by ifid|| 26 Agustus 2026 || 55 kali
Banguntapan, Ruang Diskursus Sejarah yang Tak Pernah Usai Pada hari Rabu, 26 Agustus 2026, suasana di Aula Kantor Desa (Kalurahan) Banguntapan terasa berbeda. Di ruangan tersebut, rentang waktu ratusan tahun ditarik ke masa kini melalui sebuah "Seminar Hasil Ekskavasi Situs Gedong Pusoko & Situs di Dusun Jejeran" yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta. Acara ini bukan sekadar pemaparan laporan teknis, melainkan sebuah lokakarya dan ruang refleksi bersama masyarakat untuk memahami apa yang tersembunyi di balik lapisan tanah tempat mereka berpijak.
Di hadapan para peserta workshop, Jujun Kurniawan, M.A., seorang arkeolog, membuka wawasan audiens dengan sebuah pertanyaan mendasar: "Mengapa kami menggali?". Sering kali masyarakat mengidentikkan ekskavasi dengan pencarian harta karun purbakala yang bernilai material, atau sekadar mencari bangunan yang hilang. Namun, narasi itu dibantah dengan lugas. Arkeolog tidak sedang mencari benda, melainkan mencari informasi dan konteks.
Sebuah pecahan keramik tua tidak akan memiliki makna sejarah yang kuat tanpa diketahui dimana persisnya ia ditemukan dan bersama benda apa ia terkubur. Oleh karena itu, para arkeolog memandang tanah sebagai sebuah arsip. Ekskavasi dilakukan untuk menjawab apa yang tidak tertulis di dalam buku-buku sejarah. Melalui penggalian, arkeolog berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis seperti: apa bukti fisik yang ada di suatu lokasi, kapan rentang waktu aktivitasnya, bagaimana ruang tersebut digunakan oleh manusia di masa lalu, serta bagaimana tempat tersebut mengalami pergeseran fungsi dari waktu ke waktu. Setiap lapisan tanah yang dikupas adalah lembaran arsip sejarah yang dibaca ulang.
Menyingkap Misteri Kemegahan Gedong Pusoko
Jejak Arsitektur Era Sri Sultan Hamengku Buwana II Salah satu sorotan utama dalam lokakarya ini adalah ekskavasi di area Gedong Pusoko. Menariknya, pelaksanaan ekskavasi pada tahun 2026 ini merupakan penggalian arkeologis yang pertama kali dilakukan di situs tersebut. Secara historis, Gedong Pusoko memiliki kaitan erat dengan jaringan pesanggrahan yang dibangun pada era Sri Sultan Hamengku Buwana II, yang memerintah pada rentang tahun 1792 hingga 1828.
Ekskavasi ini berhasil membuktikan kemegahan arsitektur masa lalu yang selama ini terkubur. Temuan utama di Gedong Pusoko meliputi struktur pintu masuk utama di sebelah barat yang dilengkapi dengan tangga berundak sebanyak tujuh tingkat. Tangga ini tersusun dari bata yang dirancang dengan susunan rolak (vertikal) maupun horizontal, dilapisi lepa, dan direkatkan menggunakan mortar. Dinding yang mengelilingi bangunan ini juga terbuat dari bata horizontal berlipat, dengan susunan perkuatan pondasi di bagian bawahnya mencapai 12 lapis tanpa lepa.
Lebih jauh ke area belakang atau sisi paling timur situs, tim menemukan indikasi kuat keberadaan sebuah kolam yang dinding-dindingnya juga dilapisi oleh lepa. Namun, kemegahan ini tampaknya menyimpan kisah kehancuran di masa lalu. Adanya temuan reruntuhan berupa fragmen bata yang bercampur dengan lepa dan mortar menjadi indikasi kuat bahwa terdapat proses atau peristiwa tak dikenal yang menyebabkan hancurnya bangunan tersebut sebelum akhirnya tertutup rapat oleh lapisan tanah dari zaman ke zaman.
Jejeran dan Kontinuitas Peradaban Mataram Islam
Ruang Kehidupan yang Menolak Pudar Jika Gedong Pusoko merekam narasi kebesaran pesanggrahan, ekskavasi di Situs Jejeran menyuguhkan cerita tentang kesinambungan ruang pemukiman yang terus hidup dari era Mataram Islam hingga masa kini. Secara administratif, situs ini berlokasi di Dusun Jejeran I, Kalurahan Wonokromo, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul. Posisinya berada di sebelah utara Sungai Code.
Area Jejeran telah menjadi saksi bisu berbagai pergantian zaman, mulai dari Mataram Islam era Kotagede dan Pleret, masa Kasultanan Ngayogyakarta, masa Hindia Belanda, hingga era kemerdekaan. Signifikansi kawasan ini terbukti dari padatnya peninggalan arkeologis di sekitarnya, seperti Makam Kyai Ageng Wonokriyo yang merupakan mertua dari Sultan Agung (abad ke-17), Makam Kyai Jejer, dan Makam Mbah Bolodewo. Selain itu, terdapat pula Makam K.R.T. Sumodiningrat, seorang panglima perang yang gugur pada peristiwa Geger Sepoy di tahun 1812.
Dari lubang-lubang ekskavasi di Jejeran, tim peneliti menemukan struktur bata di sisi utara yang memanjang dengan orientasi barat laut-tenggara. Ukuran batanya sangat beragam, dan beberapa di antaranya identik dengan ukuran bata peninggalan era Situs Kerta dan Kedaton. Tak hanya itu, ekskavasi juga membuktikan bahwa lokasi penggalian memiliki riwayat penggunaan yang berkaitan erat dengan sumber aliran air, dibuktikan dengan keberadaan sistem irigasi di sekelilingnya yang diduga telah dibangun sejak era kolonial. Jejeran adalah bukti nyata bahwa sebuah ruang bisa tetap abadi, meski manusia dan zamannya berganti.
Menguji Bukti Melalui Disiplin Ilmu Stratigrafi
Metodologi Ketat di Balik Tabir Masa Lalu Dalam lokakarya, ditekankan bahwa arkeologi bukanlah ilmu yang menerka-nerka tanpa dasar. Setiap penggalian pasti mengubah kondisi asli situs, dan tanah yang sudah dikeluarkan tidak bisa dikembalikan seperti semula. Oleh karena itu, perekaman data dilakukan secara sistematis. Di Gedong Pusoko, tim melakukan penggambaran situs ke dalam kotak grid berukuran 2x2 meter. Penggalian dilakukan secara hati-hati per interval spit (kedalaman 20 cm), dengan kedalaman kotak bervariasi dari minimal 60 cm hingga maksimal 280 cm.
Metodologi ketat ini memungkinkan pembacaan stratigrafi (lapisan tanah) secara akurat. Susunan stratigrafi yang ditemukan memiliki urutan sebagai berikut:
Selama proses metodologis ini, tim tidak hanya menemukan struktur, tetapi juga ragam temuan lepas. Fragmen keramik asing, pecahan gerabah, hingga pipa air dari tanah liat berhasil diangkat dari lapisan tanah masa lalu. Bahkan, "tidak menemukan sesuatu" juga menjadi data ilmiah; seperti di beberapa kotak area tengah Gedong Pusoko yang tidak menampakkan struktur lantai bata, memberikan petunjuk baru mengenai tata ruang bangunan aslinya.
Pengetahuan Bersama dan Arah Pelestarian
Kearifan Lokal yang Bertemu dengan Sains Hasil ekskavasi ini membawa satu benang merah penting: cerita lisan warga, seperti penamaan "Gedong Pusoko" maupun kisah Mbah Bolodewo, bukanlah sekadar dongeng belaka. Cerita tersebut adalah memori lanskap yang berharga, dan kehadiran arkeologi bertugas untuk menguji serta memperkaya cerita tersebut melalui data fisik. Sains bertemu dengan kearifan lokal untuk membentuk identitas kawasan yang lebih kuat.
Inisiatif untuk melibatkan warga melalui seminar ini membuahkan apresiasi luas. Dinas Kebudayaan dinilai telah mempraktikkan komunikasi publik yang sangat baik, dan disarankan untuk terus menggandeng kelompok epistemik seperti Departemen Arkeologi atau Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) demi mendesain rancangan riset lanjutan di tahun-tahun mendatang. Apresiasi tulus juga datang dari warga setempat. Trigani Saputra, dari Yayasan Ki Ageng Jejer Pleret Bantul, menyatakan kebahagiaannya bisa mengikuti kegiatan ini. Ia merasa bahwa lokakarya ini berhasil membuka wawasan masyarakat tentang pentingnya ekskavasi dan bagaimana memperlakukan temuan-temuan kecil yang sering dianggap remeh, namun ternyata menyimpan nilai historis yang tinggi.
Sebagai penutup edukasi, Jujun Kurniawan menitipkan tiga pesan pelestarian yang sangat elegan dan sederhana agar warga tetap bisa merawat situs tanpa harus menghentikan denyut kehidupan kampung. Tiga langkah tersebut adalah:
Lokakarya di Kalurahan Banguntapan ini menjadi pijakan elegan bahwa masa lalu bukanlah entitas mati, melainkan ruang diskursus yang terus dijaga untuk membentuk peradaban di masa depan. (fit)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...