by ifid|| 05 September 2026 || 309 kali
Di atas kanvas, 100 peserta yang berasal dari 5 Kabupaten/Kota sibuk menerjemahkan ide ke dalam sebuah karya dengan tema: Lingkungan: Aku, Dia, dan Mereka. Ada yang menggambar bunga, lingkungan, hingga kebakaran hutan. Setiap karya membawa cerita yang berbeda, tetapi seluruhnya bertemu dalam satu ruang: Lomba Lukis Kyoto-DIY.
Bagi sebagian peserta, lomba ini bukan pengalaman pertama. Ada yang telah mengikutinya sejak kategori sekolah dasar dan kembali mencoba di jenjang berikutnya. Ada pula yang baru pertama kali berhadapan dengan kompetisi tersebut. Namun, bagi keduanya, kanvas menjadi ruang untuk menyampaikan sesuatu yang mungkin sulit diungkapkan hanya dengan kata-kata.
Di balik kompetisi tersebut, Lomba Lukis Kyoto-DIY juga menghadirkan perjumpaan antara dua wilayah dengan latar budaya yang berbeda. Kyoto dan Yogyakarta sama-sama memiliki akar tradisi yang kuat, tetapi tumbuh dengan pengalaman sosial dan lingkungan yang berbeda.
Dona, salah satu juri, lomba ini dapat menjadi sarana lintas budaya yang efektif bagi generasi muda untuk melihat perkembangan seni di Kyoto dan Yogyakarta sekaligus memahami bagaimana lingkungan sosial mempengaruhi cara anak-anak berkarya.
“Sepertinya tiap daerah ada auranya sendiri jadi misal anak dari Jogja banyak merekam kebudayaan dari Jogja seperti Tugu dan penari karena mungkin mereka menyaksikan kehidupan mereka sehari-hari. Di Jepang juga, misal kehidupan laut yang lebih kental jadi banyak obyek laut yang ditangkap,” tuturnya.
Anak-anak tidak selalu membutuhkan penjelasan panjang untuk menggambarkan tempat asal mereka. Apa yang mereka lihat setiap hari perlahan masuk ke dalam ingatan dan kemudian muncul kembali melalui karya.
Karena itu, ketika estetika tradisional Yogyakarta berdialog dengan nilai artistik Jepang, perjumpaan budaya tidak selalu harus hadir melalui sesuatu yang rumit. Ia dapat muncul melalui cara anak-anak memilih objek, warna, suasana, dan cerita yang dekat dengan kehidupan mereka.
Hal tersebut terlihat dalam karya Febeprisca, peserta kategori SMP dari SMPN 1 Playen yang mewakili Kabupaten Gunungkidul.
Bagi Febeprisca, Lomba Lukis Kyoto-DIY bukanlah pengalaman pertama. Ia telah mengikuti lomba sejak kategori SD dan tahun ini menjadi kali kelima dirinya berpartisipasi. Febeprisca menggambar bunga wedelia, sepasang kaki yang menapak, dan pabrik. Sekilas, objek-objek tersebut tampak sederhana. Namun, di baliknya terdapat pesan mengenai lingkungan. Di tengah kepulan asap pabrik dan kerusakan lingkungan, bunga wedelia dipilih sebagai simbol harapan. Bunga tersebut dikenal mampu tumbuh di berbagai kondisi sehingga bagi Febeprisca, ia menjadi gambaran tentang kemampuan alam untuk bertahan. Melalui satu kanvas, persoalan pembangunan industri, kerusakan lingkungan, sekaligus harapan terhadap keberlanjutan alam dipertemukan.
Bayu, peserta Kategori SMA dari SMK N 3 Kasihan dalam kanvasnya membawa persoalan yang tidak ringan: kebakaran hutan dan lahan, krisis alam, serta maraknya pembangunan industri. Pilihan tersebut menunjukkan bagaimana isu lingkungan dapat diterjemahkan melalui pengalaman personal. Hutan tidak hanya dilihat sebagai persoalan ekologis, tetapi juga sebagai ruang hidup bagi makhluk lain yang terdampak ketika kerusakan terjadi.
“Saya melukis tentang kebakaran hutan dan lahan di mana saat ini sedang terjadi krisis alam dan maraknya pembangunan industri. Lukisan ini berfokus menangkap sosok orang utan di tengah lautan api,” ujarnya.
Selama melukis, ia juga mengaku sempat kebingungan menentukan konsep hingga harus mengulang proses menggambar. Dari pengalaman tersebut, ia belajar bahwa persiapan menjadi bagian penting dalam menghasilkan karya.
Pengalaman pertama tersebut sekaligus membuatnya memiliki beberapa masukan untuk penyelenggaraan berikutnya. Salah satunya berkaitan dengan ketebalan kertas yang menurutnya berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia berharap panitia dapat mengecek kembali material yang digunakan atau menyediakan alas agar peserta lebih nyaman selama menggambar.
Bagi Bu Dona, pengalaman menggambar tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan sebuah karya. Aktivitas seni rupa juga menjadi ruang untuk melatih kepekaan anak terhadap lingkungan di sekitarnya.
“Menggambar itu sebagai aktivitas di luar sekolah karena memang membentuk kepekaan warna, menangkap suatu momen yang mungkin susah apabila tidak intens dengan suatu karya,” jelasnya.
Ketika seseorang terbiasa menggambar, ia juga terbiasa mengamati. Sesuatu yang sebelumnya mungkin terlihat biasa dapat menjadi menarik ketika diperhatikan lebih dekat.
Anak belajar mengenali warna, bentuk, cahaya, maupun suasana. Dari proses tersebut, muncul kepekaan terhadap hal-hal kecil yang ada di sekelilingnya.
Harapan terhadap seni yang berkelanjutan datang dari Fira, salah satu wali pendamping peserta kategori TK yang mewakili Kota Yogyakarta, telah beberapa kali mengikuti kegiatan serupa bersama anaknya. Jika sebelumnya anak sulungnya pernah menjadi perwakilan kota, kali ini giliran Almahira yang masuk ke babak final.
Menurut Fira, terdapat perubahan dalam penyelenggaraan lomba dari tahun-tahun sebelumnya. Ia melihat pelaksanaan kali ini lebih tertata dan lebih disiplin.
Untuk persiapan sendiri, Almahira tidak mendapatkan latihan khusus. Ia menggambar secara otodidak dan memilih sendiri apa yang ingin dituangkan ke dalam kanvas.
“Saya tanya dulu sama anaknya, kamu mau gambar apa kalau temanya seperti ini,” cerita Fira.
Pilihan tersebut menunjukkan bahwa bagi anak usia dini, proses berkarya dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana: memberikan ruang kepada mereka untuk menentukan apa yang ingin mereka gambar.
Perjumpaan melalui kanvas tersebut kemudian ditutup dengan terpilihnya para peserta terbaik dari empat kategori. Dari ratusan goresan yang hadir, karya-karya peserta dinilai berdasarkan kemampuan menerjemahkan tema “Lingkungan: Aku, Dia, dan Mereka” ke dalam gagasan dan visual yang kuat.
Pada kategori TK, Juara 1 diraih Afiyah Nur Nafisah Azzahra dari TK ABA Margokaton 2, Sleman. Posisi Juara 2 diraih Azalea Nabila Khansa dari TK Tunas Harapan 1, Sleman, sementara Olivia Shirlee Melody dari TK Pertiwi Ekokapati, Kulon Progo, meraih Juara 3.
Sementara itu, kategori SD, Shaquilla Sakina Aisya Putri dari SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta, Kota Yogyakarta, menjadi Juara 1. Hoyan Sofiyah El-Riyad dari SD NU-Sleman, Gunungkidul, menempati Juara 2, disusul Quinesa Shakeela Maheswari dari SDN 1 Srandakan, Bantul, sebagai Juara 3.
Di sisi lain, kategori SMP menempatkan Jauza Naura Rateh dari SMPN 16 Yogyakarta sebagai Juara 1. Yuena Zaskia Rahmadani dari SMPN 2 Karangmojo, Gunungkidul, meraih Juara 2, sedangkan Daffa Putra Ar-Rasyid dari SMP 1 Depok, Sleman, menjadi Juara 3.
Untuk kategori SMA/SMK, Juara 1 diraih Cleo Evelyn Ramadhani dari SMAN 1 Sleman. Alysha Salma Putri dari SMAN 7 Yogyakarta meraih Juara 2, sementara Monica Luciana Benedicta dari SMA 2 Bantul memperoleh Juara 3.
Selain para juara, 18 peserta juga ditetapkan sebagai nominasi terbaik. Mereka berasal dari berbagai wilayah di DIY, mulai dari Gunungkidul, Sleman, Bantul, Kulon Progo, hingga Kota Yogyakarta. Keberagaman asal peserta kembali menunjukkan bahwa ruang seni dapat mempertemukan pengalaman yang berbeda dalam satu tema yang sama.
Pada akhirnya, setiap karya yang hadir menjadi bagian dari cerita tentang bagaimana generasi muda membaca lingkungan, mengenali ruang hidupnya, dan menerjemahkannya melalui bahasa visual. Di antara warna, garis, dan imajinasi yang berbeda, persahabatan DIY-Kyoto menemukan cara sederhananya untuk terus tumbuh melalui karya yang lahir dari cara anak-anak sebagai seniman muda melihat dunia. (keisha/ifit)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...