Menapak Jejak Sejarah, Mengukuhkan Langkah Generasi Muda

by ifid|| 04 Agustus 2026 || 111 kali

...

Yogyakarta – Museum kerap dibayangkan sebagai ruang sunyi yang dipenuhi benda-benda peninggalan masa lalu. Namun kesan itu perlahan memudar ketika puluhan pelajar peserta terbaik Lomba Cerdas Cermat Museum (LCCM) Tingkat SMP/MTs se-DIY Tahun 2026 mengikuti Tour Museum yang difasilitasi Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (28/7/2026). Selama sehari penuh, mereka diajak menyusuri dua museum dengan pengalaman yang berbeda, mulai dari Museum Sonobudoyo hingga Museum Kotagede Intro Living Museum.

Perjalanan dimulai sejak pagi di Pendopo Dinas Kebudayaan DIY. Satu per satu peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Daerah Istimewa Yogyakarta berdatangan. Raut antusias tampak menghiasi wajah mereka ketika saling menyapa, berbincang, dan bersiap menaiki bus yang akan mengantarkan menuju dua destinasi pembelajaran, Museum Sonobudoyo dan Museum Kotagede Intro Living Museum. Setelah berbulan-bulan berkompetisi menguji pengetahuan tentang museum dan kebudayaan, hari itu mereka tidak lagi datang sebagai peserta lomba, melainkan sebagai penjelajah yang akan bertemu langsung dengan sejarah.

Tujuan pertama adalah Museum Sonobudoyo. Setibanya di sana, para peserta diajak menyusuri ruang demi ruang yang menyimpan beragam koleksi kebudayaan Yogyakarta dan Nusantara. Mereka mengamati topeng, keris, serta berbagai artefak yang selama ini hanya mereka kenal melalui buku pelajaran dan materi persiapan lomba. Di setiap pemberhentian, pemandu menjelaskan kisah di balik koleksi, sementara para peserta sesekali mengangkat tangan untuk bertanya ataupun saling berdiskusi mengenai materi yang pernah mereka pelajari.

 

Suasana belajar pun terasa berbeda, tidak ada lagi lembar soal, hitungan waktu, ataupun persaingan antartim seperti ketika mengikuti LCCM. Yang tersisa hanyalah rasa ingin tahu yang perlahan menemukan jawabannya melalui benda-benda yang berdiri di hadapan mereka.

Menjelang akhir kunjungan di Museum Sonobudoyo, rombongan diajak mengunjungi pameran Nusawastra 2026. Di ruang pamer tersebut, peserta menikmati ragam wastra Nusantara yang menampilkan kekayaan kain tradisional beserta motif batik dari berbagai daerah. Bagi sebagian peserta, pameran itu menjadi pengalaman baru untuk memahami bahwa sehelai kain bukan sekadar hasil karya kriya, melainkan juga menyimpan nilai sejarah, filosofi, dan identitas budaya yang diwariskan lintas generasi.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Museum Kotagede Intro Living Museum sebagai destinasi terakhir. Jika Museum Sonobudoyo memperkenalkan peserta pada kekayaan koleksi budaya, Museum Kotagede Intro Living Museum menghadirkan pengalaman yang berbeda. Mengusung konsep Intro Living Museum, museum ini mengajak pengunjung memahami bahwa sejarah tidak hanya tersimpan di dalam ruang pamer, tetapi juga hidup melalui bangunan, lingkungan, dan cerita masyarakat yang masih bertahan hingga kini.

Bagi para peserta, rangkaian kunjungan ini menjadi penutup yang menyempurnakan proses belajar yang telah mereka jalani selama berbulan-bulan. Selama persiapan lomba, mereka akrab dengan nama koleksi, tokoh, cagar budaya, hingga sejarah Yogyakarta melalui buku, modul, dan latihan soal. Namun melalui kunjungan ke dua museum tersebut, seluruh pengetahuan itu seolah menemukan bentuknya. Apa yang sebelumnya hanya dipelajari sebagai teori kini dapat mereka lihat, rasakan, dan pahami secara langsung.

Perubahan cara pandang itu dirasakan Raihan Cendekia M. dari SMP Negeri 9 Yogyakarta. Menurutnya, tur ini bukan sekadar hadiah setelah mengikuti kompetisi, melainkan kesempatan untuk memperluas pemahaman yang selama ini diperoleh di ruang kelas.

"Menurut saya, tur ini bukan cuma bentuk apresiasi setelah mengikuti LCCM, tapi juga menjadi wawasan tambahan yang sangat bermanfaat. Selama persiapan lomba saya banyak belajar teori tentang sejarah, museum, dan cagar budaya. Lewat tur ini saya jadi bisa melihat langsung koleksi museum dan memahami materi yang sebelumnya hanya saya pelajari dari buku, jadi pengalaman belajarnya terasa lebih nyata dan berkesan."

Apa yang dirasakan Raihan memperlihatkan bahwa belajar sejarah tidak selalu selesai ketika halaman terakhir buku ditutup. Di Museum Sonobudoyo, berbagai koleksi menjadi jembatan untuk memahami perjalanan kebudayaan Yogyakarta. Sementara di Museum Kotagede Intro Living Museum, para peserta diajak melihat bagaimana sejarah terus hidup di tengah masyarakat melalui ruang dan lingkungan yang masih terjaga hingga saat ini.

Pengalaman serupa juga dirasakan Azfaisha Riyadh Umaimah dari SMP Negeri 1 Sewon. Awalnya ia mengira kunjungan ini hanyalah bonus setelah kompetisi berakhir. Namun persepsi itu berubah setelah mengikuti seluruh rangkaian tur.

Baginya, Museum Sonobudoyo membuka pandangannya terhadap begitu beragamnya warisan budaya yang dimiliki Yogyakarta dan Nusantara. Sementara suasana di Museum Kotagede Intro Living Museum menghadirkan pengalaman yang berbeda. Ia merasa seolah kembali menyusuri jejak masa lalu. Pengalaman itu bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membangkitkan kebanggaan terhadap sejarah Yogyakarta sekaligus kesadaran bahwa masih banyak kisah yang belum ia kenal.

"Kirain museum bakal ngebosenin, ternyata enggak. Terus pas di Kotagede living museum vibes-nya dapet banget, kayak berasa balik ke masa lalu. Pulangnya jadi ngerasa bangga sekaligus ngerasa masih kurang tau tentang Jogja."

Ungkapan sederhana itu menggambarkan bagaimana kedua museum menghadirkan pengalaman belajar yang saling melengkapi. Museum Sonobudoyo memperkaya pengetahuan peserta melalui koleksi dan pameran budaya, sementara Museum Kotagede Intro Living Museum mengajak mereka memahami bahwa sejarah bukan sekadar sesuatu yang dipamerkan, melainkan warisan yang terus hidup dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Harapan serupa juga disampaikan pemandu Museum Kotagede Intro Living Museum, Muhammad Ammar Hakim. Baginya, yang terpenting bukan seberapa banyak informasi yang berhasil diingat peserta, melainkan tumbuhnya rasa bangga dan keingintahuan terhadap sejarah Kotagede sebagai cikal bakal Kesultanan Mataram Islam.

"Harapan saya, hal utama yang bisa diingat anak-anak setelah tur ini adalah rasa bangga dan ingin tahu terhadap sejarah Kotagede sebagai cikal bakal Kesultanan Mataram Islam. Saya berharap mereka tidak sekadar melihat museum sebagai kumpulan benda lama, tapi memahami bahwa tempat yang mereka kunjungi punya cerita panjang yang membentuk identitas budaya Yogyakarta hingga sekarang."

Menurutnya, tantangan terbesar dalam mendampingi peserta adalah menyesuaikan bahasa sejarah yang cukup kompleks agar mudah dipahami pelajar tanpa mengurangi maknanya. Di sisi lain, pemandu juga harus menjaga interaksi agar rasa penasaran peserta tetap tumbuh sepanjang kunjungan.

Tour Museum LCCM DIY 2026 pun menjadi lebih dari sekadar bentuk apresiasi bagi para peserta terbaik. Melalui kunjungan ke Museum Sonobudoyo dan Museum Kotagede Intro Living Museum, mereka tidak hanya diajak mengenal koleksi, menikmati pameran Nusawastra 2026, ataupun mendengarkan kisah sejarah. Mereka juga diajak memahami bahwa museum merupakan ruang belajar yang terus menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Menjelang sore, rombongan perlahan meninggalkan Museum Kotagede Intro Living Museum. Tak ada lagi soal yang harus dijawab ataupun nilai yang perlu dikejar. Namun setiap langkah yang mereka ayunkan membawa pulang sesuatu yang lebih dari sekadar kenangan. Mereka membawa cara pandang baru bahwa sejarah bukan hanya materi yang dipelajari untuk sebuah perlombaan, melainkan warisan yang terus hidup dan perlu dipahami, dijaga, serta diteruskan oleh generasi muda. (Juliana/Ifit)

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta