by ifid|| 25 Agustus 2026 || 3 kali
Halaman muka Gedung Agung Yogyakarta pada 17 Agustus 2026 menjadi saksi dua peristiwa yang saling bersahutan sepanjang hari. Pagi hari, ketika Sang Saka dikerek naik dalam upacara pengibaran bendera, ratusan pelajar berdiri dalam formasi paduan suara, menyalurkan semangat lewat nada. Menjelang sore, ketika upacara penurunan bendera hendak digelar, giliran ratusan penari tampil dengan kostum dari berbagai penjuru Nusantara, menghidupkan semangat yang sama lewat gerak tubuh yang kolosal. Peringatan 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar tata upacara, sebuah perayaan yang ditopang oleh nada di pagi hari dan gerak di penghujung sore, yang dirawat oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta melalui persembahan Aubade dan Tari Kolosal.
Aubade sendiri bukan sekadar nyanyian pengiring seremoni. Tradisi ini adalah cara generasi muda menyapa kemerdekaan lewat suara, sebuah ingatan kolektif yang terus diwariskan setiap tahun. Bagi Berny Hanteriska, konduktor yang memimpin orkestra pengiring Aubade, proses menghidupkan lagu-lagu kebangsaan bukan perkara menyalin partitur begitu saja.
"Ketika membuat aransemen, kita harus membayangkan dulu suasana dan pola ritmis dari lagu aslinya," ujarnya.
Namun tantangan sesungguhnya justru datang dari siapa yang memainkannya.
"Musisi Aubade bukanlah musisi profesional yang selalu siap pakai. Harus ada proses panjang karena mereka masih sebagai pelajar," katanya, mengingatkan bahwa di balik kemegahan panggung, ada kesabaran panjang dalam menuntun anak-anak sekolah menemukan kepekaan bermusik.
Kesabaran itu, menurutnya, berlaku ganda: tak hanya pada barisan musisi, tetapi juga pada paduan suara yang sebagian besar berasal dari sekolah umum, bukan dari latar belakang musik formal. Sebuah proses yang menuntut ketelitian ekstra agar suara ratusan pelajar bisa melebur menjadi satu napas yang sama.
Dari sisi penampil, kegembiraan itu terasa lebih personal. Angelina Amoret Tri Ayu Widowati, salah satu penyanyi Aubade, mengaku bertugas di halaman Gedung Agung menjadi pengalaman yang tak biasa.
"Senang rasanya bisa bertugas di Gedung Istana Agung bersama teman-teman saya dari sekolah lain," katanya.
Bagi Angelina, lagu Serenade Nusantara menjadi bagian paling berkesan, sebab di situ ia dan rekan-rekannya membawa suara daerah yang berbeda-beda ke satu panggung.
"Kami anak-anak muda bangga membawakan lagu dari beberapa daerah, diiringi langsung oleh orkestra," ujarnya.
Ketegangan sekaligus kegembiraan pra-pementasan pun ia rasakan hingga hari terakhir latihan.
"Latihan sampai sore dan gabung sama orkes, pokoknya seru dan benar-benar memorable banget," katanya, dengan nada yang menggambarkan bagaimana euforia kemerdekaan bagi generasi muda kini hadir lewat proses berkarya, bukan sekadar menghafal lagu wajib.
Kerja panjang di ruang latihan itu pada akhirnya terbayar oleh sambutan yang tak disangka-sangka. Berny menuturkan, gaung Aubade di Yogyakarta bahkan sempat dibandingkan warganet dengan penyelenggaraan serupa di Istana Negara.
"Yang di Jogja lebih meriah daripada yang di pusat, mungkin karena antusiasme masyarakat yang begitu besar untuk melihat dari dekat tanpa protokoler yang ketat," ujarnya.
Pernyataan ini bukan sekadar kebanggaan lokal, melainkan cermin dari watak masyarakat Yogyakarta yang selalu menempatkan kedekatan dan keterlibatan di atas jarak seremonial. Harapan Berny pun sederhana namun mendalam, agar musik orkestra semakin dicintai publik, khususnya di Yogyakarta, dan agar momentum ini menjadi pijakan bagi tumbuhnya apresiasi musik klasik di tengah masyarakat yang lebih luas.
Jika Aubade menutup babak pagi dengan suara, maka menjelang senja, sesaat sebelum upacara penurunan bendera dimulai, giliran Tari Kolosal mengambil alih halaman Gedung Agung. Jika Aubade menghidupkan kemerdekaan lewat suara, Tari Kolosal menghadirkannya lewat gerak tubuh yang kolektif. Karya bertajuk Jaya Wiraga Mahardika ini mengangkat jejak perjuangan dari enam wilayah yakni Maluku, Sumatera Barat, Jawa, Kalimantan, Aceh, dan Bali yang masing-masing menyimpan idiom gerak dan semangat juang tersendiri.
Koreografer Icha Fikri Kurniawan menjelaskan bagaimana representasi itu disusun dari kekayaan tari daerah: Tari Saman untuk Aceh, tari silat untuk Sumatera Barat, Tari Lawung dan tari prajurit wanita untuk Yogyakarta, Tari Banjar untuk Kalimantan, Tari Baris dan Kecak untuk Bali, hingga Tari Soya-Soya dan Cakalele untuk Maluku. Pilihan-pilihan itu tidak acak, melainkan disaring dari tarian yang menyimpan spirit perlawanan terhadap penjajahan, sehingga setiap gerak yang ditampilkan membawa jejak sejarah perjuangan di daerah asalnya masing-masing.
Namun menghadirkan enam wilayah dalam satu panggung bukan perkara sederhana, apalagi ketika penarinya bukan berasal dari kalangan seniman.
"Para penari tidak hanya dari instansi seni, melainkan dari seluruh instansi se-DIY," kata Nurma Mitzuhu Nurika, koreografer penari perempuan.
Situasi ini menuntut pendekatan yang berbeda dari biasanya. Gerak yang dirancang harus mudah dihafal, lalu diulang berkali-kali hingga benar-benar melekat pada tubuh para penari yang datang dari latar belakang pekerjaan yang beragam. Bagi Nurma, tantangan terbesar bukan pada teknik gerak semata, melainkan pada bagaimana menanamkan pemahaman atas apa yang sedang mereka tarikan.
"Penari harus tahu apa isi cerita dan konsep yang dihadirkan, seperti mereka sedang berperang dan berjuang hingga titik darah penghabisan," ujarnya.
Sebuah pendekatan yang menempatkan tari kolosal bukan sekadar formasi indah di atas lapangan, melainkan medium penghayatan sejarah bagi ratusan pesertanya sendiri. Setiap kali gerak diajarkan, motivasi tentang semangat juang turut disisipkan, sehingga penari tidak hanya menggerakkan tubuh, tetapi juga menghayati posisi mereka sebagai representasi para pejuang yang tak kenal menyerah.
Kerumitan lain muncul ketika ratusan penari laki-laki dan perempuan harus tampil berimbang dalam satu komposisi besar. Icha menjelaskan bahwa penyelarasan itu berangkat dari pembagian peran antara penari yang menjadi sorotan utama, atau display, dan penari yang menjadi latar, atau background. Ketika penari laki-laki tampil sebagai display dalam segmen Maluku misalnya, penari perempuan mengambil posisi background dengan gerakan yang repetitif, agar tidak menenggelamkan eksistensi penari di depan. Begitu pula sebaliknya, dengan permainan level tubuh, penari perempuan di posisi atas dan penari laki-laki di posisi bawah, sehingga fokus penonton tetap terjaga pada siapa yang sedang menjadi pusat cerita.
Pada segmen tertentu seperti Bali dan Aceh, ketika penari laki-laki dan perempuan sama-sama berperan sebagai latar, koreografi dirancang bersifat universal, dapat ditarikan oleh siapa pun tanpa ada pihak yang mendominasi atau justru mengalihkan perhatian. Prinsip ini menjadi kunci agar enam wilayah yang dihadirkan tetap terasa utuh sebagai satu kesatuan cerita perjuangan, bukan kumpulan segmen yang berdiri sendiri-sendiri.
Penghayatan itu ditempa dalam waktu yang tidak panjang.
"Proses latihan ini hanya dilakukan selama dua minggu, tetapi dengan sistem yang cukup padat, dari pukul tiga sore sampai sembilan malam," kata Icha.
Di balik kepadatan waktu itu, ada pula persoalan teknis yang jarang tampak dari panggung megah yang disaksikan publik.
"Kami membutuhkan tempat latihan yang ukurannya kurang lebih satu banding satu dengan ruang pertunjukan, namun fasilitas itu belum memungkinkan," jelasnya.
Kejujuran semacam ini justru menunjukkan wajah lain dari sebuah perayaan besar, bahwa kemeriahan yang tersaji di depan publik selalu ditopang oleh kerja keras dan improvisasi di baliknya, oleh keterbatasan yang harus disiasati agar semangat tetap sampai ke tujuan. Dua minggu yang padat, ruang latihan yang belum ideal, dan penari yang datang dari latar belakang berbeda-beda, semuanya melebur menjadi satu proses yang pada akhirnya menghasilkan gerak kolosal yang utuh di hadapan publik.
Dua persembahan ini, satu berupa nada, satu berupa gerak, pada akhirnya bertemu dalam satu tujuan yang sama, yakni menghidupkan kembali ingatan atas perjuangan lewat bahasa seni yang bisa dirasakan bersama, bukan sekadar dikenang lewat pidato. Kundha Kabudayan DIY, melalui keterlibatannya dalam Aubade dan Tari Kolosal, menegaskan posisinya bukan hanya sebagai fasilitator seremoni, melainkan sebagai penjaga agar nilai-nilai kejuangan itu terus diwariskan lewat tubuh dan suara generasi baru.
Euforia kemerdekaan, pada akhirnya, bukan sekadar riuh tepuk tangan di hari peringatan, melainkan proses panjang yang dijalani dengan sabar, ditempa dalam keterbatasan, dan dirayakan bersama dalam satu golong gilig menuju panggung sejarah. (Dewi Yulia/Juliana/Ifit)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...