by ifid|| 08 September 2026 || 37 kali
Sleman Sembada — Kalau kita ngomongin kebudayaan, jatuhnya bukan cuma soal artefak debuan di museum atau sekadar barang pajangan yang cuma bisa dilihat dari jauh. Budaya itu movement. Dia organik, terus gerak, dan jadi obrolan yang nggak pernah putus dari zaman baheula sampai hari ini. Nah, awareness kayak gini nih yang lagi kerasa banget di- push sama temen-temen penyelenggara Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026.
Di bawah ademnya langit September, Sleman ngasih semacam panggilan buat kita semua. Ini bukan sekadar undangan buat nangkring, jajan, terus tepuk tangan di depan panggung pementasan. Lebih dari itu, ini ajakan buat deep talk sama kota kita sendiri: mari kita baca lagi Jogja.
Bakal digelar tanggal 13 sampai 19 September 2026 di Lapangan Pemda Sleman, FKY tahun ini bawa payung besar tema "Bahasa" dengan tajuk yang cukup puitis dan ngajak mikir: "AKSARA". Buat anak skena dan pekerja seni, tajuk ini jelas bukan cuma ganti nama event tahunan biar kelihatan fresh di poster. "Aksara" di sini jadi tools atau cara kita merespons realitas.
Vibe kebaruan ini udah kerasa banget pas Press Conference FKY 2026 di Aula Unit 1 Pemda Sleman, Selasa (8/9) lalu. Di depan temen-temen media, seniman, dan ekosistem kreatif, visinya dipaparin dengan clear. FKY 2026 lagi shifting dari yang tadinya cuma sekadar etalase tontonan, sekarang mau digeser jadi semacam laboratorium buat srawung (perjumpaan) warga dan ekosistemnya.
Udah jadi rahasia umum kalau kadang festival budaya itu gampang banget kejebak di rutinitas selebrasi doang. Orang dateng, nonton tari atau gigs musik, foto-foto buat story, jajan, terus pulang. Besoknya lupa. Tapi, Bu Dian Lakshmi Pratiwi selaku Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, bawa narasi yang cukup nge- break kebiasaan lama ini.
Kata Bu Dian, konsep FKY sekarang ini adalah inovasi yang lumayan radikal. FKY nolak kalau cuma dijadiin 'ruang pamer' atau sekadar event hiburan akhir pekan. Festival ini ambil porsi yang lebih esensial: jadi pemantik buat ngaktifin semua simpul ekosistem kebudayaan di Jogja.
“Yang berfestival itu adalah ekosistem kebudayaannya. Bukan cuma pelaku seni atau objek kebudayaan, tapi masyarakat sebagai pemilik kebudayaan itu yang jadi bagian dari festival,” tegas Bu Dian.
Ini statement yang asyik banget. Artinya, posisi warga nggak lagi cuma jadi konsumen pasif atau audience yang berdiri di luar pagar pembatas. Warga diakui sebagai empunya kebudayaan itu sendiri. FKY ini kayak alun-alun tak kasat mata; tempat seniman, komunitas, pemerintah, dan warga biasa bisa nge-blend, nongkrong bareng, dan bikin wacana baru.
Di titik inilah, kata "Aksara" dapat porsi makna yang lebih dalam. Aksara di sini nggak dimaknai secara harfiah sekadar deretan huruf Hanacaraka. Aksara dipinjam buat jadi metafora, sebuah cara pandang buat "ngebaca" culture kita hari ini.
“Kita bakal ngebaca lagi kebudayaan kita saat ini. Kita ini siapa, tujuan kita mau ke mana, nilai-nilai apa yang perlu kita warisi, mana yang perlu dikuatkan lagi, dan mana yang mungkin perlu didialogkan lagi,” kata Bu Dian. Ini pertanyaan eksistensial yang butuh direspons sama kita semua lewat laku sehari-hari, bukan cuma di atas kertas kuratorial.
Sebuah movement kebudayaan yang sehat tuh tahu betul di mana mereka menaruh indikator kesuksesannya. Kalau selama ini event sering banget ngukur success rate dari seberapa pecah crowd-nya, seberapa panjang antrian parkirnya, atau seberapa gede angka exposure di laporan statistik, FKY 2026 memilih jalan yang lebih organik dan esensial.
Bu Dian nge- highlight kalau golnya FKY ke depan nggak bisa cuma disandarin sama angka-angka statistik. Traffic pengunjung yang membludak atau panggung megah itu hitungannya cuma bonus. Goals utamanya bukan di situ.
Terus, apa parameter suksesnya? Yaitu ketika FKY bisa ninggalin legacy berupa ruang-ruang diskusi di tengah masyarakat. Sukses itu kalau habis festival beres, orang-orang masih terus ngebahas, merespons, dan ngehidupin kultur mereka di warung kopi, di tongkrongan, atau di ruang-ruang alternatif, jauh setelah tenda FKY dibongkar.
Approach kayak gini ngembaliin kebudayaan sebagai kata kerja (laku), bukan cuma kata benda (objek). Budaya itu on-going process. Kalau abis FKY warga Sleman, Bantul, Gunungkidul, Kulonprogo, dan Kota Jogja jadi makin kritis ngerawat tradisinya, peduli sama lingkungan dan ekologinya, ya di situlah FKY bener-bener "pecah" dalam arti yang sesungguhnya.
Masuk tahun keempat dari roadmap tematiknya, FKY makin asyik dengan gaya nomadennya. Setelah tahun lalu sukses bikin pergerakan di Gunungkidul, sekarang giliran Kabupaten Sleman yang jadi host-nya.
Mas Paksi Raras Alit, Ketua Organizing Committee (OC) FKY 2026, ngasih bocoran soal format keterlibatan tahun ini yang lumayan beda. Kalau biasanya festival lebih fokus nge- highlight tuan rumahnya aja, sekarang durasinya dipanjangin jadi seminggu (13-19 September) dan konsepnya full peleburan.
Selama tujuh hari itu, ruang apresiasinya dibagi rata. Tiap hari bakal ada porsi khusus buat nge- showcase masing-masing kabupaten/kota di DIY buat unjuk gigi. Tapi, buat opening dan closing, itu bakal jadi wadah komunal tempat semua elemen kultur se-DIY nyampur jadi satu.
“Sekarang, kita melebur jadi satu FKY se-DIY. Jadi ini kita semua yang punya gawe,” tegas Mas Paksi.
Frasa 'punya gawe' (punya hajat) ini kental banget spirit sengkuyung-nya (gotong royong). Udah nggak zaman lagi antar-wilayah pamer ego sektoral. Sekarang eranya kolaborasi lintas skala; gimana setiap entitas ngasih output terbaiknya buat ngebangun satu ekosistem kebudayaan Jogja yang solid.
Nah, dari sisi artistik, ada sentuhan yang nggak kalah nyeni dari Mas Anang Saptoto, selaku Direktur Artistik dan Kurator FKY 2026. Doi bawa konsep "seni terapan". Jadi, karya seni di FKY tahun ini tuh bukan tipe fine art yang dikasih tulisan 'do not touch' ala white cube gallery. Karyanya beneran merespons ruang dan punya fungsi praktis.
Kerja kuratorialnya dibagi dua line-up: infrastruktur dan kolaborator penampil. Mas Anang cerita, semua elemen visual dan fisik di Lapangan Pemda Sleman digarap langsung sama craftsmanship seniman lokal.
Coba bayangin, mulai dari gate masuk, site system (penanda arah), sampe lampion jalan, semuanya adalah karya seni instalasi. Lampionnya pun di- develop dari daur ulang plastik, hasil collab bareng komunitas pengelola sampah. Terus ada instalasi bambu yang megah buat nyambut tamu, sampe arsitektur pasar yang di- design khusus sama temen-temen pegiat tanah liat.
Estetikanya dapet, fungsinya juga jalan. Malah, ada juga puluhan ilustrasi bahan pangan lokal karya mahasiswa DIY, plus mapping partisipatif bareng komunitas lingkungan soal komoditas lokal se-DIY. Ini seni yang bener-bener turun ke bumi, ngerespons isu ketahanan pangan dan ekologi lokal.
“Buat kolaborator penampil, kita pilih 5 seniman muda. Kalau yang infrastruktur tadi berangkat dari kebutuhan venue, nah kalau 5 seniman ini dipilih karena mereka bisa merespons tema wilayah yang ada di FKY,” jelas Mas Anang. Semuanya terkurasi, presisi, dan nggak ada yang sia-sia.
Sebuah movement gede biasanya butuh kick-off yang asyik. FKY 2026 memilih cara yang santai tapi sarat makna buat ngebuka rangkaian acaranya, bukan sekadar ketok palu atau pukul gong di dalam gedung.
Abis preskon di Lapangan Beran, Sleman, acaranya langsung dilanjutin sama TasakuRUN. Ini wordplay cerdas yang ngegabungin konsep Tasyakuran (bersyukur/berdoa) dan lari sore (run).
Prosesinya asyik banget dan penuh simbol-simbol kultural. Mas FJ Kunting, sebagai representasi ekosistem, nyerahin lima ubarampe (elemen simbolis) dari Dinas Kebudayaan Kabupaten/Kota ke Kepala Dinas Kebudayaan DIY. Prosesi sakral tapi dikemas nge- blend tanpa sekat birokrasi yang kaku.
Habis itu, lima ubarampe ini diarak keliling Lapangan Beran. Seniman, kurator, panitia, temen-temen media, sampe warga sekitar, lari-lari kecil bareng (jogging). Keringat yang keluar sore itu kayak ngasih statement kalau ekosistem ini hidup, mau bergerak, dan terus berdenyut.
Rangkaian TasakuRUN ini ditutup dengan doa bareng, dilanjut tradisi potong tumpeng, dan ditandai sama pemasangan bambu pertama di lokasi FKY. Bambu yang ditancep hari itu ibarat goresan aksara pertama dari narasi panjang yang bakal kita baca bareng-bareng di tanggal 13-19 September besok.
FKY 2026 udah mulai manasin mesinnya. Lewat "Bahasa" dan "Aksara", festival ini nggak cuma ngasih kita tontonan buat healing, tapi ngasih semacam cermin besar. Di depan cermin itu, kita diajak buat ngulik lagi roots kita, ngerespons kebudayaan kita sendiri, dan keep going merawat nyala api tradisi.
Sekarang, tinggal tugas kita buat merapat, srawung, dan ikut ngebaca wacananya. Gas!
(fit)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...