by ifid|| 12 Oktober 2026 || 338 kali
Di sebuah galeri putih di Yogyakarta, tiga seniman muda membawa pulang rumah, arsip keluarga, dan sungai masa kecil mereka, lalu bertanya: apa yang akan kita ingat tentang hari esok?
BANTUL, Rabu (07/10/2026) — Di Sangkasa Gallery yang dindingnya putih dan lampunya tenang, sebuah kursi besi dilipat dan disandarkan, seolah tak ada yang berniat duduk. Di dekatnya, jenndela tergantung di udara, dan selembar kain transparan memuat potret kursi-kursi yang bergoyang halus ketika pengunjung lewat. Tak jauh dari sana, sebuah infus meneteskan air, bukan ke tubuh yang sakit, melainkan ke kertas bergambar bayi, dan pelan-pelan, helai demi helai rumput tumbuh di atasnya.
Ruangan itu sunyi, tetapi bukan kosong. Setiap benda seperti menahan napas, menunggu seseorang bertanya: Ini milik siapa, dan apa yang terjadi di sini dulu?
Pameran Cartography of Survivance yang berlangsung 30 September hingga 14 Oktober 2026, mempertemukan berbagai praktik seni, medium, dan cara membaca realitas. Dalam diskusi bertema The Future We Once Remembered, para seniman bespekulasi tentang masa depan alam, kemanusiaan, serta jejak keberlangsungan manusia dan ingatan. Tema itu sendiri sudah sebuah teka-teki: Bagaimana kita bisa mengingat masa depan? Jawaban tiga seniman, Chrisna Fernand yang akrab disapa Jon, Agung R. Prakarsa, dan Catur Nugroho, ternyata dimulai dari tempat yang paling dekat: ruang makan, album foto di rumah nenek, dan hutan kecil dibelakang rumah.
Galeri di Jagan, Padukuhan Gedongan, Bangunjiwo, Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta itu menjadi tempat diskusi pameran yang dipandu moderator Ladija Triana Dewi. Pameran ini dikurasi oleh Akbbar, sosok yang dipilih langsung oleh para seniman sebelum pameran dibuka.
Jon biasanya melukis. Tetapi untuk pameran ini ia menantang dirinya sendiri memakai benda: sebuah ruang makan, kursi, dan ragam pecah belah di atass meja. Semuanya berpangkal pada satu ingatan yang tak mau hilang.
“Tema meja makan itu sebenarnya aku jujur agak lupa, karena usiaku waktu itu sekitar enam sampai tujuh tahu,” tuturnya. “Tapi aku masih ingat banget ketika bapak itu banting kursi di meja itu.”
Ingatan yang separuh kabur itu mendorongnya melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan. Ia bertanya kembali kepada ibunya, apa sebenarnya masalah yang terjadi waktu itu. Dari pertanyaan itulah ada hal tak terduga. Selama ini, pulang ke rumah baginya hanya berarti istirahat dan sedikit bercerita. Kini, demi sebuah karya, ia duduk lama bersama ibunya, membuka lagi cerita-cerita keluarga yang lama tak dibicarakan.
“Ketika mau bikin karya ini, malah ada hal-hal yang jadi lebih mendekatkan aku sama ibuku lagi,” kata Jon. “Yang sudah jarang ngobrol, sekarang malah lagi bikin karya, jadi dekat gara-gara sering ngomongin hal-hal sepuutar keluarga.”
Karya Jon adalah bagian dari seri “Night Watch” atau “Penjaga Malam”, yang berangkat dari kegelisahan personal dan isu-isu di sekitar hidupnya. Ada satu kalimat yang ia pegang erat, kutipan yang kerap dikaitkan dengan Picasso: the urge to destroy is also a creative urge. “Ketika image saya kembali ke masa lalu, yang paling saya ingat itu tentang kehancuran-kehancuran, tentang yang berantakan,” ujarnya. “Cuma itu akhirnya melandasi saya untuk terus berkarya sampai sekarang.”
Kursi yang dulu dibanting, kini berdiri tenang di galeri, Di antara serpihan ingatan itu, ia menemukan sesuatu yang tidak ia rencanakan: kembali pulang.
Agung datang ke rumah neneknya tiga tahun lalu untuk menumpang, dan menemukan sesuatu yang membuatnya berhenti: lebih dari dua puluh album foto, hampiir tujuh puluh persen berada di rumah itu. Foto-foto dari tahun sembilan puluhan itu menumpuk, diam, menunggu dibuka.
“Ada satu momen yang bikin aku mikir, jangan-jangan aku hadir jadi semacam cenayang,” katanya. “Jangan-jangan aku hadir di arsip-arsip yang aku temukan. Keseharianku di rumah itu adalah hidup di dalam arsip-arsip mereka.”
Ia melawan rasa itu dengan cara yang ganjil. Ia merekam dirinya sendiri menyapu, mengepel, mengerjakan hal-hal harian, masing-masing dalam satu kali pengambilan gambar tanpa putus. Itu bukan konten harian biasa. “Itu caraku untuk mencobba melawan dan merekam kembali menjadi sebuah arsip lain,” ujarnya. Seorang kawan bernama Radi bahkan rela datang hanya untuk memotretnya menyapu, lalu pulang lagi.
Di galeri, perenungan itu menjelma jadi susunan yang membuat pengunjung ragu pada matanya sendiri. Foto kursi-kursi dicetak pada kain transparan, seperti ambang antara yang nyata dan tidak. Di depannya, kursi besi sungguhan, dua di antaranya dilipat, bersama meja dan jendela yang digantung. “Sialnya, fotografi selalu membuat bayangan di dalam pikiran kita,” kata Agung. “Aku coba kaburin itu.”
Baginya, foto tidak lagi bisa dijadikan bukti. Ia lebih suka berkata bahwa peristiwa dalam foto pernah terjadi, tanpa seorang pun yang pasti. “Yang tahu hanya si fotografernya,” ujarnya. Dari situ ia sampai pada pernyataan yang ia bawa ke depan: fotografi bukan lagi sesuatu yang beku, melainkan cair, “bukan lagi menjelaskan tentang ada, tapi pernah terjadi aja.”
Bagi seorang pembaca sejarah, kalimat itu terdengar akrab. Arsip tidak pernah sekadar masa lalu; ia selalu dibaca dari hari ini.
Catur lahid di Wonosobo, di rumah yang agak terpisah, dengan hutan dan kebun di kanan-kirinya dan diapit dua sungai. “Itu yang paling dekat, yang membentuk aku secara personal,” katanya.
Lalu tahun demi tahun ia bolak-bbalik Wonosobo-Yogyakarta, dan lanskap itu berubah. Bangunan bermunculan. Satu tempat dijadikan pembuangan sampah. Dari perubahan kecil yang ia saksikan sendiri itulah gagasan karyanya tumbuh: hubungan manusia dan alam yang saling berkelindan.
Namun jalan menuju ke sana tidak lurus. Setelah lulus dari ISI Yogyakarta, tempat ia masuk pada 2018, ia berhenti berkarya. “Sampai mungkin delapan bulanan aku enggak nyentuh karya sama sekali.” Ia baru bangkit setelah menemukan Kelas Seni Terbuka, ruang belajar yang kemudian mempertemukannya dengan teman-teman yang kini berpameran bersamanya. “Itu yang kemudia menyelamatkanku dari struggle itu,” kenangnya.
Karyanya dulu abstrak, eksperimental, didominasi merah. Kini warnanya Biru. Pilihan itu lahir dari pertanyaan seorang kawan: kenapa harus biru? Catur tak punya jawaban, lalu membaca sejarah warna. Ia menemukan bahwa biru dulu paling sulit didapat dari alam, hanya berasal dari batu lapis lazuli yang mahal, dan hanya bangsawan yang bisa memakainya. “Bayanganku adalah ketika kita melihat lanskap, melihat alam ini, seberharga warna biru itu.” Dari situ ia menjelajah cyanotype, kertas karbon, hingga indigo alami.
Di balik biru yang tenang itu ada ironi. “Dari jauh oh pemandangan, tapi kalau didekati banyak pemandangan rusak,” ujarnya, “serpihan hutan terbakar, serpihan kayu.” Untuk memahami kabut asap yang menjadi bahan karyanya, ia menjalai residensi selama sebulan di Kalimantan, hidup bersama asap itu sendiri.
Di pameran ini, Catur menggabungkan dua karya: Instalasi air dengan infus bernama Precise Drop, dan gambar The Smallest Life. Infus ia pinjam maknanya sebagai simbol kondisi kritis. “Yang sakit ini bukan orang,” katanya. Dari kertas bergambar bayi itu rumput tumbuh, dan ia membayangkan alam bisa menyembuhkan dirinya sendiri, “bisa tumbuh dengan sendirinya”, seperti kertas yang pada waktunya akan terurai dan kembali ke tanah. “Alam ini punya siklusnya sendiri,” ujarnya. “Cuman ketika kita hadir dengan keserakahan, alam akan kesusahan untuk memperbaiki dirinya sendiri.”
Dalam diskusi, seorang audience bertanya apakah benda sehari-hari berubah makna ketika masuk ke ruang pamer. Jawaban jon terdengar jujur, bahkan sedikit getir. Menyajikan memori yang amat intim di galeri putih, katanya membuat memori itu “tereduksi”. “Misalkan aku pengen menaruh pakaiannya ibuku di dalam galeri. Bisa jadi penting, bisa jadi nggak bagi orang. Tapi bagi saya personal, itu sangat bermakna ketika ada di tempat yang seharusnya. Misalkan di rumah, ya sudah di rumah aja.”
Namun ia tidak berhenti di sana. Yang terpenting, menurut Jon adalah imajinasi senimannya bisa sedikit “disinkronkan” dengan penonton. Bendannya boleh asli, foto, atau lukisan. Catur punya jawaban lain: ia tak berusaha merekontruksi makna benda, melainkan meminjamnya. Dan ia sering terkejut ketika pengunjung justru menemukan pengalaman pribadi mereka sendiri di karyanya, hal yang tak pernah ia rencanakan.
Pameran ini punya cerita lain yang jarang terlihat di dinding galeri. Ketiganya tergabung dalam Variabel Forum, kelompok yang mulai berkumpul sejak Februari. Menurut Jon, tak seorang pun tahu karya apa yang akan dibuat; mereka hanya berkumpul dan mengobrol. “Tahunya sekitar H-3 untuk display oh, ternyata karya ini, ternyata ini. Itu yang jadi seru.”
Di balik setiap karya ada juru selamat yang tak tercantum di label: teman-teman dari dunia film dan properti yang meminjamkan bahan untuk instalasi Jon (“kalau laku, ya udah, aku beli aja”); sahabat yang tiap kali ditelpon untuk berdiskusi; nenek yang membiarkan Agung menginap tanpa bayar; teman nongkrong yang jadi teman bertukar pikiran tentang strategii berkesenian. Ladija, sang moderator mengingatkan bahwa kata kunci pameran adalah survivance, bertahan hidup dan melawan. Untuk tetap waras di tengah realitas yang terus runtuh dan tetap membuat sesuatu darinya, orang butuh orang lain. (ical/ifit)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...