesuai dengan apa yang sudah dikenal selama ini," ungkapnya.
Melalui workshop ini, para kontingen tidak hanya mempersiapkan diri menghadapi sebuah festival, tetapi juga memperkuat pemahaman bahwa kethoprak merupakan warisan budaya yang harus terus dirawat. Dari naskah yang disusun dengan cermat, penyutradaraan yang dirancang dengan matang, hingga artistik yang dipersiapkan secara detail, seluruh proses tersebut menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam menyongsong Festival kethoprak DIY 2026.
Sebab pada akhirnya, Festival kethoprak DIY 2026 bukan sekadar panggung untuk mempertunjukkan sebuah lakon. Lebih dari itu, festival ini menjadi ruang bertemunya kreativitas, kolaborasi, dan komitmen bersama untuk memastikan kethoprak tetap hidup, berkembang, serta terus diwariskan kepada generasi mendatang. (Juliana/Dewi/Ifit)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...