by ifid|| 28 Agustus 2026 || 36 kali
Ada keheningan yang sarat makna ketika pesilat tradisional mengambil kuda-kuda. Di balik setiap kepalan tangan dan ayunan langkah, tersembunyi rentetan sejarah, filosofi, dan laku spiritual yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, di tengah gemerlap modernisasi dan disrupsi digital, warisan takbenda ini tengah menghadapi ujian terbesarnya. Pencak silat tradisional kini berdiri di persimpangan zaman.
Realitas tersebut mengemuka dan memantik refleksi mendalam dalam sarasehan bertajuk “Pencak Silat Tradisional di Persimpangan Zaman”. Mengambil tempat di Gedung Innovation and Creativity Hub (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Kamis, 27 Agustus 2026, acara ini menjadi urat nadi dari rangkaian Pencak Wisata Budaya (PWB) ke-5 yang dihelat oleh Paseduluran Angkringan Silat (PAS) Yogyakarta.
Suryadi, perwakilan dari PAS Yogyakarta, membuka narasi dengan sebuah perbandingan yang lugas namun menggugah. Ia menyoroti fenomena dikotomi yang tengah dialami dunia persilatan saat ini: jalur prestasi dan jalan tradisi.
"Di satu sisi ada jalan prestasi, namun di sisi lain ada jalan tradisi. Jalan yang tak ada podium dan hadiah, tapi ada jati diri. Hari ini kita bahas bersama bukan untuk mempertentangkan," ungkap Suryadi dengan tenang.
Jalan prestasi memang menawarkan gemerlap medali, sorotan kamera, dan kebanggaan di arena olahraga. Namun, pencak silat pada esensinya lahir dari jalan tradisi sebuah jalan sunyi di padepokan-padepokan, di mana pesilat ditempa bukan semata untuk menumbangkan lawan, melainkan untuk menaklukkan dirinya sendiri. Melalui PWB ke-5 ini, PAS Yogyakarta berupaya keras memberikan napas dan ruang eksistensi bagi aliran tradisional agar tak lekang ditelan hiruk-pikuk zaman, mempertemukan berbagai perguruan untuk merajut kembali tali silaturahmi sekaligus merumuskan cetak biru keberlanjutan.
Lebih dari Sekadar Fisik dan Gerak Laga
Pengakuan dunia internasional sejatinya telah digenggam. Pada 15 Desember 2019, UNESCO secara resmi menetapkan Pencak Silat sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage). Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki kebanggaan tersendiri karena menjadi salah satu pihak inisiator yang mengusulkan penetapan mahakarya tersebut.
Namun, status warisan dunia bukanlah garis finis, melainkan garis awal dari tanggung jawab pelestarian yang jauh lebih berat. Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, dalam sambutannya menegaskan bahwa tema "Di Persimpangan Zaman" sangat relevan untuk membedah anatomi tantangan kebudayaan hari ini.
"Zaman kita saat ini cukup instan, global, dan bergerak dengan sangat cepat. Kita khawatir pengetahuan yang sebenarnya melekat di dalam pencak silat kemudian terdegradasi atau bahkan hilang, sehingga yang tersisa hanya gerakan-gerakannya saja yang mungkin tanpa makna," papar Dian memberikan peringatan.
Kekhawatiran tersebut sangat beralasan. Generasi muda yang terbiasa dengan budaya serba instan berpotensi hanya melihat silat sebagai koreografi fisik bela diri semata. Padahal, silat adalah perpustakaan pengetahuan tradisional yang hidup. Di dalamnya tersimpan ajaran tentang anatomi tubuh, keselarasan gerak, dan yang paling krusial adalah filosofi kehidupan. Jika makna ini terdegradasi, silat akan kehilangan "ruh"-nya dan menyisakan cangkang kosong berupa gerakan mekanis belaka. Tantangan ini menuntut para pegiat dan pemangku kebijakan untuk tidak hanya melestarikan bentuk fisiknya, tetapi juga menjaga kemurnian pengetahuan yang melekat kuat di dalamnya.
Menerjemahkan Kesabaran dan Etika ke Era Modern
Untuk melawan degradasi makna, diperlukan langkah taktis dan strategis. Dian Lakshmi Pratiwi menyoroti pentingnya membangun sebuah "Ekosistem Literasi Silat". Literasi dalam konteks ini bukan sekadar kemampuan membaca buku tentang silat, melainkan kecakapan kolektif untuk mengenali, memahami, mendokumentasikan, mengkaji, dan mewariskan pengetahuan silat.
Yogyakarta, dengan posisinya yang sentral sebagai kota pendidikan sekaligus ruang kebudayaan, merupakan arena perjumpaan tradisi yang ideal. Dalam ekosistem ini, pencak silat harus ditempatkan sebagai medium pendidikan karakter yang holistik. Nilai-nilai seperti kedisiplinan, keberanian, pengendalian diri, penghormatan kepada sesepuh, etika persaudaraan, hingga kesabaran harus mampu diterjemahkan ke dalam kehidupan sosial yang modern.
"Nilai kesabaran, kedisiplinan, hormat kepada senior, kebersamaan, perjuangan, dan ketekunan yang luar biasa harusnya mampu kita bawa ke arah yang membentuk karakter positif," tutur Dian.
Keterlibatan institusi akademik seperti UGM menjadi angin segar. Suryadi menyadari bahwa kelestarian silat tidak bisa hanya dibebankan pada guru-guru di padepokan. Dibutuhkan campur tangan akademisi untuk meneliti, mengarsipkan, dan merumuskan kurikulum pengetahuan silat agar dapat diakses oleh generasi mendatang melalui pendekatan ilmiah. Silat tradisional membutuhkan panggung akademik agar pengetahuannya yang tersebar dan tak tertulis (tacit knowledge) dapat didokumentasikan dengan baik. "Pencak silat akan berjalan ke depan, tapi tak boleh melupakan dari mana ia dimulai," tegas Suryadi.
Ketika Bule Amerika Menghayati Jurus Nusantara
Sarasehan ini dengan cerdas membuktikan bahwa melestarikan tradisi tidak sama dengan menutup diri dari dunia luar. Justru, kedalaman tradisi memiliki daya pikat yang melampaui sekat-sekat geografis dan kebangsaan. Hal ini dibuktikan secara visual dan praktis di tengah acara.
Acara yang masuk dalam agenda Bulan Warisan Dunia DIY Tahun 2026 ini tidak berhenti pada dialog dan bincang-bincang verbal di atas mimbar. Untuk menyatukan teori dan praktik, sarasehan ini menghadirkan peragaan teknik secara langsung. Menariknya, pesona silat tradisional ini direpresentasikan oleh Jake Richter, seorang pesilat yang jauh datang dari Amerika Serikat.
Kehadiran Jake Richter yang secara langsung mempraktekkan jurus di hadapan para peserta menjadi simbol universalitas pencak silat. Bahwa nilai-nilai keseimbangan, kepekaan, dan pertahanan diri yang dirumuskan oleh nenek moyang Nusantara ratusan tahun silam, ternyata mampu dihayati dan diaplikasikan oleh warga dunia di era modern.
Momen ini memberikan tamparan halus sekaligus motivasi bagi generasi muda lokal. Ketika bangsa asing begitu menghargai dan mendalami akar tradisi persilatan Indonesia, sudah sepatutnya pewaris sah dari kebudayaan ini menjaga kepingan sejarah tersebut dengan rasa bangga. Eksplorasi gerak dari pesilat mancanegara ini menegaskan bahwa metode latihan dapat berkembang dan bermutasi, namun fondasi etika dan ingatan sejarah tidak boleh luntur.
Berakar pada Masa Lalu, Siap Diwariskan ke Masa Depan
Upaya merawat pencak silat tradisional adalah sebuah lari maraton, bukan lari cepat. Sejak tahun 2023, Pemerintah Daerah DIY melalui Dinas Kebudayaan telah menunjukkan komitmen nyata untuk terus merawat warisan takbenda ini melalui berbagai program kreatif dan inovatif. Festival dan sarasehan seperti PWB ke-5 ini adalah wujud nyata dari intervensi pemerintah untuk menyediakan ruang berekspresi bagi para pewaris tradisi.
Pada akhirnya, pelestarian tidak berarti membekukan tradisi di dalam museum atau menjadikannya artefak yang kaku. Mengutip esensi dari gagasan yang dilontarkan Kepala Dinas Kebudayaan DIY, menjaga silat berarti sedang menjaga ingatan kebudayaan dan karakter sebuah masyarakat.
Tradisi yang hidup bukanlah tradisi yang menolak perubahan teknologi, melainkan tradisi yang mampu berdialog dengan zaman tanpa harus mengorbankan jati dirinya. Media pembelajaran boleh bertransformasi ke ranah digital, metode dokumentasi boleh menggunakan teknologi mutakhir, dan pendekatan kepada Generasi Z boleh diperbarui agar lebih relevan. Namun, ruh pengabdian, persaudaraan, dan pengendalian diri harus tetap menjadi nyala api yang tak boleh padam.
Sarasehan di GIK UGM ini meninggalkan sebuah resolusi yang elegan dan lugas bagi seluruh perguruan, akademisi, dan pemerintah: "Mari kita tempatkan silat tradisional di Daerah Istimewa Yogyakarta pada posisi yang tepat: berakar pada masa lalu, hadir di masa kini, dan siap diwariskan kepada masa depan." Sebuah penutup yang memastikan bahwa warisan luhur bangsa ini tidak akan pernah usai dibaca, dihayati, dan dilestarikan. (hasni g)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...