by ifid|| 21 September 2026 || 230 kali
Aksara biasanya tinggal di atas kertas. Ia dibaca melalui susunan huruf, kata, dan kalimat. Namun, di Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026, aksara agaknya diminta untuk bergerak lebih jauh dan eksis melalui tubuh, karya seni, pasar, hingga benda-benda yang sehari-hari barangkali luput untuk diperhatikan.
Di penghujung Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY), Lapangan Beran masih menjadi medium lalu lalang bagi orang yang datang untuk sekedar menikmati suasana di Sabtu sore 19/9/2026. Pengunjung datang dan pergi, pertunjukan silih berganti, sementara deretan pelaku usaha tetap menawarkan barang dagangannya. Di antara keramaian itu, batok kelapa yang telah disulap menjadi tas, dompet, mangkuk, hingga gantungan kunci ikut mengambil tempat sebagai bagian dari cerita.
Haryanti, pemilik Yanti Batok Craft dari Sewon, Bantul, baru pertama kali membawa produknya ke FKY. Ia mengaku hanya berjualan pada hari penutupan. Namun, satu hari rupanya cukup untuk mempertemukannya dengan banyak pembeli.
“Bagus banget karena dalam satu hari ini saja kami sudah banyak yang laku,” ujarnya.
Bagi Haryanti, yang dijual bukan semata produk kerajinan. Ada cerita tentang limbah yang diolah kembali hingga memiliki nilai jual. Usahanya telah berjalan sejak 2002. Dari pameran di berbagai daerah seperti Bantul, Yogyakarta, Jakarta, Bali, Batam, Nusa Tenggara Timur, hingga Kalimantan, produknya kemudian menjangkau Malaysia dan bahkan Belanda.
Di FKY, ia menemukan pengalaman yang berbeda. Alih-alih meja dan rak seperti pameran pada umumnya, produk-produknya ditata menggunakan amben, sebuah dipan besar yang terbuat dari bahan dasar bambu. Bagi Haryanti, cara penyajian tersebut memberikan kesan yang lebih dekat dengan suasana masa lalu.
“Yang menjadi unik adalah penyajian dalam memperjualbelikan produk kan menggunakan amben ya dan ini menurut saya sangat eksklusif seperti tempo dulu,” katanya.
Pengunjung yang datang pun beragam. Dari anak-anak hingga orang tua, dari warga lokal sampai orang asing, mereka berhenti melihat kerajinan berbahan dasar batok kelapa. Harganya pun dibuat beragam, mulai dari Rp5.000 untuk gantungan kunci hingga Rp350.000 untuk tas.
Di titik itu, pasar tidak lagi sekadar menjadi tempat transaksi. Ia menjadi ruang pertemuan antara benda, pembuat, dan orang-orang yang sebelumnya mungkin tidak pernah bersinggungan.
Berbeda dengan Pasar Pangkon Tematik yang menjajakan produk kreatif dari berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta, Pasar Wignyan sebagai pasar ecer menyajikan adanya kolaborasi antara pertunjukan dan aktivitas pasar yang membuat batas antara keduanya terasa lebih tipis. Para talent tidak hanya berdiri sebagai penampil yang menunggu giliran, tetapi ikut membangun suasana di tengah riuh pengunjung yang berdatangan.
Yuda Wicaksono, salah satu talent Pasar Wignyan, menyebut keberadaan mereka sebagai bagian dari upaya membuat suasana semakin hidup. Di area tersebut, pengunjung dapat menemukan berbagai produk UMKM seperti jamu, bir pletok, gulali, garam, teh, dan produk lokal lainnya.
Bagi Yuda, konsep yang lebih cair membuatnya memiliki kesempatan untuk berekspresi dengan caranya sendiri. Meski tetap ada arahan dari ketua tim, batas tersebut tidak sepenuhnya menutup ruang improvisasi.
Ia dan para talent lainnya merupakan seniman tari. Karena itu, tubuh tetap menjadi bagian penting dalam cara mereka menghidupkan suasana pasar. Bukan pertunjukan yang berdiri sendiri, melainkan penampilan yang berbaur dengan aktivitas pengunjung.
Hari demi hari, suasananya pun berubah. Perwakilan dari Kabupaten Sleman, Kulon Progo, Gunungkidul, Bantul, dan Kota Yogyakarta mendapat giliran membawa pertunjukan masing-masing. Menurut Yuda, semakin mendekati penghujung festival, jumlah pengunjung justru semakin bertambah.
“Karena kita ini menjadi pemeriah, penyemangat, dan berbeda, hal itu membuat pengunjung kayak wow gitu. Ditambah mendekati ending FKY justru pengunjung yang datang semakin banyak,” katanya.
Dari pasar, perhatian kemudian berpindah kepada orang-orang yang datang sebagai penonton. Sebab, sebuah festival tidak hanya ditentukan oleh apa yang dipersiapkan di belakang layar, tetapi juga oleh apa yang akhirnya tertangkap oleh mereka yang menyaksikannya.
Cerita dari penghujung FKY tak hanya datang dari mereka yang tampil. Pengunjung yang hadir pun memiliki pengalaman dan kesan tersendiri selama menyaksikan rangkaian festival. Brenda, pengunjung asal Sleman, datang pada hari penutupan dimana ini bukan kali pertama dirinya mengenal FKY. Sebelumnya, ia pernah mengikuti festival tersebut ketika diselenggarakan di Kota Yogyakarta.
Kali ini, pameran seni menjadi salah satu hal yang paling menarik perhatiannya. Namun, bukan hanya karya seni yang membuatnya berhenti lebih lama. Permainan tradisional dan pojok baca “Ayo Maca” juga menjadi bagian yang ia nikmati.
Di antara keramaian festival, ia justru menemukan sesuatu yang sederhana: orang-orang membaca buku. Menurutnya, kehadiran pojok baca menunjukkan bahwa minat membaca masih dapat ditemukan di tengah sebuah acara yang dipenuhi pertunjukan dan hiburan.
Pengalaman itu kemudian membawanya pada tema besar FKY tahun ini, “Aksara”. Brenda merasa gagasan tentang aksara memang dapat ditemukan dalam sejumlah program.
“Kalau kita lihat dari pameran seni dan talkshow yang ada, pojok baca, dan permainan menurut aku udah bisa dibilang aksaranya dapet,” ujarnya.
Namun, ada bagian yang menurutnya belum sepenuhnya terjawab. Ia masih bertanya-tanya mengenai makna “Aksara” dalam cakupan yang lebih luas. Baginya, beberapa bentuk program sudah memperlihatkan gagasan tersebut, tetapi hubungan keseluruhannya masih membutuhkan tafsir lebih jauh.
Pertanyaan itu menjadi menarik karena justru muncul dari pengalaman langsung seorang pengunjung. Ketika sebuah tema dilempar kepada publik, pemaknaannya tidak selalu berakhir pada apa yang dirumuskan penyelenggara. Kadang, sebuah gagasan justru menemukan bentuk lain setelah bertemu dengan orang yang melihatnya.
Di balik apa yang terlihat pengunjung, terdapat keputusan-keputusan kuratorial yang menentukan bagaimana FKY tahun ini dibentuk.
Anang Saptoto selaku Organizing Committee yang telah beberapa kali terlibat dalam penyelenggaraan FKY mengingat perubahan festival dari tahun ke tahun. Ia pernah terlibat dalam perancangan FKY sejak 2003 dan menyaksikan bagaimana bentuk festival terus bergeser mengikuti zamannya.
Menurutnya, perubahan itu dapat terlihat dari berbagai kebaruan yang pernah muncul, mulai dari indie rock hingga keroncong chaos. Namun, untuk tahun ini, ia tidak menempatkan “kebaruan” sebagai tujuan utama.
Yang dicari justru adalah fungsi.
“Dipilihlah satu konsep kuratorial adalah seni terapan, seni berdampak dan kolaborasi. Dari situ kemudian muncul gagasan dari kebutuhan yang bisa dieksplorasi dan bersinggungan dengan isu kontemporer. Misal isu sampah, festival sendiri menimbulkan sampah, saya kira harus dipegang bahwa FKY tidak menimbulkan sampah, secara fungsi dapat me-reduce, reuse, dan recycle sampah,” ucapnya.
Dengan waktu dan dana yang terbatas, penyelenggara mempertimbangkan apa yang dianggap memiliki urgensi untuk dihadirkan. Dari pertimbangan tersebut kemudian dipilih pendekatan seni terapan, seni berdampak, dan kolaborasi.
Pameran tidak lagi diletakkan sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Karya-karya justru dilebur ke dalam keseluruhan festival agar dapat bersinggungan dengan persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dari keputusan tersebut, berbagai benda yang ditemui pengunjung memperoleh cerita di balik keberadaannya. Di sinilah pilihan artistik FKY bertemu dengan persoalan yang lebih sehari-hari tentang bagaimana sesuatu digunakan, dari mana ia berasal, dan apa yang terjadi setelah fungsi awalnya berakhir.
Brenda melihat adanya perkembangan FKY memperhatikan representasi kabupaten dan kota di DIY lebih terasa melalui pertunjukan yang bergantian. Harapan Yuda berbeda. Ia ingin FKY berikutnya hadir dengan kemeriahan yang lebih besar. Sementara Haryanti berharap dapat kembali membawa kerajinan batok kelapanya di FKY tahun depan .
Tiga orang, tiga pengalaman, dan tiga harapan yang berbeda.
Mungkin memang begitu cara sebuah festival meninggalkan kesan. Tidak semua orang pulang membawa pemahaman yang sama. Ada yang mengingat pertunjukan, ada yang membawa barang belanjaan, ada yang terkesan dengan permainan tradisional, dan ada yang justru pulang dengan sebuah pertanyaan.
Tema “Aksara” pun tidak harus berakhir pada satu pengertian.
Aksara dapat ditemukan dalam pilihan seorang pengrajin untuk mengolah limbah. Ia dapat muncul dalam keputusan seniman menggunakan material bekas. Ia dapat terdengar melalui pertunjukan yang dibawa dari berbagai daerah. Bahkan, ia dapat hadir dalam pertanyaan seorang pengunjung yang masih mencoba memahami apa yang dimaksud oleh festival. Esok hari, Lapangan Beran mungkin kembali seperti semula. Lapak akan dibongkar, instalasi dipindahkan, pertunjukan berhenti, dan keramaian perlahan menghilang.
Tetapi sesuatu mungkin masih tersisa.
Bukan hanya foto, barang belanjaan, atau ingatan tentang pertunjukan. Melainkan cara baru melihat benda-benda di sekitar, mendengar cerita dari orang lain, atau mempertanyakan kembali apa yang selama ini dianggap biasa. Sebab setelah aksara selesai ditulis, pembacaan tidak selalu berakhir melainkan muncul sebagai fragmen-fragmen memori setiap pihak yang terlibat didalamnya. (keisha/ifit)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...