TKTB XXV Yogyakarta: Episentrum Masa Depan Kebudayaan Indonesia.

by ifid|| 29 September 2026 || 36 kali

...

Yogyakarta, di bawah pendar temaram langit malam tanggal 28 September 2026, kembali mengukuhkan kodratnya sebagai episentrum peradaban Nusantara. Di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY), sebuah perhelatan agung resmi dibuka. Bukan sekadar seremonial tahunan, Temu Karya Taman Budaya (TKTB) se-Indonesia ke-25 menjelma menjadi ruang dialektika yang mempertemukan para penjaga napas kebudayaan dari penjuru republik. Mengusung narasi filosofis “Gyaning Rasa Mantraning Nusantara, Srawung Karya, Gulawenthah Budaya”, malam itu Yogyakarta tidak hanya menjadi tuan rumah bagi sebuah acara, melainkan rahim yang kembali menetaskan gagasan-gagasan besar tentang masa depan kebudayaan Indonesia.

Dentuman harmoni yang membelah keheningan malam membuka mata publik bahwa kebudayaan adalah denyut nadi yang terus hidup. TKTB XXV, yang dijadwalkan berlangsung hingga 1 Oktober 2026, bukan sekadar etalase pertunjukan seni masa lalu, melainkan sebuah laboratorium raksasa di mana masa silam bertatap muka dengan masa depan, merajut keberagaman menjadi satu kekuatan kohesif yang tak terputus.

Simfoni Keberagaman dalam Orkestrasi Nusantara

Malam pembukaan tersebut tervisualisasi secara paripurna melalui Defile Adat Nusantara. Kontingen dari 17 Taman Budaya mulai dari Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Papua, Bali, hingga Daerah Istimewa Yogyakarta berjalan membawa identitas kultural masing-masing. Langkah mereka di atas panggung bukan sekadar parade pakaian adat, melainkan representasi visual dari ribuan bahasa, etnis, dan tradisi yang menyusun mozaik Indonesia.

Tari Ayun yang memukau hadir sebagai simbol penghormatan pembuka, mengantarkan hadirin pada sebuah pengalaman musikal yang transenden. Panggung Concert Hall TBY dihidupkan oleh simfoni megah dari 60 musisi orkestra di bawah arahan konduktor maestro Oni Krisnerwinto. Pertunjukan ini menembus sekat-sekat genre dan zaman. Mereka mengiringi nama-nama besar dari berbagai spektrum musik seperti Ndarboy Genk, Princess Alicia, Tyok Satrio, Marcella Dee, serta paduan suara Art for Children (AFC) TBY.

Membawakan tidak kurang dari 17 lagu daerah dan lokal, orkestra ini menjadi metafora yang sangat akurat bagi semangat Srawung Karya (bergaul melalui karya). Pertemuan instrumen klasik Barat, alat musik tradisional, dan vokal kontemporer membuktikan bahwa tradisi dapat dan harus memperoleh kemungkinan baru melalui adaptasi zaman. Ia menunjukkan wajah kebudayaan Indonesia hari ini: mengakar kuat pada bumi pertiwi, namun menjulang tinggi merangkul modernitas.

Taman Budaya Sebagai Infrastruktur Peradaban

Di hadapan delegasi dari seluruh penjuru negeri, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Dr. Fadli Zon, melontarkan gagasan visioner yang mendekonstruksi cara pandang usang terhadap institusi kebudayaan. Kehadirannya malam itu bukan sekadar memberikan sambutan protokoler, melainkan meletakkan landasan paradigma baru bagi seluruh pemangku kepentingan kebudayaan nasional.

“Taman Budaya tidak boleh lagi dipandang sekadar sebagai gedung pertunjukan atau tempat penyelenggaraan seremonial,” tegas Fadli Zon. Kalimat ini menjadi titik tolak dari redefinisi peran institusi seni di Indonesia. Ia memaparkan bahwa Taman Budaya harus bertransformasi wujud menjadi infrastruktur kebudayaan yang hidup.

Bagi Menteri Kebudayaan, Taman Budaya memiliki empat posisi strategis yang sangat krusial dalam arsitektur berbangsa dan bernegara:

  1. Daya Ikat Kohesi Bangsa (Binding Power): Di tengah polarisasi dan tantangan global, kebudayaan adalah perekat paling murni yang menyatukan perbedaan tanpa paksaan.
  2. Sumber Jati Diri (Source of Identity): Menjadi benteng pertahanan dari gempuran asimilasi budaya luar yang tidak sejalan dengan karakter bangsa.
  3. Penggerak Pertumbuhan (Engine of Growth): Kebudayaan bukan lagi sekadar pusat biaya (cost center), melainkan investasi jangka panjang yang mampu menggerakkan ekonomi sirkular dan memberikan dampak kesejahteraan.
  4. Sarana Diplomasi Global (Soft Power): Ekspresi budaya yang dikurasi dengan baik adalah instrumen diplomasi paling efektif di panggung internasional.

“Kehadiran Taman Budaya ini menjadi sangat penting di dalam pemajuan kebudayaan, sesuai dengan amanat imperatif konstitusi Pasal 32 Ayat (1) UUD 1945. Suatu legacy yang hadir hampir di setiap daerah, semacam cultural center yang sangat penting,” paparnya.

Lebih jauh, ia mengarahkan agar Taman Budaya mengambil peran sebagai pusat produksi pengetahuan dan manajemen talenta nasional. Taman Budaya harus menjadi ruang inkubasi di mana seniman, komunitas, akademisi, masyarakat, dan pemerintah berjejaring. Melalui pertukaran karya, program residensi, kurasi lintas daerah, serta adopsi praktik-praktik baik (best practices), ekosistem kebudayaan nasional akan tumbuh menjadi kekuatan organik yang tak terbendung.

Kebudayaan Sebagai Kata Kerja

Gagasan tentang transformasi institusional tersebut menemukan ruh filosofisnya dalam pidato Gubernur DIY yang dibacakan oleh Wakil Gubernur, KGPAA Paku Alam X. Dengan gaya bahasa yang puitis namun sarat makna, Sri Paduka menyoroti tantangan eksistensial kebudayaan hari ini: Bagaimana kebudayaan mampu menghidupi para pelakunya?

Sri Paduka menjabarkan bahwa keberlanjutan sebuah kebudayaan tidak hanya bergantung pada pelestariannya di dalam museum atau literatur kuno. Ia harus memiliki daya hidup nyata yang menyentuh urat nadi perekonomian masyarakat. Menghidupi senimannya, menjaga keberlanjutan maestro dan pewarisnya, membuka pintu seluas-luasnya bagi kreator muda, menggerakkan usaha rakyat kecil, melahirkan lapangan pekerjaan, hingga pada titik tertingginya: meninggikan martabat manusia yang menjaga nyala kebudayaan itu sendiri.

“Akar memberi identitas. Kreativitas menumbuhkan cabang. Kesejahteraan adalah buah yang semestinya dapat dipetik bersama,” ucap Sri Paduka. Kalimat ini merupakan manifestasi dari konsep ekonomi kreatif sebagai jembatan nilai. Kekayaan budaya harus didorong untuk mendapatkan nilai tambah ekonomi (economic value added), tanpa sedikit pun melunturkan identitas dan kesakralan yang menjadi ruh utamanya. Di sanalah ingatan peradaban bertemu dengan imajinasi masa depan; tradisi memperoleh tubuh baru melalui sentuhan teknologi; dan karya-karya leluhur menemukan rute menuju masa depannya.

Tema “Gyaning Rasa Mantraning Nusantara, Srawung Karya, Gulawenthah Budaya” kemudian dibedah sebagai pijakan epistemologis perhelatan ini. Srawung berarti mempertemukan, menciptakan dialog yang setara antar-budaya. Gulawenthah berarti mematangkan, merawat, dan mendidik. Sementara Karya adalah proses memberi tubuh wujud fisik kepada gagasan-gagasan abstrak.

Dari pembedahan tema tersebut, lahir satu kesimpulan tajam yang disampaikan oleh Paku Alam X: "Maka sesungguhnya, kebudayaan bukanlah kata benda. Kebudayaan adalah kata kerja."

Metafora sungai mengalir pun digunakan untuk menggambarkan posisi kebudayaan. Ia adalah sungai panjang ingatan peradaban yang airnya memancar dari masa silam, mengalir membawa lumpur pengetahuan lintas generasi, mengarungi topografi zaman yang terus berubah, hingga akhirnya mencari muara di lautan masa depan. Merawat kebudayaan berarti memastikan kejernihan mata airnya tetap terjaga, sekaligus menata aliran sungainya agar tidak meluap merusak, melainkan mengairi ladang-ladang kehidupan hari ini.

Kolaborasi Lintas Sektor: Menerjemahkan Gagasan Menjadi Tindakan

Gagasan-gagasan luhur dari Menteri Kebudayaan dan Gubernur DIY tersebut diwujudkan secara konkret melalui kerangka kerja yang dilaporkan oleh Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi. Membacakan laporan penyelenggaraan mewakili Sekretaris Daerah DIY, Dian memaparkan bahwa TKTB XXV 2026 yang didanai melalui Dana Keistimewaan Tahun Anggaran 2026 ini bukan sekadar panggung seremonial tunggal, melainkan simpul dari berbagai agenda ekosistem yang terintegrasi.

Keberhasilan penyelenggaraan ini diakui sebagai buah manis dari kolaborasi lintas sektor yang masif merangkul pemerintah pusat dan daerah, seniman, budayawan, akademisi, komunitas kreatif, hingga mitra-mitra swasta dan publik. Sinergi ini ditujukan untuk membuktikan bahwa kebudayaan dapat dikelola secara profesional tanpa kehilangan muruahnya. Di hadapan para hadirin, dilakukan pula prosesi penyerahan plakat dan handbook bagi seluruh Kepala Taman Budaya se-Indonesia, yang dimaknai sebagai estafet komitmen dan tanggung jawab pelestarian secara kolektif.

Dian menjelaskan bahwa agenda TKTB XXV dirancang untuk menjawab tiga poin krusial dalam pemajuan kebudayaan: ruang produksi dan eksperimen, manajemen talenta, serta ekonomi budaya sirkular. Oleh karena itu, acara ini disokong oleh sejumlah side event strategis yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat, antara lain:

  • Forum Taman Budaya se-Indonesia: Ruang pertukaran pikiran, evaluasi, dan penyusunan strategi advokasi kebijakan kebudayaan di tingkat nasional.
  • Suluh Sumurup Art Festival: Sebuah pameran seni rupa inklusif yang melibatkan seniman difabel. Ini menjadi bukti sahih bahwa kebudayaan yang sehat adalah kebudayaan yang menyediakan ruang berekspresi bagi semua golongan tanpa terkecuali.
  • Pojok Kreatif Taman Budaya: Inkubator ekonomi yang berfokus pada pemberdayaan UMKM lokal dan penguatan ekonomi kreatif, memastikan perputaran modal nyata terjadi selama festival berlangsung.
  • Gelar Karawitan “Ndang Tak Gong” & Peringatan Hari Batik Nasional: Upaya untuk terus meregenerasi minat generasi muda khususnya anak-anak yang tergabung dalam Art for Children terhadap warisan kebudayaan tak benda Nusantara.

Agenda ditutup dengan Pagelaran Pentas Seni Utusan Taman Budaya dan penyerahan pataka kepada tuan rumah Temu Karya Taman Budaya XXVI Tahun 2027, memastikan bahwa nyala estafet ini akan terus dibawa berkeliling Nusantara, menyinari daerah demi daerah.

Yogyakarta: Tuan Rumah bagi Rindu dan Peradaban

Memasuki hari-hari pelaksanaannya, Taman Budaya Yogyakarta kembali mengukuhkan diri bukan hanya sebagai sebuah lokasi administratif, tetapi sebagai sebuah rumah jiwa. Kementerian Kebudayaan kini tengah menargetkan percepatan penetapan dan pelestarian ribuan Warisan Budaya Tak Benda dan cagar budaya secara lebih agresif. TKTB XXV di Yogyakarta ini menjadi momentum krusial, batu loncatan yang akan menentukan seberapa cepat dan kuat jaring kebudayaan nasional ini dapat dirajut kembali.

Melalui “Gyaning Rasa Mantraning Nusantara”, Yogyakarta seolah mengingatkan kembali kepada para delegasi dan seluruh rakyat Indonesia bahwa di tengah derasnya arus disrupsi global, satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan mengenali kembali rasa kita sendiri, melafalkan mantra luhur nenek moyang kita dalam laku karya modern. Ekonomi kreatif menyediakan jembatannya, Taman Budaya membangun infrastrukturnya, namun semangat manusianya-lah yang akan menjadi bahan bakarnya.

Pada akhirnya, TKTB XXV 2026 melahirkan kesepakatan yang mendaulat Taman Budaya sebagai garda terdepan penguatan Manajemen Talenta Nasional menuju Indonesia Emas. Harapannya, pilar komitmen ini akan terus tumbuh dan mengakar kuat. (fit)

Berita Terpopuler


...
Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Air

by museum || 04 Juli 2023

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...


...
Batik Kawung

by museum || 02 Juni 2022

Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...


...
Pahlawan Perintis Pendidikan Perempuan Jawa Barat Raden Dewi Sartika (1884-1947)

by museum || 24 Mei 2022

Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...


...
Limbah Industri: Jenis, Bahaya dan Pengelolaan Limbah

by museum || 18 September 2023

Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...


...
Laksamana Malahayati Perempuan Pejuang yang berasal dari Kesultaan Aceh.

by museum || 12 September 2022

Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...



Berita Terkait


...
Inilah Sabda Tama Sultan HB X

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...


...
Permasalahan Pakualaman Juga Persoalan Kraton

by admin || 11 Mei 2012

YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...


...
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'

by admin || 18 Juni 2013

"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...





Copyright@2026

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta