by ifid|| 13 Agustus 2026 || 18 kali
Auditorium W.S. Rendra, Jurusan Teater Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, 3 hingga 8 Agustus 2026. Kursi-kursi penonton mulai terisi oleh wajah-wajah muda dari berbagai penjuru Nusantara yang datang membawa naskah, gugup, dan mimpi yang sama: berdiri di atas panggung dan didengar. Di ruang inilah, setelah tujuh tahun sunyi, Festival Teater Remaja Nusantara (FTRN) kembali dinyalakan.
FTRN #5 mengusung konsep "Temu-Taut", sebuah gagasan yang menempatkan festival bukan semata sebagai ajang kompetisi, melainkan sebagai ruang pertemuan dan keterhubungan antara pelajar, seniman, akademisi, dan pelaku teater dari berbagai daerah. Di baliknya ada niat yang lebih dalam untuk menghidupkan kembali sebuah tradisi yang sempat mati suri.
Ketua Pelaksana, Dinda Afrillia Hentari, menegaskan bahwa festival ini digagas untuk
"menciptakan ruang bagi pelajar untuk belajar, berkompetisi, bertukar pengalaman, dan membangun jejaring dengan pelaku serta akademisi teater, sekaligus mendorong lahirnya proses berkesenian yang lebih kritis, kolaboratif, dan berkelanjutan.” ungkapnya.
Semangat itu turut ditegaskan Wakil Dekan 3 Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, Ayub Prasetiyo, M.Sn. dalam sambutan pembukaannya. Ia berpesan agar para peserta tidak menempatkan kemenangan sebagai muara dari segala usaha.
"Jangan jadikan piala atau kemenangan sebagai tujuan utama, melainkan jadikan ini sebagai proses berkarya, keberanian untuk tampil, dan pengalaman berharga untuk saling belajar," ujarnya, mengingatkan bahwa esensi festival remaja semacam ini terletak pada proses, bukan pada podium.
Tahun ini, FTRN #5 secara sadar memilih teater realis sebagai pendekatan utama dalam Parade Teater. Tiga naskah dipilih untuk dipentaskan sepuluh kelompok finalis: Tuhan, Tolong Bunuh Emak, Makan Malam, dan Panen Anak. Ketiganya dipilih bukan karena kemudahannya, melainkan justru karena jarak yang mereka ciptakan antara pengalaman remaja hari ini dengan persoalan hidup yang mereka usung yakni kemiskinan, rahasia keluarga, dan kegetiran relasi antargenerasi.
Rizki Dwi Utama dari Teater REPSAS, SMAN 16 Medan, yang membawakan naskah Tuhan, Tolong Bunuh Emak, menggambarkan betapa jauhnya jarak itu perlu ditempuh.
"Kami harus meruntuhkan persepsi diri terlebih dahulu agar mampu menghadirkan keaktoran yang jujur, lebur, dan berempati pada penderitaan tokoh yang kami perankan," katanya.
Proses itu membawa kelompoknya turun langsung ke kawasan pinggiran rel kereta api, bahkan berdialog langsung dengan penulis naskah, Yessy Natalia, untuk menangkap denyut yang tak selalu tertulis di atas kertas.
Kedalaman tafsir itu tampak pula dari cara mereka membaca simbol. Kursi bertungkai tiga yang muncul di penghujung pertunjukan, misalnya, bukan sekadar properti panggung.
"Tiga kaki kursi tersebut merepresentasikan beban utang ke pak boss, penderitaan Emak, dan biaya kuliah Wiarti," jelas Rizki.
Kelompoknya sengaja membiarkan akhir cerita terbuka, membiarkan penonton menebak sendiri nasib para tokohnya.
"Apakah Bekti mengakhiri hidup di rel kereta api, atau sang Emak menenggak racun kecoak?” sebuah pertanyaan yang mereka sengaja tidak jawab, demi memberi ruang tafsir bagi penonton muda.
Naskah Makan Malam membawa persoalan yang berbeda namun sama beratnya: rahasia keluarga yang terpendam lama, yang justru dipertahankan demi menjaga keluarga tetap utuh. Andika Ramadan dari Teater TENDA, SMAN 2 Kota Serang, melihat relevansi itu justru pada titik paling manusiawi dari naskahnya: momen keluarga berkumpul kembali meski ada rahasia yang sengaja disembunyikan dari sang anak, semata agar keluarga itu tetap bersama.
Baginya, menerjemahkan emosi tokoh lintas generasi bukan perkara meniru gestur orang dewasa, melainkan mencari rujukan nyata yang membuat setiap karakter terasa hidup. Tantangan terberat justru datang dari adegan yang tampak sepele saat momen bersulang di meja makan.
"Kita harus mencari referensi terlebih dahulu seperti cara membuka botol, cara menuang, dan cara minum dengan elegan," ungkapnya.
Sebuah detail kecil yang menuntut riset besar demi kejujuran panggung, sebab keanggunan yang dipaksakan akan segera terbaca sebagai kepalsuan.
Sementara itu Asyira Melani Septiana dari Teater Gawe, SMKN 3 Tasikmalaya, menemukan kedekatan yang jauh lebih personal dengan naskah ini. Baginya, kenyataan bahwa masih banyak keluarga menyimpan luka dan trauma yang tak pernah diucapkan adalah hal yang paling merefleksikan kehidupan remaja hari ini.
"Kami merasa diwakili, sekaligus diajak untuk lebih berempati terhadap luka-luka terselubung di dalam sebuah keluarga," katanya.
Proses membangun logika emosi tokoh yang jauh lebih tua darinya ia tempuh bukan dengan menirukan gestur luar, melainkan dengan menyelami motivasi batin di baliknya lewat latihan konsentrasi, riset karakter, dan observasi atas cara berpikir generasi yang berbeda. Tantangan terbesarnya, akunya, justru muncul saat harus menyelaraskan emosi antarperan pada momen-momen berat seperti penyesalan dan kehilangan, hal-hal yang belum pernah ia alami sendiri
Adapun Anandio Athmar, sutradara muda dari Teater Dahana, SMAN 1 Samarinda, menyimpulkan bahwa kunci dari semua proses ini sesungguhnya satu, yakni keberanian untuk turun dan melihat langsung.
"Tantangan terbesar adalah observasi, dikarenakan para aktor setidaknya harus melihat contoh nyata agar lebih mudah mendalami peran," ujarnya.
Di balik meja penjurian, Drs. Suharjoso Sk., M.Sn., hadir bukan hanya sebagai penilai, melainkan juga sebagai alumnus teater yang pernah menempuh jalan yang sama dengan para peserta di hadapannya. Dalam sambutannya, ia mengingatkan bahwa festival semacam ini sesungguhnya menawarkan dua ruang sekaligus: kompetisi dan eksibisi. Bagi peserta yang belum berhasil meraih gelar juara, katanya, itu bukan akhir dari sebuah pencapaian, pertemuan dengan kelompok-kelompok dari daerah lain sudah menjadi capaian tersendiri yang layak disyukuri.
Ditemui usai pergelaran, Suharjoso menjelaskan bahwa penilaian festival ini berpijak pada empat kategori utama: penyutradaraan, aktor putra, aktor putri, dan penata artistik, di luar kejuaraan grup yang membuka tiga peringkat. Namun bagi Suharjoso, manfaat teater bagi pelajar jauh melampaui persoalan hadiah dan podium.
"Teater itu memberi keterampilan untuk public speaking, untuk kehidupan," ujarnya seraya menyebut bahwa kemampuan ini bukan hanya berguna bagi calon seniman, melainkan juga calon guru dan calon pejabat yang kelak akan berbicara di depan publik.
Ia menaruh harapan besar pada generasi yang kelak akan menyongsong Indonesia Emas 2045. Sebuah generasi yang baginya, perlu dibekali keberanian bertutur yang runtut dan tidak terbata-bata di depan khalayak.
Dalam sambutan yang dibacakan Sekretaris Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dra.Purwiati mewakili Gubernur DIY, festival ini ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas, sebuah pelajaran tentang proses yang tak selalu terlihat.
"Tidak ada pertunjukan yang lahir dalam satu malam. Tidak ada pementasan yang berdiri hanya karena bakat," demikian disampaikan, mengingatkan bahwa di balik setiap pertunjukan singkat di atas panggung, tersimpan hari-hari panjang yang jarang disaksikan penonton.
Sambutan itu juga menyentuh soal makna kemenangan dalam dunia seni.
"Kadang yang paling berharga justru keberanian untuk tampil," demikian disampaikan, seraya menambahkan bahwa
“Pengalaman bertemu kelompok lain dan kemampuan menerima kritik adalah hal-hal yang seringkali bertahan lebih lama daripada sebuah kemenangan."
Nilai serupa turut digarisbawahi dalam catatan panitia mengenai naskah-naskah terpilih. Ketiganya, disebutkan, dipilih karena memiliki persoalan yang dekat dengan realitas kehidupan dan memungkinkan peserta untuk mengeksplorasi persoalan sosial, hubungan antar manusia, serta kondisi lingkungan secara kontekstual melalui pemeranan dan penyutradaraan realis sebuah penegasan bahwa festival ini tidak sedang mencari yang paling piawai berakting, melainkan yang paling jujur menghayati kehidupan di sekitarnya.
FTRN #5 digelar dengan semangat ramah lingkungan, mulai dari pemanfaatan kembali material artistik hingga pengurangan plastik sekali pakai. Sebuah pengingat bahwa berkesenian dan merawat lingkungan bukan dua hal yang berjalan berlawanan arah. Namun barangkali warisan terbesar dari festival ini bukan pada bagaimana ia dijalankan, melainkan pada apa yang ditinggalkannya setelah tirai panggung ditutup, yakni jejaring yang terus hidup, keberanian yang tertanam, dan kepekaan sosial yang dibawa pulang oleh para pelajar ke sekolah dan kampung halaman masing-masing.
Sepuluh kelompok datang dari sepuluh titik yang berjauhan di peta Indonesia, membawa logat dan pengalaman yang berbeda-beda, namun bertaut oleh satu hal yang sama, kepercayaan bahwa panggung dapat menjadi ruang untuk memahami luka orang lain sebagai luka bersama. Dan selama ruang semacam itu terus dijaga tetap terbuka, seperti kata pepatah lama yang menjiwai kota ini, sebuah karya tidak pernah lahir sendirian, ia selalu tumbuh dari tangan-tangan yang mau saling menaut. (Dewi Yulia/Juliana/Ifit)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...