Jejak yang Terus Menyebar

by ifid|| 02 Agustus 2026 || 7 kali

...

Jumat sore, 31 Juli 2026, Yayasan Rumah DAS menjadi persinggahan bagi sebuah riwayat panjang yang selama puluhan tahun berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa pernah benar-benar berhenti. Pameran bertajuk “Riwayat yang Menyebar: Pameran Empat Sanggar” dibuka sore itu, menghadirkan karya dan arsip dari Sanggar Pelukis Indonesia Muda, Sanggar 64, Sanggar Suwung, dan Sanggar Bidar Sriwijaya. Empat nama yang pada mulanya tampak berdiri sendiri-sendiri, namun ternyata berakar pada satu sosok dan satu semangat yang sama.

Pameran ini terselenggara berkat fasilitasi Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta, melalui skema fasilitasi pameran seni rupa yang tahun ini pertama kali digulirkan. Prosesnya berjalan melalui tahap kompetisi terbuka, di mana dari 49 proposal yang masuk, hanya enam kelompok yang berhasil lolos kurasi untuk mendapatkan fasilitasi tersebut, dengan jadwal pelaksanaan yang menyesuaikan proposal masing-masing komunitas. Riwayat yang Menyebar menjadi pameran pertama yang terlaksana dari keenam kelompok terpilih itu, digagas oleh DAS atau Dian Anggraeni Studio dengan Dian Anggraeni sebagai ketua penyelenggara. 

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A., menegaskan bahwa program fasilitasi ini lahir dari kesadaran akan pentingnya menjembatani hubungan antar generasi dalam dunia seni rupa. Menurutnya, proses regenerasi tidak hanya berarti mewariskan keterampilan, tetapi juga membangun ruang dialog agar generasi muda dapat memahami gagasan dan cara pandang para seniman senior di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks. Ia menilai, pertemuan seniman lintas generasi seperti ini membuka peluang lahirnya pemaknaan yang lebih kaya terhadap sejarah, proses kreatif, dan perkembangan seni rupa. Beliau mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama merawat riwayat seni sebagai warisan yang terus hidup dan berkembang. 

Drs.Alex Luthfie R., M.S., perwakilan kurator pameran, yang mula-mula membuka simpul cerita ini. Judul “Riwayat yang Menyebar,” jelasnya, berangkat dari perjalanan Rais Rayan, salah satu pendiri Sanggar Pelukis Indonesia di Yogyakarta pada tahun 1953 hingga 1954, ketika ia masih berstatus mahasiswa ASRI. Sanggar itu hanya bertahan setahun, namun semangatnya tidak pernah benar-benar padam. Rais Rayan membawanya ke Kediri, mendirikan cabang baru, lalu mendirikan Sanggar 64 bersama anak-anaknya, sebelum akhirnya bertemu dengan para perupa muda asal Palembang di Yogykarta dan menjadi penasihat bagi Sanggar Suwung dan Sanggar Bidar.

“Perjalanan hidup dan gagasan Pak Rais tidak berhenti di satu tempat, melainkan menyebar ke berbagai komunitas seni,” ujar Alex, menerangkan bagaimana satu riwayat bisa mengalir dan menghidupi begitu banyak ruang berkarya yang berbeda zaman.

Bagi dr. Oei Hong Djien, pemerhati seni yang turut hadir sore itu, upaya mendokumentasikan riwayat semacam ini bukan sekadar soal merawat kenangan, melainkan soal mencegah kehilangan yang tidak bisa diperbaiki. Ia mengingatkan dengan nada yang sederhana namun menusuk, bahwa sejarah yang tidak diteruskan akan lenyap begitu saja dari ingatan generasi berikutnya. 

"Kalau kita melupakan sejarah, untuk memahami apa yang pernah terjadi pada masa lalu, kita seolah-olah harus hidup ratusan tahun lamanya," tuturnya.

Sebuah kalimat yang menegaskan betapa dokumentasi bukan kemewahan, melainkan kebutuhan mendasar bagi keberlangsungan sebuah tradisi berkesenian. 

Dyan Anggraini Rais membawa pameran ini pada dimensi yang lebih personal. Baginya, yang dipamerkan bukan sekadar hasil akhir sebuah karya, melainkan proses panjang di baliknya, proses yang menyimpan gagasan, kegelisahan, dan dialog dari masa ke masa. 

"Kehidupan seni rupa tidak hanya tentang melihat karya-karya yang sudah selesai kemudian dipajang. Di balik setiap karya selalu ada sebuah proses," katanya.

Ia menelusuri kembali bagaimana perjalanan Rais Rayan dari dekade 1950-an hingga bertemu generasi muda pada tahun 1990-an melahirkan energi baru, sebuah kesadaran bahwa sanggar hanya akan hidup selama para anggotanya bersedia terus merawatnya bersama-sama. 

"Bagi saya, yang paling penting adalah bagaimana mereka bisa terus berkarya," tegasnya menutup ceritanya. 

Semangat kolektif itu terasa begitu hidup ketika Tri Joko Purnomo dari Sanggar Suwung menceritakan asal-usul nama sanggarnya. Suwung, yang dalam bahasa Jawa berarti kosong atau hampa, lahir dari sebuah rumah kontrakan yang dahulu dikenal angker dan jarang ada yang berani menghuninya lebih dari enam bulan. Namun makna itu tidak berhenti di situ. Suwung juga menjadi cermin kondisi anggotanya sendiri, mahasiswa perantau yang kiriman uangnya selalu lebih sedikit dari kebutuhan hidup mereka. Dari kekosongan itu justru lahir kebersamaan yang tak terduga. 

"Dulu, ketika kami lembur melukis hingga malam dan merasa lapar, kami hanya bisa membayangkan menikmati minuman hangat," kenangnya.

Sebelum menjelaskan bagaimana rasa iri yang positif itu justru menjadi pemantik bagi ratusan orang, dari mahasiswa hingga mantan anak jalanan, untuk berkumpul dan tumbuh bersama. "Kami memiliki semacam magnet atau nilai-nilai yang secara perlahan kami tanamkan kepada setiap anggota agar tumbuh bersama dalam semangat berkarya," tambahnya. 

Filosofi kebersamaan yang serupa juga mengalir dari Syahrizal Pahlevi, perwakilan Sanggar Bidar Sriwijaya. Nama Bidar diambil dari tradisi perlombaan perahu di Palembang, perahu yang hanya bisa melaju bila seluruh pendayungnya bergerak dalam satu irama.

“Bidar adalah perahu yang didayung bersama-sama. Untuk mencapai tujuan, seluruh pendayung harus kompak. Kalau tidak bekerja bersama, perahu tidak akan sampai ke tujuan,” jelasnya.

Menautkan filosofi itu dengan semangat Sriwijaya yang ingin mereka hidupkan kembali dalam kehidupan berkesenian di tanah rantau. Sanggar yang berdiri sejak 1998 ini, katanya lahir dari kegelisahan sekelompok mahasiswa seni rupa yang ingin memiliki wadah bersama, sebuah kegelisahan yang pada akhirnya membesarkan mereka menjadi ruang dialog antar seniman dan antar generasi.

Sebagai penutup rangkaian cerita, Edo Pop, salah satu kurator pameran, menegaskan bahwa apa yang dibutuhkan generasi muda hari ini bukan semata ruang untuk memajang karya. 

"Yang dibutuhkan sebenarnya bukan hanya ruang untuk memamerkan karya, tetapi juga ruang untuk belajar bersama, berdialog, mendokumentasikan proses, dan mengembangkan gagasan-gagasan kreatif," ujarnya. 

Ia mengingatkan bahwa Rais Rayan, sosok yang menjadi benang penghubung seluruh riwayat ini, berasal dari Muara Enim, Sumatera Selatan, tempat yang sama dengan asal para pendiri Sanggar Bidar, sehingga bagi mereka, ia bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan panutan yang jejaknya masih terus mereka rawat hingga hari ini.

Riwayat yang Menyebar, pada akhirnya, bukan sekadar judul yang dipilih untuk sebuah pameran. Ia adalah cara memandang bagaimana sebuah gagasan berkesenian dapat berpindah dari satu generasi ke generasi lain, dari satu kota ke kota lain, tanpa pernah kehilangan akarnya. Empat sanggar yang lahir di masa dan tempat yang berbeda ini membuktikan bahwa tradisi berkomunitas dalam seni rupa Yogyakarta tumbuh bukan dari ruang yang mewah, melainkan dari kebersamaan yang dirawat dengan sungguh-sungguh, dari sebuah rumah kosong yang disulap menjadi ruang berkarya, hingga sebuah perahu yang hanya bisa sampai ke tujuan bila didayung bersama-sama. (Dewi/Juliana/Ifit)



Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta