Luka, Laku, dan Kethoprak

by ifid|| 13 Agustus 2026 || 10 kali

...

Panggung di Alun-Alun Sewandanan Pura Pakualaman itu tidak berdiri begitu saja. Sebelum satu papan pun dipasang, sebelum lampu sorot dinyalakan, sebelum nama-nama kabupaten dan kota disebut sebagai peserta, ada laku yang lebih dulu ditunaikan: wilujengan. Dari titik itulah rangkaian Festival Kethoprak Antar Kabupaten/Kota se-Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2026 sesungguhnya dimulai. Jauh sebelum panggung utama digelar pada Jumat hingga Sabtu, 7–8 Agustus 2026, di Alun-Alun Sewandanan, Pura Pakualaman, Yogyakarta. 

Wilujeng Sadurunge Wiwit

Bagi masyarakat Jawa, tidak ada yang dimulai dari titik nol yang kosong. Selalu ada laku pendahuluan, semacam permakluman kepada semesta, sebelum sebuah hajat besar digelar. Di Pura Pakualaman, laku itu bernama wilujengan, dan digelar tidak hanya sebelum festival dibuka, melainkan bahkan sebelum panggung berdiri.

Jajar Masatro Sukoco, Protokol Kadipaten Pura Pakualaman, menjelaskan makna di balik tradisi ini dengan sederhana namun dalam. 

"Diadakanya wilujengan sebelum acara memang sudah menjadi keharusan tapi di pura pakualaman ini seperti namanya wilujengan, dari kata wilujeng, memang kita dalam acara itu intinya adalah berdoa, memohon keselamatan kepada tuhan yang maha esa," jelas Jajar.

Doa itu dipanjatkan bukan hanya untuk kelancaran pertunjukan, tetapi untuk seluruh proses yang menyertainya, dari pendirian panggung hingga pembongkarannya kelak, dan bagi semua yang terlibat: panitia, pemain, penonton. 

Ngabehi Wirosasongko, Abdi Dalem yang turut memimpin prosesi, menyebutnya sebagai penjaga jalannya acara dari ujung ke ujung. Sebuah cara pandang yang mengingatkan bahwa bagi Pura Pakualaman, kethoprak bukan sekadar tontonan yang digelar dan diakhiri, melainkan sebuah laku bersama yang perlu direstui sejak niatnya ditanamkan.

Menoleh Sejenak ke Giyanti

Tema besar yang diusung tahun ini, "Episode Pasca Perjanjian Giyanti: Sebelum Geger Sepehi", membawa penonton pada babak yang jarang disorot dalam narasi besar sejarah Mataram. Perjanjian Giyanti tahun 1755 memang mengakhiri perang saudara dengan membagi Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta, namun pembagian wilayah di atas kertas itu tidak serta-merta membagi tuntas kegelisahan yang tumbuh di baliknya. Justru pada rentang pasca-Giyantilah, hingga menjelang Perang Jawa dan peristiwa Geger Sepehi, konflik-konflik kecil, kesetiaan yang diuji, serta luka personal di balik keputusan politik para penguasa mulai bermunculan. Dari titik itulah kelima kontingen memilih pijakan lakonnya masing-masing.

Lima Kontingen, Lima Cara Membaca Luka

Yang membedakan festival tahun ini bukan sekadar lakon yang ditampilkan, melainkan cara masing-masing kontingen menafsir ulang sejarah, memilih ruang mana yang murni catatan babad dan ruang mana yang dibiarkan menjadi ranah dramatik.

Kontingen Kabupaten Sleman membawakan "Tatu", menyusuri konflik antara Pangeran Sambernyawa dan Pangeran Mangkubumi lewat empat tokoh rekaan: Wintarsa, Sekar, Nurseta, dan Wening. Sutradaranya, Giang Bayu Tetuko, memilih pendekatan yang sangat personal. 

"Kami ingin sejarah tidak berhenti sebagai peristiwa besar yang hanya dibaca dari nama tokoh dan tanggal. TATU mencoba melihat bagaimana gejolak politik dan perang yang dilakukan oleh para penguasa akhirnya meninggalkan luka kepada manusia biasa," ujarnya. 

Pertanyaan yang ia ajukan lewat panggung pun menohok: "ketika orang-orang besar bertikai, siapa yang harus menanggung lukanya?"

Kontingen Kota Yogyakarta hadir dengan "Prang Trah", mengangkat kegentingan hubungan Raden Ronggo Prawirodirjo dan Pangeran Dipo Kusumo di bawah bayang-bayang tekanan Belanda terhadap Sultan Hamengku Buwono II. Sutradara Sutra Fidana membaca posisi sang Sultan bukan sebagai kelemahan, melainkan siasat bertahan. 

"HB II masih memiliki harapan lewat Ronggo Prawirodirjo untuk melakukan perlawanan," jelasnya, sembari menegaskan bahwa keputusan sulit itu kelak justru menjadi salah satu benih yang menyulut perlawanan Diponegoro.

Kontingen Kabupaten Bantul membawa "Gunung Gamping", carangan yang dibangun dari kisah pengambilan batu gamping sebagai material pembangunan Keraton Yogyakarta. Yang menarik, sutradara Dhanik Suratno tidak menyembunyikan bahwa lakon ini adalah murni buah imajinasi kreatif, bukan potongan babad yang dipindah begitu saja ke atas panggung. 

"Jadi ini sebuah murni sebuah cerita karangan atau carangan yang untuk membalut dramatik tensenya itu bisa tercapai di cerita ini," ungkapnya.

Di tengah kebebasan mengarang itu, Dhanik tetap menghadirkan tokoh-tokoh yang berpijak pada catatan sejarah, salah satunya Ki Wirasuta selaku abdi penyongsong keraton. Ia lantas menghidupkan tokoh Brangah, sosok yang sekilas tampak sederhana namun menyimpan kesetiaan yang jarang disadari. Sifat itu, kata Dhanik, adalah wujud dari sikap "marang bendarane" yang tuhu, setia kepada Pangeran Mangkubumi dan ngarsa dalem tanpa syarat. 

Dari sanalah pesan moral yang ingin ia tanamkan kepada penonton muda ditegaskan lewat falsafah lama yang masih dipegang teguh masyarakat Jawa hingga kini: "Becik ketitik, ala ketara." Siapa yang menjalankan kebaikan pada akhirnya akan terlihat baik, dan siapa yang menempuh jalan licik cepat atau lambat akan terbongkar juga. Baginya, menekuni kethoprak bukan sekadar berkesenian, melainkan juga jalan mendekatkan anak muda dengan unggah-ungguh basa dan tata krama Jawa yang perlahan mulai luntur di tengah kesibukan dunia digital.

Kontingen Kabupaten Kulon Progo tampil beda lewat "Dhawuh", yang secara sadar mengangkat perspektif perempuan dalam kethoprak. Kisahnya berpijak pada Laskar Langen Kusuma pimpinan Widuri, yang harus berpamitan dengan keluarganya di Menoreh sebelum berangkat menghadapi perang besar melawan Inggris. Sutradara Sindu Murti menempatkan konflik ini bukan hanya sebagai pertentangan antara anak dan ayah, tetapi juga pergulatan batin seorang anak perempuan yang harus meyakinkan ibunya sendiri. 

"Sering kali hambatan terbesar yang hadir adalah dari kalangan terdekat," ujarnya, menjelaskan bahwa Ki Demang Menoreh dan istrinya begitu menyayangi Widuri hingga penolakan mereka justru terasa lebih berat ditanggung ketimbang medan perang itu sendiri.

Di tengah kisah kewajiban dan dhawuh itu, Sindu turut menyelipkan subplot Bandang, sosok yang menyimpan dendam pribadi kepada Widuri. Baginya, kehadiran konflik personal semacam ini justru memperkuat, bukan mengaburkan, tema besar lakon. 

"'Musuh' yang dihadapi bukan hanya perang besar saat geger sepehi nanti namun bisa jadi hadir dari warisan konflik masa lalu secara personal," tuturnya. 

Ia pun menegaskan bahwa kebebasan mengarang tokoh-tokoh fiktif seperti Widuri, Gendhis, Bandang, dan Gagat bukan berarti mengabaikan sejarah, melainkan cara kethoprak menawarkan sesuatu yang baru dari nilai lama. 

"Kethoprak bukan sekedar rekonstruksi sejarah. Kethoprak seyogyanya bisa memberikan penawaran baru yang bisa diambil dari nilai sejarah yang sudah ada," katanya. 

Lewat sosok Widuri yang teguh memegang sumpah prajurit namun tetap membutuhkan restu ibunya, tim kreatif Kulon Progo ingin mendobrak kebiasaan lama kethoprak yang kerap menempatkan perempuan sekadar sebagai kanca wingking atau pelengkap kisah cinta, dan menghadirkannya sebagai sosok yang tegas menentukan jalan hidupnya sendiri.

Kontingen Kabupaten Gunungkidul menutup rangkaian penampilan lewat "Hangreksa", memadukan legenda Kiai Jegod, jin penunggu alas jati Karangasem yang mengizinkan pohonnya ditebang untuk saka guru Gedhong Prabayeksa, dengan konflik personal antara Ki Mertalulut dan calon menantunya sendiri. 

Adapun konflik puncak yang dipilihnya justru bukan pertentangan dengan Kiai Jegod, melainkan drama personal antara Ki Mertalulut dan brandal bernama Sura, yang tanpa diketahui adalah kekasih Sukarsih, anak Ki Mertalulut sendiri. Erwin mengakui bahwa sumber-sumber yang ia telusuri nyaris tidak menyimpan konflik tajam antara para punggawa dan penunggu hutan itu. 

"Ini menjadi kesempatan bagi saya untuk memasukkan tokoh-tokoh fiktif dan konflik fiktif untuk membuat unsur dramatik dalam pertunjukan," katanya. 

