by ifid|| 18 Oktober 2026 || 7 kali
Denyut kesenian di Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menunjukkan kegigihannya melalui sebuah perhelatan komprehensif di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Rabu malam,14/19, yang bertajuk "Pentas Rebon" ini hadir bukan sekadar sebagai agenda hiburan rutin pada kalender budaya kota, melainkan sebuah presentasi kebudayaan yang menegaskan posisi Yogyakarta sebagai pusat ekosistem seni pertunjukan di Indonesia. Di tengah eskalasi hiburan digital yang serba instan, TBY membuktikan bahwa panggung kesenian lokal yang bertumpu pada interaksi langsung masih memiliki audiens yang masif dan loyal.
Antusiasme publik terlihat dari kapasitas gedung konser yang terisi penuh sejak awal acara. Penonton yang hadir membentuk demografi yang beragam, merepresentasikan inklusivitas ruang budaya Yogyakarta. Barisan kursi penonton diisi oleh kalangan akademisi, mahasiswa seni, hingga masyarakat umum yang secara kolektif mengidentifikasi diri mereka sebagai Sobat Budaya. Dipandu oleh dua pembawa acara, Yanti Lemu dan Novi Kalor, yang membawakan acara dengan gaya interaktif, artikulatif, dan lugas, perhelatan ini dibuka secara formal dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Ritual pembuka ini berfungsi menyatukan fokus audiens sekaligus menegaskan fondasi nasionalisme dalam upaya pelestarian kebudayaan daerah.
Secara konseptual dan kuratorial, Pentas Reborn dirancang sebagai sebuah panggung trilogi yang merangkum tiga genre seni pertunjukan yang berbeda: teater modern, ketoprak tradisional, dan komedi rakyat dagelan Mataram. Ketiganya sengaja disandingkan secara berurutan untuk mempresentasikan tiga dimensi kehidupan manusia secara utuh. Teater mewakili pergolakan psikologis individu di ruang privat, ketoprak merepresentasikan dinamika politik dan kekuasaan di ruang publik, sementara dagelan Mataram membedah realitas sosial kemasyarakatan di ruang jalanan. Keterlibatan puluhan pekerja seni lintas disiplin mulai dari sutradara, penulis naskah, penata musik, penata artistik, hingga aktor watak menjadikan panggung ini sebuah kolaborasi produksi yang solid.
Teater Rebon: Anatomi Trauma dan Mekanisme Pertahanan Manusia Modern
Sesi pertama dibuka dengan pementasan teater modern bertajuk Memanen Harapan. Disutradarai oleh Muhammad Ramdan dengan naskah garapan Matori Brilian, pertunjukan ini merupakan hasil adaptasi dan interpretasi lintas medium dari empat karya lagu: Selayang Rindu, Pandang Sepasang, Tanya Kang Slupan Sencaki, dan Mengetuk Hati Ikan. Melalui pendekatan realisme psikologis, tim produksi membedah tema tentang luka batin akibat pengkhianatan dalam sebuah hubungan interpersonal.
Karakter utama dalam lakon ini adalah seorang perempuan yang mengalami tekanan mental yang intens. Naskah secara tajam menyoroti kecenderungan manusia modern dalam merespons trauma. Alih-alih mencari resolusi konflik atau menerima rasa sakit, sang tokoh utama memilih untuk merepresi lukanya. Ia membangun mekanisme pertahanan diri dengan menganggap bahwa penderitaan akibat cinta adalah sebuah kebodohan yang memalukan. Dialog sentralnya berbunyi, "Baginya, lukanya adalah kebodohan. Dan kebodohan yang terus berulang adalah kebodohan tentang cinta." Premis ini secara lugas menangkap fenomena penyangkalan emosional yang kerap terjadi di masyarakat urban.
Pendekatan tata artistik yang dipilih oleh sutradara sangat mendukung pesan psikologis tersebut. Panggung didesain dengan properti yang esensial dan fungsional. Elemen visual yang paling dominan adalah penempatan sebuah kursi dalam posisi miring. Secara struktural panggung, kursi miring ini memaksa aktor untuk terus menyesuaikan keseimbangan fisiknya, yang secara langsung merepresentasikan ketidakstabilan mental dan posisi hidup sang tokoh yang teralienasi dari lingkungannya. Diiringi oleh komposisi gending yang ditata presisi dan penyampaian monolog yang terstruktur, Memanen Harapan berhasil menyajikan suasana tegang tanpa harus terjebak dalam dramatisasi yang berlebihan. Pementasan ini juga secara cerdas menyisipkan elemen satir sebagai jeda untuk menurunkan ketegangan penonton, memberikan ruang bagi mereka untuk mencerna pesan utamanya: bahwa segala sesuatu yang ditanam di atas fondasi kepalsuan hanya akan menghasilkan akumulasi penderitaan.
Ketoprak Rebon: Epik Sejarah dan Anatomi Ambisi Kekuasaan
Setelah diajak membedah konflik internal individu, panggung bertransformasi secara drastis. Penonton dibawa menuju konflik eksternal berskala sistemik melalui pementasan Ketoprak Rebon bertajuk Wadi Katumenggungan. Disutradarai oleh Alvian Anggoromukti serta didampingi oleh narasumber ahli Bambang Paningron dan Sugiman Nurseta, sesi ini mengembalikan penonton pada pakem seni teater tradisional Jawa dengan segala kompleksitas narasi politiknya.
Lakon Wadi Katumenggungan mengambil latar belakang intrik di lingkungan istana pasca-wafatnya Tumenggung Arya Guna dari Kadipaten Arya Gunan. Kematian sang Tumenggung yang tiba-tiba menciptakan kekosongan kekuasaan. Situasi transisional ini segera dimanfaatkan oleh faksi-faksi politik yang oportunis di dalam kadipaten. Narasi berpusat pada tokoh Jaka Pandan, putra angkat Tumenggung yang memiliki kesaktian Aji Goro Mandala. Sebagai pewaris yang sah secara moral namun rentan secara politik, Jaka Pandan menjadi korban manuver dan fitnah dari pihak-pihak yang ingin menyingkirkannya dari garis suksesi.
Konflik lokal di Arya Gunan ini kemudian ditarik ke skala yang lebih makro dengan melibatkan dinamika politik Kesultanan Pajang di bawah pemerintahan Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Di sinilah lakon ketoprak menemukan relevansinya dengan konstelasi politik modern. Tokoh antagonis bernama Ragajaya direpresentasikan sebagai arketipe politikus pragmatis. Ia adalah representasi dari sosok yang menghalalkan segala cara, termasuk mengorbankan etika moral dan ikatan persaudaraan, demi meraih puncak kekuasaan.
Secara teknis pertunjukan, sesi ketoprak ini tampil dengan disiplin tinggi. Tata musik gamelan merespons setiap pergantian babak, dialog, dan eskalasi konflik secara akurat. Komposisi ini didukung oleh teknik vokal pesinden yang mempertegas latar emosi pada setiap adegan, baik saat duka maupun ketegangan. Klimaks pertunjukan disajikan melalui koreografi pertarungan fisik dan taktis antara kesaktian Jaka Pandan melawan kelicikan Ragajaya. Pada akhirnya, lakon ini menyampaikan postulat sejarah yang universal: bahwa kebenaran pada akhirnya akan membongkar konspirasi politik serapi apa pun. Dalam konteks Pentas Reborn, ketoprak tidak sekadar berfungsi sebagai tontonan pelestarian sejarah, melainkan sebagai medium analitis untuk membedah anatomi ambisi manusia atas kekuasaan.
Dagelan Mataram Rebon: Komedi Satir dan Resolusi Konflik Kelas Bawah
Memasuki sesi pamungkas, waktu telah menunjukkan larut malam. Namun, retensi audiens di Concert Hall TBY tetap stabil, bahkan energi di dalam ruangan semakin memuncak. Sesi yang paling diantisipasi tiba: Dagelan Mataram Rebon dengan lakon Preman Meh Pensiun. Disutradarai oleh IO Baskoro dengan naskah dari Rio Pujangkoro, pertunjukan ini diperkuat oleh barisan seniman senior dan komedian teater kenamaan Yogyakarta, seperti Mbah Waluyo, Suhin, dan Wisben Antoro.
Preman Meh Pensiun adalah sebuah komedi satir yang memotret realitas sosial-ekonomi masyarakat kelas pekerja dan marjinal dengan sangat jeli. Cerita berfokus pada dilema eksistensial Pak Waluyo, seorang penguasa jalanan (preman) senior yang memutuskan untuk pensiun. Ia ingin meninggalkan dunia hitam demi memberikan standar kehidupan yang lebih wajar dan aman bagi keluarganya. Ironi tajam muncul dari karakter sang anak, Bimaco. Berbeda dengan visi ayahnya yang mencari penebusan moral, Bimaco justru melihat rekam jejak ayahnya sebagai sebuah privilese sosial. Ia berambisi untuk mewarisi "dinasti" premanisme ayahnya, menganggap profesi tersebut sebagai sebuah karier prestisius yang menjanjikan kekuasaan instan di jalanan.
Konflik antargenerasi ini dieksekusi melalui dialog-dialog yang mengandalkan kepekaan ritme komedi dan improvisasi para aktor. Pertentangan antara orang tua yang menyadari batas akhir masa jayanya melawan anak muda dengan krisis identitas yang salah kaprah menjadi motor penggerak narasi.
Ciri khas Dagelan Mataram tampil utuh dan relevan dalam pementasan ini. Kritik sosial disampaikan tidak melalui orasi verbal yang kaku, melainkan melalui parodi, pelesetan kata, dan permainan bahasa silang budaya. Para aktor dengan luwes mencampurkan dialek Jawa keseharian dengan gaya bahasa anak muda urban ibu kota (bahasa slang Jakarta Selatan). Benturan linguistik ini menciptakan efek komikal yang rasional dan mudah diterima oleh penonton lintas generasi. Selain itu, naskah secara cerdik menyisipkan sindiran terhadap fenomena kontemporer: ruwetnya birokrasi struktural, kelakuan masyarakat di media sosial, hingga himpitan ekonomi rumah tangga sehari-hari.
Melalui tawa yang bergema secara konstan di dalam gedung, Dagelan Mataram menjalankan fungsi sosiologisnya sebagai mekanisme pelepasan ketegangan sosial. Pertunjukan ini memfasilitasi penonton kolektif untuk menertawakan kesulitan realitas hidup, mereduksi tekanan rutinitas, dan merayakan ketangguhan mental kelompok masyarakat bawah dalam menghadapi realitas struktural yang sering kali tidak berpihak pada mereka.
Manifestasi Ketahanan Ruang Budaya di Era Modernitas
Hingga pementasan berakhir menjelang tengah malam, formasi penonton yang bertahan memberikan indikator empiris atas keberhasilan produksi Pentas Reborn. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa seni pertunjukan langsung memiliki daya ikat dan pengalaman imersif yang belum dapat direplikasi sepenuhnya oleh layar digital. Interaksi organik yang terjadi antara pengisi acara dan penonton pada sesi-sesi transisi antar babak turut memperkuat ikatan tersebut, menjadikan pementasan ini sebagai peristiwa kebudayaan yang dialogis.
Struktur trilogi yang disajikan Pentas Reborn sukses memberikan pemetaan yang komprehensif tentang kondisi manusia. Memulai dari resolusi trauma personal di ranah privat (Memanen Harapan), bergerak menuju pertarungan etika dan kekuasaan di ranah institusional (Wadi Katumenggungan), dan diakhiri dengan resolusi komedi atas kerasnya realitas hidup di ranah sosial (Preman Meh Pensiun).
Menutup rangkaian acara, seluruh tim produksi, sutradara, dan aktor naik ke atas panggung. Mereka melantunkan tembang penutup yang direspons oleh ribuan penonton dengan berdiri dan memberikan penghormatan terakhir (standing ovation). Momen tersebut bukan sekadar apresiasi atas durasi pertunjukan yang panjang, melainkan pengakuan atas kualitas kekaryaan yang disajikan.
Pentas Reborn di Taman Budaya Yogyakarta membuktikan bahwa seni tradisional dan kontemporer tidak berada pada posisi yang saling meniadakan. Sebaliknya, melalui kurasi dan penyutradaraan yang tepat, keduanya dapat bersinergi untuk membaca gejala zaman. Acara ini meninggalkan rekam jejak yang jelas: di tengah disrupsi teknologi dan perubahan pola konsumsi hiburan global, ekosistem kesenian Yogyakarta tetap berdiri kukuh. Panggung kebudayaan ini akan terus memproduksi pemikiran, memfasilitasi dialog publik, dan mempertahankan relevansinya sebagai rumah bagi akal sehat dan estetika lintas zaman.(fit)
by museum || 04 Juli 2023
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi. Untungnya, air adalah sumber daya alam terbarukan. Proses pembaharuan air berlangsung dalam ...
by museum || 02 Juni 2022
Batik merupakan karya bangsa Indonesia yang terdiri dari perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia, yang membuat batik memiliki daya tarik adalah karena batik memiliki corak ...
by museum || 24 Mei 2022
Raden Dewi Sartika dilahirkan tanggal 4 Desember 1884 di Cilengka, Jawa Barat, puteri Raden Somanagara dari ibu Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika menumpuh Pendidikan di Cicalengka. Di sekolah ia ...
by museum || 18 September 2023
Limbah merupakan masalah besar yang dirasakan di hampir setiap negara. Jumlah limbah akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Permasalahan sampah timbul dari berbagai sektor terutama dari ...
by museum || 12 September 2022
Malahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Sebagai perempuan yang berdarah biru, pda tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Sabda tama yang disampaikan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB, secara lugas menegaskan akan posisi tawar Kraton dan Pakualaman dalam NKRI. Sabda tama ini ...
by admin || 11 Mei 2012
YOGYA (KRjogja.com) - Kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Hadi Jatiningrat menafsirkan sabda tama Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai bentuk penegasan bahwa persoalan yang menyangkut ...
by admin || 18 Juni 2013
"SIFAT petir itu muncul secara spontan, mendadak, tidak memilih sasaran. Beda dengan petir yang di lapas Cebongan. Sistemik, terkendali," ujar Pak Petir.Pernyataan tersebut lalu dikomentari super ...