by ifid|| 08 September 2026 || 219 kali
Sebelum dibaca, komik lebih dulu mengajak mata untuk berbicara. Garis, warna, bentuk, dan karakter berpadu menjadi bahasa yang tak selalu membutuhkan suara untuk menyampaikan cerita. Hal tersebut menjadi salah satu cara untuk mempertemukan bahasa dan gambar dalam satu medium, yaitu komik.
Gagasan tersebut menjadi bagian dari Yogyakarta Komik Weeks yang diselenggarakan pada tanggal 8-17 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM dengan mengangkat tema “Merayakan Bahasa dan Gambar”. Melalui pameran yang mempertemukan karya para komikus muda dan seniman undangan, komik tidak sekadar ditempatkan sebagai rangkaian ilustrasi, tetapi sebagai medium yang memiliki caranya sendiri dalam menyampaikan pesan.
Sebanyak 30 karya dipamerkan dalam gelaran tersebut. Lima belas di antaranya merupakan karya alumni Kukuruyuk, sementara 15 lainnya berasal dari seniman undangan. Komposisi tersebut mempertemukan mereka yang sedang bertumbuh dengan seniman yang telah lebih dulu berkarya.
Bagi Yudha Sandi Wijayasakti, Koordinator Yogyakarta Komik Weeks, kesempatan untuk memamerkan karya dalam galeri dengan fasilitas yang memadai menjadi salah satu hal yang membuat gelaran tahun ini terasa istimewa.
“Kita senang sekali karena dipamerkan di galeri yang cukup presentable. Pencahayaannya cukup bagus dan kita juga memamerkan 30 karya,” ujarnya.
Bukan hanya soal jumlah karya yang dipajang, keberadaan komikus dari lintas generasi juga menjadi bagian penting dari pameran. Karya para junior dan senior ditempatkan dalam satu perhelatan, sehingga pengunjung dapat melihat beragam cara dalam mengolah komik sebagai medium bercerita.
Yudha berharap pertemuan tersebut dapat menjadi pijakan bagi para komikus muda untuk terus menghasilkan karya. Sebab, di antara nama-nama yang masih berada pada tahap awal perjalanan kreatif, selalu ada kemungkinan lahirnya karya yang kelak berpotensi untuk dikenal lebih luas.
“Harapannya dari Yogyakarta Komik Weeks ini karena banyak junior yang ikut juga semakin banyak komik-komik yang seru kedepannya,” lanjutnya.
Tak berhenti pada pameran, Yogyakarta Komik Weeks juga menyelenggarakan sejumlah program yang memperluas pertemuan antara komik, musik, pertunjukan, dan percakapan. Rangkaian tersebut diisi dengan Drama Komikal “Naruto Shippuden” yang dibawakan oleh Werewolf Cosproject, Melodi Komik yang mempertemukan seniman Bofag SGS, Reg Harris, dan Hendra Priyadhani dengan Rock DJ Athonk dan Deni Rahman, serta Komik Circle dan Coswalk.
Percakapan mengenai komik kemudian dihadirkan melalui dua sesi Komik Wicara. Sesi pertama mengangkat tema “Zine & Grafik Memoir” dengan Pras, Regedaily, dan Hendra Bhakti sebagai narasumber. Sementara sesi kedua mempertemukan Kiki Pea, Britto Wira Jati, dan Destanti Azelliaswati dalam membahas “ Musik, Jurnalistik & Komik”. Rangkaian acara Yogyakarta Komik Weeks pada akhirnya juga turut dimeriahkan oleh pembacaan komik yang dibacakan Nina Hayu, Kinan, Kana, dan Darrel. Hal ini menunjukkan bahwa komik tidak hanya menjadi sebuah cerita yang dibaca secara pasif. Lebih dari itu, komik mencoba untuk dihidupkan melalui cara kontemporer agar tidak menjadi seni yang eksklusif bagi beberapa kalangan saja.
Keberagaman tersebut menjadi bagian yang penting untuk terus dipelihara. Terlebih, keberadaan setiap talenta baru dalam pameran membuka kemungkinan bagi lahirnya karya-karya baru pada masa mendatang. Harapan terhadap regenerasi tersebut menjadi semakin relevan ketika Yogyakarta Komik Weeks telah berjalan selama satu dekade.
Kendati komik seringkali dipahami melalui susunan panel dan gambar yang membentuk sebuah cerita. Namun, dibalik bentuk tersebut, terdapat bahasa yang bekerja dengan caranya sendiri.
Nur Ikhwan Rahmanto, Sekretaris Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, melihat komik sebagai medium yang mempertemukan dua bentuk bahasa sekaligus melalui tulisan dan visual.
“Komik ini selain sekuen dari sebuah gambar, tetapi lebih jelas lagi itu dideskripsikan dalam bentuk bahasa. Walau kita tahu bahasa yang sifatnya lisan, tapi juga sebenarnya gambar itu kan juga bahasa,” tuturnya.
Di sinilah tema “Merayakan Bahasa dan Gambar” memperoleh maknanya. Kata-kata tidak berdiri sendiri, begitu pula gambar. Keduanya dapat saling melengkapi untuk membangun cerita, menyampaikan gagasan, atau bahkan menciptakan tafsir yang berbeda bagi setiap orang yang melihatnya.
Bagi Yogyakarta, perjalanan tersebut bukan sesuatu yang baru dimulai. Yogyakarta Komik Weeks telah berlangsung selama satu dekade. Sepuluh tahun menjadi waktu yang cukup panjang untuk melihat bagaimana ekosistem komik terus bertumbuh, termasuk munculnya talenta-talenta baru dari Daerah Istimewa Yogyakarta.
Nur Ikhwan Rahmanto berharap perjalanan tersebut tidak berhenti pada keberlangsungan acara, tetapi turut melahirkan komikus yang karyanya dapat diterima oleh masyarakat luas.
“Kita harapkan dari 10 tahun perjalanan Yogyakarta Komik Weeks itu sudah ada talenta khususnya dari Daerah Istimewa Yogyakarta yang bisa dalam tanda kutip diterima oleh masyarakat. Komik-komiknya itu diterima oleh masyarakat baik yang ada di seluruh Indonesia,” katanya.
Bagi pengunjung, pengalaman melihat pameran tidak berhenti pada membaca cerita dari satu panel ke panel berikutnya. Cara karya disajikan turut menentukan bagaimana cerita tersebut diterima. Ketika komik hadir dalam bentuk yang lebih beragam, pengunjung tidak hanya diajak untuk membaca, tetapi juga mengamati bentuk, memperhatikan detail, hingga berinteraksi secara langsung dengan karya.
Echa, salah satu pengunjung, melihat hal tersebut dari keberagaman medium yang digunakan para seniman. Ada karya yang sekilas tampak seperti lukisan, ada pula karya dengan bentuk timbul yang membuat komik terasa lebih dekat dengan pengalaman visual daripada sekadar bacaan.
“Karyanya bagus-bagus, kayak banyak yang unik dan ada yang interaktif juga. Mediumnya juga keren-keren. Ada yang kelihatan kayak lukisan, bahkan lukisan timbul juga,” ujarnya.
Ketertarikan itu bahkan membuat Echa membayangkan karya-karya yang dilihatnya bukan sekadar sesuatu yang selesai dinikmati di dalam galeri. Beberapa komik dalam bentuk fisik membuatnya tertarik untuk membawa pulang karya yang disukainya.
“Karena ini juga ada yang komik bentuk fisiknya aku jadi kayak tertarik, wah ini tuh bikin aku pengen beli,’” katanya.
Pengalaman tersebut kemudian berlanjut melalui Karakter Corner. Di bagian tersebut, pengunjung dapat menggambar dan menciptakan karakter versinya sendiri. Keberadaan Karakter Corner seketika mengubah peran pengunjung dan mengakibatkan batas antara pembuat dan penikmat komik menjadi lebih samar. Pengunjung yang semula datang untuk melihat karya mengambil alih pena dan kertas kosong untuk kemudian meneruskan cerita dengan versinya masing-masing.
Bagi Echa, bagian tersebut menjadi salah satu hal menarik dari pameran yang tidak hanya mengajak pengunjung untuk terlibat sebagai pembaca tetapi juga menciptakan karakternya secara mandiri.
“Ada Karakter Corner juga, itu menarik banget, kayak orang bisa gambar-gambar sendiri buat karyanya sendiri,” tuturnya.
Karakter Corner tidak hanya menjadi sarana interaktif bagi pengunjung untuk mencurahkan kreativitasnya, namun, ia juga turut menyajikan ruang apresiasi bagi sepuluh karya terpilih yang hadir menghiasi pameran meliputi @salsa.suka.gambar, @nadya.wo, @kyov_o, @kenhunteready, @rrdwkw, @satria & @rena, @j_namise, @verenzc.o0, @akbaralhafidz, dan @furqonabdurrahman.
Dengan begitu, Yogyakarta Komik Weeks tidak hanya menghadirkan pengalaman membaca dan melihat visual yang dibuat oleh komikus. Lebih dari itu, pengunjung turut diberi ruang untuk menyentuh, mengamati, dan menciptakan komik secara langsung.
Komik tidak hanya berbicara melalui cerita yang sudah selesai. Ia juga membuka kesempatan bagi siapa saja untuk ikut menciptakan cerita. Keberadaan para komikus muda juga menunjukkan bahwa perjalanan komik di Yogyakarta masih terus berlanjut. Mereka datang dengan gaya gambar, cara bercerita, serta gagasan yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut justru membuat komik tidak berhenti pada satu bentuk yang dianggap paling ideal.
Sepuluh tahun perjalanan Yogyakarta Komik Weeks memperlihatkan bahwa gambar dan bahasa dapat terus menemukan bentuk baru. Dari karya para seniman yang telah lebih dahulu berkarya, tangan-tangan komikus muda yang sedang mencari jalannya, hingga pengunjung yang mencoba menggambar karakternya sendiri, semuanya menunjukkan bahwa komik masih memiliki banyak cara untuk berbicara.
Barangkali, merayakan bahasa dan gambar bukan hanya tentang melihat bagaimana sebuah cerita dibuat. Lebih jauh, ia adalah tentang bagaimana setiap garis, kata, dan karakter dapat menemukan pembacanya lalu membuka kemungkinan bagi cerita berikutnya untuk lahir. Dengan begitu, komik tidak hanya selesai ketika sebuah karya dipajang di dinding. Ia dapat berlanjut ketika seseorang membacanya, membicarakannya, membelinya, atau bahkan mengambil pensil dan mulai menggambar. (keisha/ifit)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...