Ia pun membedakan dengan jelas antara fakta dan rekaan dalam lakonnya: 

"Kiai Jegod memperbolehkan pohon jati ditebang tapi dengan syarat tertentu, dan Pangeran Mangkubumi menyetujuinya. Selebihnya bisa dikatakan fiktif," termasuk isu penebangan liar dan gagasan hamemayu hayuning bawana yang sengaja ia sisipkan sebagai isu kekinian. 

Dari keputusan berat Ki Mertalulut yang harus kehilangan calon menantunya demi menegakkan tugas negara, Erwin menitipkan pesan yang ia yakini masih relevan bagi generasi muda Gunungkidul hari ini: "Penegakan hukum harus tetap dilakukan tanpa harus memandang bulu."

Yang Menang adalah Kethoprak Itu Sendiri

Setelah dua malam pertunjukan, Dewan Juri yang beranggotakan Drs. Stefanus Prigel Siswanto, M. HUM, Dr. Ahmad Athoillah, S.Pd., M.A. , Oki Surya Ikawati, S.Sn. , Anon Suneko, S.Sn., M.Sn. , dan Indra Tranggono menetapkan Kabupaten Sleman lewat lakon "Tatu" sebagai Penyaji Terbaik Pertama, dengan Giang Bayu Tetuko dinobatkan sebagai Sutradara Terbaik. 

Namun di luar daftar juara, catatan yang ditinggalkan para juri jauh lebih menyentuh esensi festival ini. Budayawan Indra Tranggono menyampaikannya dengan lugas di atas panggung.

"Malam ini yang menang adalah para pelaku kethoprak itu sendiri." 

Baginya, semangat anak-anak muda yang berkolaborasi menghadirkan tontonan penuh spektakel itu sendiri sudah menjadi bentuk pembebasan, sebuah cara merebut kedaulatan diri di tengah gempuran budaya yang serba pragmatis.

Sambutan dari Kadipaten Pakualaman pun menegaskan arah yang sama. Gusti Pangeran Indra Haryo, mewakili Kanjeng Gusti, menyampaikan bahwa penyelenggaraan festival di ruang terbuka ini membawa pesan tersendiri. 

"Segala bentuk gelaran kerakyatan di Puro Pakualaman bukanlah ruang yang berjarak dengan masyarakatnya, melainkan rumah bersama untuk merawat, menjaga, dan menghidupkan kembali tradisi-tradisi adiluhung peninggalan leluhur," tuturnya.

Ingatan yang Menyala Kembali

Di antara kerumunan penonton yang memadati alun-alun, ada pula ingatan yang ikut dihidupkan kembali. Purwati, penonton asal Wonogiri yang sengaja datang bersama suaminya, Riyanto, teringat masa kecilnya ketika kethoprak masih menjadi tontonan yang sangat dinanti di layar televisi hitam putih. Ia mengenang bagaimana kekecewaan kerap datang justru dari hal yang sederhana. 

"kalo ada pertunjukan kethoprak terus akinya habis itu kecewa sekali." 

Ingatan semacam inilah yang barangkali menjadi alasan paling jujur mengapa festival ini perlu terus digelar, bukan semata sebagai kompetisi antarkontingen, tetapi sebagai jalan pulang bagi ingatan kolektif masyarakat DIY terhadap keseniannya sendiri.

Menutup dengan Nilai, Bukan Sekadar Piala

Jika ditelusuri dari lima lakon yang tampil, ada satu benang merah yang menyatukan bahwa kethoprak tahun ini tidak sekadar mendramatisasi peristiwa besar, melainkan mengajak penonton menimbang kembali harga dari sebuah keputusan, baik yang diambil oleh penguasa maupun oleh rakyat kebanyakan. 

Wintarsa dan Nurseta mengajarkan bahwa kemenangan tidak selalu menghapus luka. Widuri mengajarkan bahwa keteguhan sikap tidak harus mengorbankan bakti. Ki Mertalulut mengajarkan bahwa keadilan kadang menuntut pengorbanan yang paling dekat dengan hati. Sementara Dipo Kusumo dan HB II mengajarkan bahwa kesetiaan pada institusi tidak selalu sejalan dengan kehendak hati.

Nilai-nilai keluhuran semacam inilah yang sesungguhnya menjadi bekal paling berharga bagi generasi muda: bukan sekadar hafalan tahun dan nama tokoh, melainkan kepekaan untuk membaca bagaimana sejarah selalu menyisakan pertanyaan tentang kemanusiaan. Festival Kethoprak DIY 2026 pada akhirnya bukan hanya tentang siapa tampil terbaik di atas panggung Alun-Alun Sewandanan, melainkan tentang bagaimana generasi muda Yogyakarta diajak merawat ingatan, membaca luka masa lalu, dan mengubahnya menjadi kebijaksanaan untuk membangun kebudayaan yang lebih beradab ke depan. (Dewi Yulia/Juliana/Ifit)

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta