Menyusuri Ingatan, Menemukan Teladan

by ifid|| 16 Agustus 2026 || 11 kali

...

Yogyakarta -  Wajah-wajah  sumringah terlihat pada anak sekolah dasar yang sedang menunggu tiga bus berhenti di depan SD Taman Siswa di Jetis, Kota Yogyakarta. Selasa, 11/8 pagi itu,  satu per satu anak-anak mulai naik, membawa tas dan rasa ingin tahu tentang perjalanan yang akan mereka jalani. Ketiga bus itu menjadi bagian dari perjalanan mereka menuju ruang belajar yang berbeda. Hari itu, ruang kelas berganti menjadi ruang-ruang pameran; pelajaran tidak lagi hanya dibaca dari buku, tetapi ditemui melalui benda, gambar, dan cerita yang tersimpan di dalam museum.

Setelah menempuh perjalanan, anak-anak tiba di Museum Taman Tino Sidin. Sebatang pensil kemudian bergerak perlahan di atas kertas. Satu garis lurus ditarik, lalu disambung dengan garis lengkung. Dua garis sederhana itu perlahan menjelma menjadi sebuah gambar. Di antara lembar-lembar kertas, anak-anak mencoba tanpa banyak ragu. Tidak ada tuntutan bahwa gambar harus sempurna. Yang penting, tangan berani bergerak dan imajinasi menemukan jalannya.

Di tempat itu, mereka tidak sekadar melihat karya yang pernah dibuat seorang pelukis. Mereka berkenalan dengan sosok Tino Sidin, tokoh yang begitu lekat dengan program “Gemar Menggambar” di TVRI dan pernah mengajak anak-anak Indonesia mengenal dunia gambar dengan cara yang sederhana dan menyenangkan.

Dari sana, perjalanan mereka akan berlanjut menuju Museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto di Kemusuk, Sedayu, Bantul. Jika Museum Tino Sidin membawa anak-anak masuk melalui dunia kreativitas, Museum Soeharto mengajak mereka membuka cerita tentang perjalanan hidup, perjuangan, dan kepemimpinan seorang tokoh yang lahir dari tanah Kemusuk sebelum menjadi Presiden kedua Republik Indonesia.

Perjalanan tersebut menjadi bagian dari Wajib Kunjung Museum (WKM), program yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY untuk mendekatkan museum kepada pelajar. Melalui WKM, museum dihadirkan bukan semata sebagai ruang penyimpanan koleksi, melainkan sebagai tempat belajar di luar kelas, mengenal tokoh dan sejarah, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap warisan budaya.

Dalam satu hari, anak-anak berhadapan dengan dua cerita dari masa lalu. Namun, keduanya tidak berhenti sebagai cerita yang hanya didengar. Mereka melihat, mengamati, mencoba, menjawab pertanyaan, dan menemukan sendiri bagian yang menarik perhatian mereka. 

Sebab, di museum, sejarah tidak selalu datang dalam bentuk tanggal dan nama. Kadang ia hadir melalui selembar gambar. Kadang melalui sebuah benda yang membuat anak berhenti dan bertanya. Dan kadang, melalui kisah seseorang yang perlahan mereka kenal untuk pertama kalinya.

Dari sanalah perjalanan itu dimulai dari sebuah garis sederhana, menuju jejak sejarah yang lebih panjang.

Sebuah Rumah yang Menolak Dilupakan 

Pengalaman belajar mereka bermula dari sosok Tino Sidin, tokoh yang namanya begitu lekat dengan acara televisi Gemar Menggambar di TVRI Pada era 1970-an hingga 1990-an. Rumah yang dahulu menjadi tempat tinggalnya kini menjadi ruang untuk merawat karya, arsip, memorabilia, sekaligus jejak pengabdiannya dalam mengenalkan seni kepada anak-anak. Bagi Tino Sidin, menggambar bukan semata-mata tentang menjadi pelukis. Ada kreativitas, keberanian, dan ruang untuk tumbuh yang ingin ia tanamkan melalui kegiatan menggambar.

Puluhan tahun setelah suara Tino Sidin tak lagi menyapa anak-anak melalui layar televisi, semangat itu masih menemukan tempatnya di rumah yang dahulu menjadi ruang hidupnya.  Bukan dari studio televisi, melainkan dari rumahnya sendiri yang kini menjadi Museum Taman Tino Sidin di Ngestiharjo, Bantul.

Di tempat yang sama, generasi yang datang jauh setelahnya kembali mencoba cara sederhana yang pernah ia ajarkan: menarik garis lurus, menyambungnya dengan garis lengkung, lalu membiarkan imajinasi bekerja. 

Bagi Panca Takariyati, atau Titik, putri Tino Sidin yang turut mengelola museum, keberadaan tempat tersebut bukan sekadar tentang menjaga benda-benda peninggalan sang ayah. Lebih dari itu, museum menjadi cara untuk memastikan apa yang pernah dikerjakan Tino Sidin tetap memiliki ruang untuk dikenang dan diperkenalkan kepada generasi yang tidak sempat mengenalnya secara langsung. 

Rumah yang dahulu menjadi tempat tinggal keluarganya kini menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan anak-anak yang lahir jauh setelah Tino Sidin tidak lagi hadir di layar televisi. Bagi Titik, museum itu bukan sekadar tempat untuk menyimpan peninggalan ayahnya. Ada bagian dari kehidupan keluarga yang tetap tinggal di dalamnya.

Di rumah itulah Tino Sidin pernah hidup. Di tempat yang sama, kini anak-anak datang membawa rasa ingin tahu yang mungkin belum mengenal siapa sosok yang namanya terpampang di museum.

Bagi Titik, pertemuan antara anak-anak dan peninggalan ayahnya selalu menghadirkan perasaan yang sulit diringkas sebagai sekadar kegiatan kunjungan. Melihat mereka datang, mendengarkan cerita tentang ayahnya, hingga mencoba menggambar di tempat yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan keluarganya, membuat jarak puluhan tahun itu seolah menemukan jembatannya. 

“Senang, terharu. Karena sebetulnya misi kami itu apa yang dikerjakan Pak Tino Sidin itu tidak hilang, maksudnya terlestarikan.”

Cerita tentang Tino Sidin tidak berhenti pada nama seorang tokoh. Mereka diajak melihat karya-karyanya sekaligus mencoba menggambar. Pensil menjadi alat untuk mengenalkan kembali gagasan sederhana yang dahulu kerap disampaikan Tino Sidin kepada anak-anak bahwa menggambar tidak harus sulit, dan yang paling penting adalah berani mencoba. 

Jangan Takut pada Kertas Kosong 

Bagi Tino Sidin, menggambar tidak harus dimulai dengan kemampuan. Justru, ia ingin menghilangkan ketakutan anak-anak sebelum mereka sempat membuat garis pertama.

Menggambar, katanya, harus terasa mudah dan menyenangkan.

“Menggambar itu mudah. Menggambar itu menyenangkan.”

Caranya sederhana. Dua garis. Garis lurus dan garis lengkung.

Dari dua bentuk itu, anak-anak diajak memahami bahwa sebuah gambar dapat lahir dari sesuatu yang paling sederhana. Garis lengkung dan garis lurus dapat berubah menjadi awan atau burung. Garis-garis yang disambungkan perlahan menjadi bentuk yang baru. Yang terpenting bukan seberapa sempurna hasil akhirnya, melainkan keberanian untuk terus mencoba.

Tino Sidin memahami bahwa ketakutan seorang anak kadang justru datang sebelum ia mulai. Takut tidak berbakat, takut jelek, takut salah.

Karena itu, ia memilih satu kata yang mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi anak-anak bisa berarti besar.

“Bagus.”

Titik mengingat bagaimana ayahnya hampir selalu mengatakan bagus kepada gambar anak-anak.

“Pak Tino selalu bilang bagus, tidak pernah bilang jelek. Karena Pak Tino menganggap bahwa anak itu harus dimotivasi terus, tidak boleh dipatahkan.” ujarnya

Di situlah metode menggambar Tino Sidin menjadi lebih dari sekadar teknik. Dua garis yang ia ajarkan bukan hanya tentang bagaimana sebuah gambar dibuat, tetapi tentang bagaimana seorang anak diberi keberanian untuk memulai. Tidak buru-buru menilai, tidak membuat mereka takut salah, dan tidak mematahkan keinginan untuk mencoba. 

Dari Rumah Tino Sidin ke Kemusuk

Setelah pensil-pensil kembali diletakkan, perjalanan anak-anak berlanjut.

Dari dunia gambar dan kreativitas, mereka berpindah menuju cerita sejarah di Museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto di Kemusuk, Sedayu, Bantul.

Museum ini menyimpan jejak kehidupan Soeharto, mulai dari masa kecilnya di Kemusuk, perjalanan perjuangan, karier militernya, hingga masa ketika ia memimpin Indonesia sebagai Presiden kedua Republik Indonesia.

Bagi anak-anak, sosok yang selama ini mungkin hanya mereka kenal dari buku pelajaran kini hadir melalui ruang, koleksi, diorama, dan cerita yang dapat mereka lihat secara langsung.

Perjalanan hidup Soeharto menjadi salah satu cara bagi museum untuk memperkenalkan sejarah kepada generasi muda: bahwa seorang tokoh nasional juga memiliki titik awal, tempat lahir, keluarga, masa kecil, serta perjalanan panjang sebelum sampai pada posisi yang dikenal dalam buku-buku sejarah.

Di ruang museum, anak-anak mengamati benda-benda dan mendengarkan penjelasan edukator. Maryanti, edukator di Museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto, melihat antusiasme anak-anak ketika mengikuti kegiatan edukasi. Mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi turut menjawab pertanyaan yang diberikan.

“Anak-anak antusias dalam mendengarkan edukasi yang kita berikan, mereka menjawab pertanyaan dengan bersemangat.”

Salah satu yang menarik perhatian anak-anak adalah patung Soeharto yang digambarkan sedang menaiki kerbau. Bagi Maryanti, koleksi semacam itu dapat menjadi pintu masuk yang lebih dekat bagi anak-anak untuk mengenal sejarah melalui sesuatu yang unik dan mudah mereka ingat. Selain itu, anak-anak juga diajak mengenal sumur kenangan dan mencoba aktivitas menimba air.

Bagi salah satu siswa, Anastasya Azka Kirana, salah satu cerita yang paling membekas dari kunjungan tersebut adalah perjalanan Soeharto yang berasal dari desa hingga akhirnya dapat menjadi seorang presiden. Menurutnya, kisah tersebut menunjukkan bahwa seseorang yang berasal dari desa pun bisa memiliki kesempatan untuk mencapai posisi penting.

“Menurut saya menarik, karena orang yang awalnya berasal dari desa, tetapi akhirnya bisa jadi presiden. Jadi, orang yang dari desa juga bisa berhasil menjadi presiden.”

Sementara itu, siswa kelas VI, Raden Ahmad Anugrah Mulia, menemukan ketertarikannya sendiri selama kunjungan. Ia lebih menikmati kegiatan menggambar yang dilakukan di Museum Tino Sidin, sementara di Museum Soeharto ia justru lebih tertarik untuk mengenal berbagai cerita sejarah yang ada di dalamnya.

“Kalau di Museum Tino Sidin saya lebih suka kegiatan menggambarnya karena bisa sambil berkreasi. Kalau di Museum Soeharto saya lebih suka sejarahnya, karena bisa mengetahui cerita dan perjalanan yang terjadi pada masa lalu.”

Jawaban-jawaban sederhana itu memperlihatkan bagaimana anak-anak menemukan pintu masuk mereka sendiri terhadap museum.

Ada yang masuk melalui gambar, ada yang masuk melalui sejarah, ada pula yang mungkin, mengingat sesuatu hanya karena benda itu terasa unik bagi mereka.

Bagi guru pendamping SD Taman Siswa, Ammah Shofiyati, kunjungan langsung ke museum memberikan sesuatu yang sulit sepenuhnya diperoleh melalui pembelajaran di kelas.

“Sangat penting untuk memberikan pengalaman langsung”. Ia menyebutnya sebagai (Ngrasa), yaitu sebuah istilah jawa yang bermakna merasakan atau mengalami secara langsung. Bagi anak-anak, belajar tidak cukup hanya dengan mendengar cerita dari guru atau membaca dari buku. Mereka perlu melihat, menyentuh, mencoba, dan mengalami sendiri agar pengetahuan itu terasa lebih dekat. 

Sebelum berangkat, sekolah tidak memberikan materi panjang mengenai kedua museum. Anak-anak justru dipantik dengan pertanyaan sederhana tentang tokoh yang akan mereka kenal dan mengapa nama tokoh tersebut begitu membekas bagi masyarakat. Mereka juga dibekali adab dan tata tertib ketika berada di museum.

Setelah tiba, pertanyaan-pertanyaan itu menemukan jawabannya sendiri.

Di Museum Tino Sidin, anak-anak belajar melalui gambar. Di Museum Soeharto, mereka mengamati koleksi, mendengarkan penjelasan, dan mengikuti aktivitas edukatif. Pengalaman itu membuat mereka tidak hanya menjadi pendengar, tetapi turut menjadi bagian dari proses belajar.

Di titik itulah Wajib Kunjung Museum yang digagas Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY menemukan maknanya.

Museum tidak lagi sekadar bangunan yang menyimpan masa lalu. Ia menjadi ruang tempat masa lalu dapat ditemui kembali dengan cara yang lebih dekat dengan dunia anak-anak.

Program ini memberi kesempatan kepada pelajar untuk keluar sejenak dari batas dinding kelas, lalu belajar melalui benda yang dapat dilihat, cerita yang dapat didengar, dan pengalaman yang dapat dirasakan.

Yang Dibawa Pulang

Ketika kunjungan berakhir, anak-anak mungkin tidak membawa seluruh cerita museum di kepala mereka. Mungkin Anastasya akan lebih lama mengingat cara menggambar Tino Sidin. Mungkin Mulia akan mengingat kisah sejarah yang ia dengar. Mungkin ada anak lain yang justru akan bercerita kepada orang tuanya tentang patung yang menaiki kerbau atau tentang sebuah lukisan yang menarik perhatiannya.

Tidak apa-apa, sebab ingatan tidak selalu tumbuh dalam bentuk yang besar. Kadang ia dimulai dari sebuah garis, Kadang dari sebuah nama, Kadang dari sebuah cerita yang didengar sambil berdiri di depan benda lama dan dari situlah masa lalu perlahan menemukan tempatnya di dalam kepala anak-anak.

Bagi Titik, keberadaan mereka di museum adalah bagian dari harapan agar perjuangan ayahnya tidak berhenti sebagai kenangan keluarga.

Bagi guru, kunjungan itu menjadi kesempatan untuk membuat anak-anak benar-benar “ngarasa”  belajar.

Bagi anak-anak, kunjungan hari itu mungkin akan dikenang sebagai perjalanan bersama teman-teman keluar dari sekolah. Tetapi di sela perjalanan tersebut, ada banyak hal baru yang mereka temukan: cara menggambar, sosok yang sebelumnya belum mereka kenal, hingga cerita sejarah yang selama ini hanya mereka dengar dari buku.

Barangkali tidak semua cerita akan mereka ingat dengan utuh. Namun, satu gambar, satu nama, atau satu cerita yang melekat di kepala mereka sudah cukup menjadi bagian dari pengalaman yang akan tumbuh bersama mereka.

Sebab, belajar tentang sejarah dan budaya tidak selalu harus dimulai dari hafalan. Terkadang, ia cukup dimulai dari sebuah perjalanan, sebuah pertanyaan, atau kesempatan untuk melihat dan merasakan sendiri. Hari itu mereka datang untuk mengunjungi museum. Tetapi tanpa disadari, mereka juga sedang membawa pulang sedikit cerita dari masa lalu. (Juliana/Dewi/Ifit)

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta