Aksara yang Bergerak, Kebudayaan Jogja yang Bercerita

by ifid|| 14 September 2026 || 228 kali

...

Jika “Aksara” adalah cara manusia untuk meninggalkan jejak, tubuh juga memiliki cara tersendiri untuk bercerita. Minggu sore, 13/9/2026, di Lapangan Beran, ratusan penari dari lima kabupaten dan kota di Daerah Istimewa Yogyakarta menerjemahkan cerita itu melalui gerak. Tidak ada kalimat yang perlu diucapkan untuk menunjukkan dari mana mereka berasal. Setiap gerakan membawa ingatan tentang tempat, tradisi, dan kebudayaan yang tumbuh di daerah masing-masing.

Melalui pembukaan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026 yang mengangkat tema “Tubuhku, Aksaraku”, ada ruang perjumpaan bagi ragam budaya yang hidup di lingkungan masyarakat. Gerak yang dibawa para penari tidak hanya menjadi bagian dari pertunjukan, tetapi juga menjadi cara untuk memperkenalkan kembali identitas dan kekayaan budaya yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pulung Jati Ronggo Murti, Pengarah Pertunjukan, mengungkapkan bagaimana pengkaryaan yang melibatkan 500 penari melalui proses panjang yang cukup kompleks. Di balik pertunjukan yang tampak menyatu di atas panggung, terdapat proses panjang untuk menjembatani perbedaan karakter, standar, dan pola kerja dari setiap tim. 

“Prosesnya sekitar dua setengah bulan dan tantangannya dari tim kreatif adalah bagaimana mengkonsep dan menjembatani karya ini agar bisa digarap dengan tim lain. Tantangan berikutnya adalah ketika latihan gabungan karena setiap daerah mulanya melakukan latihan secara parsial masing-masing selama satu setengah bulan dan ketemu di venue itu empat hari yang lalu sehingga cukup berat untuk mensinkronkan mereka bahkan ada perubahan instan yang dilakukan baik pola lantai dan dramatik pertunjukannya,” ucapnya. 

Bagi para penari yang terlibat, ruang tersebut bukan hanya menjadi tempat untuk menampilkan karya, tetapi juga ruang untuk mengalami langsung perjumpaan antarkebudayaan. Dewi Latifah, salah satu penari dari Pulung Dance Studio, mengaku bangga dapat menjadi bagian dari pertunjukan yang mempertemukan penari dari berbagai kabupaten dan kota di Yogyakarta. Baginya, FKY memberikan ruang yang cukup besar bagi seniman untuk berkarya sekaligus bertemu dengan masyarakat.

“Bukan hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang untuk saling berinteraksi dan mengenalkan kembali kekayaan budaya Yogyakarta,” ujarnya.

Perjumpaan itu juga terasa dalam proses di balik panggung. Para penari dari berbagai daerah harus menyatukan gerak, karakter, dan latar kebudayaan yang berbeda dalam satu pertunjukan. Pulung Jati Ronggo Murti, pengarah pertunjukan, menjelaskan bahwa tantangan tersebut justru menjadi bagian penting dari proses penciptaan Tubuhku, Aksaraku. Setiap daerah membawa kearifan lokal dan bahasa budayanya masing-masing, sementara tubuh menjadi medium untuk mempertemukan keberagaman tersebut. 

“Tubuh-tubuh mereka yang saling membaur dan saling mendukung untuk Jogja,” menjadi salah satu gagasan yang kemudian melandasi judul Tubuhku, Aksaraku. Melalui gerak yang tidak selalu menghadirkan bentuk budaya secara utuh, unsur-unsur otentik dari setiap daerah tetap dibawa ke dalam pertunjukan dan dipertemukan dengan pendekatan yang lebih kontemporer. 

Di tengah rangkaian pembukaan tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono X membacakan geguritan berjudul “Kena Ngapa Yogya?”. Geguritan itu mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak sekadar melihat Yogyakarta sebagai sebuah tempat, tetapi mendengarkan berbagai bahasa, mengenali manusia yang hidup di dalamnya, serta memahami keragaman yang membentuk wajah kota.

 

“tembung sinambung
 sambang sinambang
 karya kinarya,
 rakit rinakit, raket rumaket, rikat tirakat
 bangun binangun,
 srawung sinawung,
 sareng regeng sinengkuyung gayeng.”

 

Kata-kata tersebut menggambarkan Yogyakarta sebagai ruang yang dibangun melalui perjumpaan. Ada bahasa yang saling disambungkan, karya yang dikerjakan bersama, serta masyarakat yang saling menyokong. Geguritan itu kemudian menemukan bentuk lain ketika pengunjung bergerak dari panggung pertunjukan menuju ruang-ruang budaya yang lebih dekat dengan keseharian mereka.

 

Gemuruh Riuh Budaya dalam Pasar Rakyat

Di ruang pasar budaya, suasananya berubah. Jika panggung sebelumnya dipenuhi gerak para penari dan lantunan musik, di sini kebudayaan hadir melalui perjumpaan yang lebih sehari-hari. Pengunjung berjalan dari satu lapak ke lapak lain, melihat produk, mencicipi makanan, mengikuti aktivitas, sekaligus bertemu dengan orang-orang yang membawa cerita dari usaha dan komunitasnya masing-masing.

Pasar budaya menjadi salah satu bentuk ruang tematik dalam rangkaian FKY. Di dalamnya, unsur kebudayaan tidak berhenti sebagai sesuatu yang dipertontonkan, tetapi hadir melalui pangan, benda, praktik keseharian, bahasa, hingga tradisi yang dibawa oleh masyarakat. Bersama dengan program utama lain seperti pawai budaya dan Sapta Wara yang menghimpun pelaku UMKM, ruang-ruang tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan dapat terus hidup ketika berhubungan langsung dengan masyarakat.

Bagi Yuda dari Yabbiekayu yang berada di Desa Tembi, keterlibatannya sebagai pelaku usaha di FKY tahun ini menjadi pengalaman pertamanya. Ia melihat suasana festival sebagai ruang yang tidak hanya ramai oleh aktivitas jual beli, tetapi juga dipenuhi berbagai kreasi dan kegiatan lain.

“Untuk kesannya seru, ramai, dan banyak kreasi selain jual makanan ada banyak workshop,” ujarnya.

Bagi Yabbiekayu, keterlibatan di FKY juga memiliki hubungan dengan nilai yang mereka bawa dalam menjalankan usaha. Konsep seni dan budaya yang diusung FKY beririsan dengan upaya mereka untuk mengurangi penggunaan plastik dan menerapkan pengelolaan sampah dalam kegiatan usaha.

Ketika pengunjung membeli produk, misalnya, mereka tidak sekadar berhadapan dengan sebuah barang atau makanan. Ada cara lain yang coba diperkenalkan Yabbiekayu: bagaimana produk dikemas, bagaimana sampah dipilah, hingga bagaimana penggunaan plastik sekali pakai dapat dikurangi.

“FKY memberikan peluang bagi usaha seperti Yabbiekayu ini untuk mengenalkan apa sih yang sudah kita mulai dari awal, bagaimana kita mengolah sampah dan mengolah limbah plastik,” kata Yuda.

Bagi Yuda, ruang seperti FKY menjadi penting karena masih banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa persoalan sampah tidak berhenti ketika sesuatu dibuang. Kesadaran lingkungan justru perlu dibangun dari kebiasaan sehari-hari, termasuk dari cara sebuah usaha memilih bahan, bekerja sama dengan pemasok, hingga menyajikan produknya kepada konsumen.

Pasar dalam FKY tidak hanya menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli. Ia juga dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan nilai. Produk menjadi pintu masuk untuk membicarakan cara hidup, lingkungan, dan tanggung jawab terhadap ruang yang digunakan bersama.

Dari sudut pandang pengunjung, pasar budaya menjadi bagian dari pengalaman FKY yang membuat kebudayaan terasa lebih dekat. Amel, salah satu penonton, melihat kehadiran tenant makanan tradisional sebagai kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal kembali ragam kebudayaan yang mungkin semakin jarang ditemui dalam keseharian.

“Ya kita jadi bisa melihat kebudayaan-kebudayaan di Indonesia. Kita sebagai anak muda kan jarang ya ada acaranya seperti ini, terus juga ada tenant-tenant makanan tradisional jadi kita bisa lebih mengenal dan lebih melestarikan,” katanya.

Pengalaman menikmati festival juga tidak hanya datang dari apa yang berada di atas panggung. Bagi Vivin, kehadiran permainan tradisional seperti bakiak dan egrang, instalasi kreatif, hingga arsip foto masa lalu membuat FKY terasa sebagai ruang yang mempertemukan berbagai bentuk kebudayaan. Kedatangan Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam pembukaan juga memberikan kesan tersendiri baginya.

 

Kebudayaan yang Tidak Berhenti di Panggung 

Dari panggung tari hingga ruang pasar, FKY memperlihatkan bahwa kebudayaan memiliki banyak bahasa. Ia dapat hadir melalui tubuh penari, suara dalam geguritan, makanan yang disajikan, benda yang diproduksi, maupun praktik usaha yang berusaha menjaga lingkungan.

Barangkali, seperti yang disampaikan dalam geguritan “Kena Ngapa Yogya?”, pertanyaan tentang apa yang membuat Yogyakarta berbeda memang tidak selalu harus dijawab dengan satu kalimat. Ia justru dapat ditemukan melalui apa yang dilakukan bersama: bagaimana masyarakat bertemu, berkarya, saling mendukung, dan merawat apa yang mereka miliki.

Sebab kebudayaan tidak hanya berada di balik panggung maupun dalam ruang pertunjukan. Ia hidup ketika masyarakat terus menggunakannya, mengolahnya, mempertemukannya dengan pengalaman baru, dan membawanya ke dalam kehidupan sehari-hari.

Di situlah FKY menemukan maknanya yang tidak hanya sekadar merayakan kebudayaan yang telah ada, tetapi membuka ruang agar kebudayaan terus dibaca, dipertemukan, dan dihidupkan kembali oleh seluruh elemen  masyarakat. (keisha/ifit)

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta