Panggung Bintang bagi Para Abdi Negara

by ifid|| 31 Agustus 2026 || 28 kali

...

Senin, 31 Agustus 2026, kemegahan Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY) tidak diisi oleh seniman atau musisi profesional seperti biasanya. Tata lampu dan kemegahan panggung disiapkan khusus untuk wajah-wajah yang sehari-hari melayani masyarakat di balik meja birokrasi. Hari ini, para Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta bertransformasi menjadi bintang panggung dalam Lomba Paduan Suara KORPRI DIY 2026.

Kemeriahan acara diawali dengan hentakan dinamis dan pesona seni tradisi dari Sanggar Seni Sri Panglaras yang membawakan Tari Angguk. Nuansa budaya yang kental seolah menjadi pengingat bahwa abdi negara di DIY selalu berpijak pada akar tradisi. Mengusung tema besar "Berlagu, Bersatu, Berpadu," acara ini menjadi momentum langka di mana sekat-sekat antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dilebur dalam satu irama.

Tema ini bukan sekadar jargon kosong. "Berlagu" merepresentasikan upaya kolektif menciptakan keindahan selaras dengan semangat Hamemayu Hayuning Bawana. Sementara "Bersatu dan Berpadu" adalah niat suci untuk senantiasa menyatukan hati dan tenaga demi melayani masyarakat dalam harmoni dan sinergi. Ratusan ASN yang memadati ruangan pagi itu tidak hanya bersiap untuk berkompetisi, tetapi juga merayakan semangat kemerdekaan dan menyambut peringatan Hari Jadi Undang-Undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Birokrasi yang Mengasah 'Olah Roso'

Lebih dari Sekadar Rasionalitas Pelayanan Publik Mengapa paduan suara? Jawabannya melampaui urusan kesenian belaka. Ketua Bidang Kerohanian, Olahraga, Seni dan Budaya Dewan Pembina Korpri DIY sekaligus Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A., memberikan perspektif yang mendalam dalam laporannya.

Seiring dengan peningkatan ekonomi dan kesejahteraan, ekspektasi masyarakat terhadap kinerja pemerintah semakin tinggi dan kompleks. Menghadapi dinamika tersebut, seorang birokrat tidak bisa lagi hanya mengandalkan kemampuan rasional dalam mengatasi persoalan. Mereka dituntut untuk memiliki olah roso (kepekaan nurani dan empati) dalam melayani.

Dalam konteks inilah, paduan suara dipilih sebagai media edukasi yang elegan. Sebuah kelompok paduan suara menuntut para anggotanya untuk melatih kepedulian, kekompakan, empati, serta kedisiplinan. Mereka harus mampu menahan ego vokal individu demi menciptakan satu harmoni suara yang utuh dan indah.

Tercatat sebanyak 36 kelompok yang terdiri dari 34 perangkat OPD dan 2 Balai Pendidikan berpartisipasi. Pemilihan Concert Hall TBY sengaja dilakukan agar para anggota KORPRI merasakan kebanggaan menjadi bintang panggung dengan standar pertunjukan yang profesional. Ini adalah cara pemerintah memupuk kepercayaan diri para pegawainya agar mampu tampil optimal di semua peran, baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional.

Standar Nasional di Tengah Kompetisi Internal

Menghayati Mars KORPRI dan Keberagaman Nusantara Meski berlabel lomba internal, KORPRI DIY tidak main-main dalam menjaga kualitas. Para peserta diwajibkan membawakan dua buah karya: lagu wajib "Mars KORPRI" dan satu lagu daerah Indonesia sebagai lagu pilihan. Pemilihan Mars KORPRI bertujuan memanggil kembali ruh dan sumpah abdi negara untuk memberikan tenaga bagi masyarakat tanpa segan, sedangkan lagu daerah merawat ingatan mereka akan kekayaan dan keberagaman Indonesia.

Untuk menilai penampilan panggung yang diiringi koreografi apik ini, panitia mendatangkan dewan juri berkaliber nasional yang memiliki rekam jejak mentereng di dunia paduan suara dan musik. Ketiga juri tersebut adalah:

  1. Pancasona Aji, S.Sn: Musisi dan konduktor lulusan ISI Yogyakarta yang telah mengantarkan kontingen DIY meraih puluhan gelar juara nasional dan lima gelar juara dunia.
  2. Linda Sitinjak, S.Sn., M.Sn: Solois sopran terkemuka, dosen ISI Yogyakarta, dan pembina Gita Bahana Nusantara yang karyanya telah menggema hingga ke Istana Negara dan orkestra kelas wahid.
  3. Kristina Nuraida Herianti, M.Sn: Vocal coach, pelatih paduan suara, serta magister tata kelola seni yang memiliki pengalaman luas dalam ajang kompetisi vokal dan paduan suara nasional.

Kehadiran juri papan atas ini menjadi bukti keseriusan KORPRI DIY dalam memberikan standar penilaian yang mutlak, profesional, dan tak terbantahkan. Pemenang yang terpilih nanti tidak hanya diakui di level instansi, namun teruji secara akademis dan artistik.

Paduan Suara sebagai Cerminan Organisasi

Filosofi Mendengar, Menyelaraskan, dan Melayani Suasana semakin khidmat ketika Sekretaris Daerah DIY sekaligus Ketua Dewan Pengurus Korpri DIY, Dra. Ni Made Dwipanti Indrayanti, S.T., M.T., memberikan sambutan arahannya. Dengan lugas, ia mengkorelasikan harmoni musik dengan manajemen tata kelola birokrasi pemerintahan.

“Sebuah paduan suara yang indah lahir dari harmoni. Keharmonisan tercipta ketika setiap orang mampu mendengar satu sama lain, memahami perannya, menjaga tempo, dan bergerak dalam irama serta tujuan yang sama,” tegas Ni Made.

Filosofi ini sangat relevan dengan tugas ASN. Setiap individu maupun OPD memiliki tugas, fungsi, dan tanggung jawab yang berbeda. Namun, keseluruhan elemen tersebut harus mampu bersinergi dan menyelaraskan langkah demi terwujudnya tujuan bersama: pelayanan terbaik bagi masyarakat dan tata kelola pemerintahan yang bersih dan berwibawa.

Ia menekankan bahwa lomba ini bukanlah sekadar ajang unjuk gigi untuk mencari siapa yang menang atau kalah. Proses berkumpul, berlatih di sela-sela kesibukan kerja, hingga saling memberikan dukungan di atas panggung merupakan nilai persaudaraan (guyub rukun) yang harus dibawa kembali dan diaplikasikan di lingkungan kerja masing-masing.

Estafet Kebersamaan Menuju Hari Keistimewaan

Merajut Guyub, Mengikis Sekat-Sekat Struktural Puncak seremoni pembukaan ditandai dengan pemukulan kenong secara simbolis oleh Sekda DIY, diiringi kepalan tangan semangat dari seluruh tamu kehormatan dan para kepala perangkat daerah yang hadir. Gema kenong yang beresonansi di dalam Concert Hall menjadi penanda resmi dimulainya kompetisi yang mengedepankan sportivitas ini.

Melalui kegiatan seni budaya semacam ini, Pemda DIY meyakini bahwa etos kerja yang kuat diawali dari komunikasi yang guyub. Ketika ASN merasa rukun dan solid, koordinasi lintas sektoral akan menjadi jauh lebih mudah, komunikasi menjadi lebih terbuka, dan kolaborasi akan melampaui sekat-sekat kaku struktural.

Persaingan yang sehat di atas panggung ini akan berujung pada penantian panjang yang membahagiakan. Para pemenang juara satu hingga lima, serta harapan satu hingga lima tidak akan diumumkan pada hari itu juga, melainkan akan dinobatkan pada puncak peringatan Hari Keistimewaan DIY tanggal 12 September 2026.

Pada akhirnya, seperti yang disampaikan Dian Lakshmi P, setiap kontingen yang telah merelakan waktu dan tenaganya untuk berlatih adalah pemenang sejati. Mereka menang atas keegoisan, menang atas keletihan, dan menang dalam merajut harmoni demi melayani Daerah Istimewa Yogyakarta dengan hati yang utuh.(Hasni G)

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta