Nglaras Rasa, Merawat Budaya Lewat Macapat

by ifid|| 28 Agustus 2026 || 11 kali

...

Nada-nada tembang Jawa perlahan memenuhi ruang GOR Gemilang, Kompleks Setda Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Di antara anak-anak yang duduk berkelompok, beberapa suara terdengar mencoba mengikuti irama yang dilantunkan. Ada yang masih mencari nada, ada yang mulai percaya diri menyuarakan tembang, sementara yang lain menyimak dan mengikuti dari tempat duduknya.

Macapat, bagi mereka, mungkin baru saja menjadi sesuatu yang dikenal. Namun melalui tembang-tembang yang dilantunkan bersama, anak-anak diajak berkenalan lebih dekat dengan salah satu warisan budaya Jawa. Bukan hanya mengenal cara menembang, tetapi juga belajar mendengarkan, mengikuti irama, bersabar, dan berani menyuarakan apa yang telah dipelajari.

Suara-suara kecil itu hadir dalam kegiatan Wanuh Budaya Mataraman, bagian dari pameran “Anyawiji Rasa x Wanuh Budaya Mataraman” yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY pada 20–22 Agustus 2026. Berlangsung pukul 09.00–16.00 WIB di GOR Gemilang, kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Muhibah Budaya Magelang sekaligus ruang untuk mempertemukan kembali masyarakat dengan beragam pengetahuan dan ekspresi budaya Mataraman.

Salah satu kegiatan di dalamnya adalah Wanuh Budaya Macapat Anak. Di ruang ini, macapat tidak diperkenalkan sebagai warisan yang jauh dan sulit disentuh anak-anak. Ia hadir sebagai tembang yang dinyanyikan, dipelajari, dan dialami langsung oleh generasi muda.

Bagi Darmapanambang, kegiatan macapat anak dirancang agar sesuai dengan dunia mereka. Lirik atau cakepan serta notasi lagu disesuaikan dengan ambitus suara anak sehingga tidak terlalu tinggi maupun terlalu rendah.

“Macapatan anak ini untuk melatih pola rasa anak-anak, untuk berani bersuara, bersuara dengan indah, melantunkan tembang-tembang macapat Jawa,” ujarnya.

Penyesuaian tersebut membuat anak-anak dapat belajar dalam suasana yang lebih nyaman. Mereka tidak hanya diperkenalkan pada bagaimana sebuah tembang dilantunkan, tetapi juga diajak merasakan proses belajar budaya Jawa sejak usia dini.

Mengisi Gelas yang Masih Lapang

Pilihan untuk menghadirkan anak-anak sekolah dasar bukan tanpa alasan. Bagi Darmapanambang, pengenalan budaya sebaiknya dimulai ketika ruang belajar anak masih terbuka lebar.

“Kalau kita mengisi sebuah gelas, kalau gelasnya itu masih kosong, akan semakin mudah,” tuturnya.

Anak-anak SD, menurutnya, memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap hal-hal baru. Ketika macapat dikenalkan sejak belia, kecintaan sekaligus keterampilan terhadap budaya Jawa dapat tumbuh secara bertahap. Apa yang diperoleh pada masa sekolah dasar menjadi bekal untuk terus dikembangkan ketika mereka memasuki jenjang SMP hingga SMA.

Cara pandang itu membuat macapat tidak ditempatkan sekadar sebagai materi kesenian. Ia menjadi bagian dari proses pewarisan kebudayaan. Anak-anak diperkenalkan lebih awal agar ketika tumbuh besar, macapat bukan sesuatu yang asing, melainkan bagian dari pengalaman yang pernah mereka rasakan.

Namun, mengajak anak-anak menyelami tembang dengan tempo yang relatif pelan tentu memiliki tantangan tersendiri. Dunia anak adalah dunia yang aktif. Duduk dalam waktu lama dan mempertahankan konsentrasi bukan perkara mudah.

“Rata-rata begitu, 5–10 menit mereka sudah ingin bergerak,” kata Darmapanambang.

Karena itu, proses belajar disesuaikan dengan daya tahan anak. Latihan tidak dipaksakan berlangsung satu jam penuh tanpa jeda. Setiap 10–15 menit, anak-anak diberi kesempatan beristirahat, minum, kemudian kembali berlatih.

Bagi Darmapanambang, jeda tersebut bukan sekadar strategi agar anak-anak tidak bosan. Justru di situlah salah satu nilai macapat mulai diperkenalkan: kesabaran.

Belajar Melambat di Dunia yang Serba Cepat

Macapat memiliki tempo yang relatif lambat. Bagi anak-anak yang tumbuh di tengah dunia yang bergerak cepat, proses menembang menjadi kesempatan untuk belajar berhenti sejenak.

Darmapanambang menyebut anak-anak hari ini hidup dalam dunia yang serba cepat, sehingga melalui macapat mereka justru diajak untuk melambat. Kesabaran menjadi nilai penting yang ingin ditanamkan melalui proses tersebut.

“Di macapat itu poin pentingnya sabar,” ujarnya.

Kesabaran tidak hanya diperlukan agar anak mampu mengikuti irama dan melantunkan tembang dengan baik. Mereka juga belajar menahan diri, mengatur suara, mendengarkan orang lain, dan mengikuti ritme bersama.

Nilai itu kemudian bergerak lebih jauh dari sekadar kemampuan menembang. Menurut Darmapanambang, latihan untuk sabar dan menahan diri dapat menjadi bagian dari ketahanan budaya. Di tengah kehidupan yang penuh gesekan dan persinggungan, kemampuan untuk tidak terburu-buru merespons menjadi sesuatu yang penting.

Dengan demikian, macapat menjadi ruang untuk mempertemukan kesenian dengan pembentukan laku. Anak-anak belajar budaya sekaligus belajar tentang dirinya sendiri.

Pengalaman Pertama yang Menjadi Cerita

Pembelajaran macapat di Wanuh Budaya Mataraman tidak berhenti pada latihan. Anak-anak juga diberi kesempatan untuk memperlihatkan hasil belajar mereka melalui mini konser.

Bagi Darmapanambang, mini konser menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan kegiatan. Jika biasanya persiapan pertunjukan dapat berlangsung hingga satu bulan, dalam kegiatan ini anak-anak dicoba untuk berlatih secara intensif dan berani tampil pada hari yang sama.

Lebih dari sekadar keberanian naik ke depan, anak-anak juga diberi ruang untuk belajar memimpin. Dari setiap kelompok peserta diharapkan muncul anak yang berani menjadi leader, memimpin temannya untuk menembang bersama.

“Di macapat tidak hanya belajar tentang nada, tentang filosofi kehidupan Jawa yang adiluhung, namun juga kepemimpinan,” jelasnya.

Di sana, suara yang sebelumnya terdengar malu-malu perlahan menemukan keberaniannya. Tembang tidak lagi sekadar sesuatu yang didengarkan, tetapi menjadi pengalaman yang dilakukan bersama.

Bagi guru pendamping dari SD Negeri Borobudur 1, Evi Sukiyaki, kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi anak-anak. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dengan jumlah peserta yang semakin banyak.

“Saya sangat berterima kasih karena anak-anak mendapat kesempatan yang baik untuk bisa belajar mocopat,” ungkap Evi.

Pengalaman itu sekaligus membantah anggapan bahwa macapat merupakan kesenian yang tidak menarik bagi anak-anak. Setelah mengikuti kegiatan, justru muncul kegembiraan karena mereka mendapatkan pengalaman baru yang sebelumnya mungkin belum pernah mereka rasakan.

“Banyak yang bilang macapat itu tidak asik ternyata juga menyenangkan. Anak-anak senang sekali karena mungkin ini adalah pengalaman pertama dan pengalaman berharga buat mereka,” lanjutnya.

Harapan Evi sederhana, tetapi penting: pengalaman yang dibawa anak-anak dari GOR Gemilang tidak berhenti ketika kegiatan selesai. Mereka dapat menceritakannya kepada teman-teman di sekolah, kemudian mengajak lebih banyak anak untuk mengenal macapat.

Ketika Tembang Dibawa Pulang 

Bagi anak-anak yang mengikuti kegiatan, macapat hadir dalam bentuk yang sederhana. Mereka menghafal nada, mengikuti lirik, mencoba tembang, lalu tertawa dan menikmati prosesnya.

Salah satu peserta, Crystal Danajma Orlin dari SD Muhammadiyah Inovatif Mertoyudan, mengaku senang mengikuti latihan tersebut. Ia belajar teknik macapat sekaligus mengenal beberapa tembang yang sebelumnya belum ia ketahui.

Salah satu tembang yang masih diingatnya adalah Pitik Walik Jambul. Ada pula Lagu Gembira Loka yang dipelajari dalam kegiatan tersebut.

“Seneng banget,” kata Orlin ketika menceritakan pengalamannya mengikuti Wanuh Budaya Macapat Anak.

Pengalaman serupa dirasakan Ino Sentius Resentia Palma, peserta dari SDN Diangan I. Dalam kegiatan tersebut, Ino belajar mengenai nada dan tembang macapat. Di antara materi yang masih diingatnya adalah Pitik Walik Jambul.

Meski sederhana, pengalaman itu menjadi awal bagi anak-anak untuk mengenal sesuatu yang mungkin sebelumnya terasa jauh. Bahkan, ketika memiliki waktu luang, Ino mengajak teman-temannya untuk datang dan belajar macapat.

Ajakan tersebut menjadi gambaran kecil tentang bagaimana pewarisan budaya dapat berlangsung. Tidak selalu melalui sesuatu yang besar. Kadang, ia bermula dari seorang anak yang merasa senang setelah mencoba sebuah tembang, lalu pulang dan menceritakannya kepada teman.

Macapat pun menemukan ruangnya kembali di tengah generasi yang tumbuh dengan ritme berbeda. Melalui Wanuh Budaya Mataraman, tembang Jawa tidak hanya dipertahankan sebagai pengetahuan masa lalu, tetapi diperkenalkan sebagai pengalaman yang dapat dirasakan anak-anak hari ini.

Sebab merawat budaya bukan hanya tentang menjaga agar sebuah tembang tetap terdengar. Lebih jauh, ia adalah tentang menanamkan rasa agar generasi berikutnya mengenali, mencintai, dan merasa memiliki warisan yang diterimanya.

Dari suara-suara kecil yang mengalun di GOR Gemilang, proses itu dimulai: nglaras rasa, merawat budaya lewat macapat. (Juliana/Dewi/Ifit)



Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta