by ifid|| 12 Oktober 2026 || 189 kali
Malam Anugerah Pesta Cerita Tutur Temurun 2026 merayakan cerita-cerita yang diwariskan, dan anak muda Yogyakarta yang menuliskannya kembali
YOGYAKARTA- Jumat malam (9/10/2026) Angin berhembus sejuk di halaman panggung terbuka Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Di panggung berdiri sebatang pohon beringin, lengkap dengan tiruan kepala naga di belakangnya. Sebelum acara dimulai hadirin sudah mulai memenuhi kursi ada Seniman, Sastrawan, Budayawan, Pegawai dinas, dan para penulis muda dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan gugup.
Malam itu adalah puncak Pesta Cerita, rangkaian program Tutur Temurun 2026 program ini diselenggarakan TBT bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Di malam itu lima cerita pendek karya anak muda Yogyakarta akan diumumkan sebagai yang terbaik.
Acara tidak dibuka dengan pidato, melainkan dengan suara anak-anak. Ruang Belajar Anak-Anak Yogyakarta, bersama AFC Art for Children Sastra, membawakan puisi Nyanyian Negeri Anak_anak Gembala. Puisi itu karya almarhum Iman Budi Santoso, penyair yang dikenal menyuarakan ruh Jawa lewat mitologi, cerita rakyat, dan legenda Yogyakarta
Puisi itu bercerita tentang anak-anak gembala yang telanjang dada, benyanyi dengan hati lapang, dan tangan-tangan kecil yang mendengarkan bumi sawah. Mereka hidup di luar sejarah emas dan restu para raja, tetapi tetap bernyanyi. Seusai pembacaan puisi, hadirin berdiri menyanyikan “Indonesia Raya”. Setelah itu, barulah malam benar -benar dimulai.
Dalam laporannya, Kepala TBY Dr. Endah Purwiyanti mengingatkan bahwa Tutur Tumurun lahir dari kesadaran sederhana. Kekayaan budaya tidak hanya tersimpan dalam benda, pertunjukkan, dan tradisi, tetapi juga dalam cerita, ingatan, petuah, dan keyakinan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pada 2024, TBY memulai langkah itu dengan tema ‘Dari Folklor ke Cerpen”. Pelajaran terpentingnya, kata beliau adalah bahwa menjaga budaya tidak cukup dengan menyimpan cerita masa lalu. Generasi kini juga perlu diberi ruang untuk membaca ulang, menafsirkan, dan menghidupkannya kembali dalam bentuk yang dekat dengan zamannya.
Pada 2026, tema itu dilanjutkan sebagai geomitologi, yaitu keterkaitan antara lanskap, fenomena geologi, mitos, sejarah, dan kearifan lokal.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Laksmi Pratiwi menyebut tema ini terdengar asing tetapi sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan. Ada jeda dua tahun sejak Tutur Tumurun Pertama, dan malam itu bukan pengulangan melainkan kelanjutan. “Sastra dan Bahasa adalah bagian penting untuk merawat memori kolektif kita,” ujarnya. Ia mengingatkan bahwa salah memaknai masa lalu akan berujung pada salah melangkah ke depan.
Perjalanan Panjang Lima Cerita
Dibalik Nama yang naik ke panggung, ada perjalanan panjang sejak awal Juli, Lokakarya penulisan cerpen berbasis geomitologi digelar pada 2 Juli dengan narasumber Paksi Raras Alit, Raudal Tanjung Banua, dan Herlina. Sayembara dibuka 8 Juli hingga 16 Agustus 2026 untuk penulis berusia 17 sampai 35 tahun yang berdomisili di DIY.
Sebanyak 75 naskah masuk. Tiga juri, yakni Ramaida Akmal, Mahfud Ikhwan, dan Hasta Indriana, membaca satu per satu. Sepuluh naskah didominasikan dan mempresentasikan karyanya, lalu mengerucut menjadi lima pemenang
Bagi panitia keputusan itu tidak mudah, “Karya dengan karya lainnya kadang tidak bisa diperbandingkan,” kata Dian Laksmi di atas panggung. Setiap naskah punya latar belakangnya sendiri.
Sebelum membacakan catatan juri, Hasta Indriana lebih dulu bercerita dari kampungnya di lereng gunung. Di sana ada pohon beringin yang konon dijaga makhluk bernama Mbah Kadut, sementara di kampung lain penunggunya bernama Nyai Gaduh Melati. Di bawah pohon itu ada belik, mata air kecil, dan orang dilarang memancing ikan di dalamnya, karena jika ikan sampai terpancing kekeringan akan datang.
Menurut Hasta, larangan itu bukan sekedar takhayul, hal itu bentuk kecerdasan leluhur untuk memitigasi bencana dan menjaga ekosistem lewat cerita. Gagasan ini pertama kali dirumuskan Dorothy Vitaliano pada 1968 dan kini dikenal sebagai geomitologi. Para hadirin mendengarkan sambil sesekali menoleh ke beringin di belakang panggung.
Dalam catatannya, dewan juri mengaku membaca 75 naskah itu seperti menyusuri Yogyakarta dalam peta mitologisnya. Tempat yang selama ini kita hafal sebagai titik di peta mendapat jiwa lewat cerita tentang batu, air, tanah, udara, dan roh-roh yang bertutur. Juri juga mengingatkan bahwa ketika peta mental sebuah masyarakat memudar, sebuah tempat bisa kehilangan makna dan keberartiannya.
Juri juga mencatat jebakan yang sering menimpa peserta, banyak yang menerjemahkan tema secara harfiah atau menempelkannya begitu saja, dan menganggap geomitologi selalu soal tempat angker. Padahal ruang-ruang biasa yang menjadi bagian keseharian warga pun menyimpan cerita.
Satu per satu pemenang diumumkan, dari bawah ke atas. Juara Harapan II diraih Muhammad Saifullah lewat Riwayat Sepenggal Cerita dari Jawa. Cerpen ini menelusuri sejarah Mataram dan folklor Gunung Merapi dari sudut pandang kolonial, sambil mempertanyakan relasi rumit antara sains dan mitos. Juara Harapan I diraih M. Rifdhal Ais Anaffis lewat Identitas. Cerita berlatar Gua Maria yang mengangkat kerusuhan rasial 1998. Juri mencatat bahwa ruang dalam cerita ini hadir terlalu pasif sebagai latar, tetapi keberanian temanya tetap mereka hargai.
Sedangakan Juara III diraih Abdillah Danny lewat Radio Tua dan Perkara Lama. Cerita ini berkisah tentang mitologi di sekitar masjid Sultoni dekat Bandara Adisutjipto, yang dibalut percakapan manis antara dua tokoh. Juara II diraih Alfred Henry lewat Peyok Ingin Menjadi Gajah. Ceritanya bertolak dari mitos Sungai Gajah Wong dan menyentuh soal perundungan terhadap anak serta persahabatan yang menembus dimensi. Juri memujinya karena narasinya sederhana tetapi terjalin sangat rapi. Dan Juara I diraih Ainun Khalidah lewat Sirnanya Ledek di Kaki Gunung Merapi. Ceritanya berlatar di kaki Merapi, di antara sungai dan batu-batu yang menopang hidup warga. Pada batu-batu itu pula para tokoh yang terlibat dalam tragedi kemanusiaan 1965 menyandarkan diri. “Batu-batu itu menggantikan orang yang hilang,” tulis juri. Batu iru seolah berbicara dan memeluk mereka yang ditinggalkan, sebelum akhirnya diangkat menjadi bahan bangunan pabrik-pabrik besar. Gunung dan batu di sini bukan sekedar latar melainkan subjek yang bersuara.
Malam itu juga menjadi momen penerbitan antologi Tutur Tumurun Jilid 2. Isinya lima karya pemenang dan 15 karya pilihan juri, sehingga ada 20 penulis yang namanya kini tercetak dalam satu buku. Buku antologi diserahkan secara simbolis kepada para pemenang.
Pembawa acara mengatakan prosesi ini menjadi simbol bahwa cerita tidak berhenti ketika selesai ditulis, cerita ini harus hidup ketika dibaca, dibagikan, dibicarakan, dan diwariskan.
Setelah penyerahan hadiah, panggung berganti suasana. Teater JAB bersama komponis dan kurator bunyi Jenar Kijing menyanyikan pembacaan cerpen pilihan. Bunyi eksperimental berpadu dengan instrumen tradisional, dan para pembaca bergantian menyuarakan tokoh-tokohnya.
Tokoh utamanya adalah Dwi Pangga, gajah kesayangan Sri Sultan, yang bangga sekaligus angkuh. Ia membenci derit engsel gerbang bangsal dan lebih membenci tawa anak-anak desa yang mengejeknya dari baliik pagar. Suatu Sore, ia dimandikan oleh seorang pria bertubuh kurus dan berjalan terpincang-pincang bernama Yuda.
“Segala luka yang kamu kenakan pada kulit Dwi Pangga akan dikenakan juga pada kulitmu,” pesan pawangnya.
Malam itu panitia tidak menutup acara dengan kesimpulan. Mereka menutupnya dengan harapan agar karya-karya itu dibaca lebih banyak orang, dan agar tahun-tahun berikutnya makin banyak penulis muda yang berani menuliskan tanah kelahirannya.
Jauh dari panggung, di kampung-kampung di lereng gunung, orang-orang tua masih menyampaikan pesan yang sama kepada anak cucunya. Jangan memancing ikan di belik itu. Hormati beringin itu. Dulu pesan semacam itu diwariskan lewat bisikan. Kini sebagian di antaranya berpindah ke halaman buku, ditulis tangan-tangan muda yang malam itu berdiri di panggung Taman Budaya Yogyakarta. (ical/ifit)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...