by ifid|| 31 Agustus 2026 || 42 kali
Ada sebuah ketangguhan senyap di dalam kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ia tidak kaku layaknya batu yang menentang arus, melainkan hidup, mengalir, dan memiliki kemampuan luar biasa untuk masuk ke dalam zaman. Kebudayaan DIY mampu menyatu dengan masyarakat dan berdialog dengan perubahan, tanpa harus sedikit pun kehilangan sumber batinnya.
Filosofi mendalam ini disuarakan secara langsung oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, pada acara Perayaan Warisan Budaya Takbenda DIY Tahun 2026. Berdiri di Gerbang Barat Kompleks Kepatihan pada Sabtu, 29 Agustus 2026, Sri Sultan merangkum ketangguhan tersebut dalam satu konsep luhur dalam tata batin Jawa: Manjing Ajur Ajer.
“Dalam tata batin Jawa, Manjing Ajur Ajer adalah keluwesan yang tidak kehilangan paugeran. Seperti air yang mengikuti wadah, tetapi tetap membawa ingatan tentang mata airnya. DIY harus mampu berjalan seperti itu, terbuka kepada zaman, tetapi tidak hanyut oleh setiap arus yang datang,” jelas Sri Sultan dengan nada tenang namun sarat makna.
Pernyataan ini bukan sekadar kiasan puitis, melainkan sebuah kompas penunjuk arah. Konsep tersebut menitikberatkan pada kemampuan beradaptasi dari budaya itu sendiri agar terus relevan melintasi peradaban manusia.
Kesetiaan pada Hal-Hal Kecil yang Menghidupkan Peradaban
Dalam pandangan Sri Sultan, kebudayaan yang paling tangguh justru tidak selalu hadir dalam gemerlap lampu panggung atau menunggu riuh rendah tepuk tangan penonton. Kebudayaan yang sesungguhnya justru hidup dan bernapas dalam kebiasaan-kebiasaan harian yang dijalani masyarakat dengan penuh kesetiaan. Dalam kesetiaan kecil itulah, masyarakat menanam nilai-nilai agung tanpa banyak kata, seperti rasa hormat, tepa salira (tenggang rasa), gotong royong, dan kemampuan menjaga ukuran diri.
Pada momen tersebut, Sri Sultan memberikan penghormatan dan apresiasi tertinggi kepada para pahlawan tak bernama para penjaga tradisi di akar rumput. Banyak dari mereka yang mungkin tidak pernah melabeli diri sebagai seorang budayawan. Merekalah sosok yang sabar mengajari anak-anak bermain, mewariskan rasa masakan di dapur, serta membantu tetangga layaknya laku para simbah di masa lalu. Mereka terus menjaga upacara adat, alat, tembang, serta penanda waktu agar mata rantai peradaban tidak terputus begitu saja.
“Negara dapat memberi pengakuan. Pemerintah dapat menyerahkan sertifikat. Tetapi napas kebudayaan, ada pada masyarakat, yang masih mau menjalaninya,” tutur Sri Sultan.
Oleh karena itu, warisan budaya takbenda tidak boleh hanya berhenti di etalase pameran. Sri Sultan menegaskan bahwa kebudayaan perlu terus dikembalikan ke habitat aslinya: halaman rumah, sekolah, sanggar, kampung, pasar, pawon, dan tempat-tempat di mana masyarakat benar-benar hidup.
Sertifikasi, Titik Awal Pelestarian yang Nyata
Perayaan yang mengambil tema Bulan Warisan Dunia ini bukan hanya seremonial, melainkan aksi tindak lanjut atas pengakuan bergengsi dari dunia internasional. Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, dalam laporannya menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan puncak dari rangkaian Bulan Warisan Dunia Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2026.
Dian memaparkan bahwa pengakuan dunia melalui UNESCO terhadap Wayang, Gamelan, Keris, Jamu, Pencak Silat, Batik, serta Sumbu Filosofi adalah bukti sahih bahwa nilai-nilai budaya yang hidup di DIY memiliki arti penting bagi peradaban manusia. Pengakuan tersebut, menurut Dian, merupakan sebuah amanah. Sebuah tanggung jawab untuk memastikan bahwa nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap dipahami, dipraktikkan, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi masa kini dan masa depan.
Selain warisan budaya dunia tersebut, DIY juga diberkahi dengan beragam Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia yang hidup meriah di tengah masyarakat. Kekayaan tersebut meliputi Jathilan, Shalawat Maulud Jawi, dolanan tradisional, seni pertunjukan rakyat, tradisi lisan, kerajinan tradisional, pengetahuan lokal, adat istiadat, hingga ragam kuliner. Semuanya bersinergi menjadi satu tarikan napas peradaban Yogyakarta.
Ruang Perjumpaan Partisipatif untuk Menjawab Zaman
Warisan-warisan budaya takbenda tersebut sejatinya tidak pernah berdiri sendiri-sendiri. Keseluruhannya merajut sebuah pengetahuan hidup yang mengajarkan manusia tentang harmoni relasi: hubungan manusia dengan sesama, hubungan manusia dengan alam, serta kedekatan manusia dengan Sang Pencipta.
Nilai-nilai luhur ini berjalan beriringan dengan pandangan hidup Jawa mengenai Sangkan Paraning Dumadi (asal dan tujuan penciptaan) serta semangat Memayu Hayuning Bawana yang mengajarkan pentingnya menjaga harmoni kehidupan semesta. Namun, menjaga harmoni ini bukanlah tugas yang mudah di era disrupsi.
Di tengah perubahan zaman yang bergulir sangat cepat, Dian Lakshmi Pratiwi mengingatkan bahwa tantangan utama pelestarian budaya bukan hanya sekadar menjaga bentuk luar dari warisan budaya tersebut. Tantangan terbesarnya adalah menjaga agar nilai-nilai esensial yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan bermakna bagi generasi baru.
Oleh karena itu, diperlukan sebuah ruang perjumpaan yang mampu mempertemukan masyarakat secara langsung dengan warisan budayanya. Pendekatan pelestarian ini harus dirancang secara partisipatif, edukatif, inklusif, dan menyenangkan. Ruang-ruang inilah yang menjadi fondasi dalam membumikan kembali kebudayaan kepada pemilik sahnya: masyarakat.
Semarak Bulan Warisan Budaya Dunia DIY 2026
Implementasi dari ruang perjumpaan partisipatif tersebut diwujudkan secara nyata melalui Puncak Agenda Bulan Warisan Budaya yang telah dimulai sejak awal Agustus hingga 29 Agustus 2026. Rangkaian acara ini mencakup serangkaian kegiatan budaya yang digelar bergantian dari pukul 05.00 WIB hingga 23.00 WIB, dengan partisipasi yang luar biasa dari berbagai elemen masyarakat.
Rincian gemerlap agenda tersebut merangkum berbagai dimensi warisan budaya, di antaranya:
Visi Pelestarian dan Penyerahan Sertifikat Masa Depan
Sebagai pucuk perayaan, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyerahkan sertifikat Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia tahun penetapan 2025 secara langsung. Sebanyak 33 karya budaya disahkan dan distribusikan pengakuannya dengan rincian: Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat menerima 4 karya budaya, Kabupaten Kulon Progo sebanyak 5 karya, Kabupaten Sleman 3 karya, Kabupaten Bantul 6 karya, Kabupaten Gunungkidul 3 karya, Kota Yogyakarta 11 karya, dan DIY sebanyak 1 karya budaya.
Perayaan yang diprakarsai oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY ini bukan sekadar pesta kebudayaan. Ia bermuara pada empat visi utama pengusulan dan pengakuan warisan dunia ke depannya, yakni:
Pada penghujung malam, Sri Sultan tidak hanya menyerahkan sertifikat, namun juga memberikan Trophy Gubernur kepada para pemenang festival, sebuah simbol pengayoman kepemimpinan. Dengan komitmen pembinaan yang terstruktur hingga tingkat desa, DIY menegaskan kembali sumpahnya. Seperti air yang Manjing Ajur Ajer, Yogyakarta akan terus mengalir melintasi peradaban, mewadahi setiap lompatan zaman, seraya terus memeluk erat sumber mata air budayanya.(fit)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...