Merayakan Sukacita, Menjembatani Budaya

by ifid|| 02 Agustus 2026 || 13 kali

...

Yogyakarta - Ketika malam mulai turun di Plaza Pasar Ngasem, bunyi gamelan terdengar memenuhi atmosfer. Bilah-bilah logam dipukul bergantian, ritmenya rapat, mengisi ruang yang dipadati penonton Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) ke-31. Namun malam itu, ada sesuatu yang berbeda. Di balik seperangkat gamelan yang dimainkan, berdiri belasan musisi asal Prancis. Mereka tidak datang sebagai tamu yang sekadar memainkan musik Indonesia. Mereka datang membawa rumah kedua yang telah mereka bangun selama puluhan tahun bersama gamelan.

Pertunjukan bertajuk "Tiga", kolaborasi antara kelompok Kotekan dari Lyon, Prancis, dengan Komunitas Gayam 16 menjadi salah satu penampilan yang paling dinantikan dalam rangkaian konser YGF 2026. Karya ini bukan kolaborasi yang lahir secara tiba-tiba, melainkan kelanjutan dari pertemuan yang terjalin sejak YGF 2024. Dua tahun kemudian, hubungan itu kembali dipertemukan di Yogyakarta dalam bentuk karya baru yang mempertemukan musik, tari, dan dua kebiudayaan yang tumbuh berjauhan, tetapi berdenyut dalam irama yang sama.

Sukacita yang Menjadi Spirit Festival 2026 

Bagi Ketua YGF ke-31, Lanoke Intan Paradita, kehadiran Kotekan bukan sekadar memenuhi daftar penampil internasional. Kelompok tersebut memang sedang menjalani tur di Indonesia, tetapi mereka juga telah lama membangun hubungan artistik bersama Gayam 16.

"Mereka sudah berkolaborasi dengan Gayam 16 cukup lama. Jadi ini bukan yang pertama. Setelah ini pun masih akan ada kolaborasi-kolaborasi lain," ujarnya.

Hubungan itu bahkan diwujudkan dalam bentuk yang lebih nyata. Pada siang hari sebelum konser berlangsung, kelompok Kotekan meresmikan seperangkat gamelan Bali yang mereka beri nama Harapan. Instrumen tersebut tidak dibawa kembali ke Prancis, melainkan dititipkan kepada Komunitas Gayam 16 sebagai simbol persahabatan sekaligus harapan agar hubungan budayatara Indonesia dan Prancis terus bertumbuh.

Menjelang giliran Kotekan tampil, pimpinan artistik kelompok Kotekan, Pawak Gourdad, melangkah ke depan panggung. Di samping seperangkat gamelan yang baru diperkenalkannya, ia mengajak penonton membayangkan masa depan gamelan yang terus hidup melalui kolaborasi.

"Inilah gamelan baru. Aku menamainya Harapan. Bersama-sama kita membayangkan masa depan yang lebih baik bagi gamelan, lalu membawanya kepada dunia dalam sukacita berkarya dan bekerja sama," ucap Pawak.

Tak lama setelah itu, tabuhan pertama pun terdengar. Para musisi Kotekan memainkan komposisi mereka, sementara tiga penari Gayam 16 menerjemahkan setiap bunyi ke dalam gerak yang mengalir. Pesan Pawak seolah menjadi pembuka pertunjukan malam itu: gamelan bukan hanya warisan budaya yang dijaga, tetapi ruang yang mampu mempertemukan manusia dari berbagai latar belakang.

Semangat tersebut sejalan dengan tema besar YGF tahun ini, Sukacita (Joy). Lanoke menjelaskan bahwa sukacita bukan dimaknai sebagai kegembiraan yang riuh semata, melainkan kebahagiaan yang lahir dari harmoni, keberagaman, dan kebersamaan.

Tradisi yang Terus Bertumbuh

Bagi Pawak Gourdad, gamelan telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya selama lebih dari dua dekade. Ketertarikannya berawal dari Bali, lalu berkembang menjadi ruang berkarya bersama para musisi Prancis. Namun, ia tidak pernah bermaksud meniru tradisi Indonesia secara utuh.

"Inti karya-karya Kotekan bukan tradisi. Kami bukan orang Indonesia, jadi kami merasa tidak berhak membawa tradisi itu secara utuh. Karena itu kami memilih berkarya dengan gamelan dan membuat komposisi kami sendiri," jelasnya.

Karena itu, dalam setiap pertunjukannya Kotekan memadukan gamelan dengan berbagai instrumen lain seperti trombon, viola, keyboard, hingga teknologi digital. Tradisi tetap menjadi pijakan, tetapi terus diberi ruang untuk berkembang melalui pendekatan artistik yang baru.

Pandangan serupa disampaikan Sarah Anaïs dari Asosiasi Kotekan. Perempuan yang mulai mengenal gamelan di Bali pada 1999 itu mengaku tertarik karena menemukan sesuatu yang jarang dijumpainya dalam musik Barat.

"Gamelan adalah tempat semua orang bertemu untuk bermain bersama. Tidak ada pemain yang menjadi pusat perhatian. Semuanya membangun satu komposisi secara kolektif," ungkapnya.

Baginya, gamelan bukan hanya tentang bunyi, melainkan tentang cara manusia membangun kebersamaan. Nilai itu pula yang membuatnya terus kembali belajar dan berkarya bersama gamelan hingga hari ini.

Gamelan yang Terus Menemukan Bentuk Baru

Semangat kolaborasi itu juga tercermin dalam proses kurasi YGF 2026. Kurator konser, Sudaryanto, menjelaskan bahwa seluruh penampil diberi ruang untuk menerjemahkan tema Sukacita sesuai bahasa artistiknya masing-masing. Festival tidak membatasi bentuk karya yang lahir, tetapi berusaha mempertemukannya dalam satu semangat yang sama.

Menurutnya, keberagaman pendekatan justru menunjukkan bahwa gamelan terus hidup mengikuti perkembangan zaman.

"Kami tidak khawatir gamelan akan punah. Yang berkembang adalah cara berkarya dan cara memperlakukannya sesuai perkembangan zaman," ujarnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan Ketua Komunitas Gayam 16, Ari Wulu. Baginya, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan menjaga instrumen atau menyelenggarakan festival setiap tahun. Yang lebih penting adalah memastikan semakin banyak orang terlibat, belajar, dan ikut merawat gamelan.

Karena itu, Yogyakarta Gamelan Festival tidak pernah diposisikan sebagai tujuan akhir. Festival menjadi ruang perjumpaan tempat seniman dari berbagai daerah dan berbagai negara saling bertukar gagasan, menciptakan karya baru, lalu membawa pengalaman tersebut kembali ke lingkungan masing-masing.

Semangat itu pula yang mendorong Komunitas Gayam 16 menyusun perpustakaan gamelan yang tengah dirintis sebagai ruang penyimpanan arsip perkembangan gamelan dan musik kontemporer Indonesia. Perpustakaan tersebut dirancang tidak hanya mendokumentasikan perjalanan Komunitas Gayam 16 dan karya-karya almarhum Sapto Raharjo, tetapi juga menghimpun berbagai arsip tokoh dan komunitas musik kontemporer agar dapat dipelajari oleh masyarakat luas.

Bagi Ari, pelestarian tidak berhenti ketika sebuah pertunjukan usai. Pengetahuan, gagasan, dan jejak perjalanan para seniman juga perlu dirawat agar dapat diakses, dipahami, dan menjadi pijakan bagi generasi berikutnya untuk terus mengembangkan gamelan sesuai zamannya.

Menjembatani Budaya

Tepuk tangan panjang mengiringi berakhirnya pertunjukan Tiga. Para musisi Kotekan meninggalkan panggung, disusul tiga penari Gayam 16 yang menutup kisah melalui gerak. Bunyi gamelan perlahan mereda, tetapi makna yang dibawanya masih tertinggal di tengah Plaza Pasar Ngasem.

Ada seperangkat gamelan bernama Harapan yang kini menetap di Yogyakarta. Ada persahabatan yang terus tumbuh melintasi benua. Dan ada keyakinan bahwa gamelan akan selalu menemukan ruang baru untuk hidup, selama masih ada manusia yang bersedia mempelajarinya, merayakannya, dan memainkannya bersama.

Di Yogyakarta Gamelan Festival ke-31, sukacita tidak berhenti sebagai tema. Ia hadir sebagai jembatan yang mempertemukan budaya, menghubungkan manusia, dan mengingatkan bahwa sebuah tradisi akan terus hidup ketika diwariskan melalui kebersamaan. (Juliana/Dewi/Ifit)

 

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta