Artikel Budaya


...
Mengenal Bangunan Berarsitektur Tradisional Jawa : Saka Santen

by pamongbudaya|| 13 Oktober 2021 || || 14 kali


Dalam arsitektur tradisional jawa, selain saka guru yang sudah lebih umum dikenal, ada beberapa istilah untuk saka (tiang atau kolom dari kayu) yang lain. Beberapa di antaranya adalah : Saka penanggap : saka yang menyangga blandar (balok) dari atap penanggap. Saka penitih : saka yang menyangga blandar dari atap penitih. Saka peningrat : saka yang menyangga blandar dari atap peningrat. Saka emper : saka yang menyangga blandar dari atap emper. Saka goco : saka yang menyangga blandar dari ...


...
Mengenal Bangunan Berarsitektur Tradisional Jawa : Bangunan Joglo (Bagian 2)

by pamongbudaya|| 21 September 2021 || || 62 kali


Jika di dalam naskah-naskah lama tentang bangunan rumah berarsitektur tradisional Jawa (Prijotomo, 2006) bangunan dengan bentuk atap limasan mengenal 7 (tujuh) variasi (https://budaya.jogjaprov.go.id/artikel/detail/Mengenal-Bangunan-Berarsitektur-Tradisional-Jawa-Bangunan-Joglo), maka selanjutnya sesuai dengan perkembangan zaman terdapat berbagai variasi lainnya. Menurut R. Ng. Mintoboedoyo dalam Hamzuri (1986) terdapat 12 (dua belas) variasi bangunan joglo, menurut Dakung (1987) terdapat 7 ...


...
Mengenal Bangunan Berarsitektur Tradisional Jawa : Kayu Jati Yang Memiliki Daya Pengaruh Baik

by pamongbudaya|| 10 September 2021 || || 36 kali


Menurut naskah-naskah lama tentang bangunan rumah berarsitektur Jawa, kayu yang umumnya atau disarankan digunakan sebagai bahan untuk pembuatan bangunan adalah kayu jati (Tectona grandis). Kayu jati dapat dibagi menjadi 3 macam, yaitu : Jati bang Seratnya halus dan berminyak. Kayu yang dihasilkan akan tahan lama keawetannya. Jati kembang atau jati sungu Warnanya kehitam-hitaman, alur seratnya tampak dengan jelas sekali seperti kembang (= bunga) atau seperti sungu (= tanduk). Kayu ...


...
Mengenal Bangunan Berarsitektur Tradisional Jawa : Kayu Jati Yang Harus Dihindari

by pamongbudaya|| 10 September 2021 || || 26 kali


Kayu jati (Tectona grandis) sebagai bahan utama dalam pembuatan bangunan kayu dalam arsitektur tradisional Jawa diyakini ada yang memiliki sifat yang baik dan ada sifat yang buruk. Kayu jati yang memiliki sifat yang baik diuraikan dalam tulisan lain mengenai Kayu Jati Yang Memiliki Daya Pengaruh Baik  https://budaya.jogjaprov.go.id/artikel/detail/Mengenal-Bangunan-Berarsitektur-Tradisional-Jawa-Kayu-Jati-Yang-Memiliki-Daya-Pengaruh-Baik, sedangkan dalam tulisan ini yang dibahas adalah ...


...
Mengenal Bangunan Berarsitektur Tradisional Jawa : Jrambah dan Jogan

by pamongbudaya|| 10 September 2021 || || 31 kali


Jrambah dan jogan adalah sebutan untuk lantai yang berbeda tingkat ketinggiannya. Pada beberapa bangunan berarsitektur tradisional Jawa, dalam sebuah bangunan terdapat perbedaan ketinggian lantai. Jika kita mengunjungi Kompleks Kraton Yogyakarta, di Bangsal Witana dan Bangsal Pancaniti ada perbedaan ketinggian lantai. Lantai di di bawah atap brunjung lebih tinggi dari lantai di bawah atap penanggap. Lantai yang lebih tinggi disebut  jrambah, sedang lantai yang lebih rendah disebut ...


...
Mengenal Bangunan Berarsitektur Tradisional Jawa : Ander, Geganja dan Santen

by pamongbudaya|| 29 Juni 2021 || || 66 kali


Ander dimengerti sebagai adeg (yang artinya berdiri) atau adeg-adeg. Ander adalah tiang yang berdiri tegak menyangga molo atau balok kayu yang terletak paling atas dalam suatu bangunan. Pada bangunan berbentuk atap tajug, ander menyangga sirah atau balok kayu yang menjadi tumpuan semua jurai, meskipun ada juga sirah yang tanpa ander. Jadi ander bisa terdapat di semua jenis atap bangunan berarsitektur tradisional Jawa. Sambungan antara ander dengan balok molo yang ada di atas maupun pengeret ...


...
Mengenal Bangunan Berarsitektur Tradisional Jawa : Griya Wingking, Pandhapa, Gandhok

by pamongbudaya|| 29 Juni 2021 || || 73 kali


Griya Wingking, pandhapa, gandhok adalah sebutan dari penggunaan bangunan pada bangunan berarsitektur tradisional Jawa. Penggunaan istilah ini ada di kedua kelompok naskah lama tentang bangunan tradisional berarsitektur Jawa (Prijotomo, 2006), yaitu kelompok naskah Kawruh Griya dan Kawruh Kalang. Selain ketiga hal, masih ada penyebutan yang lain seperti dalam uraian berikut. 1. Griya wingking Seringkali hanya disebut griya, yaitu gugus bangunan tempat penghuni rumah menjalankan kegiatan rumah ...


...
Mengenal Bangunan Berarsitektur Tradisional Jawa : Mustaka, Sirah, dan Sirah Gada

by pamongbudaya|| 24 Juni 2021 || || 129 kali


Pada bangunan berarsitektur tradisional Jawa berbentuk tajug, maka biasanya terdapat mustaka, sirah dan sirah gada. Mustaka (bahasa Jawa  yang berarti kepala) adalah puncak dari bubungan /penutup atap yang ada pada bangunan dengan bentuk atap tajug. Pada bangunan dengan bentuk atap tajug yang biasanya adalah masjid, di bagian paling puncak dari bangunan tersebut biasanya terdapat mustaka yang bahanya bisa dari logam atau tanah liat sama seperti bahan pembuat genteng. Mustaka tersebut  ...


...
Rehabilitasi SMA Negeri 3 Yogyakarta di Tahun 2021

by pamongbudaya|| 24 Juni 2021 || || 83 kali


SMA Negeri 3 Yogyakarta terletak di Jl. Yos Sudarso, Kotabaru, Yogyakarta di sebelah barat laut Stadion Kridosono. Bangunan gedung lama yang ada di sekolah ini dibangun sekitar tahun 1918 dan digunakan sebagai Algemeene Middelbare School (AMS) atau jika saat ini setara dengan SMA.. Pada masa Agresi MIliter I menjadi markas pejuang kemerdekaan dan pada masa Agresi Militer II menjadi markas tentara Belanda. Bangunan lama di sekolah ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya dan pada tahun ...


...
Mengenal Bangunan Berarsitektur Tradisional Jawa : Atap Sirap

by pamongbudaya|| 24 Juni 2021 || || 83 kali


Sirap adalah salah satu dari penutup atap yang pembuatannya ditulis di dalam naskah –naskah lama bangunan berarsitektur tradisional Jawa. Menurut naskah-naskah tersebut ukuran lebar sirap berpedoman pada lebar sirap dan sebaliknya. Misalnya sirap dengan lebar 12 dim, maka panjangnya harus 26 dim. Panjang sekian itu lalu dibagi tiga. Pada bagian ujungnya digaris melintang, inilah yang tepat disebut perseginya, lalu diturunkan selebar reng, kemudian dibentuk runcing dan ini disebut curap. ...





Copyright@2021

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta